<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Puasa Syawal Arsip - SUARAYASMINA.COM</title>
	<atom:link href="https://suarayasmina.com/tag/puasa-syawal/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://suarayasmina.com/tag/puasa-syawal/</link>
	<description>Jurnalisme Islami - Mencerahkan Umat</description>
	<lastBuildDate>Mon, 11 May 2026 03:04:40 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.0.1</generator>

<image>
	<url>https://suarayasmina.com/wp-content/uploads/2026/05/cropped-edit_foto_1-13-32x32.png</url>
	<title>Puasa Syawal Arsip - SUARAYASMINA.COM</title>
	<link>https://suarayasmina.com/tag/puasa-syawal/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Masih Punya Utang Puasa Ramadan, Bolehkah Puasa Syawal?</title>
		<link>https://suarayasmina.com/2025/04/07/masih-punya-utang-puasa-ramadan-bolehkah-puasa-syawal/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Badiatul Muchlisin Asti]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 07 Apr 2025 06:13:49 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqih Puasa]]></category>
		<category><![CDATA[Puasa Syawal]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarayasmina.com/?p=353</guid>

					<description><![CDATA[<p>Dijawab oleh Badiatul Muchlisin Asti Ketua Yayasan Mutiara Ilma Nafia (Yasmina) Grobogan Suarayasmina.com &#124; Puasa sunah enam hari di bulan Syawal memiliki keutamaan yang besar karena menggenapi pahala puasa Ramadan hingga setara dengan puasa setahun penuh. Sebagaimana hadits: مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ “Barang siapa berpuasa di bulan Ramadan, [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://suarayasmina.com/2025/04/07/masih-punya-utang-puasa-ramadan-bolehkah-puasa-syawal/">Masih Punya Utang Puasa Ramadan, Bolehkah Puasa Syawal?</a> pertama kali tampil pada <a href="https://suarayasmina.com">SUARAYASMINA.COM</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Dijawab oleh <strong>Badiatul Muchlisin Asti</strong><br />
<em>Ketua Yayasan Mutiara Ilma Nafia (Yasmina) Grobogan</em></p>
<p><a href="https://suarayasmina.com"><strong>Suarayasmina.com</strong> </a>| Puasa sunah enam hari di bulan Syawal memiliki keutamaan yang besar karena menggenapi pahala puasa Ramadan hingga setara dengan puasa setahun penuh. Sebagaimana hadits:</p>
<p><strong>مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ</strong></p>
<p><em>“Barang siapa berpuasa di bulan Ramadan, kemudian mengikutinya dengan puasa enam hari di bulan Syawal, maka ia seperti berpuasa sepanjang masa. </em>(HR. Jama’ah ahli hadis selain Bukhari dan an-Nasa’i).</p>
<h3><strong>Diutamakan Membayar Utang Puasa Terlebih Dahulu</strong></h3>
<p>Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam <em>Latha’iful Ma’arif</em> menyatakan, orang yang punya utang puasa Ramadan hendaknya terlebih dahulu menunaikan utang puasanya di bulan Syawal, agar tanggungannya lebih cepat selesai. Dan membayar utang ini lebih diutamakan daripada berpuasa Syawal terlebih dahulu.</p>
<p>Para ulama berbeda pendapat mengenai orang yang punya utang puasa wajib apakah ia boleh berpuasa sunah sebelum melunasinya?</p>
