<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Keluarga Sakinah Arsip - Suara Yasmina</title>
	<atom:link href="https://suarayasmina.com/tag/keluarga-sakinah/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://suarayasmina.com/tag/keluarga-sakinah/</link>
	<description>Dakwah &#38; Pemberdayaan Umat</description>
	<lastBuildDate>Thu, 30 Oct 2025 04:56:40 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.1</generator>

<image>
	<url>https://suarayasmina.com/wp-content/uploads/2026/02/cropped-icon-Logo-merah-bulat-32x32.png</url>
	<title>Keluarga Sakinah Arsip - Suara Yasmina</title>
	<link>https://suarayasmina.com/tag/keluarga-sakinah/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Potret Romantis Rumah Tangga Nabi Muhammad Saw</title>
		<link>https://suarayasmina.com/2025/05/01/potret-romantis-rumah-tangga-nabi-muhammad-saw/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Badiatul Muchlisin Asti]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 01 May 2025 14:27:24 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Kitabah]]></category>
		<category><![CDATA[Keluarga Sakinah]]></category>
		<category><![CDATA[Rumah Tangga Nabi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarayasmina.com/?p=506</guid>

					<description><![CDATA[<p>Suarayasmina.com &#124; Kehidupan Nabi Muhammad Saw adalah kehidupan yang sarat dengan suri teladan terbaik yang bisa menjadi referensi bagi siapa pun yang menginginkan sukses di berbagai bidang kehidupan. Banyak sudah penulis yang mengupas peri kehidupannya yang penuh dengan sinar keteladanan. Salah satunya adalah buku berjudul Muhammad Saw, The Super Husband: Kisah Cinta Terindah Sepanjang Sejarah [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://suarayasmina.com/2025/05/01/potret-romantis-rumah-tangga-nabi-muhammad-saw/">Potret Romantis Rumah Tangga Nabi Muhammad Saw</a> pertama kali tampil pada <a href="https://suarayasmina.com">Suara Yasmina</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="text-decoration: underline;"><a href="https://suarayasmina.com/">Suarayasmina.com</a></span> | Kehidupan Nabi Muhammad Saw adalah kehidupan yang sarat dengan suri teladan terbaik yang bisa menjadi referensi bagi siapa pun yang menginginkan sukses di berbagai bidang kehidupan. Banyak sudah penulis yang mengupas peri kehidupannya yang penuh dengan sinar keteladanan.</p>
<p>Salah satunya adalah buku berjudul <em>Muhammad Saw, The Super Husband: Kisah Cinta Terindah Sepanjang Sejarah</em> karya D. Muhammad Makhyaruddin ini. Buku ini diterbitkan oleh Noura Books, PT Mizan Publika, Jakarta.</p>
<h4><strong>Potret Keindahan Rumah Tangga Nabi</strong></h4>
<p>Buku ini secara spesifik menyajikan secara mendalam potret romansa kehidupan rumah tangga Nabi Muhammad bersama istri-istrinya. Melalui buku ini, penulis yang seorang dosen dan periset sejarah Islam menghadirkan potret keindahan rumah tangga Nabi.</p>
<p>Melalui buku ini, penulis juga berupaya mendudukkan dan menjawab secara argumentatif, dengan data-data valid yang diambil dari sumber-sumber otoritatif, berbagai pernik-pernik dinamika dan problematika yang terjadi di selingkung rumah tangga nabi, yang sering menjadi sumber fitnah dan cibiran.</p>
<p>Di antara sumber fitnah dan cibiran yang kerapkali ditujukan terhadap kehidupan rumah tangga nabi adalah soal jumlah istri yang melebihi empat orang.</p>
<p>Banyak orientalis yang melabeli Nabi Muhammad sebagai “pria haus seks” berlandaskan fakta tersebut, tanpa secara jernih menelisik penyebab Nabi Muhammad menikah dengan banyak istri.</p>
<h4><strong>Memahami <em>Khasha’ish</em> Nabi</strong></h4>
<p>Di buku ini dijelaskan, menikah dengan lebih dari empat istri adalah <em>khasha’ish</em> (aturan khusus) bagi Nabi Muhammad yang tidak berlaku bagi umatnya. Aturan khusus itu sendiri harus dipahami secara utuh, sehingga tidak menimbulkan fitnah dan prasangka negatif.</p>
