<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Jejak Ulama Arsip - Suara Yasmina</title>
	<atom:link href="https://suarayasmina.com/tag/jejak-ulama/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://suarayasmina.com/tag/jejak-ulama/</link>
	<description>Dakwah &#38; Pemberdayaan Umat</description>
	<lastBuildDate>Thu, 06 Nov 2025 03:22:56 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.1</generator>

<image>
	<url>https://suarayasmina.com/wp-content/uploads/2026/02/cropped-icon-Logo-merah-bulat-32x32.png</url>
	<title>Jejak Ulama Arsip - Suara Yasmina</title>
	<link>https://suarayasmina.com/tag/jejak-ulama/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>KH. Moenawar Chalil (1908-1961): Ulama yang Produktif Menulis, Mewariskan Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad Saw</title>
		<link>https://suarayasmina.com/2025/11/06/kh-moenawar-chalil-1908-1961-ulama-yang-produktif-menulis-mewariskan-kelengkapan-tarikh-nabi-muhammad-saw/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Badiatul Muchlisin Asti]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 06 Nov 2025 03:19:15 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Jejak Ulama]]></category>
		<category><![CDATA[Pilihan Editor]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarayasmina.com/?p=1150</guid>

					<description><![CDATA[<p>Suarayasmina.com – Salah satu tradisi baik (sunnah hasanah) yang diwariskan para ulama, termasuk ulama Nusantara, adalah tradisi menulis. Tradisi ini memungkinkan transmisi keilmuan dan pengetahuan dapat berlangsung dengan baik. KH. Moenawar Chalil adalah salah satu ulama Indonesia yang dikenal produktif menulis. Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad Saw adalah karya masterpice-nya yang hingga saat ini masih terbit [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://suarayasmina.com/2025/11/06/kh-moenawar-chalil-1908-1961-ulama-yang-produktif-menulis-mewariskan-kelengkapan-tarikh-nabi-muhammad-saw/">KH. Moenawar Chalil (1908-1961): Ulama yang Produktif Menulis, Mewariskan Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad Saw</a> pertama kali tampil pada <a href="https://suarayasmina.com">Suara Yasmina</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="text-decoration: underline;"><a href="https://suarayasmina.com/">Suarayasmina.com</a></span> – Salah satu tradisi baik <em>(sunnah hasanah)</em> yang diwariskan para ulama, termasuk ulama Nusantara, adalah tradisi menulis. Tradisi ini memungkinkan transmisi keilmuan dan pengetahuan dapat berlangsung dengan baik. KH. Moenawar Chalil adalah salah satu ulama Indonesia yang dikenal produktif menulis.</p>
<p><em>Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad Saw</em> adalah karya <em>masterpice</em>-nya yang hingga saat ini masih terbit dan menjadi salah satu rujukan umat Islam Indonesia di bidang <em>sirah nabawiyah</em>. Di samping produktivitas karya, ia dikenal sebagai seorang aktivis, pemikir, mubalig, dan pendidik yang tekun membina umat.</p>
<h4><strong>Kelahiran dan Jejak Intelektual</strong></h4>
<p>KH. Moenawar Chalil lahir di Kendal, pada 22 Februari 1908 (1326 H). Ayahnya, KH. Muhammad Chalil, adalah seorang ulama dan saudagar sukses. Sejak kecil, Moenawar Chalil dididik sendiri oleh ayahnya. Kemudian melanjutkan berguru kepada sejumlah ulama di Kendal.</p>
<p>Herry Mohammad dalam buku <em>Tokoh-tokoh Islam yang Berpengaruh Abad 20 </em>(2006) menyebut, saat usianya menginjak 8 tahun, oleh ayahnya ia akan disekolahkan di HIS (<em>Hollandsch-Inlandsche School)</em>, sekolah dasar di zaman kolonial. Tapi ibunya melarang.</p>
<p>Didikan agama yang kuat menjadikan <em>ghirah</em> Islam Moenawar Chalil berkobar. Pada usia 17 tahun, ia telah aktif di Syarikat Islam (SI). Tak lama kemudian SI pecah, SI putih pimpinan HOS Cokroaminoto dan SI merah pimpinan Semaun yang kemudian menjelma menjadi Partai Komunis Indonesia (PKI).</p>