<p>Menurut Ibnu Rajab Al-Hanbali, jika memakai pendapat mereka yang membolehkan berpuasa sunah sebelum melunasi puasa wajib, niscaya tujuan dari puasa enam hari di bulan Syawal tidak dapat tercapai. Kecuali jika telah menyempurnakan puasa Ramadannya, barulah setelah itu ia menyusulnya dengan puasa enam hari di bulan Syawal.</p>
<p>Oleh sebab itu, orang yang punya utang puasa Ramadan dan mendahulukan puasa enam hari di bulan Syawal, ia tidak mendapatkan pahala yang berlaku bagi orang yang puasa bulan Ramadan dan mengikutinya dengan berpuasa enam hari di bulan Syawal.</p>
<p>Sebab ia belum menyempurnakan jumlah puasa Ramadan yang harus dipenuhi.</p>
<p>Tidak diragukan lagi, ia juga tidak berhak memperoleh pahala puasa setahun penuh manakala ia tidak puasa di bulan Ramadan karena suatu uzur, lalu sebelum melunasinya, ia berpuasa Syawal terlebih dahulu.</p>
<p>Masih menurut Ibnu Rajab Al-Hanbali, siapa yang melunasi utang Ramadan di bulan Syawal, kemudian mengikutinya dengan puasa sunah enam hari setelah tanggungannya selesai, itu adalah tindakan yang baik.</p>
<p>Sebab ia berarti telah menyempurnakan puasa Ramadan dan mengikutinya dengan puasa Syawal selama enam hari.</p>
<p>Keutamaan puasa enam hari di bulan Syawal tidak ia peroleh ketika ia sedang melunasi utangnya, sebab puasa Syawal enam hari hanya berlaku setelah jumlah puasa Ramadan disempurnakan.</p>
<h3><strong>Kebolehan Mendahulukan Puasa Syawal</strong></h3>
<p>Abu Malik Kamal bin Sayyid Salim dalam <em>Fiqhus Sunnah Lin Nisa’</em> menyatakan, zahir hadits yang menjelaskan keutamaan puasa enam hari di bulan Syawal menunjukkan bahwa keutamaan puasa sepanjang masa itu berkaitan dengan puasa Ramadan kemudian diikuti dengan puasa enam hari di bulan Syawal, sehingga puasa Syawal ini tidak bisa didahulukan dari mengganti (utang) puasa Ramadan.</p>
<p>Akan tetapi boleh juga dikatakan maksud sabda Nabi “<em>Kemudian mengikutinya dengan puasa enam hari”</em> itu adalah ungkapan biasa, tidak ada pengertian khusus.</p>
<p>Sehingga berdasarkan pemahaman ini, menurut Abu Malik Kamal, dibolehkan berpuasa sunah enam hari di bulan Syawal sebelum melunasi utang puasa Ramadan, terutama ketika bulan Syawal hampir habis dan dia masih harus membayar utang puasanya.</p>
<p>Pendapat ini selaras dengan pendapat yang membolehkan mengamalkan puasa Syawal terlebih dahulu karena mengganti utang puasa Ramadan kesempatan waktunya lebih longgar hingga bulan Sya’ban. Maka, bila seseorang khawatir kehilangan momentum berpuasa Syawal, menurut pendapat ini, ia boleh mendahulukan puasa Syawal ketimbang mengganti utang puasanya.</p>
<p>Syekh Yusuf Qardhawi dalam <em>Fiqh Ash-Shiam</em> menyatakan, tidaklah dianggap berdosa orang yang mengakhirkan pelaksanaan qadha sepanjang pada hatinya tetap berniat untuk mengqadha, karena kewajiban qadha bersifat longgar, sehingga ia boleh saja melaksanakan puasa sunah sebelum mengqadha. Demikianlah pandangan yang sahih.</p>
<h3><strong>Kesimpulan</strong></h3>
<p>Dari uraian di atas dapat disimpulkan:</p>
<p>Pertama; mendahulukan mengganti atau mengqadha utang puasa Ramadan lebih utama, sesuai kaidah umum bahwa melakukan kewajiban didahulukan daripada melakukan ibadah yang sifatnya anjuran (sunah).</p>