<p>Banyak orang yang tahu kebolehan Rasulullah menikah dengan banyak istri, namun sedikit yang tahu bahwa banyak kewajiban-kewajiban khusus <em>(al-wajibat)</em> beliau yang tidak diwajibkan kepada umatnya, baik terkait dengan pernikahan maupun di luar pernikahan.</p>
<p>Pernikahan Nabi Muhammad pun jauh dari motivasi syahwat. Bila menelisik perjalanan pernikahan Nabi Muhammad secara jujur dan jernih, maka akan didapati fakta tak terbantahkan bahwa beliau lebih lama melakukan pernikahan monogami daripada poligami.</p>
<p>Beliau menjalani hidup bermonogami bersama Khadijah selama 25 tahun hingga Khadijah wafat, yaitu dari usia 25 tahun hingga menginjak usia 50 tahun.</p>
<h4><strong>Menyelami Poligami Rasulullah</strong></h4>
<p>Setelah Khadijah wafat, barulah Nabi Muhammad berpoligami. Itu pun jauh dari alasan hasrat seksual, namun semata sebagai strategi dakwah.</p>
<p>Faktanya, dalam memilih istri setelah Khadijah wafat, beliau hampir tidak mempunyai pilihan karena semuanya ditentukan oleh Allah Swt untuk kepentingan dakwah.</p>
<p>Meski secara umum pernikahan Rasulullah bukan berdasarkan kecintaan hati, namun beliau mampu berbuat adil dan membangun mahligai rumah tangga dengan harmonis dan penuh romansa.</p>
<p>Kendati demikian, tetap saja banyak pihak yang menganggap kehidupan rumah tangga nabi bersama istri-istrinya tidak harmonis. Argumentasinya, rumah tangga beliau tidak luput dari terpaan problematika.</p>
<p>Cemburu antar istri beliau misalnya, telah memantik konflik dan perseteruan.</p>
<h4><strong>Memahami Problematika di Selingkung Rumah Tangga Nabi </strong></h4>
<p>Menanggapi hal itu, penulis buku ini menyatakan bahwa risalah Muhammad Saw justru tidak <em>syumul </em>(holistik, sempurna) jika tidak menyentuh problematika itu.</p>
<p>Masalah rumah tangga yang terjadi di selingkung rumah tangga Rasulullah Saw bukan sebuah aib, melainkan sebagai bukti adanya kebebasan berpendapat dan otoritas yang seimbang antara suami dan istri.</p>
<p>Hal itu tidak seperti pernikahan raja-raja yang mengeksploitasi dan mengekang istri dengan aturan-aturan yang zalim demi sebuah gengsi. Justru dari problematika itulah, umat bisa belajar mengatasi prolematika rumah tangga dengan bijaksana.</p>
<h4><strong>Rasulullah Sebagai Figur Suami Romantis</strong></h4>
<p>Di bagian akhir bab buku ini, penulis buku ini menghadirkan sosok Rasulullah yang jarang dikaji kecuali sepintas lalu saja, yaitu figur Rasulullah sebagai suami yang romantis, lembut, penyabar, perhatian, dan penuh kasih sayang.</p>
<p>Rasulullah misalnya, biasa mencium istri sebelum pergi dan setelah pulang; makan sepiring berdua; berlemah lembut dan menemani istri yang sakit; mandi bersama; mengajak istri makan bersama; tidur berpelukan; mencium istri setiap waktu; bersendau gurau dan membangun keakraban, dan sebagainya.</p>
<p>Inilah buku yang secara relatif berhasil menghadirkan potret romansa kehidupan rumah tangga Rasulullah yang ideal, lengkap dengan pernik-pernik problematika yang menghiasinya.</p>
<p>Buku ini layak menjadi referensi bagi siapapun yang ingin sukses membangun mahligai rumah tangga yang indah dan harmonis. <strong><em>(bma)</em></strong></p>
<p>Artikel <a href="https://suarayasmina.com/2025/05/01/potret-romantis-rumah-tangga-nabi-muhammad-saw/">Potret Romantis Rumah Tangga Nabi Muhammad Saw</a> pertama kali tampil pada <a href="https://suarayasmina.com">Suara Yasmina</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Panduan Islam Memberi Nama Anak</title>
		<link>https://suarayasmina.com/2025/05/01/panduan-islam-memberi-nama-anak/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Badiatul Muchlisin Asti]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 01 May 2025 05:14:22 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Keluarga Sakinah]]></category>
