SUARAYASMINA.COM – Di SDIT Darut Tauhid Gabus—sebuah sekolah dasar Islam terpadu di ujung timur Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah—pernah ada masa ketika seorang anak harus dibujuk ekstra dari arena seluncuran hanya agar mau masuk kelas. Kini, anak yang sama berjalan sendiri menuju ruang belajar, menggantungkan tasnya di tempat yang sesuai, lalu duduk dengan tenang menyatu dalam doa bersama teman-temannya.

Perubahan ini bukanlah hasil instan. Ia tumbuh dari konsistensi rutinitas kecil yang dipraktikkan setiap hari selama satu semester penuh: dua jam pelajaran khusus di luar jam kelas biasa melalui Program Pembelajaran Individu (PPI).

Ketika Sekolah Memilih Tidak Memisahkan

SDIT Darut Tauhid Gabus, juga SMPIT Darut Tauhid Pandanharum—dua sekolah di bawah satu yayasan di Kecamatan Gabus—memiliki cara sendiri dalam mendampingi murid-murid yang membutuhkan pendekatan belajar berbeda.

Alih-alih memindahkan anak ke kelas terpisah sepanjang hari, sekolah ini memilih jalan yang lebih menantang sekaligus hangat; anak tetap belajar bersama teman-teman sebayanya. Mereka ikut salat duha bersama dan bermain di jam istirahat. Hanya saja, selama dua jam pelajaran setiap hari, mereka mendapat waktu belajar khusus bersama seorang guru pendamping.

Anak tidak kami keluarkan dari komunitas belajarnya. Perbedaannya hanya selama dua jam itu, mereka memiliki ruang belajar yang benar-benar dirancang berdasarkan titik kemampuan mereka sendiri, bukan standar rata-rata kelas.

Untuk merancang ruang belajar tersebut, sekolah tidak bekerja sendirian. Setiap awal tahun ajaran, seorang orthopedagog (ahli pendidikan anak berkebutuhan khusus) didatangkan dari Kota Surakarta untuk melakukan asesmen terhadap murid-murid yang terindikasi membutuhkan pendampingan khusus. Dari sanalah ditentukan siapa yang cukup didampingi sesekali di kelas reguler dan siapa yang membutuhkan program pembelajaran individu secara penuh.

Advertisement
Salah satu guru PPI sedang mendampingi murid belajar berhitung sambil bermain kulit kerang. (Suarayasmina.com/Dok. SDIT Darut Tauhid Gabus)

Rencana yang Berubah Setiap Hari

Menariknya, rencana pembelajaran yang disusun oleh sang ahli bukanlah naskah kaku yang harus diikuti apa adanya. Dalam praktiknya, rencana tersebut terus disesuaikan setiap hari oleh guru pendamping, bergantung pada suasana hati dan respons anak.

Pendekatan yang fleksibel ini terlihat jelas pada T, seorang siswa kelas dua. Rencana awalnya adalah melatih motorik halusnya melalui permainan menyusun puzzle. Namun, ketika sang guru melihatnya mulai kesulitan dan kehilangan minat, kegiatan langsung dialihkan ke melipat kertas—sebuah aktivitas yang terbukti lebih sesuai dengan tingkat kemampuannya saat itu.

Kisah lain datang dari S, yang di awal tahun ajaran bahkan sulit untuk sekadar duduk tenang selama beberapa menit. Alih-alih memaksakan pelajaran akademik, guru memilih membangun rasa nyaman S terlebih dahulu melalui bantuan jadwal bergambar, penanda visual, dan pengulangan rutinitas harian. Setelah berbulan-bulan berproses, ketika S akhirnya mampu fokus selama 10 hingga 12 menit, materi akademik baru diperkenalkan secara perlahan dan bertahap.

Setiap anak memiliki dunia belajarnya sendiri. Karena itu, tak ada rancangan yang bisa disalin begitu saja dari satu anak ke anak lain.

Foto Meronce dan Buku Cerita di Bawah Pohon

Dokumentasi kegiatan PPI di sekolah ini terlihat sederhana, tetapi dijalankan secara konsisten setiap hari. Bentuk kegiatannya beragam—mulai dari menulis di halaman sekolah sambil membaca buku bergambar, hingga meronce manik-manik warna-warni yang dipadukan dengan latihan menulis huruf.

Aktivitas meronce manik-manik dipadukan dengan lembar latihan menulis huruf, salah satu cara melatih motorik halus sekaligus mengenal huruf. (Suarayasmina.com/Dok. SDIT Darut Tauhid Gabus)

Setiap sesi belajar dicatat dengan begitu detail—mulai dari apa yang direncanakan, apa yang benar-benar terjadi di lapangan, hingga bagaimana perkembangan anak hari itu, termasuk pada hari-hari ketika rencana tidak berjalan mulus. Seluruh catatan harian tersebut kemudian dirangkum setiap bulan dan ditandatangani bersama oleh guru pendamping serta kepala sekolah.

Ini bukan sekadar laporan administratif, melainkan bentuk penghormatan kami terhadap proses belajar anak—proses yang dinamis, bergelombang, dan tak pernah benar-benar lurus.

Kemitraan yang Tak Terhalang Jarak

Bagi sekolah swasta berbasis yayasan di daerah, menghadirkan psikolog pendidikan atau ahli pendidikan khusus di dalam struktur internal bukanlah perkara mudah. Oleh karena itu, kemitraan dengan orthopedagog dari luar kota menjadi solusi yang dipilih. Jarak bukanlah halangan selama komitmen terus terjaga.

Bukan besarnya anggaran yang paling menentukan, melainkan konsistensi: konsistensi mengalokasikan dua jam setiap hari, konsistensi mencatat setiap perkembangan sekecil apa pun, dan konsistensi merawat kemitraan dengan ahli meski harus mendatangkannya dari luar kota.

Semester lalu, sebanyak enam murid mengikuti program ini. Masing-masing hadir membawa cerita dan kemajuannya sendiri; ada yang mulai berani menulis namanya sendiri, ada yang akhirnya bisa duduk tenang mengikuti pelajaran, dan ada pula yang mulai percaya diri tampil presentasi di depan kelas, meski suaranya masih pelan.

Bagi kami dan para guru di sekolah ini, kemajuan-kemajuan kecil semacam itu adalah bentuk kemerdekaan yang paling nyata bagi anak-anak ini; merdeka untuk belajar sesuai dengan kecepatan mereka sendiri, tanpa harus merasa berbeda dari teman-temannya.

Facebook Comments Box

Penulis: Dr. Hanik RistianaEditor: Badiatul Muchlisin Asti

Advertisement

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.