<p>Tahun 1926, PKI memberontak kepada pemerintahan Hindia Belanda. Moenawar Chalil yang aktif di SI putih ikut ditangkap Belanda, sebab Belanda tidak paham SI putih dan Si merah. Atas bantuan Bupati Kendal, Moenawar Chalil dibebaskan.</p>
<p>Bulan Januari 1927, Moenawar Chalil dikirim ke Mekah untuk melanjutkan perjalanan intelektualnya memperdalam ilmu-ilmu keislaman. Di sana, ia bertemu dengan HAMKA, yang juga sedang menimba ilmu di Tanah Suci.</p>
<h4><strong>Aktivis yang Produktif Menulis</strong></h4>
<p>Sepulang dari Mekah, Moenawar Chalil aktif di persyarikatan Muhammadiyah Cabang Kendal. Ia didaulat menjadi guru Sekolah Menengah (Madrasah al-Wustha) dan Ketua Bagian Tabligh. Muhammadiyah memang sejalan dengan pandangan-pandangan keagamaannya yang kritis.</p>
<p>Sepulang dari Mekah, <em>ghirah</em> Islam Moenawar Chalil makin menyala. Sebagai dai, ia sering membahas seputar pentingnya pemurnian Islam. Dalam pelbagai khutban dan ceramah, ia sering mengingatkan agar umat Islam tidak terjebak dalam apa yang ketika itu sering diistilahkan sebagai praktik TBC (takhayul, bidah, dan churafat).</p>
<p>Dalam pandangan Moenawar Chalil, bila umat Islam ingin maju, maka pemikiran dan perilaku yang keluar dari syariat perlu dihindari. Umat hendaknya dibersihkan dari unsur-unsur syirik, bidah, khurafat, dan takhayul, serta menjalankan Islam yang murni dan benar.</p>
<p>Kelak, pandangan-pandangannya tentang perlunya pemurnian ajaran Islam dari berbagai praktik keagamaan yang berbau khurafat, tahayul, syirik dan bidah, dituangkannya melalui tulisan dan artikel di media massa. Bahkan melalui buku. Tidak salah bila ada sebagian cendekiawan Islam yang menjulukinya sebagai monoteis garis keras.</p>
<p>Tahun 1930, Moenawar Chalil diangkat menjadi Ketua Majelis Tarjih Pimpinan Pusat Muhammadiyah atas ajakan KH. Mas Mansoer. Tiga tahun kemudian, tahun 1933, ia pindah ke Semarang dan diangkat menjadi guru pada kursus mubaligh dan agama Islam yang diselenggarakan oleh Muhammadiyah Cabang Semarang.</p>
<h4><strong>Birokrat dan Pejuang Kemerdekaan</strong></h4>
<p>Sejak tahun 1933, Moenawar Chalil sangat aktif menulis, baik dalam bentuk artikel untuk dimuat di berbagai media Islam seperti majalah <em>Pembela Islam</em> di Bandung dan <em>Hikmah</em> Jakarta; maupun dalam bentuk buku. Di Semarang, ia bahkan pernah diberi amanat menjadi pemimpin redaksi majalah <em>Suara Islam</em> dalam rentang waktu 1934-1935.</p>
<p>Di sela keaktifannya menulis, pada tahun 1938, Moenawar Chalil diangkat menjadi Sekretaris Lajnah Ahli-ahli Hadits Indonesia yang diketuai KH. Ma’shum dari Jogjakarta dan KH. Ghozali dari Solo sebagai wakil ketua.</p>
<p>Sayangnya, kegiatan menulisnya berhenti sejak tentara Jepang menduduki Indonesia. Moenawar Chalil turut berjuang membela kemerdekaan Republik Indonesia. Ia mengisinya dengan melakukan serangkaian pembinaan mental dan spiritual, terutama saat menjadi Kepala Jawatan Agama Karesidenan Semarang.</p>
<p>Pada revolusi fisik, Moenawar Chalil juga pernah menjadi penasehat Delegasi Republik Indonesia di <em>Local Joint Committee </em>Jawa Tengah.</p>
<p>Setelah Jepang menyerah pada Sekutu dalam Perang Dunia II dan Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945, Gubernur Jawa Tengah yang pertama, R. Wongsonegoro, memintanya untuk tetap menjabat Kepala Jawatan Agama Karesidenan Semarang.</p>
<p>Tahun 1947, di sela kesibukannya sebagai birokrat, Moenawar Chalil sempat menulis sebuah buku berjudul <em>Al-Qur’an Sebagai Mukjizat yang Terbesar dan Peristiwa 17 Ramadhan</em>. Buku ini diterbitkan oleh Kementerian Agama Republik Indonesia. Kemungkinan besar, sejak itulah tanggal 17 Ramadhan ditetapkan oleh Pemerintah RI sebagai hari besar resmi<em> Nuzulul Qur’an</em>.</p>
