SUARAYASMINA.COM – Peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad saw. (Maulid Nabi) telah lama menjadi tradisi keagamaan yang melekat erat dalam denyut nadi masyarakat Muslim di berbagai belahan dunia, termasuk di Indonesia. Setiap kali bulan Rabiul Awal menyapa, gema selawat melantun dari surau, masjid, hingga stadion, bait-bait pujian dalam kitab Al-Barzanji atau Adz-Diba’i dibaca secara kolosal, dan rasa gembira diekspresikan dalam pelbagai bentuk festival budaya-religius.

Fenomena ini adalah manifestasi konkret dari mahabbah—rasa cinta mendalam umat kepada nabi dan rasul-Nya. Tentu saja, mengekspresikan rasa cinta tersebut merupakan hal yang mulia. Namun, di tengah semarak seremoni massa ini, sebuah pertanyaan fundamental perlu kita ajukan: Apakah perayaan tahunan ini telah menyentuh hakekat substansialnya, atau justru berhenti pada tataran euforia emosional belaka?

Cinta tanpa pengenalan (ma’rifat) yang mendalam berisiko menjadi cinta yang dangkal—cinta yang riuh di bibir, namun tak berbekas dalam perilaku sehari-hari. Agar peringatan Maulid Nabi tidak terjebak menjadi rutinitas ritual tanpa daya ubah, ekspresi cinta tersebut wajib diimbangi dengan pengenalan sosok Nabi Muhammad saw. secara utuh, penghayatan akhlak beliau, serta kristalisasi nilainya dalam tindakan nyata.

Menelusuri Jejak Perjuangan Melalui Kitab Sirah Nabawiyah

Nabi Muhammad saw. merupakan figur nyata yang mengarungi realitas sosial yang rumit, namun tetap berdiri kokoh di atas nilai-nilai Ilahiah. Pengenalan yang sejati terhadap beliau tidak lahir dari asumsi atau mitos, melainkan dari sejarah yang sahih. Mengagumi Rasulullah saw. menuntut setiap Muslim untuk melampaui sekadar mendengarkan kisah ringkas dari panggung-panggung ceramah.

Umat Islam perlu berinteraksi langsung dengan literatur Sirah Nabawiyah dan Tarikh yang muktabar—terutama melalui kajian yang dipandu oleh ustaz atau ulama mumpuni. Kitab-kitab rujukan utama yang dapat dipelajari antara lain sirah karya Ibnu Hisham, Ar-Rahiq Al-Makhtum karya Syaikh Syafiyyurrahman Al-Mubarakfuri, hingga karya berbahasa Indonesia seperti Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad susunan Allahu yarham KH. Moenawar Cholil.

Melalui penelusuran sejarah yang autentik ini, kita akan memahami bahwa keberhasilan dakwah beliau bukanlah mukjizat instan yang hadir tanpa peluh. Di dalamnya terpancar dinamika perjuangan yang intens: ketabahan saat menghadapi pemboikotan sosial-ekonomi di Makkah, kepiawaian merancang strategi diplomasi di Madinah, serta kearifan dalam mengelola kemajemukan masyarakat. Membaca Sirah secara mendalam pada akhirnya akan menumbuhkan kesadaran dan kecintaan yang lebih utuh serta berbasis pemahaman yang kokoh.

Advertisement

Memahami Keagungan Akhlak: “Al-Qur’an yang Berjalan”

Puncak pengenalan terhadap sosok Rasulullah saw. terletak pada pemahaman atas keagungan akhlak beliau. Begitu agungnya budi pekerti beliau hingga Allah Swt. menyatakannya secara eksplisit dalam Al-Qur’an: “Dan sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (QS. Al-Qalam: 4)

Ketika Sayyidah Aisyah ra., istri beliau, ditanya mengenai bagaimana perilaku harian Rasulullah saw., beliau menjawab singkat namun sangat padat: “Khuluquhu al qur’an. (akhlak beliau adalah Al-Qur’an).”

Jawaban ini menegaskan bahwa Nabi Muhammad Saw adalah manifes hidup dari seluruh perintah dan larangan Allah. Beliau bukan sekadar pembawa risalah, melainkan pengejawantahan dari risalah itu sendiri. Keadilan, kejujuran (al-amin), kedamaian, dan kasih sayang yang diajarkan dalam kitab suci tidak hadir sebagai teori abstrak, melainkan terwujud dalam ucapan, tindakan, dan keputusan sosial-politik beliau sehari-hari.

Salah satu kitab yang sangat direkomendasikan untuk mengenal sosok Nabi Muhammad saw. lebih dalam adalah Asy-Syamail Al-Muhammadiyah. Karya fenomenal Imam at-Tirmidzi ini tidak hanya mengupas keagungan akhlak beliau, tetapi juga menggambarkan secara rinci ciri fisik, hingga kepribadian dan kehidupan sehari-hari Sang Rasul.

Melengkapi Seremoni dengan Meneladani (Uswatun Hasanah)

Inilah muara dari seluruh rangkaian peringatan Maulid Nabi: peneladanan. Allah Swt. berfirman: “Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21)

Nabi Muhammad saw. merupakan figur keteladanan yang universal. Keunggulan beliau terletak pada kemampuannya menjadi teladan di setiap lini kehidupan. Sebagai seorang pemimpin, beliau senantiasa berlaku adil, transparan, dan mengutamakan kesejahteraan rakyat di atas kepentingan pribadi.

Pada ranah keluarga, beliau adalah sosok suami dan ayah yang penuh kasih sayang, santun, serta tak ragu mengulurkan tangan untuk membantu pekerjaan rumah tangga. Sementara dalam kehidupan sosial dan bisnis, integritas serta kejujuran beliau sebagai pedagang telah teruji jauh sebelum diangkat menjadi seorang Rasul.

Oleh karena itu, keberhasilan peringatan Maulid Nabi tidak diukur dari kemegahan panggung yang berdiri atau keriuhan massa yang berkumpul. Indikator terpenting dari kesuksesan acara tersebut adalah sejauh mana karakter dan nilai-nilai luhur Nabi berhasil kita adopsi dalam kehidupan sehari-hari setelah peringatan usai.

Refleksi dan Re-orientasi

Membaca kitab Al-Barzanji, melantunkan selawat, dan merayakan Maulid Nabi adalah bagian dari kekayaan tradisi yang patut dijaga sebagai perekat sosial dan pemantik cinta. Namun, tradisi tersebut harus dijadikan sebagai pendorong (catalyst), bukan tujuan akhir.

Sudah saatnya momentum peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad saw. dijadikan sebagai sarana re-orientasi hidup. Kita perlu mentransformasi seruan cinta menjadi kesadaran belajar, dan mentransformasi euforia massa menjadi akhlak pribadi. Dengan memadukan indahnya selawat dan dalamnya pemahaman Sirah, perayaan Maulid Nabi akan menjelma menjadi energi perubahan yang mampu menghidupkan kembali nilai-nilai kenabian dalam diri setiap Muslim dan dalam kehidupan berbangsa.

Facebook Comments Box

Penulis: Badiatul Muchlisin AstiEditor: Redaksi Suarayasmina.com

Advertisement

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.