SUARAYASMINA.COM – Dalam bentang sejarah Islam di Nusantara, KH. Muhammad Arwani Amin Said menempati posisi strategis sebagai pilar utama transmisi keilmuan Al-Qur’an di Indonesia. Beliau bukan sekadar figur ulama, melainkan pemegang otoritas tunggal pada masanya dalam menjaga mata rantai Qira’at Sab’ah (tujuh varian bacaan Al-Qur’an) yang sangat langka. Signifikansi beliau dalam studi Al-Qur’an terletak pada kemampuannya menjaga secara presisi teknis bacaan sekaligus menghidupkan tradisi lisan (talaqqi) yang tersambung hingga Rasulullah Saw.

Integrasi karakter beliau tercermin dalam dua atribut utama: “Penjaga Wahyu” dan “Kiai Sae”. Sebagai “Penjaga Wahyu”, beliau menunjukkan ketelitian intelektual yang rigid dalam disiplin tajwid dan qira’at. Sementara itu, julukan “Kiai Sae” (Kiai yang Baik) merepresentasikan dimensi sosial dan kehalusan budi pekerti beliau. Perpaduan antara ketegasan teknis dalam menjaga wahyu dengan fleksibilitas etika dalam berinteraksi dengan masyarakat menjadikan beliau sosok sufi-qur’ani yang ikonik. Karakteristik ini tumbuh subur dari akar spiritual dan genealogi yang mendalam di tanah Kudus.

Genealogi dan Fajar Kehidupan (1905 M)

Karakter luhur KH. M. Arwani Amin merupakan buah dari lingkungan keluarga yang sangat religius dan memiliki kecintaan luar biasa terhadap Al-Qur’an. Beliau dilahirkan di Kampung Kerjasan, Kudus, pada hari Selasa Kliwon, 5 Rajab 1323 H, atau bertepatan dengan 5 September 1905 M. Lingkungan Kudus yang dinamis dengan budaya pesisir (pesisir utara Jawa) yang terbuka dan inklusif membentuk karakter beliau yang egalitarian.

Silsilah beliau mencerminkan perpaduan yang kuat antara otoritas keilmuan lokal dan semangat perjuangan nasional. Dari jalur kakeknya, KH. Imam Haramain, mengalir darah seorang ulama terkemuka yang sangat dihormati di Kudus. Karakter spiritual beliau juga dibentuk oleh sang ayah, H. Amin Said, seorang pedagang kitab pemilik Toko Al-Amin. Walau bukan seorang hafizh, tradisi khataman mingguan yang dijalankan sang ayah menjadi stimulasi spiritual utama dalam menumbuhkan kecintaan Arwani kecil terhadap Al-Qur’an.

Akar keagamaan tersebut makin diperkaya oleh nasab luhur dari sang ibu, Hj. Wanifah. Secara historis, beliau merupakan keturunan pahlawan nasional Pangeran Diponegoro (Raden Mas Ontowiryo) melalui rantai silsilah dari Wanifah, Rosimah, Sawijah, Habibah, Mursyid, Jonggrang, hingga Pangeran Diponegoro. Lingkungan keluarga ini pun melahirkan iklim intelektual yang kompetitif; adik beliau, Ahmad Da’in, merupakan sosok jenius yang menghafal Al-Qur’an di usia 9 tahun, menguasai Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, serta mahir berbahasa Arab dan Inggris. Kejeniusan sang adik inilah yang menjadi katalisator bagi Arwani untuk kian tekun dalam pengembaraan intelektualnya.

Penting dicatat bahwa nama asli beliau adalah Arwan. Transformasi identitas menjadi Arwani secara resmi dimulai setelah beliau menunaikan ibadah haji pertama pada tahun 1927 M, sebuah momentum yang juga menandai kedewasaan spiritual beliau.

Advertisement

Transformasi dari Santri menjadi Qori Mumpuni

Perjalanan intelektual KH. Arwani Amin memetakan geografi pesantren-pesantren besar di tanah Jawa, yang mencerminkan ketekunan luar biasa dalam menguasai berbagai disiplin ilmu agama sebelum akhirnya memusatkan diri pada Al-Qur’an.

Perjalanan intelektual beliau diawali pada usia tujuh tahun di Madrasah Mu’awanatul Muslimin, Kudus. Selama tujuh tahun menimba ilmu di bawah bimbingan KH. Abdullah Sajad, beliau mendalami dasar-dasar ilmu agama, nahwu, sharaf, dan tajwid. Setelah fondasi dasar tersebut kokoh, beliau melanjutkan pengembaraan keilmuannya ke Pesantren Jamsaren, Solo, pada periode 1919 hingga 1926. Di sana, beliau berguru kepada KH. Idris untuk memperdalam penguasaan kitab kuning, balaghah, manthiq, hingga ilmu falak.