<p>Tahun 1951, karena berbagai hal, ia mengundurkan diri dari jabatan sebagai Kepala Jawatan Agama Karesidenan Semarang sekaligus pegawai negeri pada usia 43 tahun tanpa hak pensiun.</p>
<p>Pada akhir tahun 1951, setelah pengunduran dirinya sebagai Kepala Jawatan Agama Karesidenan Semarang, ia bersama para ulama lainnya seperti KH. Abdul Khaliq Hasyim dari Jawa Timur dan Kiai Affandi Ridwan dari Jawa Barat, ditahan pihak berwajib.</p>
<p>Penahanan itu sehubungan dengan ditemukannya sebuah dokumen di Cirebon yang berasal dari DI/TII yang menyatakan pengangkatannya sebagai Gubernur DI/TII untuk Jawa Tengah. Moenawar Chalil dituduh akan menggulingkan pemerintahan yang sah. Namun karena tuduhan itu tidak terbukti, setelah tujuh bulan ditahan, ia dibebaskan sehari sebelum Idulfitri tahun 1952.</p>
<p>Dalam sejarah keormasan, Moenawar Chalil bergabung dengan Muhammadiyah dan Persis. Tahun 1957, Moenawar Chalil ditunjuk sebagai Ketua Majelis Ulama Persatuan Islam (Persis) Bandung. Dan di kancah politik, ia pernah aktif di Masyumi pada Pemilu 1955.</p>
<h4><strong>Produktif Menulis Hingga Akhir Hayat</strong></h4>
<p>Sekitar pertengahan Oktober 1952, Presiden Sukarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta memintanya kembali menjadi pegawai negeri dengan menawarkan jabatan yang cukup tinggi dalam pemerintahan, tetapi ditolaknya dengan alasan ingin memusatkan tenaga, pikiran, dan waktunya untuk menulis, melanjutkan aktivias dakwah <em>bil qolam</em>-nya yang sempat terhenti sejak pendudukan tentara Jepang.</p>
<p>Tahun 1957, produktivitasnya menuangkan pemikiran dan wawasan Islam ke dalam buku mendapatkan apresiasi dari Persatuan Himpunan Pengarang Islam Pusat yang berkedudukan di Jakarta. Nama Moenawar Chalil terpilih sebagai salah satu dari sepuluh penulis terkemuka di Indonesia, bersama HAMKA, M. Natsir, Zainal Abidin Ahmad, Firdaus AN, Tamar Jaya (Jakarta), A. Hasan (Bangil), Isa Anshary (Bandung), Hasbie Ash-Shiddieqiy (Jogjakarta), dan A.z. Arifin Abbas (Medan).</p>
<p>KH. Moenawar Chalil meninggal dunia pada 23 Mei 1961 pada usia 53 tahun di Kampung Kulitan 313 Semarang, setelah menderita kanker paru-paru dan tumor otak selama kurang lebih dua bulan lamanya.</p>
<p>Ia meninggal dunia dengan meninggalkan seorang istri, 8 orang anak, dengan lebih dari 10 karya. Ia tak meninggalkan harta, tapi meninggalkan sejumlah karya buku yang sangat berharga, di antaranya <em>Kembali Kepada Al Qur’an dan As Sunnah, Riwayat Sayidah Chodijah dan Sayidah Aisyah Permaisuri Nabi Muhammad SAW, Biografi Empat Serangkai Imam Mazhab, Peristiwa Isra’ dan Mi’raj, Al Qur’an dari Masa ke Masa</em>, <em>Al Mukhtarul Ahadits: Himpunan Hadits-Hadits Pilihan</em>, dan masih banyak lagi.</p>
<p>Di antara karyanya itu, <em>Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad Saw</em> adalah karya bukunya yang paling monumental.</p>
<p>Karyanya ini diterbitkan pertama kali oleh Penerbit Bulan Bintang, Jakarta, pada tahun 1956 dan mengalami beberapa kali cetak ulang. Saat ini, penerbitan diambil alih oleh penerbit Gema Insani, Jakarta, terdiri dari 3 jilid <em>hard cover</em> dan masih cetak ulang hingga sekarang.</p>
<p>Tahun 1996, Thoha Hamim, seorang mahasiswa pascasarjana Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Ampel Surabaya, berhasil memperoleh gelar doctor dari The Institute of Islamic Studies, McGill University, Montreal, Canada, dengan tesis berjudul <em>Moenawar Chalil’s Reformist Thought: A Study of An Indonesian Moslem Scholar</em> (1908-1961).</p>
<p>KH. Moenawar Chalil boleh berpulang, namun karya-karyanya tetap abadi menginspirasi generasi-generasi setelahnya.</p>
