Informasi Buku Detail
Judul Kearifan Lokal Epigrafi Islam Masa Majapahit pada Nisan Makam Troloyo
Penulis Imam Mash’ud
Penerbit LIPI Press, 2021
ISBN 978-602-496-204-3
Jumlah Halaman xviii + 121 hlm.

 

SUARAYASMINA.COM – Di tengah pusaran globalisasi yang kian menggerus batas-batas kultural, bangsa Indonesia kerap kehilangan pijakan identitasnya. Kegagapan dalam memfilter pengaruh asing seringkali berakar pada kealpaan kita terhadap sejarah besar Nusantara yang sebenarnya telah lama mempraktikkan moderasi dan kearifan lokal.

Dalam diskursus ini, literatur arkeologi bukan sekadar tumpukan data usang, melainkan jembatan penting yang menghubungkan masa lalu Majapahit dengan masa depan Indonesia. Buku karya Imam Mash’ud ini hadir sebagai instrumen strategis untuk menggali kembali memori kolektif tersebut melalui bukti-bukti autentik yang terpahat di atas batu.

Melalui metodologi yang disiplin, penulis membawa kita melampaui narasi tekstual konvensional untuk memahami sejarah melalui kacamata ilmu epigrafi.

Dalam rekonstruksi sejarah, kejujuran data seringkali terancam oleh subjektivitas naskah. Epigrafi hadir untuk menjawab tantangan tersebut dengan memposisikan nisan bukan sebagai benda mati, melainkan sebagai dokumen budaya yang hidup. Merujuk pada perspektif akademisi UIN Sunan Ampel, terdapat perbedaan ontologis antara Epigrafi dan Filologi. Jika Filologi berfokus pada tulisan dua dimensi (panjang dan lebar) pada naskah, Epigrafi mengkaji objek tiga dimensi yang mencakup panjang, lebar, dan ketebalan tulisan pada media keras.

Advertisement

Pembedaan dimensi ini sangat penting; karena sifatnya yang primer dan menetap (in situ), bukti epigrafis memberikan tingkat kredibilitas yang jauh lebih tinggi dalam narasi sejarah Islam di Indonesia dibandingkan teks kertas yang mudah dimanipulasi. Tugas seorang epigraf, seperti yang ditunjukkan penulis, adalah melakukan pengalihaksaraan (transliterasi) agar pesan masa lampau—seperti kalimat Tauhid “Lā ilāha illa allāhu Muhammadu rasūlu allāhu”—dapat dipahami oleh masyarakat modern sebagai penyambung sanad pengetahuan antar-zaman.

Pluralisme dan Akulturasi Visual Islam di Jantung Majapahit

Signifikansi buku ini terletak pada keberhasilannya membedah situs Makam Troloyo yang berada tepat di jantung pusat Kerajaan Majapahit. Keberadaan komunitas Muslim di Trowulan membuktikan adanya toleransi ekstrem pada masa itu.

Penulis memanfaatkan bukti arkeologis untuk memperkuat tesis penetration pacifique (Islamisasi damai), di mana tokoh-tokoh besar seperti Syekh Jumadil Kubro dan Maulana Malik Ibrahim tidak hanya diterima, tetapi juga dihargai dalam struktur sosial. Fakta sejarah ini kian dipertegas oleh sosok Maulana Malik Ibrahim yang diangkat oleh otoritas Majapahit sebagai Syahbandar di Gresik. Jabatan resmi kenegaraan tersebut menjadi bukti tak terbantahkan bahwa perbedaan agama tidak menghalangi partisipasi politik di Majapahit. Selain itu, penggunaan angka tahun Jawa Kuno (Kawi) pada nisan-nisan di Makam Pitu semakin memperkuat antitesis terhadap narasi konflik antaragama; Islam dan tradisi lokal tidak sekadar berdampingan, melainkan saling memeluk dalam harmoni yang dijamin oleh negara.

Proses interaksi tersebut dipaparkan dengan sangat apik untuk menunjukkan bahwa Islam di Nusantara tidak datang sebagai penghapus jejak lama, melainkan sebagai pengaya estetika lokal. Modifikasi budaya asing yang disesuaikan dengan karakteristik lokal inilah yang melahirkan identitas budaya Islam Indonesia yang unik.

Adaptasi visual ini terlihat jelas pada penggunaan aksara Arab-Kufi pada nisan Fatimah binti Maimun (474 H) dan Maulana Malik Ibrahim. Secara historiografis, pakar seperti Ludvik Kalus dan Claudie Guillot menafsirkan gaya Kufi tersebut memiliki pengaruh kuat dari tradisi Iran, sekaligus menandakan adanya koneksi global Islam pada masa itu.

Inovasi budaya juga berlanjut ke ranah linguistik melalui lahirnya aksara Pegon dan Jawi—yakni bahasa Jawa dan Melayu yang dimodifikasi menggunakan huruf Arab—sehingga pesan-pesan Islam dapat meresap ke dalam lidah masyarakat lokal tanpa menghilangkan jati diri mereka.

Harmoni visual ini makin lengkap dengan tetap dipertahankannya inskripsi angka tahun Jawa Kuno pada nisan-nisan Troloyo serta hadirnya fusi ornamen. Penggunaan motif “Surya Majapahit” dan bentuk arabes pada nisan Islam menjadi bukti bahwa simbol kebesaran kerajaan Hindu-Buddha tetap dihargai sebagai bagian dari identitas visual Muslim Nusantara.

Relevansi Kontemporer dan “Heritage Sense”

Sebagai putra daerah Trowulan, Imam Mash’ud menulis buku ini dengan misi sosial untuk membangkitkan heritage sense (kesadaran warisan). Ia menegaskan bahwa kearifan lokal—baik berupa pengetahuan, keterampilan, maupun nilai—adalah solusi atas ancaman disintegrasi bangsa saat ini. Melalui buku ini, kita disadarkan bahwa moderasi beragama bukan sekadar konsep modern yang diimpor dari Barat, melainkan jati diri asli Nusantara yang telah terpahat abadi di atas batu sejak abad ke-14.

Para akademisi dan praktisi pembangunan bangsa wajib membaca karya ini untuk memahami bahwa kerukunan sosial di Indonesia memiliki akar arkeologis yang sangat dalam. Buku ini membuktikan secara ilmiah bahwa harmoni bukanlah hal baru, melainkan fondasi peradaban kita.

Buku “Kearifan Lokal Epigrafi Islam Masa Majapahit pada Nisan Makam Troloyo” adalah karya ilmiah yang langka karena kedalaman kajiannya tetap disajikan dengan alur yang runtut dan aksesibel. Buku ini sukses memposisikan sejarah sebagai cermin jernih untuk menatap masa depan Indonesia yang lebih inklusif.

Bagi siapa pun yang ingin memahami bagaimana moderasi beragama benar-benar bekerja di masa lampau, buku ini adalah panduan yang tak ternilai harganya. Sejarah Troloyo mengingatkan kita bahwa perbedaan adalah kekayaan yang telah lama kita kelola secara harmonis.

Facebook Comments Box

Penulis: Badiatul Muchlisin AstiEditor: Redaksi Suarayasmina.com

Advertisement

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.