SUARAYASMINA.COM – Di tengah arus modernitas, disrupsi informasi, dan pergeseran moral yang begitu cepat, seringkali seseorang yang berusaha memegang teguh nilai-nilai agama merasakan sebuah keganjilan. Ketika kejujuran menjadi barang langka, integritas dikompromikan demi kepentingan sesaat, dan gaya hidup hedonis mendominasi ruang publik, mereka yang memilih jalan lurus kerap dipandang sebelah mata.

Fenomena ini bukanlah hal baru. Jauh sebelum era digital hari ini, Rasulullah saw. telah memberikan gambaran profetik mengenai fase zaman di mana orang-orang yang berpegang pada kebenaran akan merasa terasing di tengah masyarakatnya sendiri.

Memahami Akar Istilah Al-Ghuroba’

Istilah Al-Ghuroba’ (orang-orang yang asing) bersumber dari sejumlah riwayat hadis yang mulia. Di antaranya adalah hadis yang diriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash ra., ia berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda:

طُوبَى لِلْغُرَبَاءِ فَقِيلَ مَنِ الْغُرَبَاءُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ أُنَاسٌ صَالِحُونَ فِى أُنَاسِ سَوْءٍ كَثِيرٍ مَنْ يَعْصِيهِمْ أَكْثَرُ مِمَّنْ يُطِيعُهُمْ

“Beruntunglah orang-orang yang terasing.” “Lalu siapa orang yang terasing wahai Rasulullah”, tanya sahabat. Jawab beliau, “Orang-orang yang shalih yang berada di tengah banyaknya orang-orang yang buruk, lalu orang yang mendurhakainya lebih banyak daripada yang mentaatinya.” (HR. Ahmad).

Dalam riwayat lain (HR. Muslim dari Abu Hurairah ra.), Nabi saw. juga bersabda, “Islam mula-mula muncul dalam keadaan asing, dan ia akan kembali asing sebagaimana ia muncul. Maka beruntunglah orang-orang yang terasing.” Serta dalam riwayat Tirmidzi, beliau mendefinisikan mereka sebagai “orang-orang yang memperbaiki apa yang telah dirusak oleh manusia dari sunnahku.” Hadits dhaif.

Advertisement

Keasingan ini bukanlah keasingan fisik yang membuat seseorang harus mengisolasi diri di dalam hutan atau menjauh dari kehidupan sosial. Sebaliknya, al-ghuroba’ tetap hidup berdampingan di tengah masyarakat.

Keasingan mereka terletak pada prinsip, cara pandang, moral, dan komitmen beragama yang seringkali bertentangan dengan arus besar zaman, di mana jumlah orang yang menyimpang jauh lebih dominan dibanding yang taat.

Karakteristik dan Jalan Kesabaran Generasi Al-Ghuroba’

Untuk mengenali dan meniti jalan sebagai generasi al-ghuroba’ di akhir zaman, terdapat beberapa pilar prinsip yang harus ditegakkan:

Pertama; Berpijak pada Ilmu yang Lurus. Keasingan yang terpuji bukan lahir dari sikap asal-asalan atau fanatisme buta, melainkan dari pemahaman agama yang benar. Di tengah maraknya informasi instan dan disinformasi moral, mereka senantiasa merujuk pada ilmu syar’i yang bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunnah berdasarkan pemahaman ulama saleh yang otoritatif.

Kedua; Menghidupkan Kembali Sunnah. Ketika banyak nilai luhur dan sunnah Nabi saw. ditinggalkan karena dianggap tidak relevan dengan tren modern, al-ghuroba’ dengan penuh kesadaran dan kebanggaan mengamalkannya dalam keseharian—mulai dari adab sosial, kejujuran bermuamalah, hingga kepedulian terhadap sesama.

Ketiga; Mental Baja untuk Tidak Ikut Arus Negatif. Ketika mayoritas manusia menoleransi kecurangan, ghibah digital, atau hilangnya rasa malu di ruang publik, seorang ghorib memiliki keteguhan moral untuk berkata “tidak” pada keburukan, meskipun ia dikelilingi oleh lingkungan yang mendurhakai nilai-nilai kebenaran.

Menempuh jalan al-ghuroba’ bukanlah sebuah perjalanan yang bertabur pujian. Seringkali, harga yang harus dibayar adalah kesendirian dan cemoohan dari lingkungan sekitar—dijuluki terlalu kaku, antikemajuan, atau sok alim, terlebih ketika orang yang menentang kebenaran jumlahnya jauh lebih banyak.

Namun, di sinilah letak ujian utamanya. Rasulullah saw. membuka sabdanya dengan kata “Thuba” (طوبَى), yang oleh para ulama tafsir diartikan sebagai keberuntungan besar, pohon di surga, atau kebaikan yang melimpah. Kesabaran dalam merawat kebaikan di tengah mayoritas yang abai adalah bentuk keteguhan yang nilainya sangat agung di sisi Allah Swt.

Menjadi Solusi, Bukan Mengisolasi Diri

Menariknya, menjadi bagian dari generasi al-ghuroba’ tidak berarti bersikap eksklusif, menarik diri secara sosial, sombong, atau memusuhi masyarakat. Justru, mereka hadir sebagai elemen yang membawa kemaslahatan. Mereka ramah dalam pergaulan, amanah dalam pekerjaan, adil dalam bersikap, dan menjadi mercusuar keteladanan di lingkungan tempat tinggal maupun tempat kerjanya.

Keasingan mereka adalah keasingan nilai, sementara kontribusi nyata mereka dirasakan oleh banyak orang.

Jika hari ini Anda merasa lelah karena (merasa) harus berjuang sendiri mempertahankan prinsip kejujuran, integritas, dan ketaatan di lingkungan yang mulai abai terhadap nilai-nilai luhur, jangan pernah berkecil hati. Rasa “asing” yang Anda rasakan di tengah banyaknya orang yang menyelisih jalan kebenaran justru merupakan bukti bahwa Anda sedang berada di jalur yang dijanjikan keberuntungan oleh Nabi saw. Tetaplah istiqomah, karena kemuliaan abadi sedang menanti di ujung kesabaran.

Facebook Comments Box

Penulis: Badiatul Muchlisin AstiEditor: Redaksi Suarayasmina.com

Advertisement

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.