<p>Artikel <a href="https://suarayasmina.com/2025/11/06/kh-moenawar-chalil-1908-1961-ulama-yang-produktif-menulis-mewariskan-kelengkapan-tarikh-nabi-muhammad-saw/">KH. Moenawar Chalil (1908-1961): Ulama yang Produktif Menulis, Mewariskan Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad Saw</a> pertama kali tampil pada <a href="https://suarayasmina.com">Suara Yasmina</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kisah-kisah Keteladanan Buya Hamka</title>
		<link>https://suarayasmina.com/2025/04/29/kisah-kisah-keteladanan-buya-hamka/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Badiatul Muchlisin Asti]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 29 Apr 2025 05:57:59 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kitabah]]></category>
		<category><![CDATA[Buya Hamka]]></category>
		<category><![CDATA[Jejak Ulama]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarayasmina.com/?p=394</guid>

					<description><![CDATA[<p>Suarayasmina.com &#124; Buya Hamka adalah salah seorang tokoh legendaris Indonesia. Namanya harum di panggung sejarah Nusantara. Dalam dirinya tercakup sosok ulama karismatik, pejuang kemerdekaan, dan sastrawan yang telah menorehkan sejumlah karya fenomenal. Kisah dan Keteladanan Buya Hamka Banyak inspirasi dan sinar keteladanan yang menyemburat dari pribadinya. Sebagian sudah banyak diketahui, namun sebagian lainnya masih banyak [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://suarayasmina.com/2025/04/29/kisah-kisah-keteladanan-buya-hamka/">Kisah-kisah Keteladanan Buya Hamka</a> pertama kali tampil pada <a href="https://suarayasmina.com">Suara Yasmina</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://suarayasmina.com">Suarayasmina.com</a> | Buya Hamka adalah salah seorang tokoh legendaris Indonesia. Namanya harum di panggung sejarah Nusantara. Dalam dirinya tercakup sosok ulama karismatik, pejuang kemerdekaan, dan sastrawan yang telah menorehkan sejumlah karya fenomenal.</p>
<h3><strong>Kisah dan Keteladanan Buya Hamka</strong></h3>
<p>Banyak inspirasi dan sinar keteladanan yang menyemburat dari pribadinya. Sebagian sudah banyak diketahui, namun sebagian lainnya masih banyak yang ‘tersembunyi’ alias belum banyak diketahui khalayak luas. Padahal sangat penting sebagai sumber motivasi dan inspirasi bagi masyarakat Indonesia.</p>
<p>Salah satu buku yang mengulas sosok Buya Hamka adalah buku berjudul <em>Ayah…Kisah Buya Hamka</em> yang ditulis oleh Irfan Hamka dan diterbitkan oleh Penerbit Republika. Buku ini bisa jadi jembatan yang akan menghubungkan pembaca mengenal lebih dekat sosok Buya Hamka.</p>
<p>Irfan Hamka sendiri adalah salah seorang anak kandung Buya Hamka. Sebagai anak, Irfan tentu sangat mengenal Buya Hamka. Setiap hari bertemu dan berinteraksi, tentu banyak kisah tentang Buya Hamka yang diketahui oleh Irfan, terutama kisah-kisah bersama Buya Hamka yang melibatkan dirinya.</p>
<p>Melalui buku ini, Irfan Hamka menuturkan dan menghimpun kisah-kisah tentang Buya Hamka dari sejak masa kecil, remaja, dewasa, berkeluarga, hingga meninggal dunia.</p>
<p>Baik Buya Hamka sebagai sosok ulama, pejuang, politisi, sastrawan, maupun sebagai ayah, suami, dan kepala rumah tangga. Irfan menuturkan semua kisah-kisah itu dengan bahasa yang ringan dan mengalir, sehingga mudah dicerna dan dipahami oleh pembaca dari latar belakang apapun.</p>
<h3><strong>Menyikapi Fitnah Saat Menjadi Ketua Umum MUI</strong></h3>
<p>Banyak inspirasi dan sisi-sisi keteladanan yang dapat dipetik dari sosok Buya Hamka. Di antaranya tentang sikap tegas, jiwa besar, dan pemaaf.</p>
<p>Sebagai contoh adalah saat Buya Hamka terpilih sebagai Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat yang pertama. Mengiringi keterpilihan Buya Hamka tersebut, berbagai fitnah terlontar yang ditujukan ke pribadi Buya Hamka. Bahkan di antara pemfitnah itu adalah seorang mubalig yang cukup dekat dengannya.</p>