		<category><![CDATA[Tarbiyatul Awlad]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarayasmina.com/?p=492</guid>

					<description><![CDATA[<p>Suarayasmina.com &#124; Memberi nama merupakan salah satu hak anak yang harus ditunaikan orangtua. Dengan nama pemberian orangtuanya, seorang anak dipanggil sehari-hari dalam kehidupannya, yang dengan nama itu juga seorang anak akan mengindentifikasi dirinya. Arti Sebuah Nama menurut Islam Islam memberikan panduan yang jelas berkaitan dengan memberi nama anak. Agar nama itu kelak memberi pengaruh positif [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://suarayasmina.com/2025/05/01/panduan-islam-memberi-nama-anak/">Panduan Islam Memberi Nama Anak</a> pertama kali tampil pada <a href="https://suarayasmina.com">Suara Yasmina</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://suarayasmina.com/"><strong>Suarayasmina.com</strong></a> | Memberi nama merupakan salah satu hak anak yang harus ditunaikan orangtua.</p>
<p>Dengan nama pemberian orangtuanya, seorang anak dipanggil sehari-hari dalam kehidupannya, yang dengan nama itu juga seorang anak akan mengindentifikasi dirinya.</p>
<h3><strong>Arti Sebuah Nama menurut Islam</strong></h3>
<p>Islam memberikan panduan yang jelas berkaitan dengan memberi nama anak. Agar nama itu kelak memberi pengaruh positif bagi eksistensi dan kepribadian anak.</p>
<p>Bila William Shakespeare mengatakan <em>“What is in a name?”</em>—apalah arti sebuah nama?, maka Islam melalui lisan mulia Rasul-Nya menegaskan banyak sekali hal penting dalam nama seseorang.</p>
<p>Nama yang baik, besar pengaruhnya bagi sang penyandang nama. Dalam Islam, memberikan nama yang baik merupakan hak anak yang harus dipenuhi orangtuanya.</p>
<p>Dalam sebuah riwayat disebutkan, “Seseorang datang kepada Nabi Saw dan bertanya, <em>‘Ya Rasulullah, apa hak anakku ini?’</em> Nabi Saw menjawab, <em>‘Memberikan nama yang baik dan memberikan kedudukan yang baik (dalam hatimu)’</em>.” (HR. Aththusi).</p>
<h3><strong>Beri Nama yang Baik</strong></h3>
<p>Berdasarkan  hadis ini, Islam memerintahkan kepada orangtua agar memberi nama yang baik kepada anaknya. Apa makna dari nama yang baik itu?</p>
<p>Pertama; nama itu harus bagus, syukur menarik dan indah terdengar. Anak berhak diberi nama yang bagus karena seringkali nama yang diberikan orangtuanya menentukan kehormatannya.</p>
<p>Ahli hikmah berkata:</p>
<pre><em>Jika kami belum melihat kalian, 
maka yang paling kami cintai adalah yang paling
bagus namanya
Jika kami sudah melihat kalian, 
maka yang paling bagus wajahnya
Jika kami sudah mendengar kalian, 
maka yang paling bagus pembicaraannya
Jika kami sudah memeriksa kalian, 
maka yang paling kami cintai adalah yang paling
bagus akhlaknya</em></pre>
<p>Selain itu, nama yang bagus adalah langkah awal mengantarkan buah hati menjadi manusia yang baik; manusia yang mengerti apa yang harus dikerjakan dan ke mana harus melangkah.</p>
<h3><strong>Pengaruh Nama dan Kemampuan Sosialisasi Anak</strong></h3>
<p>Ibnu Qayyim Al-Jauziyah menegaskan, ada hubungan erat antara nama dengan yang dinamai. Nama memiliki pengaruh terhadap kedamaian anak. Penelitian modern menunjukkan, ada pengaruh antara nama dan kemampuan sosialisasi anak.</p>
<p>Stewart &amp; Koch dalam <em>Children Development Through Adolescence</em> menyatakan, anak-anak yang memiliki nama yang tidak menarik menjadi kurang populer daripada anak yang memiliki nama yang menarik <em>(the interesting names).</em></p>
<p>Anak yang memiliki nama yang tidak menarik merasa minder, tidak percaya diri dari pergaulan dengan teman sesamanya.</p>
