SUARAYASMINA.COM — Jumat (16/10/2026) siang itu, terik matahari terasa begitu menyengat. Sangat puaannnaassss! Namun, sengatan panas sepanjang perjalanan seolah terbayar lunas begitu kami, saya dan Pak Roni—yang  mengantar saya, tiba di lokasi tujuan: Masjid Jami’ KH. Burham. Ini adalah kali kedua saya mengunjungi masjid bersejarah tersebut, tetapi menjadi pengalaman pertama saya menunaikan salat Jumat berjemaah di sana.

Bagi sebagian warga Purwodadi, atau warga Grobogan secara umum, nama Masjid Jami’ KH. Burham mungkin masih terasa asing. Pamornya memang kalah tenar dibanding Masjid Baitul Ma’mur di kawasan Alun-Alun atau Masjid Jabalul Khoir di Simpang Lima. Meski begitu, soal riwayat, masjid yang “tersembunyi” di Kampung Jengglong Barat, Kelurahan Purwodadi ini menyimpan jejak sejarah yang jauh lebih tua. Boleh dibilang, bangunan ini adalah salah satu saksi bisu awal mula syiar Islam di bumi Grobogan tempo dulu.

Langgar di Tepi Sungai Lusi

Mengilas balik sejarahnya, tempat ini bermula dari sebuah langgar sederhana yang didirikan sekitar tahun 1752 oleh KH. Konawi, seorang ulama asal Jawa Timur. Pada era tersebut, kawasan Grobogan memang menjadi salah satu tujuan hijrah para ulama asal Jawa Timur untuk memperluas dakwah Islam.

Selain KH. Konawi, jejak peradaban Islam di Grobogan juga diwarnai oleh Kiai Kafiluddin yang tiba sekitar akhir abad ke-17 hingga awal abad ke-18 (kisaran tahun 1700 M). Beliau membangun pusat dakwah yang ditandai dengan berdirinya Masjid Baiturrahman di Desa Menduran, Kecamatan Brati, pada tahun 1700.

Tak ketinggalan, ada pula Syekh Sirajudin, ulama asal Madura yang sampai di Desa Ngroto, Kecamatan Gubug, sekitar tahun 1705. Kini, makam beliau dapat dijumpai di Pemakaman Umum Desa Ngroto. Estafet dakwahnya kemudian dilanjutkan oleh sang murid terkemuka, Kiai Khoiron, yang disebut-sebut merupakan leluhur Gus Dur.

Advertisement
H. Ali Safwan menunjukkan gebyok dan pintu ukir kuno di bagian mihrab, yang keautentikannya masih terjaga hingga kini. (Suarayasmina.com/Badiatul Muchlisin Asti)

 

KH. Konawi sendiri dalam memilih lokasi pendirian langgar sebagai pusat dakwahnya terbilang unik. Beliau mendirikan langgarnya tepat di tepian Sungai Lusi, hanya berjarak sekitar 40 meter dari bibir sungai. Kala itu, pusat pemerintahan Kabupaten Grobogan masih berkedudukan di Kelurahan Grobogan dan berada di bawah kepemimpinan Adipati Martapura (Adipati Puger).

Kala itu, KH. Konawi membangun langgar berbentuk panggung—gaya arsitektur khas bangunan langgar tempo dulu. Bentuk ini dipilih bukan tanpa alasan; selain kawasan Purwodadi masih didominasi rawa-rawa dan belum padat penduduk, ancaman banjir saat musim hujan tiba juga menjadi pertimbangan utama.

Menurut catatan yang saya dapatkan, langgar pertama buatan KH. Konawi terbilang kecil dengan kapasitas sekitar 30 jemaah. Perjuangan dakwah beliau terhenti saat wafat dalam perjalanan pulang usai menunaikan ibadah haji, dan jasadnya dimakamkan di Pulau Ceylon (Sri Lanka). Sepeninggal KH. Konawi, tongkat estafet dakwah di Purwodadi dilanjutkan oleh sang putra, KH. Burham. Sebagai bentuk penghormatan, masyarakat setempat kelak menamai tempat ibadah tersebut sebagai “Langgar Kiyai Burham”.

Seiring bertambahnya jemaah, pembenahan pun mulai dilakukan. Pada 28 Oktober 1991, langgar ini dipugar menjadi langgar gedhe oleh cucu KH. Burham yang bermukim di kampung tersebut, H. Wodjo Karyoso. Tak berhenti di situ, pemugaran besar-besaran kembali dilakukan pada tahun 1992 dan mengubah statusnya menjadi masjid, lengkap dengan perluasan serambi depan.