<p>“Hamka bukan milik umat lagi. Dia telah menjual dirinya dengan uang satu miliar untuk dapat menduduki jabatan mulia itu. Dia telah menjadi orang istana.” Demikian salah satu bunyi fitnahan itu.</p>
<p>Saat MUI yang dipimpin oleh Buya Hamka mengeluarkan fatwa haramnya umat Islam mengikuti natal bersama, pemerintah keberatan dengan fatwa itu. Karena berseberangan dengan pemerintah, akhirnya Buya Hamka mengundurkan diri sebagai Ketua Umum MUI Pusat.</p>
<p>Sikap tegas Buya Hamka itu mendapat apresiasi dari banyak tokoh Islam. Mereka mengucapkan selamat, termasuk mubalig yang telah memfitnahnya. Mubalig itu meminta maaf kepada Buya Hamka atas sikapnya selama ini.</p>
<p>Apa tanggapan Buya Hamka? “Tidak ada masalah. Biasa, dalam perjuangan ini kita akan bertemu dengan hal-hal seperti itu. Hanya bagaimana kita menyikapinya”.</p>
<h3><strong>Menyikapi Tuduhan Plagiarisme</strong></h3>
<p>Contoh lainnya adalah saat Buya Hamka dituduh melakukan plagiarisme atas novel karyanya berjudul <em>Tenggelamnya Kapal Van der Wijck</em>. Tuduhan itu salah satunya dilansir oleh sebuah surat kabar harian ibu kota, <em>Harian Bintang Timur.</em></p>
<p>Melalui lembaran <em>Lentara</em> yang diasuh oleh Pramoedya Ananta Toer, koran itu memuat dan mengulas tuduhan Buya Hamka mencuri karya seorang pujangga Prancis bernama Alvonso Care.</p>
<p>Berbulan-bulan tuduhan itu gencar diekspos, bahkan hingga menyerang pribadinya. Namun Buya Hamka menanggapi tuduhan itu dengan tenang. “Ayah sangat tenang sekali menyikapi semuanya,” tulis Irfan mengenai sikap ayahnya menghadapi tuduhan plagiarisme.</p>
<h3><strong>Sosok Pemaaf, Bukan Pendendam</strong></h3>
<p>Bertahun-tahun kemudian, suatu hari, Buya Hamka kedatangan sepasang tamu, seorang perempuan pribumi dan seorang laki-laki keturunan China. Rupanya perempuan itu adalah anak sulung Pramudya Ananta Toer bernama Astuti.</p>
<p>Astuti datang menemui Buya Hamka bersama calon suaminya bernama Daniel Setiawan, atas suruhan ayahnya, dengan maksud agar Buya Hamka berkenan menuntun Daniel masuk Islam sekaligus membimbingnya.</p>
<p>Tanpa keraguan, Buya Hamka langsung memenuhi permintaan itu tanpa menyinggung sama sekali bagaimana sikap Pramoedya Ananta Toer terhadapnya beberapa waktu lalu. Sebuah keanggunan sikap yang luar biasa hebat.</p>
<p>Menurut sastrawan Taufiq Ismail dalam kata pengantarnya di buku ini, peristiwa itu merupakan cara Pramoedya Ananta Toer meminta maaf kepada Buya Hamka atas sikapnya bertahun lalu.</p>
<p>“Walaupun Pram tidak eksplisit dalam hal ini meminta maaf kepada Buya Hamka terhadap apa yang telah dilakukannya bertahun-tahun dulu kepada beliau, tapi dengan kenyataan bahwa Pram menyuruh calon menantunya pergi belajar ke rumah Buya Hamka (bukan kepada ulama lain), saya membaca peristiwa ini sebagai ungkapan minta maaf dari Pram, secara tidak langsung, dengan gaya orang Jawa. Menurut saya ini indah sekali. Buya Hamka, sebagai seorang sufi, menangkap makna getaran ungkapan itu,” tulis Taufiq Ismail.</p>
<p>Masih ada banyak lagi kisah-kisah inspiratif penuh keteladanan yang bisa dibaca di buku karya Irfan Hamka. Buku karya Irfan Hamka ini penting dibaca tidak hanya sekedar agar bisa lebih dekat lagi mengenal sosok Buya Hamka, namun juga dalam rangka menyerap spirit keteladanan yang hebat dari ulama-sastrawan legendaris ini.</p>
<p>Artikel <a href="https://suarayasmina.com/2025/04/29/kisah-kisah-keteladanan-buya-hamka/">Kisah-kisah Keteladanan Buya Hamka</a> pertama kali tampil pada <a href="https://suarayasmina.com">Suara Yasmina</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>KH. Sholeh Darat as-Samarani (1820-1903 M): Sang Mahaguru Ulama Nusantara</title>