Dahaga ilmu tersebut kemudian membawa beliau ke Pesantren Tebuireng, Jombang, pada kurun waktu 1926–1930. Di bawah asuhan KH. Hasyim Asy’ari, fokus studi beliau tercurah pada pendalaman hadis—khususnya Shahih Bukhari dan Shahih Muslim—serta ilmu qira’at. Puncak pengembaraan spiritual dan keilmuannya berlangsung di Pesantren Al-Munawwir, Krapyak, dari tahun 1930 hingga 1941. Selama lebih dari satu dekade berguru kepada KH. Munawwir, beliau menuntaskan hafalan Al-Qur’an (tahfizh) sekaligus menguasai disiplin ilmu Qira’at Sab’ah.

Masa belajar di Krapyak merupakan titik balik kpenting. Beliau awalnya datang untuk mengantarkan adiknya, Ahmad Da’in, namun akhirnya menetap selama 11 tahun. Di bawah bimbingan KH. Munawwir, beliau menuntaskan hafalan Al-Qur’an dalam waktu 1,5 tahun secara bin-nadhor dan bil-ghaib. Evaluasi historis menunjukkan signifikansi beliau sebagai satu-satunya murid yang berhasil menuntaskan pelajaran Qira’at Sab’ah secara talaqqi hingga khatam kepada KH. Munawwir. Kapasitas ini membuat sang guru memberi mandat kepada santri lain; “Siapa saja yang ingin meraup semua ilmuku, silakan mengaji kepada Arwani.”

Pengabdian, Institusi, dan Warisan Keilmuan

Visi strategis KH. Arwani Amin dalam melestarikan Al-Qur’an termanifestasikan melalui pendirian institusi pendidikan khusus. Setelah kembali ke Kudus dan mulai mengajar pada tahun 1942, beliau akhirnya mendirikan Pondok Tahfizh Yanbu’ul Qur’an pada tahun 1973 M (1393 H). Nama “Yanbu’ul Qur’an” yang berarti “Sumber Al-Qur’an” diambil dari filosofi surah Al-Isra’ ayat 90.

Pesantren ini didirikan menggunakan dana pribadi yang awalnya disiapkan untuk ibadah haji. Namun, karena biaya haji beliau kemudian ditanggung oleh H. Ma’ruf (pemilik perusahaan rokok Jambu Bol), dana tersebut dialokasikan penuh untuk pembangunan fisik pesantren. Yanbu’ul Qur’an segera menjadi kiblat pendidikan Al-Qur’an di Nusantara karena standar kualitasnya yang sangat ketat dalam hal fashahah dan tartil.

Keberhasilan kaderisasi beliau terbukti nyata dengan lahirnya deretan ulama besar yang melanjutkan estafet keilmuan Al-Qur’an di berbagai daerah. Di antaranya adalah KH. Sya’roni Ahmadi dari Kudus, KH. Abdullah Salam dari Kajen, Pati, serta KH. Muhammad Manshur yang juga merupakan anak angkat sekaligus khadim beliau. Selain itu, jangkauan pengaruh keilmuannya meluas hingga ke Yogyakarta melalui figur-figur utama seperti KH. Najib Abdul Qodir serta KH. Nawawi Abdul Aziz dari Bantul.

Tak hanya mencetak kader ulama, KH. Arwani Amin yang menyadari pentingnya dokumentasi tertulis untuk menjaga keaslian ilmu qira’at—yang umumnya ditransmisikan secara lisan—melengkapi pengabdiannya melalui karya monumental. Beliau menyusun kitab Faidl al-Barakat fi as-Sabi’a Qira’at, panduan Qira’at Sab’ah pertama di Indonesia yang diuraikan dari kitab Asy-Syathibi.

Dari segi teknis, kitab ini memiliki nilai historis dan metodologis yang sangat tinggi. Karakter historisnya terekam dalam detail penulisan yang terdiri dari 30 jilid, seluruhnya ditulis tangan oleh beliau menggunakan buku tulis sekolah biasa—sebuah cerminan ketekunan dan kesederhanaan yang luar biasa.

Secara keilmuan, kitab ini memberikan batasan yang tegas antara Qira’at (perbedaan bacaan dari para Imam), Riwayah (perbedaan bacaan dari para perawi), dan Thariq (perbedaan bacaan pada tingkat pengambil riwayat berikutnya). Melalui ketajaman analisis tersebut, kitab ini berfungsi sebagai standar metodologi talaqqi bagi para penghafal Al-Qur’an guna memastikan sanad keilmuan dan bacaan tetap muttasil (bersambung) hingga Nabi Saw.

Kepemimpinan Spiritual dan Keteladanan Budi Pekerti

Kepemimpinan KH. Arwani Amin meluas hingga ke ranah esoterik melalui jalur tasawuf. Beliau merupakan seorang Mursyid dalam Thariqah Naqsyabandiyah Khalidiyah dengan sanad yang bersambung melalui KH. Muhammad Manshur Popongan (Klaten). Integrasi antara Al-Qur’an sebagai aspek lahiriah dan thariqah sebagai aspek batiniah melahirkan keseimbangan spiritual yang kuat dalam diri beliau.

