SUARAYASMINA.COM – Kesultanan Demak menempati posisi strategis yang sangat penting dalam lini masa sejarah Nusantara. Sebagai kerajaan Islam pertama di Pulau Jawa, Demak bukan sekadar entitas politik baru, melainkan sebuah instrumen transisi kekuasaan yang menandai berakhirnya supremasi Majapahit yang bercorak Hindu menuju era kekuasaan Islam. Namun, narasi sejarah arus utama seringkali menyederhanakan proses ini tanpa melihat keterlibatan geopolitik yang lebih luas.

Dalam buku berjudul Kasultanan Demak: Kasultanan Cina Muslim Tanah Jawa (Penerbit BRIN, 2024), Anang Harris Himawan memberikan perspektif dan dimensi baru yang strategis; Kesultanan Demak dipandang sebagai hasil pengaruh Imperium Tiongkok pertama di Pulau Jawa. Dalam konteks ini, Islam tidak hanya hadir sebagai sebuah keyakinan spiritual, tetapi berfungsi sebagai ideologi kekuasaan yang mengonsolidasikan kekuatan politik dan ekonomi.

Memahami pengaruh Tiongkok dalam pembentukan Demak adalah sebuah imperatif metodologis untuk meruntuhkan mitos pribumisme sempit yang selama ini mengaburkan bagaimana kekuasaan maritim dan struktur sosial di Jawa terbentuk melalui asimilasi lintas bangsa. Ketidakjelasan mengenai peran etnis tertentu selama ini bukanlah ketidaksengajaan akademis, melainkan hasil dari hegemoni historiografi yang sengaja menutup fakta. Arkeologi Sino-Jawa memberikan “silent testimony” yang tak terbantahkan, meski arsip tertulis sengaja dikaburkan.

Bias “Belandasentris” dan Penghilangan Jejak Tionghoa

Kejujuran sejarah adalah fondasi bagi identitas nasional. Sayangnya, historiografi kita telah lama terdistorsi oleh visi-misi kolonialisme yang sengaja mengaburkan atau bahkan menghapus jejak peran etnis Tionghoa dalam pembentukan peradaban Islam di Jawa. Dampak dari penghilangan bukti sejarah ini tidak hanya menciptakan kesimpangsiuran akademis, tetapi juga merupakan bentuk penindasan identitas yang diwariskan hingga era modern.

Metodologi “Belandasentris” yang dipelopori oleh J.J. De Jonge dan F. de Han mendasarkan seluruh narasi sejarah hanya pada arsip pejabat VOC. Karena kegiatan masyarakat bumiputra maupun Tionghoa tidak terdokumentasikan dalam arsip resmi tersebut, peran mereka secara otomatis tersingkir dari ingatan sejarah.

Advertisement

Contoh paling mencolok dari “pembersihan” ini adalah penjarahan catatan sejarah di Kelenteng Sam Poo Kong oleh Residen Portman pada tahun 1928, di mana tiga gerobak dokumen berbahasa Tionghoa yang menceritakan peran etnis Tionghoa dalam pembentukan kerajaan Islam di Jawa diambil dan menghilang. Bias rasis ini bahkan berlanjut pasca-kemerdekaan, terbukti dengan pelarangan buku Slamet Mulyana, Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-Negara Islam di Nusantara, pada tahun 1971 oleh rezim yang khawatir akan pengakuan peran Tionghoa dalam “melukis sejarah” Islam di Jawa.

Historiografi versi kolonial melalui Mazhab Batavia cenderung membatasi sumber primer hanya pada arsip resmi VOC dan pejabat Belanda. Dalam narasi ini, Islam Nusantara dianggap murni berasal dari Arab atau Gujarat untuk meniadakan peran Tiongkok, sementara catatan non-arsip seperti penuturan pelancong Tiongkok atau Portugis ditolak karena dianggap tidak ilmiah. Akibatnya, dinamika politik Jawa kerap digambarkan sebagai proses internal yang terisolasi dari jaringan luar negeri.

Padahal, fakta historis menunjukkan realitas multietnik yang kuat. Laksamana Cheng Ho, misalnya, memimpin ekspedisi yang menjadi zending Islam sekaligus membangun instalasi formal kekuasaan Muslim di pesisir utara. Bukti keterlibatan Tiongkok ini kemudian berusaha dihapuskan secara sistematis, salah satunya melalui penjarahan dokumen di Sam Poo Kong pada 1928 oleh Residen Portman.