		<link>https://suarayasmina.com/2025/04/23/kh-sholeh-darat-as-samarani-1820-1903-m-sang-mahaguru-ulama-nusantara/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Badiatul Muchlisin Asti]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 23 Apr 2025 13:39:23 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Jejak Ulama]]></category>
		<category><![CDATA[Pilihan Editor]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarayasmina.com/?p=376</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh Badiatul Muchlisin Asti Ketua Yayasan Mutiara Ilma Nafia (Yasmina) Grobogan Suarayasmina.com &#124; Dalam khazanah ulama Nusantara, nama KH. Sholeh Darat sangat diperhitungkan karena termasuk ulama besar pada masanya. Beliau dijuluki “mahaguru ulama Nusantara” karena banyak ulama besar di Indonesia yang pernah berguru kepadanya. Sebagai ulama besar dengan penguasaan multidisiplin ilmu, KH. Sholeh Darat meninggalkan [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://suarayasmina.com/2025/04/23/kh-sholeh-darat-as-samarani-1820-1903-m-sang-mahaguru-ulama-nusantara/">KH. Sholeh Darat as-Samarani (1820-1903 M): Sang Mahaguru Ulama Nusantara</a> pertama kali tampil pada <a href="https://suarayasmina.com">Suara Yasmina</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh <strong>Badiatul Muchlisin Asti</strong><br />
<em>Ketua Yayasan Mutiara Ilma Nafia (Yasmina) Grobogan</em></p>
<p><span style="text-decoration: underline;"><a href="https://suarayasmina.com/">Suarayasmina.com</a></span> | Dalam khazanah ulama Nusantara, nama KH. Sholeh Darat sangat diperhitungkan karena termasuk ulama besar pada masanya. Beliau dijuluki “mahaguru ulama Nusantara” karena banyak ulama besar di Indonesia yang pernah berguru kepadanya.</p>
<p>Sebagai ulama besar dengan penguasaan multidisiplin ilmu, KH. Sholeh Darat meninggalkan banyak karya yang hingga kini masih banyak dikaji di berbagai pesantren dan majelis taklim. Di antaranya oleh Komunitas Pencinta KH. Sholeh Darat (Kopisoda) yang berpusat di Kota Semarang.</p>
<p>Makam KH. Sholeh Darat berada di kompleks Taman Pemakaman Umum (TPU) Bergota Semarang dan sebagaimana makam ulama besar lainnya, setiap hari hampir diziarahi oleh banyak peziarah dari berbagai daerah.</p>
<h3><strong>KH. Sholeh Darat: Kelahiran dan Pengembaraan Intelektualnya</strong></h3>
<p>Siapakah KH. Sholeh Darat? KH. Sholeh Darat adalah seorang ulama besar pada masanya yang lahir di pesisir utara Jawa, tepatnya di Kedung Jumbleng, Kecamatan Mayong, Kabupaten Jepara, pada sekitar tahun 1820 M. Nama aslinya Muhammad Sholeh bin Umar. Beliau juga dikenal dengan nama KH. Sholeh Darat As-Samarani.</p>
<p>Darat yang dilekatkan pada namanya merujuk pada sebuah kampung dekat pantai utara Kota Semarang. Kampung itu saat ini terletak di Jalan Kakap Darat Tirto 212, Kelurahan Dadapsari, Kecamatan Semarang Utara, yang dulu bernama Kampung Mlayu Darat.</p>
<p>Di kampung itulah dulu KH. Sholeh Darat mendirikan pesantren dan menjadikannya sebagai pusat kaderisasi ulama. Lalu penyebutan as-Samarani yang berarti “Semarang” merupakan bagian integral dari nama seorang ulama ternama yang sudah menjadi kelaziman pada masa itu. Penyertaan nama kota asal dimaksudkan untuk menunjukkan dari mana ulama itu berasal atau tinggal.</p>
<p>KH. Sholeh Darat sendiri adalah putra Kiai Umar, seorang ulama yang berpengaruh di masanya. Kiai Umar juga merupakan salah satu ulama pejuang kepercayaan Pangeran Diponegoro di daerah Semarang khususnya dan Jawa bagian utara pada umumnya. Kiai Umar terlibat aktif dalam Perang Jawa (1825-1830) yang dipimpin Pangeran Diponegoro melawan kolonial Belanda.</p>