Bangunan Masjid Jami’ KH. Burham dilengkapi dengan sebuah menara di sisi selatannya. (Suarayasmina.com/Badiatul Muchlisin Asti)

 

Kompleks Masjid Jami’ KH. Burham juga dipercantik dengan menara tinggi di sisi selatan. Memasuki tahun 2016, area masjid kembali diperluas hingga kini mampu menampung sekitar 250 jemaah atau bahkan lebih.

Mesti telah melewati beberapa kali pemugaran, peninggalan autentiknya tidak hilang begitu saja. Bagian-bagian ikonik seperti gebyok dan pintu ukir kuno tetap dipertahankan dan kini menghiasi area mihrab. Tak kalah menarik, sebuah bedug besar dari kayu jati utuh tanpa sambungan juga masih terawat rapi di sudut masjid, meski kini tak lagi difungsikan.

Keautentikan gebyok dan pintu ukir kuno tersebut juga dibenarkan oleh H. Icek Baskoro, keturunan KH. Burham yang kini mengelola masjid. Menurut Pak Icek—sapaan akrab saya kepadanya—gebyok masjid itu memang asli peninggalan zaman dulu dan tidak ada yang berani mengubahnya hingga sekarang.

“Pintu bagian tengahnya tebal. Itu peninggalan Mbah Buyut saya,” tegasnya melalui pesan WhatsApp.

Batu Beraksara Jawa 

Setibanya di Masjid Jami’ KH. Burham, kami disambut dengan ramah oleh seseorang yang kemudian saya ketahui bernama H. Ali Safwan—mengaku sebagai marbot sekaligus imam salat harian di masjid tersebut. Sesaat sebelum salat Jumat dimulai, pria yang akrab disapa Haji Ali itu sempat mengisahkan sekilas sejarah Masjid KH. Burham.

Seusai pelaksanaan salat Jumat, saat para jemaah mulai berangsur pulang, Haji Ali menghampiri saya yang tengah mendekati ruangan khusus tempat bedug disimpan. Mengetahui saya hendak memotret bedug tersebut, ia bergegas mengambil kunci dan membuka pintu kaca ruangan agar saya lebih leluasa mengambil foto bedug kuno itu. Setelahnya, Haji Ali mengajak saya melihat gebyok dan pintu ukir yang menghiasi mihrab, serta menjelaskan bahwa keduanya masih autentik.

Makam KH. Burham terletak di kompleks pemakaman yang berada tak jauh dari masjid. (Suarayasmina.com/Badiatul Muchlisin Asti)

 

Usai berbincang di ruang utama masjid (Lantai 2), perbincangan berlanjut ke bagian bawah masjid. Di sana, terdapat tulisan “Langgar Kiyai Burham” serta sebuah inskripsi di tembok bertuliskan: “Berdiri ± TH 1752. DIREHAB TGL 28-10-1991 OLEH H. W. KARYOSO”. Tepat di bawah inskripsi tersebut, di bawah tangga menuju lantai dua masjid, terdapat sebuah batu  yang ada goresan aksara Jawa. Berdasarkan terjemahannya, batu itu bertuliskan “Watu Ungkal, Batu Asah”.

Moh. Ngafenan, seorang pengkaji budaya Jawa yang membantu saya membaca teks tersebut, menyatakan bahwa secara harfiah batu itu berfungsi untuk mengasah senjata tajam. Penjelasan Pak Moh. Ngafenan ini selaras dengan cerita Pak Icek. “Batu di bawah masjid itu adalah batu ungkal untuk mengasah berang atau pisau,” jelas Pak Icek.

Lebih jauh Pak Icek bercerita, batu tersebut dahulu pernah dicuri orang. Namun, tak lama kemudian dikembalikan karena sang pencuri mendadak jatuh sakit. Akhirnya, batu itu dijadikan kenang-kenangan dan ditaruh di bawah masjid hingga sekarang.

Sebelum meninggalkan kompleks Masjid Jami’ KH. Burham, saya menyempatkan diri berziarah ke makam Mbah Kyai Burham yang terletak tak jauh dari masjid. Di kompleks pemakaman tersebut, terdapat pula makam H. Wodjo Karyoso—cucu Kyai Burham yang pada nisannya tertera tahun wafat 2004—serta makam Kyai Basirun yang tercatat pernah menjadi imam Masjid KH. Burham.

Penulis: Badiatul Muchlisin AstiEditor: Redaksi Suarayasmina.com

Advertisement

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.