Meski demikian, jejak keberadaan Sino-Jawa masih terekam kuat pada arsitektur masjid, seperti ukiran padas di Mantingan dan konstruksi Masjid Demak. Keberlanjutan represi historiografi yang bersifat rasialis ini bahkan masih terasa hingga era modern, yang terlihat dari pelarangan buku karya Slamet Mulyana pada 1971. Sebab, ketika arsip-arsip resmi dibakar atau dihilangkan oleh tangan kolonial, jejak kebenaran sejatinya masih tertinggal dalam garis darah dan gelar-gelar yang tercatat rapi dalam kronik lokal.

Genealogi Kepemimpinan: Sintesis Identitas Jawa-Tionghoa

Struktur elit di Kesultanan Demak terbentuk melalui proses asimilasi yang canggih antara bangsawan Majapahit dan etnis Tionghoa. Sintesis ini menciptakan kelas penguasa baru yang memiliki legitimasi tradisional sekaligus akses terhadap jaringan perdagangan global. Hal ini mempertegas bahwa loyalitas etnis dalam pembentukan Demak bukanlah “identitas ascriptive” yang pasif, melainkan sebuah strategi politik yang terencana.

Tokoh sentral, Raden Patah (Jin Bun), adalah putra dari Brawijaya V (Raja Kertabhumi) dengan selir Tionghoa, Shu Ban-Chi. Namun, yang sering diabaikan adalah sosok Arya Damar (Swan Liong), pengasuh Raden Patah di Palembang. Swan Liong bukanlah sekadar peranakan biasa; ia adalah putra dari Wikramawardhana (Brawijaya III), yang menjadikannya bagian inti dari dinasti Majapahit sebelum ditugaskan mengelola jaringan di Palembang. Melalui pernikahan politik yang melibatkan tokoh seperti Nyai Ageng Manila, terbentuklah sebuah konsorsium kekuasaan lintas etnik yang menjadi tulang punggung Demak.

Berikut adalah pemetaan identitas ganda dari tokoh-tokoh strategis tersebut:

Nama Jawa / Gelar Nama Tionghoa / Alias Peran Strategis
Raden Patah Jin Bun Pendiri Sultan pertama Demak; pemegang sah legitimasi trah Majapahit.
Arya Damar Swan Liong Putra Brawijaya III; pengasuh Jin Bun; pengelola galangan kapal awal di Semarang.
Sunan Ampel Bong Swee Ho Wali Utama; Kapten Cina Muslim Hanafi di Surabaya; pilar teologis elit baru.
Arya Teja Gan Eng Chu Adipati Tuban; mertua Sunan Ampel; tokoh administrasi maritim pesisir utara.
Nyai Ageng Manila Putri Gan Eng Chu; istri Sunan Ampel; jembatan utama jaringan kekuasaan pernikahan.
Raden Husen Kin San Adipati Terung; adik seibu Raden Patah; pemimpin operasional galangan kapal Poncol.

 

Relasi genealogis ini membuktikan bahwa loyalitas politik Demak dibangun di atas fondasi ekonomi-teknologi maritim yang akan kita bahas selanjutnya.

Pilar Kekuatan: Teknologi Maritim dan Arsitektur Akulturatif

Kekuasaan Demak didasarkan pada penguasaan teknologi sebagai instrumen kedaulatan. Tulang punggung kekuatan ini adalah galangan kapal yang terletak di Poncol, Semarang. Di bawah kepemimpinan Kin San (Raden Husen), galangan ini bukan sekadar bengkel kayu, melainkan pusat militer-industri terbesar di Asia Tenggara pada masanya.

Bukti teknis paling fenomenal dari pengaruh teknologi Dinasti Ming adalah keberadaan “Saka Tatal” pada Masjid Agung Demak. Secara historiografis, ini sering dicitrakan sebagai mukjizat, namun secara teknis, konstruksi ini mengadopsi teknologi tiang kapal Tiongkok yang memungkinkan penggunaan potongan kayu kecil untuk membentuk pilar yang fleksibel namun luar biasa kokoh. Para pekerja masjid ini adalah para insinyur kapal (naval engineers) dari galangan Poncol. Dengan kata lain, Masjid Agung Demak dibangun sebagai sebuah showcase kemampuan militer-industri Demak kepada dunia luar.