<p>KH. Sholeh Darat tumbuh menjadi seorang ulama mumpuni dan <em>‘alim</em> karena kapasitas ilmunya yang mendalam terkait banyak disiplin keilmuan Islam. Hal itu karena sejak kecil, KH. Sholeh Darat sangat tekun mendalami ilmu agama. Sejak belia, KH. Sholeh Darat dibimbing langsung oleh ayahnya, Kiai Umar, terkait dasar-dasar ilmu keislaman.</p>
<p>Setelah itu, KH. Sholeh Darat melakukan pengembaran intelektual dengan berguru kepada sejumlah ulama di luar Jepara. Antara lain, berguru kepada Kiai Syahid di Pesantren Waturoyo, Margoyoso, Kajen, Pati. Setelah itu, berguru kepada Kiai Muhammad Sholeh bin Asnawi di Kudus. Setelahnya, bertolak menuju ke Kota Semarang untuk menimba ilmu kepada Kiai Ishak Damaran, Kiai Abu Abdullah Muhammad al-Hadi al-Baiquni, Ahmad Bafaqih Ba’alawi, dan Abdul Ghani Bima.</p>
<p>Setelah berguru kepada ulama di Pati, Kudus, dan Semarang, KH. Sholeh Darat masih melanjutkan pengembaraan intelektualnya, kali ini ke Loano, Purworejo. Di sini, beliau berguru kepada Haji Muhammad Irsyad.</p>
<p>Meski telah memiliki kapasitas ilmu yang memadai yang beliau timba dari para ulama mumpuni pada zamannya, namun gairah menuntut ilmu KH. Sholeh Darat masih tetap membara. Beliau pun meminta izin ayahnya, Kiai Umar, untuk melanjutkan pengembaraan intelektualnya ke Mekah. Dan ayahnya pun mendukung niat mulia anaknya itu.</p>
<p>Oleh Kiai Umar, KH. Sholeh Darat diajak ke Mekah melalui Singapura dengan dua tujuan sekaligus, yaitu menunaikan ibadah haji dan memperdalam ilmu di bawah bimbingan ulama-ulama terkemuka di tanah suci.</p>
<h3><strong>KH. Sholeh Darat Berguru Kepada Para Ulama Mekah dan Madinah</strong></h3>
<p>Di Mekah, dan juga di Madinah, KH. Sholeh Darat berguru kepada para ulama, baik yang berasal dari Nusantara maupun yang berasal dari Arab. Bekal keilmuan yang dibawanya dari tanah air, memudahkannya mendalami ilmu-ilmu keislaman selama di tanah suci.</p>
<p>Karena itulah, selain belajar, di Mekah KH. Sholeh Darat juga mengajar. Sehingga banyak ulama-ulama dari Indonesia yang memiliki sanad keilmuan dari KH. Sholeh Darat. Bahkan di Mekah, KH. Sholeh Darat juga diangkat sebagai seorang mufti—ulama yang mempunyai otoritas memberi fatwa, yang mengantarnya mempunyai reputasi internasional.</p>
<p>Ada banyak ulama Mekah yang menjadi guru KH. Sholeh Darat, di antaranya adalah Syekh Muhammad al-Muqri al-Mishri, Syekh Muhammad bin Sulaiman Hasbullah al-Makki, Sayid Ahmad bin Zaini Dahlan, Syekh Ahmad Nahrawi al-Mishri al-Makki, Sayid Muhammad Sholeh bin Sayid Abdurrahman az-Zawawi, Syekh Zahid, Syekh Umar as-Syami, Syekh Yusuf al-Mishri, dan Syekh Jamal (Mufti Mazhab Hanafi).</p>
<p>KH. Sholeh Darat tinggal di tanah Arab hingga tahun 1880. Kurang lebih 45 tahun—bila KH. Sholeh Darat berangkat ke Mekah tahun 1835. Selama puluhan tahun itu, selain belajar memperdalam ilmu agama, KH. Sholeh Darat juga menjadi pengajar dan mufti. Bahkan KH. Sholeh Darat pernah menikah ketika di Mekah. KH. Sholeh Darat menikah dengan seorang perempuan Arab. Sayangnya tidak ada data nama perempuan itu. KH. Sholeh Darat memutuskan kembali ke tanah air setelah istrinya meninggal dunia.</p>
<p>Sebenarnya, KH. Sholeh Darat merasa nyaman tinggal di Mekah. Apalagi bila mengingat ketika itu Indonesia masih menjadi tanah jajahan kolonial. Namun kesadaran untuk ikut menyiarkan Islam di tanah air, menjadikan KH. Sholeh Darat memutuskan untuk pulang ke tanah air.</p>
<h3><strong>KH. Sholeh Darat Pulang ke Tanah Air</strong></h3>
<p>Salah satu sosok yang disebut-sebut berjasa mempengaruhi keputusan KH. Sholeh Darat untuk pulang ke Tanah Air adalah Kiai Hadi Girikusumo. Menurut Kiai Hadi, KH. Sholeh Darat adalah sosok alim yang menguasai banyak disiplin ilmu agama. Sangat disayangkan bila dirinya menetap di Mekah dan tidak pulang ke tanah air.</p>