<p>John Gottman &amp; Jonni Gonso menunjukkan penelitiannya (1975) bahwa anak yang tidak populer tidak tahu bagaimana menjalin persahabatan dengan orang-orang yang baru dikenalnya. Anak yang tidak populer cenderung tidak mampu memanejemen konflik. Dia tidak bisa menghadapi berbagai masalah sosial dengan baik.</p>
<p>Karena itu, Islam mengajarkan kepada setiap orangtua agar memperbagus nama buah hatinya. Karena selain memiliki pengaruh terhadap perkembangan kepribadiannya, juga karena dengan nama itulah ia akan dipanggil kelak di hari kiamat.</p>
<p>Rasulullah Saw bersabda, <em>“Kelak pada hari kiamat kalian akan dipanggil dengan nama-nama kalian dan nama bapak-bapak kalian. Oleh karena itu, perbaguslah nama-nama kalian”</em>. (HR. Abu Dawud, Ahmad, dan lainnya).</p>
<h3><strong>Beri Nama yang Bermakna Mulia</strong></h3>
<p>Kedua; tak hanya bagus dan indah didengar, nama itu juga harus mengandung makna yang mulia, makna yang baik atau positif. Karena pada sebuah nama, terkandung doa dan harapan.</p>
<p>Ketika nama seseorang disebut, akan direkam otak dan masuk ke dalam memori. Jika panggilan positif senantiasa direkam otak, akan memudahkan bawah sadar memunculkannya menjadi perwatakan.</p>
<p>Sebaliknya, dengan panggilan negatif yang masuk ke dalam rekaman otak, akan membentuk pencitraan negatif pada harga diri anak.</p>
<p>Benarlah jika dalam Al-Qur’an, Allah Swt memperingatkan agar jangan memanggil nama dengan gelar-gelar buruk, dengan firman-Nya, <em>“Janganlah kamu panggil-memanggil dengan gelar-gelar yang buruk”</em>. (QS. Hujuraat: 11).</p>
<h3><strong>Kaitan Nama dan Kepribadian Anak </strong></h3>
<p>Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah juga menegaskan bahwa pemberian nama yang baik akan mendorong yang punya nama untuk berbuat sesuai dengan makna yang terdapat dalam namanya. Hal itu terjadi karena dia merasa malu terhadap nama yang disandangnya bila perbuatannya tidak sesuai dengan makna namanya.</p>
<p>Apa yang ditegaskan Ibnu Qayyim selaras dengan apa yang dinyatakan pelbagai penelitian modern. Para psikolog modern belakangan menyadari pentingnya nama dalam pembentukan konsep diri.</p>
<p>Secara tak sadar orang akan didorong untuk memenuhi citra (image, gambaran) yang terkandung dalam namanya.</p>
<p>Pakar psikologi komunikasi Jalaluddin Rakhmat dalam bukunya <em>Islam Aktual</em> (1999) menyatakan, teori <em>labelling</em> (penamaan) menjelaskan kemungkinan seorang menjadi jahat karena masyarakat menamainya sebagai penjahat.</p>
<p>Berilah gelar “jorok” kepada anak Anda, dan seumur hidup anak itu akan menjadi orang yang jorok. Gelarilah ia “si pemurah” dan ia besar kemungkinan akan berusaha selalu pemurah.</p>
<p>Memang, boleh jadi orang akan berperilaku yang bertentangan dengan namanya. Taufiq mungkin jadi penjahat, tetapi nama itu akan meresahkan batinnya. Ia boleh jadi mengubah namanya, atau mengubah perilakunya.</p>
<h3><strong>Ubahlah Nama yang Buruk</strong></h3>
<p>Karena itulah Islam begitu memperhatikan hal ikhwal pemberian nama anak, di mana nama anak tidak hanya harus bagus untuk didengar, tapi juga harus mengandung makna yang mulia.</p>
<p>Ketika seorang sahabat menyebutkan namanya “Hazn” (duka cita), Nabi kita yang mulia segera menggantinya dengan “Farh” (suka cita). “Al-Mudhtaji’” (yang terbaring) diganti oleh Nabi menjadi “Al-Munba’its” (yang bangkit). Orang yang namanya “Harb” (perang) diubah Nabi menjadi “Silm” (damai), dan banyak lagi yang lain. (Al-Targhib 3:7).</p>
<p>Terdapat dalam sebuah hadis, “Dari Aisyah RA, bahwa Nabi SAW biasa mengubah nama yang buruk”. (HR. Tirmidzi).</p>