<p>Kedua; bila ingin mendapatkan pahala puasa setahun sesuai maksud hadits, yang utama dan keluar dari perbedaan pendapat adalah dengan cara mengganti utang puasa Ramadan terlebih dahulu, setelah puasa Ramadan sempurna tanpa utang, baru melakukan puasa Syawal. Sesuai yang disampaikan Ibnu Rajab Al-Hanbali.</p>
<p>Ketiga; bila tidak memungkinkan mengqadha puasa secara penuh di bulan Syawal, maka bisa memilih opsi kedua dengan melakukan puasa Syawal terlebih dahulu, baru kemudian mengqadha puasa Ramadan yang ditinggalkannya karena uzur. Sesuai yang disampaikan Abu Malik Kamal bin Sayyid Salim.</p>
<p>Semoga uraian ini bermanfaat. <em>Wallahu a’lam.</em></p>
<p>Artikel <a href="https://suarayasmina.com/2025/04/07/masih-punya-utang-puasa-ramadan-bolehkah-puasa-syawal/">Masih Punya Utang Puasa Ramadan, Bolehkah Puasa Syawal?</a> pertama kali tampil pada <a href="https://suarayasmina.com">SUARAYASMINA.COM</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Menjaga Spirit Ramadan dengan Puasa Syawal</title>
		<link>https://suarayasmina.com/2025/04/07/menjaga-spirit-ramadan-dengan-puasa-syawal/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Badiatul Muchlisin Asti]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 07 Apr 2025 01:50:40 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Puasa]]></category>
		<category><![CDATA[Puasa Syawal]]></category>
		<category><![CDATA[Spirit Ramadan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarayasmina.com/?p=340</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh Badiatul Muchlisin Asti Ketua Yayasan Mutiara Ilma Nafia (Yasmina) Grobogan Suarayasmina.com &#124; Setelah menjalankan puasa fardu selama sebulan penuh di bulan Ramadan, umat Islam juga disyariatkan melakukan puasa selama enam hari di bulan Syawal. Nabi Muhammad Saw bersabda, مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ &#8220;Barang siapa berpuasa di bulan [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://suarayasmina.com/2025/04/07/menjaga-spirit-ramadan-dengan-puasa-syawal/">Menjaga Spirit Ramadan dengan Puasa Syawal</a> pertama kali tampil pada <a href="https://suarayasmina.com">SUARAYASMINA.COM</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh <strong>Badiatul Muchlisin Asti</strong><br />
<em>Ketua Yayasan Mutiara Ilma Nafia (Yasmina) Grobogan</em></p>
<p><a href="https://suarayasmina.com"><strong>Suarayasmina.com</strong></a> | Setelah menjalankan puasa fardu selama sebulan penuh di bulan Ramadan, umat Islam juga disyariatkan melakukan puasa selama enam hari di bulan Syawal. Nabi Muhammad Saw bersabda,</p>
<div style="text-align: right;"><strong>مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ</strong></div>
<p><em>&#8220;Barang siapa berpuasa di bulan Ramadan, kemudian mengikutinya dengan puasa enam hari di bulan Syawal, maka ia seperti berpuasa sepanjang masa. </em>[HR. Jama’ah ahli hadis selain Bukhari dan an-Nasa’i].</p>
<h3><strong>Keutamaan Puasa Syawal</strong></h3>
<p>Berdasarkan hadits ini, mayoritas ulama berpendapat bahwa berpuasa enam hari di bulan Syawal disyariatkan dan hukumnya sunah (dianjurkan).</p>