<p>Keilmuan KH. Sholeh Darat, menurut Kiai Hadi, akan lebih bermanfaat bila diamalkan di tanah air, mengingat masyarakat Jawa khususnya ketika itu masih sangat awam soal agama. Sentuhan dari Kiai Hadi itulah yang turut membuka kesadaran dan memantapkan hati KH. Sholeh Darat untuk akhirnya berkenan pulang ke tanah air.</p>
<p>Setiba di tanah air, KH. Sholeh Darat diambil menantu oleh Kiai Murtadlo—teman seperjuangan Kiai Umar, ayah KH. Sholeh Darat. KH. Sholeh Darat dinikahkan dengan putri Kiai Ali Murtadlo yang bernama Shofiyah.</p>
<p>Menurut cerita, setelah Kiai Murtadlo mendengar kabar duka istri KH. Sholeh Darat meninggal dunia di Mekah, beliau langsung mengirim pesan kepada KH. Sholeh Darat lewat jemaah haji agar pulang ke tanah air, tepatnya ke Semarang, untuk mengajar dan syiar dakwah Islam di Semarang.</p>
<p>Akhirnya, sekembalinya ke tanah air, KH. Sholeh Darat menetap di Semarang dan mendirikan pesantren di kampung Darat.</p>
<h3><strong>KH. Sholeh Darat Dijuluki Mahaguru Ulama Nusantara</strong></h3>
<p>Sepeninggal KH. Sholeh Darat, beliau dijuluki “Mahaguru Ulama Nusantara”. Hal itu karena banyak santri KH. Sholeh Darat yang di kemudian hari diketahui berhasil menjadi ulama-ulama besar Nusantara. Di antara ulama-ulama besar yang pernah berguru kepada KH. Sholeh Darat adalah: KH. Hasyim Asy’ari (pendiri Nahdlatul Ulama), KH. Ahmad Dahlan (Pendiri Muhammadiyah), KH. Umar (Pendiri Pesantren Al-Muayyad, Solo), KH. Dahlan Tremas (ahli falak), KH. Munawwir (Pendiri Pesantren Krapyak, Yogyakarta), dan banyak lagi.</p>
<p>Pahlawan emansipasi wanita kelahiran Jepara, RA Kartini, disebut-sebut juga pernah menimba ilmu kepada KH. Sholeh Darat dengan aktif mengikuti pengajian beliau setiap hari Ahad di pendopo Kabupaten Demak, di mana pamannya menjabat sebagai bupati. RA Kartini aktif mengikuti pengajian KH. Sholeh Darat selama kurang lebih dua tahun, sebelum akhirnya menikah dengan Bupati Rembang, KRM Adipati Aryo Singgih Djojoadiningrat.</p>
<p>KH. Sholeh Darat meninggal dunia pada hari Jumat Legi, 28 Ramadan 1321 H atau bertepatan dengan 18 Desember 1903 pada usia kurang lebih 83 tahun. Jenazahnya dimakamkan di pemakaman Bergota, salah satu pemakaman tertua di Semarang yang didirikan tahun 1862 oleh pemerintah Hindia Belanda di bawah pemerintahan Gubernur Jenderal Pieter Mijer.</p>
<p>KH. Sholeh Darat mewariskan banyak karya berupa puluhan kitab di bidang fikih, tafsir, ulumul Qur&#8217;an, tasawuf, dan lainnya, dengan penulisan Pegon (huruf Arab berbahasa Jawa). Salah satunya kitab <em>Fayd ar-Rahman fi Tarjamah Tafsir al-Kalam al-Malik al-Dayyan.</em></p>
<p>Kopi kitab tafsir ini dapat dijumpai di Museum RA Kartini Rembang untuk mengenang KH. Sholeh Darat pernah menghadiahkan kitab ini kepada RA Kartini. Sebuah sumber menyebutkan, kitab tafsir karya KH. Sholeh Darat itu dihadiahkan kepada RA Kartini sebagai hadiah pernikahannya dengan Bupati Rembang.</p>
<p><strong>Referensi:</strong></p>
<p>Hakim, Taufiq. (2016). <em>Kiai Sholeh Darat dan Dinamika Politik di Nusantara Abad XIX-XX M</em>. Yogyakarta: InDes Publishing.</p>
<p>Hazen, H. Ibnu, dkk. (2015). <em>100 Ulama dalam Lintas Sejarah Islam Nusantara</em>. Jakarta: Lembaga Ta’mir Masjid PBNU.</p>
<p>Kholqillah, Ali Mas’ud. (2018). <em>Pemikiran Tasawuf KH. Saleh Darat Al-Samarani: Maha Guru Para Ulama Nusantara.</em> Surabaya: Pustaka Idea.</p>
<p>Winarno, Edy. (2017). <em>Kartini (Raden Ayu Bupati Djojoadiningrat) di Rembang</em>. Rembang: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Rembang.</p>
<p>Artikel <a href="https://suarayasmina.com/2025/04/23/kh-sholeh-darat-as-samarani-1820-1903-m-sang-mahaguru-ulama-nusantara/">KH. Sholeh Darat as-Samarani (1820-1903 M): Sang Mahaguru Ulama Nusantara</a> pertama kali tampil pada <a href="https://suarayasmina.com">Suara Yasmina</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