<p>Begitulah Islam memberi panduann dalam memberikan nama pada buah hati kita. <em><strong>(bma)</strong></em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Artikel <a href="https://suarayasmina.com/2025/05/01/panduan-islam-memberi-nama-anak/">Panduan Islam Memberi Nama Anak</a> pertama kali tampil pada <a href="https://suarayasmina.com">Suara Yasmina</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Mengungkap Indahnya Rumah Tangga Nabi Muhammad</title>
		<link>https://suarayasmina.com/2025/04/30/mengungkap-indahnya-rumah-tangga-nabi-muhammad/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Badiatul Muchlisin Asti]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 29 Apr 2025 22:07:50 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kitabah]]></category>
		<category><![CDATA[Keluarga Sakinah]]></category>
		<category><![CDATA[Rumah Tangga Nabi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarayasmina.com/?p=483</guid>

					<description><![CDATA[<p>Suarayasmina.com &#8211; Nabi Muhammad Saw adalah teladan di semua bidang kehidupan. Tutur kata, ekspresi, dan semua tindakannya menjadi rujukan bagi umatnya yang menginginkan kebahagiaan hakiki di dunia dan akhirat. Tak terkecuali dalam kehidupan berumah tangga. Rumah tangga nabi adalah rumah tangga penuh cahaya yang memancarkan inspirasi dan sinar keteladanan. Buku berjudul Bilik-bilik Cinta Muhammad Saw: [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://suarayasmina.com/2025/04/30/mengungkap-indahnya-rumah-tangga-nabi-muhammad/">Mengungkap Indahnya Rumah Tangga Nabi Muhammad</a> pertama kali tampil pada <a href="https://suarayasmina.com">Suara Yasmina</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="text-decoration: underline;"><a href="https://suarayasmina.com/">Suarayasmina.com</a></span> &#8211; Nabi Muhammad Saw adalah teladan di semua bidang kehidupan. Tutur kata, ekspresi, dan semua tindakannya menjadi rujukan bagi umatnya yang menginginkan kebahagiaan hakiki di dunia dan akhirat.</p>
<p>Tak terkecuali dalam kehidupan berumah tangga. Rumah tangga nabi adalah rumah tangga penuh cahaya yang memancarkan inspirasi dan sinar keteladanan.</p>
<p>Buku berjudul <em>Bilik-bilik Cinta Muhammad Saw: Kisah Sehari-hari Rumah Tangga Nabi</em> karya Dr. Nizar Abadzah yang diterbitkan Pustaka Zaman (Jakarta) ini mengungkap secara cukup mendalam potret rumah tangga nabi, ikhwal bagaimana akhlak Nabi Muhammad berinteraksi dengan para penghuni rumah di mana beliau tinggal.</p>
<p>Tidak hanya interaksi dengan para istrinya saja, buku ini juga mengungkap interaksi nabi dengan putri-putrinya, cucu-cucunya, anak-anak tirinya, dan anak-anak yang lain. Juga interaksi nabi dengan kerabat dan para tamunya serta dengan budak dan pelayannya.</p>
<p>Rumah tangga nabi sendiri tidak terbentuk di atas kemewahan. Semua serba sederhana. Makanan seadanya. Kamar, pakaian, dan alas tidur serba bersahaja</p>
<p>Bilik tinggal istri beliau di pinggiran masjid. Semua ada sembilan; empat di antaranya berfondasikan batu bata, sisanya berfondasikan batu gunung yang ditata. Atapnya yang terbawah terbuat dari lembaran pelepah kurma dengan ujung yang tidak rata dan terjangkau tangan orang yang berdiri di bawahnya.</p>
<p>Namun keserbasederhanaan itu tidak mengurangi kebahagiaan yang terpancar dari jiwa-jiwa para penghuninya. Rahasianya adalah cinta. Di atas fondasi cinta inilah rumah tangga nabi berdiri.</p>
<p>Cinta yang memenuhi hati seluruh istrinya tanpa terkecuali. Bukan hanya cinta seorang nabi, tapi cinta sebagai seorang suami yang sangat berkesan. Suami yang ketika di rumah memberi keteduhan dan ketika pergi menyisakan rindu dan sedih di hati.</p>
<p>Tak hanya menjadi penerang jiwa bagi para penghuninya, rumah tangga nabi juga menjadi sumber inspirasi bagi siapapun yang berkunjung. Rumah nabi adalah sumber aneka adab dan sopan santun bagi kaum Muslim. Dari sana mereka belajar sikap dan perangai halus saat berkunjung dan memasuki rumah beliau.</p>