<p>Selain menjadi landasan kesunahan berpuasa enam hari di bulan Syawal, hadits tersebut juga mengungkapkan <em>fadhilah</em> (keutamaan) mengamalkan puasa enam hari di bulan Syawal, yaitu sebagai penyempurna puasa Ramadan dengan ganjaran pahala puasa satu tahun.</p>
<p>Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam kitab <em>Latha’iful Ma’arif</em> memberikan penjelasan mengapa puasa Ramadan yang diikuti berpuasa enam hari di bulan Syawal pahalanya setara dengan puasa sepanjang tahun. Menurutnya, hal itu karena satu kebaikan setara dengan sepuluh kali lipatnya, sebagaimana dijelaskan dalam hadits Tsauban Ra dari Nabi Saw yang bersabda:</p>
<p style="text-align: right;"><strong>صِيَامٌ شَهْرِ رَمَضَانَ بِعَشَرَةِ أَشْهُرٍ وَصِيَامُ سِتَّةِ أيَّامِ بَعْدَهُ بِشَهْرَيْنِ فَذلِكَ صِيَامُ السَّنَةِ</strong></p>
<p><em>“Puasa Ramadan sebanding dengan puasa sepuluh bulan, sedang puasa enam hari di bulan Syawal sebanding dengan puasa dua bulan. Oleh karena itu, keduanya setara dengan puasa setahun.”</em> (HR. Ahmad dan Nasa’i. Lafadz hadits milik Nasa’i).</p>
<p>Pertanyaan yang bisa jadi mengemuka, apakah perbandingan pahala itu juga berlaku jika mengamalkan puasa enam hari di bulan lain? Mengapa Rasulullah Saw hanya menyebut di bulan Syawal saja?</p>
<p>Ibnu Rajab Al-Hanbali mengutip penjelasan Ibnul Mubarak menyatakan, karena puasa enam hari di bulan Syawal dari segi keutamaannya masih digabungkan dengan keutamaan Ramadan. Sehingga nilai puasa Ramadan ditambah enam hari bulan Syawal setara dengan puasa wajib selama setahun.</p>
<h3><strong>Puasa Syawal dan Spirit Ramadan</strong></h3>
<p>Dalam <em>Latha’iful Ma’arif,</em> Ibnu Rajab Al-Hanbali menyebutkan lima faedah berpuasa enam hari di bulan Syawal:</p>
<p>Pertama; puasa enam hari di bulan Syawal menjadi penyempurna bagi puasa Ramadan untuk meraih pahala puasa satu tahun, sebagaimana yang telah dijelaskan.</p>
<p>Kedua; puasa sunah di bulan Syawal dan Sya’ban, keduanya ibarat salat sunah rawatib sebelum dan sesudah salat fardu, yang mana berfungsi menambal apa-apa yang masih kurang pada ibadah wajib. Sebab ibadah-ibadah wajib itu kelak di Hari Kiamat akan disempurnakan melalui ibadah-ibadah sunah.</p>
<p>Ketiga; keinginan untuk berpuasa kembali setelah Ramadan berlalu merupakan tanda ibadah Ramadan kita diterima. Sebab Allah Swt itu apabila menerima amal saleh seseorang, Dia akan memudahkannya melakukan amal saleh berikutnya.</p>
<p>Keempat; Puasa Ramdan merupakan faktor diampuninya dosa-dosa seseorang di masa lampau. Dan orang-orang yang berpuasa di bulan Ramadan menerima ganjaran mereka pada hari raya Idulfitri. Maka, berpuasa kembali setelah Idulfitri adalah salah satu bentuk mensyukuri nikmat ini, karena tidak ada nikmat yang lebih besar daripada terampuninya dosa.</p>
<p>Kelima; setiap amalan di bulan Ramadan yang dilakukan seseorang dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah tidak berhenti dengan habisnya bulan Ramadan, tetapi harus terus dipertahankan selagi ia masih hidup.</p>
<p>Seseorang yang mau berpuasa kembali setelah hari berbuka di hari Idulfitri dapat disimpulkan sebagai orang yang suka terhadap ibadah puasa. Dan itulah amalan yang dicintai oleh Allah. Sebagaimana sebuah hadits yang diriwayatkan Tirmidzi secara <em>marfu’</em> yang menyebutkan: <em>“Amalan yang paling dicintai Allah adalah orang yang berhenti kemudian melanjutkan perjalanan.</em>”</p>
