<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Kisah Arsip - SUARAYASMINA.COM</title>
	<atom:link href="https://suarayasmina.com/category/khazanah/kisah/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://suarayasmina.com/category/khazanah/kisah/</link>
	<description>Jurnalisme Islami - Mencerahkan Umat</description>
	<lastBuildDate>Mon, 11 May 2026 02:53:36 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1</generator>

<image>
	<url>https://suarayasmina.com/wp-content/uploads/2026/05/cropped-edit_foto_1-13-32x32.png</url>
	<title>Kisah Arsip - SUARAYASMINA.COM</title>
	<link>https://suarayasmina.com/category/khazanah/kisah/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Lelaki Penghuni Surga</title>
		<link>https://suarayasmina.com/2025/11/04/lelaki-penghuni-surga/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[suarayasmina.com]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 04 Nov 2025 11:25:30 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarayasmina.com/?p=1135</guid>

					<description><![CDATA[<p>Suarayasmina.com – Suatu hari, Rasulullah Saw tengah duduk dalam satu majelis bersama para sahabatnya. “Wahai para sahabatku, akan datang kepada kalian seorang laki-laki penghuni surga,“ kata Rasulullah kepada para sahabatnya. Tiba-tiba ada seorang laki-laki dari kaum Ansor yang datang, sementara bekas air wudu masih mengalir di jenggotnya, dan tangan kirinya memegang terompah. Keesokan harinya, Rasulullah [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://suarayasmina.com/2025/11/04/lelaki-penghuni-surga/">Lelaki Penghuni Surga</a> pertama kali tampil pada <a href="https://suarayasmina.com">SUARAYASMINA.COM</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="text-decoration: underline;"><a href="https://suarayasmina.com/">Suarayasmina.com</a></span> – Suatu hari, Rasulullah Saw tengah duduk dalam satu majelis bersama para sahabatnya.</p>
<p>“Wahai para sahabatku, akan datang kepada kalian seorang laki-laki penghuni surga,“ kata Rasulullah kepada para sahabatnya.</p>
<p>Tiba-tiba ada seorang laki-laki dari kaum Ansor yang datang, sementara bekas air wudu masih mengalir di jenggotnya, dan tangan kirinya memegang terompah.</p>
<p>Keesokan harinya, Rasulullah mengatakan seperti perkataannya yang kemarin. Lalu muncul pula laki-laki itu lagi persis seperti kedatangannya kemarin.</p>
<p>Pada hari ketiga, Rasululllah mengatakannya lagi dan datanglah laki-laki itu lagi seperti kedatangannya pertama kali.</p>
<p>Setelah itu, didorong rasa penasaran, salah seorang sahabat, Abdullah bin Amr bin Ash, membuntuti laki-laki itu sampai ke rumahnya.</p>
<p>Abdullah berkata, “Aku telah bertengkar dengan ayahku, kemudian aku bersumpah untuk tidak mendatanginya selama tiga hari. Bila kau memperkenankan, aku mau tinggal bersamamu sampai tiga hari.”</p>
<p>“Ya, boleh,” jawab laki-laki itu.</p>
<p>Abdullah pun menginap di tempat laki-laki itu selama tiga hari. Selama tiga hari itu, Abdullah mencermati perilaku laki-laki itu, namun ia melihat laki-laki itu sama sekali tidak pernah bangun malam untuk melakukan salat tahajud.</p>
<p>Hanya saja, setiap kali laki-laki itu terjaga dan menggeliat di atas ranjangnya, ia selalu membaca zikir dan takbir sampai ia bangun untuk melaksanakan salat Subuh. Selain itu, laki-laki itu selalu berkata-kata baik.</p>
<p>“Aku tidak pernah mendengarnya berbicara kecuali yang baik-baik,” kata Abdullah.</p>
<p>Setelah tiga malam berlalu, Abdullah merasa tidak melihat sama sekali amalan yang istimewa yang dimiliki laki-laki itu, hingga Rasulullah menyebutnya sebagai “laki-laki penghuni surga”.</p>