<p>Dari rumah nabi, para sahabat belajar tata krama bertamu, menjaga kehormatan diri dan keluarga, adab makan, tidur, bercanda, dan sebagainya.</p>
<p>Dengan etika menyeluruh seperti itu, kehidupan keluarga nabi berjalan mulus. Tak ada ketegangan antara nabi dan semua istri beliau.</p>
<p>Mereka memperlakukan nabi secara manusiawi dalam segala hal. Ini menandakan bahwa nabi adalah seorang manusia. Kecuali saat nabi menghadapi turunnya wahyu. Dalam situasi itu, beliau benar-benar menyatukan diri.</p>
<p>Nabi Muhammad juga melakukan loncatan besar dalam sejarah masyarakat Arab ketika itu. Beliau mengubah pola hidup yang dijalani laki-laki jahiliah. Di rumah, kalau tidak sedang melepas lelah, beliau biasanya melakukan ibadah, salat, zikir, atau berdoa kepada Allah. Atau, melakukan tugas-tugas rumah tangga yang lain.</p>
<p>Ketika ditanya aktivitas nabi di rumah, Aisyah menjawab, “Beliau melayani keluarga, menjahit baju, mengesol sandal, memerah susu, mengerjakan keperluan sendiri, dan menambal timba. Begitu tiba salat, beliau lalu salat.”</p>
<p>Buku karya Dr. Nizar Abazhah ini berhasil memotret rumah tangga nabi dengan segenap kisah-kisahnya yang sangat indah. Dituturkan dengan bahasa yang cakap, mengalir, dengan diksi yang memikat, sehingga pembaca akan terhanyut ketika membacanya.</p>
<p>Membaca buku ini, pembaca seperti dibawa berkunjung ke rumah nabi, menyusuri bilik demi bilik kamarnya dengan segenap penghuninya, lalu melihat dengan mata kepala sendiri serta meresapi dengan jiwa akhlak mereka dan tata pergaulan nabi dengan mereka.</p>
<p>Sebuah buku yang sangat menarik dan sangat direkomendasikan dibaca oleh siapapun, baik yang sudah berumah tangga maupun yang baru akan berumah tangga.</p>
<p>Di dalamnya kaya semburat inspirasi dan sinar keteladanan yang sangat indah dari kehidupan rumah tangga Nabi Muhammad Saw, sebagai bekal menggapai rumah tangga bahagia, <em>sakinah mawaddah warahmah</em>. <strong><em>(bma)</em></strong></p>
<p>Artikel <a href="https://suarayasmina.com/2025/04/30/mengungkap-indahnya-rumah-tangga-nabi-muhammad/">Mengungkap Indahnya Rumah Tangga Nabi Muhammad</a> pertama kali tampil pada <a href="https://suarayasmina.com">Suara Yasmina</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Resep Mewujudkan Keluarga Sakinah</title>
		<link>https://suarayasmina.com/2025/04/24/resep-mewujudkan-keluarga-sakinah/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Badiatul Muchlisin Asti]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 23 Apr 2025 21:39:56 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kajian]]></category>
		<category><![CDATA[Keluarga Sakinah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarayasmina.com/?p=389</guid>

					<description><![CDATA[<p>Suarayasmina.com &#124; Pada skala Provinsi Jawa Tengah, tingkat perceraian di Kabupaten Grobogan menempati posisi tertinggi. Data yang dirilis RMOL Jateng (Kamis, 6/3/2025) menyatakan, sepanjang tahun 2024, Pengadilan Agama (PA) Purwodadi telah menerima 3.950 gugatan, dengan tiga di antaranya kasus poligami. PA memutus cerai talak 763 kasus dan cerai gugat 2.478 kasus dengan total 3.241 kasus. [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://suarayasmina.com/2025/04/24/resep-mewujudkan-keluarga-sakinah/">Resep Mewujudkan Keluarga Sakinah</a> pertama kali tampil pada <a href="https://suarayasmina.com">Suara Yasmina</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://suarayasmina.com/"><u>Suarayasmina.com</u></a> | Pada skala Provinsi Jawa Tengah, tingkat perceraian di Kabupaten Grobogan menempati posisi tertinggi. Data yang dirilis RMOL Jateng (Kamis, 6/3/2025) menyatakan, sepanjang tahun 2024, Pengadilan Agama (PA) Purwodadi telah menerima 3.950 gugatan, dengan tiga di antaranya kasus poligami. PA memutus cerai talak 763 kasus dan cerai gugat 2.478 kasus dengan total 3.241 kasus.</p>