Beliau memusatkan kegiatan spiritualnya di Masjid Kwanaran, Kudus—sebuah lokasi yang dipilih karena ketenangannya dan kedekatannya dengan Sungai Gelis. Di kancah nasional, beliau dipercaya menjabat sebagai pimpinan pada masa awal berdirinya organisasi para ahli tasawuf, yang kala itu bernama Jam’iyyah Ahli ath-Thariqat al-Mu’tabarah (sebelum berganti nama menjadi JATMAN pada tahun 1979). Kepemimpinan spiritual ini mempertegas peran beliau sebagai penuntun batin masyarakat di tengah dinamika zaman.

Signifikansi beliau di hati masyarakat tidak hanya bersumber dari kealimannya, melainkan juga dari akhlak luhur yang melampaui standar umum. Julukan “Kiai Sae” melekat kuat karena kebiasaan beliau yang selalu menyikapi tamu dan pandangan orang lain dengan ujaran hangat; “Sae… sae… sae…” (Bagus… bagus… bagus…). Kebiasaan ini mencerminkan ikhtiar beliau untuk senantiasa menyenangkan hati sesama (idkhalus surur).

Keluhuran budi tersebut terwujud nyata dalam tiga pilar karakter. Pertama; ketawadukan yang luar biasa, terlihat saat beliau menolak permintaan gurunya, KH. Raden Asnawi, untuk mendirikan pesantren sendiri selama sang guru masih hidup—sebuah bentuk penghormatan tinggi demi menjaga perasaan senior dan memegang teguh adab keilmuan.

Kedua; kedermawanan budi dalam memuliakan tamu, seperti kebiasaan merapikan sandal para tamunya secara diam-diam. Sifat ini berpadu dengan prasangka baik (husnudzan) yang mendalam; bahkan saat ditipu oleh seorang pedagang sarung, beliau justru bersyukur karena Allah tidak menjadikannya sebagai sang penipu.

Ketiga; kedisiplinan ibadah yang sangat ketat. Beliau hanya tidur sekitar dua hingga tiga jam sehari, lalu mengabdikan waktu dari pukul sembilan malam atau tengah malam hingga subuh khusus untuk salat malam dan zikir. Kedisiplinan spiritual ini begitu melekat hingga salat berjemaah tepat waktu tetap beliau jalankan dengan istikamah, meski dalam kondisi fisik yang sedang sakit.

Warisan Wasiat dan Keberlanjutan Estafet Perjuangan

KH. Arwani Amin meninggalkan warisan ideologis berupa 17 wasiat yang menjadi peta jalan spiritual bagi para santrinya. Dalam aspek prinsip belajar, beliau menekankan pentingnya kualitas tartil dalam membaca Al-Qur’an ketimbang sekadar mengejar kecepatan. Beliau mengingatkan santri agar tidak memaksakan diri secara berlebihan melainkan fokus pada konsistensi (istiqamah), serta mewajibkan mereka untuk mendoakan para guru setiap hari.

Sementara itu, dalam karakter sosial, beliau menuntun santrinya untuk tidak mudah mengeluh saat menghadapi cobaan dan melarang gurauan berlebihan (aja kakean guyon) demi menjaga marwah serta kewibawaan Al-Qur’an. Peta jalan tersebut kian lengkap melalui etika kehidupan yang mengutamakan bakti kepada orang tua serta penanaman etos kerja yang kuat.

Lewat prinsip “obah bakal mamah” (bergerak atau bekerja akan mendatangkan rezeki), beliau mendorong kemandirian ekonomi bagi para penghafal Al-Qur’an. Rangkaian wasiat ini bukan sekadar pesan moral, melainkan panduan hidup yang menyatukan penguasaan teks suci dengan keberdayaan sosial dan kemuliaan akhlak.

Pengabdian panjang sang maestro Qira’at Sab’ah ini bermuara saat KH. Muhammad Arwani Amin Said wafat pada tanggal 1 Oktober 1994 M (25 Rabiul Akhir 1415 H) dalam usia 92 tahun. Kepergian beliau meninggalkan duka mendalam bagi dunia Islam Nusantara, namun warisannya tetap tegak berdiri melalui institusi dan ribuan santrinya.

Estafet kepemimpinan di Yanbu’ul Qur’an dilanjutkan oleh putra-putra beliau, KH. Ulin Nuha Arwani dan KH. Ulil Albab Arwani. Dalam menavigasi pesantren, peran KH. Muhammad Manshur—putra angkat sekaligus khadim setia beliau—sangat vital dalam mendampingi kedua putra biologis tersebut meneruskan perjuangan sang ayah. Meski raga beliau kini beristirahat di kompleks Yanbu’ul Qur’an, barakah keilmuannya tetap mengalir deras melalui ribuan hafizh dan hafizhah di seluruh Nusantara, memastikan cahaya wahyu dari Kudus terus menerangi peradaban.

Facebook Comments Box

Penulis: Badiatul Muchlisin AstiEditor: Redaksi Suarayasmina.com

Advertisement

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.