<p>Karena itu, didorong oleh rasa penasaran, Abdullah terusik untuk bertanya. “Wahai hamba Allah, ketahuilah, sesungguhnya tidak pernah terjadi pertengkaran dan tak saling menyapa antara aku dengan ayahku. Aku hanya mendengar Rasulullah Saw berkata tentang dirimu tiga kali, bahwa akan datang kepada kalian seorang laki-laki penghuni surga dan sebanyak tiga kali itu, kaulah yang datang.”</p>
<p>“Maka aku pun ingin bersamamu agar aku bisa melihat apakah amalanmu itu dan nanti akan aku tiru. Tetapi ternyata, kau tidak terlalu banyak beramal. Apakah sebenarnya yang membuatmu bisa mencapai apa yang disabdakan Rasulullah Saw?”</p>
<p>Sejenak laki-laki itu terdiam, kemudian ia menjawab, “Aku memang tidak mempunyai amalan, kecuali yang telah kau lihat sendiri”.</p>
<p>Namun, ketika Abdullah memohon izin pulang, dan telah beranjak pergi, laki-laki itu buru-buru memanggil Abdullah.</p>
<p>Katanya, “Wahai sahabat, benar amalanku hanya yang kau lihat sendiri. Hanya saja, aku tidak mendapatkan pada diriku sifat curang terhadap seorang pun dari kaum Muslimin. Aku juga tidak pernah iri atau dengki pada seseorang atas karunia yang telah diberikan oleh Allah Swt kepadanya.”</p>
<p>Mendengar penuturan laki-laki itu, maka Abdullah bin Amr berkata, “Inilah amalan yang telah menyampaikanmu pada derajat tinggi dan inilah amalan yang berat untuk kami lakukan.”</p>
<p>Mudah-mudahan kisah ini bisa menjadi pelajaran yang berharga untuk kita semua.</p>
<p>Artikel <a href="https://suarayasmina.com/2025/11/04/lelaki-penghuni-surga/">Lelaki Penghuni Surga</a> pertama kali tampil pada <a href="https://suarayasmina.com">SUARAYASMINA.COM</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kisah Keteladanan Salman al-Farisi, Sosok Gubernur yang Zuhud</title>
		<link>https://suarayasmina.com/2025/10/24/kisah-keteladanan-salman-al-farisi-sosok-gubernur-yang-zuhud/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[suarayasmina.com]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 24 Oct 2025 03:53:33 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah Teladan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarayasmina.com/?p=1005</guid>

					<description><![CDATA[<p>Suarayasmina.com – Dalam buku Illalladzina Asrafu ‘ala ‘Anfusihim, Dr. Aidh Abdullah al-Qarni mengisahkan sosok Salman al-Farisi saat diangkat menjadi gubernur. Kisah ini mencerminkan keindahan akhlak salah seorang sahabat Nabi yang bisa menjadi teladan para pejabat saat ini. Dikisahkan, sepeninggal Rasulullah, pada masa khalifah Umar bin Khathab, Salman al-Farisi pernah diangkat sebagai gubernur di Kufah. Berita [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://suarayasmina.com/2025/10/24/kisah-keteladanan-salman-al-farisi-sosok-gubernur-yang-zuhud/">Kisah Keteladanan Salman al-Farisi, Sosok Gubernur yang Zuhud</a> pertama kali tampil pada <a href="https://suarayasmina.com">SUARAYASMINA.COM</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://suarayasmina.com/"><u>Suarayasmina.com</u></a> – Dalam buku <em>Illalladzina Asrafu ‘ala ‘Anfusihim,</em> Dr. Aidh Abdullah al-Qarni mengisahkan sosok Salman al-Farisi saat diangkat menjadi gubernur. Kisah ini mencerminkan keindahan akhlak salah seorang sahabat Nabi yang bisa menjadi teladan para pejabat saat ini.</p>
<p>Dikisahkan, sepeninggal Rasulullah, pada masa khalifah Umar bin Khathab, Salman al-Farisi pernah diangkat sebagai gubernur di Kufah.</p>
<p>Berita diangkatnya Salman al-Farisi sebagai Gubernur Kufah pun segera sampai ke telinga penduduk Kufah. Hingga tiba hari kedatangan Salman ke kota itu, seluruh penduduk Kufah pun keluar rumah untuk menyambut kedatangannya.</p>
<p>Mereka mengira Gubernur Salman akan datang ke Kufah dengan pengawalan yang cukup banyak. Namun perkiraan mereka meleset. Ternyata, dia datang seorang diri dengan mengendarai seekor keledai.</p>
