SUARAYASMINA.COM – Sebentar lagi Agustus datang. Bendera merah putih akan kembali bermunculan di depan rumah-rumah. Gang-gang dihias. Lampu berbagai mode dipasang dengan warna-warni yang membuat malam menjadi semakin gemebyar.

Anak-anak berlatih lomba. Ada kompetisi legendaris seperti balap karung, memasukkan pensil ke dalam botol, membawa kelereng di atas sendok yang digigit, sampai lomba-lomba kreasi baru yang belum pernah ada pada masa kecil saya.

Para bapak mulai membentuk kepanitiaan. Menentukan siapa yang diamanahi menjadi ketua, sekretaris, bendahara, dan berbagai seksi. Biasanya, orang-orangnya tetap sama dari tahun ke tahun—mungkin karena kinerjanya sudah terbukti. Hebatnya, para pengurus ini bekerja tanpa digaji.

Para ibu pun sibuk menyiapkan banyak hal, mulai dari merancang menu makanan, menentukan tempat belanja, hingga memasak bersama.

Advertisement

Sementara itu, anak-anak muda kebagian tugas berkeliling dari rumah ke rumah untuk mengumpulkan iuran, mengecat gapura, memasang umbul-umbul, dan menyiapkan acara. Di kampung masa kecil saya dulu, para pemuda yang tergabung dalam karang tarunalah yang menjadi motornya. Layaknya event organizer profesional, mereka menyiapkan seluruh rangkaian acara tujuhbelasan dari A sampai Z.

Maka, kampung-kampung yang biasanya berjalan dengan ritmenya sendiri, mendadak menjadi lebih hidup. Begitulah cara kita menyambut kemerdekaan. Turun-temurun, entah dimulai sejak kapan.

Makna di Balik Keriuhan

Lalu terdengarlah musik dari pengeras suara, bergaung dari pagi hingga malam. Alunan nada itu mengiringi kerja bakti, lomba anak-anak, jalan sehat, hingga malam tirakatan. Musik memang membuat suasana menjadi ramai, membuat orang betah berkumpul, dan membuat acara terasa meriah.

Namun, kadang saya bertanya dalam hati; lagu-lagu yang kita putar itu sedang membawa kita ke mana? Sebab, merayakan kemerdekaan adalah peristiwa yang tidak boleh berhenti pada sekadar hiburan. Ia adalah momen untuk dikenang, dipelajari, dan diwariskan. Memetik maknanya jauh lebih penting daripada sekadar larut dalam lagu-lagu pengisi sepi.

Kemerdekaan lahir dari orang-orang yang rela kehilangan masa mudanya, rela meninggalkan keluarganya, dan rela mempertaruhkan hidup demi sesuatu yang bahkan belum tentu bisa mereka nikmati sendiri. Karena itu, rasanya sayang jika pada hari kemerdekaan kita justru lebih banyak mendengar lagu yang membuat kaki bergoyang, ketimbang lagu yang membuat hati mengenang.

Tentu saja, bergembira tidak pernah salah. Kemerdekaan memang pantas dirayakan dengan sukacita. Hanya saja, alangkah indahnya jika kegembiraan itu tetap berjalan beriringan dengan ingatan akan perjuangan.

Mungkin ada yang berkata, “Sudahlah, ini kan cuma setahun sekali.” Lho, justru karena hanya setahun sekali! Selama sebelas bulan lainnya, kita bebas mendengarkan lagu apa saja dan berpesta dengan berbagai hiburan. Ketika Agustus datang, rasanya tidak berlebihan jika kita memberi ruang lebih luas kepada lagu-lagu yang mengingatkan kita pada Indonesia.

Lagu-lagu seperti Maju Tak Gentar, Sepasang Mata Bola, Bagimu Negeri, Berkibarlah Benderaku, Syukur, Hari Merdeka, Tanah Airku, atau Bendera dari Cokelat. Lagu-lagu yang bukan hanya enak didengar, melainkan membawa pesan kuat tentang pengorbanan, persatuan, dan cinta tanah air.

Menghidupkan Kembali Ruang Kenangan

Bahkan untuk malam tirakatan, mungkin kita bisa mencoba sesuatu yang berbeda. Bagaimana jika satu RT menggelar nonton bareng film perjuangan?

Ini bukan tentang hiburan semata. Malam yang terbiasa kita sebut “tirakatan” itu sebaiknya tidak menjauh dari makna kata tirakat itu sendiri. Anak-anak duduk bersama orang tua mereka, menyaksikan kisah para pejuang yang mempertaruhkan nyawa agar kelak anak-cucunya dapat hidup sebagai bangsa yang merdeka. Film seperti Jenderal Soedirman, Hati Merdeka, Sang Kiai, atau Sang Pencerah bisa menjadi pilihan.

Barangkali setelah film selesai, tidak ada tepuk tangan yang meriah. Namun, tidak apa-apa. Hening yang khidmat justru seringkali lebih berkesan.

Atau, kita bisa meminta sosok yang paling tua di kampung untuk bercerita pada malam tirakatan tersebut. Menuturkan kisah-kisah perjuangan yang ia dapatkan dari orang tuanya, kakeknya, atau bahkan kakek buyutnya.

Waktu kecil dulu, hampir setiap habis Magrib, saya dan teman-teman berkumpul di halaman rumah Mbah Panut, orang paling tua di kampung kami. Beliau sering menceritakan pengalamannya ketika masih menjadi tentara PETA. Kami yang mendengarnya seperti disetrum oleh energi perjuangan. Kami pun mengajukan banyak pertanyaan—pertanyaan kecil yang sering kali diulang-ulang dan itu-itu saja. Namun, Mbah Panut tidak pernah bosan menjawabnya.

Kini saya menyadari bahwa malam-malam sederhana seperti itulah yang membuat kami merasa dekat dengan sejarah. Bukan karena membaca buku tebal atau menonton film mahal, tetapi karena ada seseorang yang menghadirkan masa lalu melalui ketulusan cerita. Mungkin kita perlu menghidupkan kembali suasana seperti itu.

Warisan untuk Masa Depan

Sebab, kemerdekaan bukan hanya milik kita hari ini. Ia adalah titipan dari para pendahulu yang kelak harus kita serahkan lagi kepada generasi berikutnya.

Anak-anak yang hari ini mengikuti lomba balap karung, suatu saat akan menjadi orang tua. Mereka akan mewarisi cara kita memaknai kemerdekaan. Jika yang mereka lihat hanya keramaian, mereka hanya akan mewarisi keramaian. Namun, jika yang mereka lihat adalah kegembiraan yang disertai penghormatan kepada sejarah, mereka akan mewarisi makna.

Barangkali itulah yang sering terlupakan. Kita begitu sibuk menyiapkan panggung, hadiah, dekorasi, dan berbagai perlengkapan perayaan, sampai-sampai lupa menyiapkan ruang untuk mengenang.

Facebook Comments Box

Penulis: Erwin NS PambudiEditor: Badiatul Muchlisin Asti

Advertisement

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.