SUARAYASMINA.com — Hari itu, Jumat (16/10/2026), memang sengaja saya alokasikan waktu untuk mengeksplorasi jejak peradaban Islam di Kabupaten Grobogan. Usai menziarahi Masjid Jami’ KH. Burham Purwodadi dan menunaikan shalat Jumat di sana, tujuan kami berikutnya adalah makam Syekh Nun di Desa Selojari, Kecamatan Klambu.
Setelah menyempatkan makan siang di Warung Makan Mbak Narti di daerah Jengglong Timur (Jalan Brigjen Katamso), saya dan Pak Roni langsung meluncur menuju Klambu. Terik matahari masih menyengat ketika kami menyusuri jalanan antar-kampung di Kecamatan Brati. Menjelang waktu Asar, kami pun tiba di area makam Syekh Nun yang berada anggun di tengah hutan jati, jauh dari hiruk-pikuk permukiman warga.
Hembusan angin sepoi-sepoi menyambut kami, menjadi penawar yang pas di tengah cuaca panas. Suasana makam begitu hening dan sepi. Saya langsung melangkah masuk ke kompleks makam melalui pintu sebelah selatan. Di sana, saya mendapati seseorang sedang bersantai sembari menyaksikan video di gawainya.
Setelah menyapa dengan mengucap salam serta meminta izin untuk berziarah dan mengambil beberapa dokumentasi foto, saya pun melangkah masuk ke dalam area makam Syekh Nun. Sementara itu, Pak Roni saya tahu justru memilih merebahkan diri di kursi kayu panjang kompleks makam yang dilengkapi bantal. Mungkin dia capek, ditambah lagi hembusan angin sepoi-sepoi memang terasa amat mendukung untuk terlelap.
Siapakah Syekh Nun?
Namanya mungkin tak sepopuler Ki Ageng Getas Pendowo atau Ki Ageng Selo. Namun, sejauh yang saya tahu, Syekh Nun merupakan salah satu ulama yang memegang peranan penting dalam syiar Islam, khususnya pada era awal berdirinya Kabupaten Grobogan.

Berdasarkan cerita yang populer di tengah masyarakat, Syekh Nun berasal dari Polaman, Desa Jatipecaron, Kecamatan Gubug—meskipun ada pula versi lain yang menyebutkan beliau berasal dari Persia yang datang ke Indonesia untuk misi dakwah.
Namun demikian, menilik silsilah yang menempatkannya sebagai keturunan Kiai Ageng Muhammad Besari—ulama kharismatik dan berpengaruh abad ke-18 asal Ponorogo, besar kemungkinan Syekh Nun merupakan ulama pendatang dari Jawa Timur, sebagaimana KH. Konawi, Kiai Ageng Kafiludin, dan Syekh Sirajudin. Mereka datang ke Grobogan membawa misi dakwah.
Dalam perkembangannya, Syekh Nun diajak oleh Adipati Puger (RT. Martopuro)—Bupati pertama Grobogan—untuk membantu pengembangan syiar Islam sekaligus mendukung penataan wilayah Kabupaten Grobogan yang baru berdiri. Memenuhi ajakan itu, Syekh Nun memilih berdakwah dan menetap di wilayah Klambu hingga akhir hayatnya. Lokasi dakwah dan makam beliau pun tak terlampau jauh dari pusat pemerintahan Kabupaten Grobogan kala itu.
Sayangnya, rekam jejak dakwah maupun interaksi sosial Syekh Nun dengan masyarakat Grobogan di masa-masa awal tak berjejak. Begitu pula dengan warisan intelektualnya—sama sekali tak ada jejak. Narasi yang berkembang justru menautkan silsilah beliau hingga ke Nabi Muhammad saw. Dalam rentetan nasab tersebut, Syekh Nun disebut sebagai keturunan ke-34 Nabi Muhammad saw melalui jaringan wali dan ulama Nusantara, mulai dari Syekh Jumadil Kubro hingga Nyai Asfiyah (Coper, Jetis, Ponorogo)—cucu Kiai Ageng Muhammad Besari.

Fakta menarik lainnya, KH. Abdurrahman Munadi—ulama berpengaruh abad ke-20 yang lahir pada 1908 dan dimakamkan di Polaman, Desa Jatipecaron—disebut-sebut masih memiliki garis keturunan dari Syekh Nun. Secara lengkap, urutan nasab beliau terhubung melalui: KH. Abdurrahman Munadi bin Kiai Arifin bin Kiai Muttaqin bin Kiai Khomsah Baturagung bin Syekh Nun Selojari.
Kini, kompleks makam Syekh Nun di Desa Selojari berdiri sebagai salah satu destinasi wisata religi yang sering diziarahi warga. Setiap tanggal 1 Muharram, ribuan jemaah berkumpul di sana untuk menggelar peringatan Haul Syekh Nun secara khidmat.
Bagi umat Islam yang ingin berziarah ke makam Syekh Nun, pihak pengelola telah menyusun sejumlah tata tertib bagi para pengunjung. Di antaranya: berpakaian rapi dan menutup aurat, menjaga sikap serta tutur kata, memelihara kebersihan, hingga tidak membuat kegaduhan yang dapat mengganggu kekhusyukan peziarah lain. Serta yang tak kalah penting, peziarah dilarang keras melakukan praktik perdukunan atau tindakan serupa di sekitar area makam.
Begitu misi saya selesai, saya menghampiri Pak Roni yang sedang terlelap. Terik matahari masih menyengat saat kami meninggalkan kompleks makam. Masih ada rasa ngganjel dan penasaran yang membuncah—sebuah “PR” untuk menggali lebih dalam sosok ulama ini. Boleh jadi benar bahwa Syekh Nun adalah tokoh pilar dalam syiar Islam di era awal Grobogan. Namun harus diakui, rekam jejak perjuangan dan dinamika kehidupannya masih menanti untuk diungkap melalui penelusuran sejarah yang lebih mendalam.





