SUARAYASMINA.COM — Di pelataran Masjid Nabawi di Madinah yang teduh, seorang pemuda berhias pakaian sederhana duduk bersimpuh. Namanya Abdullah bin Abu Wada’ah. Ia seorang lelaki miskin harta, namun hatinya kaya akan ketakwaan.

Setiap hari, langkah kakinya selalu mantap menuju majelis pengajian sang maha guru, Imam Sa’id bin al-Musayyib. Bagi Abdullah, petuah, hikmah, dan bait-bait ayat yang keluar dari lisan sang Imam tak ubahnya tetesan madu dan air surga. Semakin ia mereguk mata air ilmu itu, semakin membakar pula rasa dahaganya untuk terus belajar.

Di sisi lain, Sa’id bin al-Musayyib bukanlah figur ulama biasa. Allah Swt mengarunianya keberkahan yang lengkap; harta yang melimpah, nasab yang mulia, serta kedalaman ilmu yang diakui zaman. Beliau seorang yang amat wara’ dan zuhud. Lebih dari 30 kali beliau menunaikan ibadah haji ke Baitullah. Selama 40 tahun, beliau tak pernah sekalipun tertinggal takbiratul ihram dan tak pernah beranjak dari shaf pertama shalat berjamaah.

Perbedaan status sosial yang membentang jauh tak lantas menjadi jurang pemisah. Di bawah naungan cahaya Ilahi, terikatlah ikatan batin yang begitu tulus antara sang guru dan sang murid.

Namun, ada satu hal lagi yang membuat nama Sa’id bin al-Musayyib menjadi buah bibir di seantero Madinah—ia memiliki seorang putri yang nyaris sempurna. Berparas jelita, bertabur ilmu Al-Qur’an dan Sunnah, serta dibalut keanggunan iman yang kokoh.

Advertisement

Ketika Pinangan Istana Ditolak

Keagungan putri sang Imam akhirnya sampai ke telinga Sang Penguasa. Amirul Mukminin mengirim utusan khusus untuk meminang putri Sa’id bin al-Musayyib bagi sang putra mahkota—calon pewaris takhta kekhalifahan. Namun, di luar dugaan sang utusan, Sa’id bin al-Musayyib menjawab ringkas dan tegas; “Tolong sampaikan kepada Amirul Mukminin, saya menolak pinangan ini.”

Utusan itu terperanjat tak percaya; “Apa alasanmu menolak pinangan Amirul Mukminin? Apakah engkau menolak kekuasaan, kemegahan, dan harta benda yang melimpah ruah?”

Dengan tenang, Sa’id menatap sang utusan lalu berkata; “Apabila harga dunia dengan segala isinya di sisi Allah tidak lebih dari sehelai sayap nyamuk, maka sebesar apakah kiranya harga kekuasaan Amirul Mukminin itu?”

Merasa gertakan lunaknya gagal, utusan itu mulai mengancam; “Aku khawatir engkau akan merasakan kerasnya hukuman dan siksaan dari Amirul Mukminin!”

Sa’id bin al-Musayyib tersenyum tipis dan melantunkan firman Allah; “Sesungguhnya Allah membela orang-orang yang telah beriman…” (QS. Al-Hajj: 38)

Tak ada gertakan maupun silau kemewahan dunia yang sanggup melunakkan keteguhan hati sang pemuka ulama.

Kursi Kosong dan Mahar Tiga Dirham

Beberapa hari berlalu. Saat mengisi majelis di Masjid Nabawi, mata Sa’id menyadari ada sebuah sudut yang kosong. Sudah tiga hari berturut-turut murid kesayangannya, Abdullah bin Abu Wada’ah, tidak hadir.

Hingga suatu hari, pintu rumah Sa’id diketuk. Begitu dibuka, berdirilah Abdullah dengan wajah yang menyiratkan duka mendalam. “Ke mana saja engkau selama ini, wahai Ibnu Abu Wada’ah?” tanya Sa’id prihatin.

“Istriku meninggal dunia, wahai Syekh. Hal itu cukup menyibukkanku dari menghadiri majelismu. Aku mohon maaf,” jawab Abdullah lirih.

Sa’id menghela napas panjang, “Mengapa engkau tidak memberi tahu kami, agar kami dapat bertakziah dan membantumu?”

Sang guru kemudian memberikan nasehat mendalam tentang hakikat kehidupan, rahasia kubur, dan hari pembalasan, hingga air mata Abdullah menetes deras. Setelah emosinya reda, Abdullah pun berpamitan pulang.

Sepeninggal Abdullah, Sa’id kembali teringat percakapan kecil dengan putrinya tentang kriteria lelaki saleh. Sosok Abdullah bin Abu Wada’ah terus terbayang di benaknya—seorang pemuda berbudi pekerti agung, pahlawan kehidupan yang menggenggam teguh agamanya.