<p>Dengan demikian, seseorang yang mengamalkan puasa enam hari di bulan Syawal hakikatnya ia telah dan sedang menjaga spirit Ramadan agar terus menyala. Lebih baik lagi bila hal itu diikuti dengan semangat serupa di bulan-bulan berikutnya hingga ia ditakdirkan bertemu kembali dengan bulan Ramadan.</p>
<p>Sebagaimana yang dikemukakan oleh Syekh Yusuf Qardhawi dalam <em>Fiqh Ash-Shiam</em>, bahwa barangkali rahasia dari anjuran puasa di bulan Syawal adalah agar kaum Muslimin tetap menyambung tali ketaatan kepada Tuhannya. Semangatnya tidak luntur setelah Ramadan.</p>
<h3><strong>Tata Cara Pelaksanaan Puasa Syawal</strong></h3>
<p>Para ulama yang berpendapat puasa enam hari di bulan Syawal sebagai sunah, mereka berbeda pendapat mengenai tata cara pelaksanannya:</p>
<p>Pertama; puasa sunah enam hari di bulan Syawal dilakukan di awal bulan secara beruntun. Ini merupakan pendapat Syafi’i dan Ibnul Mubarak.</p>
<p>Kedua; tidak ada bedanya apakah enam hari itu dilakukan secara beruntun atau terpisah-pisah, yang penting masih di bulan Syawal. Ini merupakan pendapat Waki’ dan Ahmad.</p>
<p>Ketiga; enam hari berpuasa di bulan Syawal tidak boleh dilaksanakan tepat setelah Hari Raya Idul Fitri, karena hari Id adalah hari makan dan minum. Akan tetapi hendaknya puasa enam hari di bulan Syawal dilaksanakan tiga hari sebelum <em>ayyamul bidh</em> atau setelahnya. Ini merupakan pendapat Ma’mar dan Abdul Razak.</p>
<p>Di antara tiga pendapat itu, pendapat yang pertama dinilai lebih utama. Syekh Wahbah Az-Zuhaili dalam <em>Fiqh Islam wa Adillatuhu</em> menyatakan, puasa enam hari di bulan Syawal boleh dikerjakan terpisah-pisah, tapi lebih <em>afdhal</em> dilakukan berurutan dan langsung setelah hari raya, sebab itu berarti menyegerakan ibadah.</p>
<p>Sayyid Sabiq dalam <em>Fiqh Sunnah </em>mengutip pendapat para ulama mazhab Hanafi dan para ulama mazhab Syafi’i berpendapat bahwa yang lebih utama puasa enam hari di bulan Syawal dilakukan berurutan dimulai hari kedua setelah hari raya.</p>
<p>Selebihnya, silakan memilih tata cara mana yang paling memungkinkan untuk diamalkan. Sebagaimana yang dinyatakan Dr. Musthafa al-Bugha, dkk dalam <em>al-Fiqh al-Manhaji</em>, yang <em>afdhal</em> memang enam hari puasa Syawal dilaksanakan langsung setelah hari raya Idulfitri. Tapi boleh juga di hari lain. Semuanya sesuai <em>Sunnah</em>, baik enam hari langsung ataupun enam hari terpisah-pisah.</p>
<p>Semoga uraian ini bermanfaat dan menjadi motivasi mengamalkan puasa sunah enam hari di bulan Syawal dan tidak melewatkannya mengingat keutamaannya yang besar. Semoga Allah memudahkan kita dalam kebaikan. <em>Aamiin.</em></p>
<p><em>*Artikel telah dimuat di Ayobandung.com, edisi Minggu, 6 April 2025.</em></p>
<p>Artikel <a href="https://suarayasmina.com/2025/04/07/menjaga-spirit-ramadan-dengan-puasa-syawal/">Menjaga Spirit Ramadan dengan Puasa Syawal</a> pertama kali tampil pada <a href="https://suarayasmina.com">SUARAYASMINA.COM</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