<p>Gubernur Salman tampak santai duduk di atas keledainya, sedang di tangannya terdapat sekerat daging yang digigitnya berulang-ulang sedikit demi sedikit.</p>
<p>Penduduk Kufah sama sekali tak menyangka bahwa dia adalah gubernur yang mereka nanti-nanti. sehingga sebagian mereka bertanya kepadanya.</p>
<p>“Apakah engkau melihat Salman al-Farisi yang diutus oleh Khalifah Umar kepada kami? Apakah engkau melihatnya di jalan?”</p>
<p>Salman pun menjawab, “Akulah Salman al-Farisi.”</p>
<p>Dengan nada tak percaya, mereka berkata, “Ah, janganlah engkau menipu kami…janganlah engkau bercanda dengan kami.”</p>
<p>Salman pun menjawab, “Aku berlindung kepada Allah sekiranya aku menjadi salah seorang dari orang-orang yang bodoh. Ini bukannya waktu untuk bersenda gurau.”</p>
<p>Melihat keadaan Salman yang amat bersahaja, mereka memang sulit mempercayai bahwa ia adalah utusan Khalifah Umar sebagai gubernur untuk mereka. Mereka bahkan cenderung meremehkannya. Mengapa?</p>
<p>Tentu karena penduduk Irak adalah penduduk yang tinggal bersebelahan dengan negeri Persia (Iran) yang ketika itu dikenal sebagai negeri kaya raya dengan istana megah bertahtakan emas dan perak. Juga penghasil sutra dan permadani yang indah.</p>
<p>Penduduk Kufah mengira bahwa agama Islam adalah agama yang kuat dan mewah. Hal ini berbeda dengan pandangan Salman.</p>
<p>Maka, Salman pun berkata dengan lembut kepada mereka, “Tidak, kami datang dengan kesederhanaan. Kehidupan kami adalah kehidupan spiritual. Kami datang untuk mengangkat derajat iman di dalam hati.”</p>
<p>Akhirnya, Salman berhasil meyakinkan penduduk Kufah dan ia pun menjabat gubernur di sana.</p>
<p>Ketika Khalifah Umar memberinya gaji bulanan, Salman membagi gajinya itu menjadi tiga bagian: sepertiga untuk dirinya sendiri, sepertiga untuk dihadiahkan, dan sepertiga untuk disedekahkan.</p>
<p>Menjelang akhir hayatnya, dan ia masih menjabat sebagai gubernur, penduduk Kufah mendatanginya untuk meminta warisan berharga darinya. Dan inilah tiga warisan berharga yang dimiliki sang gubernur Kufah:</p>
<p>Pertama; sorban lebar, yang biasa digunakan untuk alas duduk dirinya dan para tamunya dalam pengadilan yang biasa ia adakan untuk memutuskan suatu perkara.</p>
<p>Kedua; sebuah tongkat, yang dijadikan alat untuk bersandar pada saat berkhutbah kepada jemaah;</p>
<p>Ketiga; sebuah mangkuk, yang digunakan untuk makan, mandi, dan berwudu.</p>
<p>Pada saat <em>sakaratul maut</em>, Salman menangis. Orang-orang yang berada di sekitarnya bertanya, “Apa yang membuatmu menangis, wahai Salman?”</p>
<p>Saman menjawab, “Aku menangis karena teringat sabda Rasulullah Saw yang berbunyi <em>‘Hendaklah perbekalanmu di dunia ini hanyalah seperti perbekalan orang yang sedang berada di atas kapal’</em>. Sementara perbekalan kita adalah dunia itu sendiri seluruhnya.”</p>
<p>Mereka berkata, “Mudah-mudahan Allah mengampuni dosa-dosamu, wahai Salman. Namun, bukankah engkau tidak mengambil bekal apa-apa dari dunia ini?”</p>
<p>Salman menjawab, “Apakah kalian menganggap remeh hal ini. Sesungguhnya aku takut pada hari kiamat nanti ditanya tentang sorban, tongkat, dan mangkukku ini.”</p>
<p>Begitulah Salam al-Farisi. Begitulah gubernur zuhud itu memberi pelajaran dan hikmah yang berharga bagi kita semua setelahnya.</p>
<p>Artikel <a href="https://suarayasmina.com/2025/10/24/kisah-keteladanan-salman-al-farisi-sosok-gubernur-yang-zuhud/">Kisah Keteladanan Salman al-Farisi, Sosok Gubernur yang Zuhud</a> pertama kali tampil pada <a href="https://suarayasmina.com">SUARAYASMINA.COM</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