<p>Tentu, banyak faktor yang menjadi pemicu hingga terjadinya perceraian. Kondisi ekonomi disebutkan menjadi faktor tertinggi pemicu perceraian.</p>
<h2><strong>Pudarnya Sakralitas Pernikahan</strong></h2>
<p>Sebuah data yang menyedihkan karena menunjukkan mulai pudarnya sakralitas sebuah pernikahan. Dalam Islam, pernikahan merupakan suatu peristiwa yang suci dan sakral. Al-Qur’an menyatakan, akad dalam pernikahan sebagai <em>mitsaqan ghalizha</em> (perjanjian yang kokoh).</p>
<p>Akad nikah dikatakan sebagai “perjanjian yang kokoh” dapat dipahami karena dengan itu: Pertama; menghalalkan yang haram. Maksudnya, hubungan yang sebelumnya haram, setelah akad menjadi halal.</p>
<p>Kedua; dengan akad akan melahirkan serangkaian hak dan kewajiban masing-masing dalam kehidupan berumah tangga.</p>
<p>Dan ketiga; akan melahirkan generasi yang jelas status hukum nasabnya untuk meneruskan kehidupan manusia di muka bumi ini.</p>
<p>Sebagai konsekuensi dari itu, Islam mempersempit ruang untuk bercerai antara suami dan istri dengan menyatakan “Cerai adalah perkara halal yang dibenci Allah”. Artinya, meski mempersempit ruang untuk bercerai, Islam tidak menutup sama sekali pintu untuk bercerai ketika biduk rumah tangga sudah tak lagi bisa menjadi bahtera menuju pelabuhan impian.</p>
<p>Perceraian menjadi jalan akhir dari biduk rumah tangga yang sudah tak lagi mencapai keselarasan yang didambakan.</p>
<p>Hanya saja, kita menjadi prihatin ketika perceraian menjadi fenomena yang semakin hari semakin jamak terjadi. Hal ini selain merupakan refleksi dari mulai memudarnya nilai sakralitas sebuah pernikahan, juga merupakan indikator semakin lemahnya komitmen dan tanggung jawab dalam mewujudkan sebuah keluarga yang sakinah.</p>
<h2><strong>Resep Mewujudkan Keluarga Sakinah</strong></h2>
<p>Sekian abad yang lalu, Rasulullah Saw telah memberikan resep mewujudkan keluarga sakinah dengan sabdanya,</p>
<p><strong>أَرْبَعٌ مِنْ سَعَادَةِ اْلمَرْءِ أَنْ تَكُوْنَ زَوْجَتُهُ صَالِحَةً وَأَوْلاَدُهُ أَبْرَارًا وَخُلَطَائُهُ صًالِحِيْنَ وَأَنْ يَكُوْنَ رِزْقُهُ فِى بَلَدِهِ</strong></p>
<p><em>“Ada empat hal yang menjadi kebahagiaan seseorang, yaitu: memiliki istri yang salehah; anak-anak yang berbakti; teman-teman yang saleh; dan rezeki yang berada di negerinya (tempat tinggalnya) sendiri</em>.” (HR. ad-Dailami).</p>
<p>Dalam hadits ini, Rasulullah Saw menyebutkan empat hal yang menjadi indikator kebahagiaan seseorang atau sebut saja hal itu sebagai rukun kebahagiaan manusia. Bila keempat hal itu terwujud dalam kehidupan seseorang, maka kebahagiaan yang utuh telah diraihnya.</p>
<p>Sebaliknya, bila salah satu atau bahkan salah dua dari indikator kebahagiaan itu tidak dapat teraih, maka ada sisi kebahagiaan yang kurang, meskipun dalam kehidupan, ada saja dinamika yang menjadikan sisi kebahagiaan itu tidak utuh. Karena kabahagiaan paripurna hanya kelak ketika seseorang masuk surga.</p>
<p>Meskipun tidak utuh, setidaknya sisi-sisi kebahagiaan itu telah kita perjuangkan untuk mewujudkannya, sehingga saya menyebut keempat hal yang disampaikan Rasulullah itu sebagai resep mewujudkan keluarga sakinah.</p>
<h3><strong>Memiliki Isti Salehah </strong></h3>
<p>Resep pertama; memiliki istri yang salehah <em>(zawjatuhu shalihatan</em>). Ini fondamen kebahagiaan rumah tangga yang paling azazi. Betapa bahagianya seorang suami yang mempunyai istri salehah yang digambarkan oleh Rasulullah dalam sabdanya, <em>“Bila suami memandangnya, ia menyenangkan; bila suami memerintahnya, ia taat; dan bila suami tiada (di rumah), ia menjaga kehormatannya.”</em> (HR. Abu Dawud).</p>