Beberapa hari kemudian, seusai pengajian, Sa’id memanggil Abdullah. “Apakah engkau memiliki keinginan untuk menikah lagi?” tanya Sa’id mendadak.

Abdullah tersenyum getir, “Semoga Allah merahmatimu, wahai Syekh. Siapakah wanita yang mau menikah denganku? Di dunia ini aku tidak memiliki apa-apa, kecuali uang tiga dirham.”

Sa’id menatap tajam muridnya lalu menjawab mantap, “Aku yang akan menikahkanmu!”

Abdullah terpaku. Pikirannya melayang. Mungkinkah sang Syekh hendak mencarikan wanita miskin sepertiku? Atau memberi sedikit bantuan modal? Namun, di hadapan para jemaah Masjid Nabawi, Sa’id bin al-Musayyib benar-benar memegang tangan Abdullah, memuji Allah, lalu mengikrarkan akad nikah putrinya sendiri untuk Abdullah dengan mahar tiga dirham!

Ketukan Pintu di Malam Hari

Malam tiba. Suasana Madinah diliputi hening. Abdullah sedang duduk di rumahnya yang bersahaja, bersiap untuk berbuka puasa. Tiba-tiba, terdengar ketukan di pintu depannya. “Siapa di luar?” panggil Abdullah.

“Sa’id!” sahut suara dari luar.

Jantung Abdullah berdegup kencang. Ia mengira sang guru berbalik pikiran atau putrinya menolak dijodohkan dengannya. Dengan tangan sedikit gemetar, ia membuka pintu. Betapa terkejutnya Abdullah. Di hadapannya berdiri Syekh Sa’id bin al-Musayyib bersama putrinya yang berbalut gaun pengantin yang anggun, diiringi beberapa wanita yang membawa hadiah.

Sa’id tersenyum hangat, “Engkau kini seorang duda, dan aku tidak ingin engkau tidur sendirian malam ini. Inilah putriku, aku serahkan dia kepadamu.”

Setelah mengucapkan salam, Sa’id berjalan pulang meninggalkan mereka berdua. Abdullah berdiri terpana. Antara percaya dan tidak, ia kini ditemani seorang wanita berparas jelita, putri ulama besar Madinah yang baru saja menolak lamaran putra kekhalifahan.

Dengan penuh gembira, Abdullah naik ke atap rumahnya dan berteriak memanggil para tetangga agar tidak timbul prasangka buruk jika mendengar suara wanita dari rumahnya.

“Apakah engkau sedang bergurau, wahai Ibnu Abu Wada’ah?” celeduk tetangganya dari jendela.

“Apakah engkau sudah gila? Bagaimana mungkin Syekh Sa’id menikahkan putrinya denganmu, padahal beliau baru saja menolak lamaran Putra Mahkota?”

Abdullah menjawab penuh keyakinan, “Syekh telah menepati janjinya. Dan sungguh, putrinya kini ada di dalam rumahku!”

Setelah para tetangga wanita datang memeriksa dan memastikan kebenarannya, kehebohan berubah menjadi suka cita. Pesta sederhana pun digelar malam itu—sebuah perayaan kecil yang dilandasi cinta karena Allah.

Epilog: Kebahagiaan Sejati

Ketika masyarakat Madinah dengan heran bertanya kepada Sa’id bin al-Musayyib tentang alasannya menolak calon raja demi seorang pemuda miskin, beliau memberikan jawaban yang abadi sepanjang zaman:

“Aku tidak memandang kaya atau miskin dalam menikahkan putriku. Aku melihat seorang pahlawan kehidupan yang berintankan agama dan akhlak mulia. Jika aku menikahkan putriku dengannya, ia akan menghormati dan memuliakan istrinya. Kebahagiaan tidak timbul dari harta, melainkan dari kecocokan dua jiwa yang saling bertakwa.”

Seminggu berlalu bagaikan berada di taman surga bagi Abdullah bin Abu Wada’ah. Suatu pagi, ia bersiap-siap memakai jubahnya. “Hendak ke mana engkau, wahai suamiku?” tanya sang istri lembut.

“Aku hendak menghadiri majelis pengajian ayahmu, Syekh Sa’id,” jawab Abdullah.

Sang istri tersenyum manis lalu berkata, “Duduklah di sini, wahai suamiku… Aku yang akan mengajarkan kepadamu seluruh ilmu yang dimiliki oleh Sa’id.”

Bahagia pun kian menyelimuti kedua insan yang bertakwa ini.

Penulis: Badiatul Muchlisin AstiEditor: Redaksi Suarayasmina.com

Advertisement

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.