Dampak dari penguasaan teknologi ini adalah lahirnya Kapal Jung buatan Jawa, yang konstruksinya membuat para navigator Portugal terkagum-kagum. Kapal-kapal ini memiliki ukuran dan ketahanan yang melampaui kapal galleon Eropa. Kapabilitas inilah yang memungkinkan Demak menjadi saingan maritim utama bagi Malaka yang saat itu dikuasai Portugis. Masjid adalah simbol rohani, namun teknik pembangunannya adalah bukti “hardware” militer yang siap menantang hegemoni Barat.

Dinamika Teologis: Pengaruh Mazhab Hanafi dan Peran Walisongo

Penyebaran Islam di Jawa tidak terjadi dalam ruang vakum, melainkan melalui interaksi intensif dengan akar budaya lokal. Ekspedisi Laksamana Cheng Ho memainkan peran vital sebagai “Zending Islam” yang memperkenalkan Mazhab Hanafi di pesisir utara. Mazhab Hanafi berfungsi sebagai “software” intelektual yang fleksibel dan rasionalistis, memungkinkan teknologi dan perdagangan Tiongkok terintegrasi mulus ke dalam masyarakat Jawa yang pluralis.

Mazhab Hanafi merupakan mazhab resmi awal kerajaan, mengingat Raden Patah adalah murid dari Sunan Ampel (Bong Swee Ho), pimpinan komunitas Cina Muslim Hanafi. Namun, pasca-kematian Raden Patah, terjadi pergeseran ideologis. Sunan Kudus menjadi penggerak utama transisi menuju Mazhab Syafii, sebuah manuver yang kemungkinan dilakukan untuk menyesuaikan dengan dinamika politik Islam global dan memantapkan otonomi teologis Jawa.

Eksistensi Walisongo sendiri penuh dengan nuansa asimilasi. Terdapat perdebatan mengenai asal-usul “Putri Campa”—apakah berasal dari daratan Tiongkok, Kamboja, atau bahkan “Jeumpa” di Aceh. Namun, bukti dalam naskah menunjukkan bahwa tokoh-tokoh seperti Sunan Ampel, Sunan Bonang, dan Sunan Drajat memiliki akar keturunan Tionghoa/Campa yang kuat melalui jalur Nyai Ageng Manila. Hal ini membuktikan bahwa dewan wali bukanlah sekumpulan pendakwah asing yang terisolasi, melainkan sebuah konsorsium intelektual-politik lintas etnik yang menguasai berbagai instrumen kekuasaan.

Membuka “tabir” sejarah yang menutup peran etnis Tionghoa dalam berdirinya Kesultanan Demak merupakan sebuah urgensi ilmiah untuk menyembuhkan luka sejarah bangsa. Selama ratusan tahun, peran penting ini dipinggirkan demi kepentingan politik rasial sempit yang merupakan residu strategi devide et impera kolonial.

Fakta bahwa Demak merupakan proyek kolektif multietnik menunjukkan bahwa identitas Nusantara telah sejak lama dibangun di atas fondasi keberagaman yang nyata, bukan sekadar slogan. Mengakui peran Tionghoa dalam “melukis sejarah” Islam di Jawa sama sekali tidak mengurangi nilai luhur “Kejawen” atau status “Pribumi”. Sebaliknya, hal ini justru memperkuat nasionalisme kita dengan menempatkan sejarah di atas landasan kejujuran yang objektif. Historiografi yang jujur adalah sebuah amal ilmiah bagi masa depan literasi Indonesia yang lebih bermartabat, di mana setiap etnis diakui sebagai pemegang saham sah dalam saham peradaban Nusantara.

*Ditulis berdasarkan buku berjudul Kasultanan Demak: Kasultanan Cina Muslim Tanah Jawa (Penerbit BRIN, 2024) karya Anang Harris Himawan.

Facebook Comments Box

Penulis: Badiatul Muchlisin AstiEditor: Redaksi Suarayasmina.com

Advertisement

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.