<p>Begitu pun sebaliknya, betapa bahagianya seorang istri yang memiliki suami yang saleh. Karena suami yang saleh akan memperlakukan istrinya dengan baik, setia, lembut, dan romantis, sebagaimana tuntutan dalam Al-Qur’an, <em>“…dan para perempuan mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf….”</em> (QS. Al-Baqarah: 228).</p>
<p>Maka, dalam Islam, mewujudkan keluarga sakinah itu dimulai sejak dari memilih pasangan, yakni pasangan yang saleh atau salehah.</p>
<h3><strong>Memiliki Anak-anak yang Berbakti</strong></h3>
<p>Resep kedua; anak-anak yang berbakti <em>(al-awladuhu abraran).</em> Merekalah anak-anak yang menjadikan akhlak mulia sebagai mahkota dalam kehidupannya. Karenanya, kehadiran mereka menjadi penyejuk hati orangtuanya.</p>
<p>Sebaliknya, kebahagiaan keluarga serasa sirna bila anak-anak yang dilahirkan menjelma menjadi anak-anak yang durhaka. Akhlaknya tercela dan tingkah polahnya senantiasa membuat orangtuanya, bahkan masyarakatnya, murka kepadanya.</p>
<p>Namun, anak-anak yang berbakti tidak lahir dari proses <em>simsalabim</em>. Mereka lahir dari orangtua yang saleh dan salehah, yang penuh keteladanan dan kesungguhan mengalokasikan pendidikan yang terbaik untuk anak-anaknya.</p>
<p>Di era modern ini, banyak suami-istri yang abai terhadap pendidikan anaknya, hanya pasrah bongkokan kepada lembaga pendidikan formal, dengan alasan sibuk mencari uang. Mereka tidak menyadari, justru pendidikan di keluargalah pondamen dan benteng paling kokoh dalam membentuk anak-anak yang berkarakter.</p>
<h3><strong>Memiliki Teman-teman yang Saleh</strong></h3>
<p>Ketiga; teman-teman yang saleh <em>(khulathauhu shalihiina)</em>. Teman-teman itu ibarat <em>milieu</em> (lingkungan) yang sangat mempengaruhi konsistensi sebuah keluarga untuk tetap berada dalam rel kabajikan.</p>
<p>Teman-teman yang baik akan semakin memperkokoh suatu keluarga agar tetap sakinah; sebaliknya teman-teman yang buruk, bisa menjadi bibit hancurnya sebuah rumah tangga.</p>
<p>Banyak kasus pihak ketiga yang dipicu karena faktor lingkungan yang kondusif untuk terjadinya tindak perselingkuhan. Karenanya, penting sekali sebuah keluarga merapat dan memiliki jejaring komunitas yang baik, seperti majelis taklim, grup pengajian, dan semisalnya.</p>
<h3><strong>Memiliki Sumber Rezeki di Negerinya Sendiri</strong></h3>
<p>Keempat; rezekinya berada di negerinya <em>(rizquhu fii baladihi)</em>. Tidak bisa dipungkiri, sebuah keluarga terkait dengan fungsi ekonomi. Maka visi finansial harus terus diasah, agar seorang suami bisa memenuhi kebutuhan hidup keluarganya.</p>
<p>Memiliki sumber penghasilan atau tempat bekerja yang berada di daerahnya sendiri, sehingga setiap hari bisa pulang dan berkumpul dengan keluarga, merupakan faktor kebahagiaan yang tak bisa diabaikan.</p>
<p>Dengan aspek inilah kebahagiaan hidup seseorang menjadi lebih sempurna.</p>
<p>Realitas menunjukkan, bekerja di negeri orang dan harus berpisah dengan keluarga dalam jangka waktu yang lama, sangat rentan terhadap bibit-bibit kehancuran rumah tangga. Banyak kasus perceraian yang dipicu karena suami atau istri bekerja di negeri orang.</p>
<p>Akibat kebutuhan biologis yang tidak terpenuhi, maka jalan pintasnya adalah melakukan tindak perselingkuhan. Memang dibutuhkan mental dan konstruksi iman yang kuat untuk menjaga keutuhan rumah tangga ketika suami atau istri tidak tinggal bersama karena faktor tempat bekerja yang jauh.</p>
<p>Idealnya, setiap rumah tangga mengupayakan agar jalan rezekinya berada di daerahnya sendiri, sehingga setiap hari bisa berkumpul dengan kelurga. Dengan demikian, jalan menuju keluarga sakinah relatif lebih mudah diwujudkan. Semoga bermanfaat.</p>
<p>Artikel <a href="https://suarayasmina.com/2025/04/24/resep-mewujudkan-keluarga-sakinah/">Resep Mewujudkan Keluarga Sakinah</a> pertama kali tampil pada <a href="https://suarayasmina.com">Suara Yasmina</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
