SUARAYASMINA.com — Pernahkah engkau merasa dada begitu sesak, pikiran gelisah, dan hari-hari terasa berat tanpa sebab yang jelas? Syeikh Aidh al-Qarni dalam bukunya As’ad al-Mar’ah fi al-‘Alam menuliskan sebuah rahasia sederhana namun agung: derma atau sedekah adalah salah satu pintu utama menuju kelapangan jiwa.

Berbuat kebajikan bukan sekadar tentang menolong orang lain, tetapi tentang bagaimana Allah melimpahkan kecukupan kepada pelakunya. Sedekah membuat hati menjadi lapang, wajah ceria, nurani bercahaya, dan jiwa senantiasa dinaungi ketenangan.

Karena itu, Syeikh Aidh al-Qarni berpesan; jangan pernah meremehkan apa pun yang bisa kita dermakan. Walaupun itu hanya sebutir kurma, sesuap nasi, seteguk air, atau tetesan susu. Hadiahkanlah kepada yang membutuhkan, beri makan yang kelaparan, dan jenguklah mereka yang sedang sakit.

Sadar atau tidak, itulah obat mujarab untuk meringankan segala gundah dan sedih. Sedekah adalah resep penyembuhan yang hanya ada di “apotik” Islam.

Suatu hari, seorang pria datang dengan keluhan yang sudah menahun kepada Abdullah bin al-Mubarak.

Advertisement

“Wahai Abu Abdurrahman, luka di lututku tak pernah berhenti mengeluarkan nanah sejak tujuh tahun yang lalu. Aku sudah mendatangi banyak dokter dan mencoba berbagai obat, tapi tak kunjung membaik.”

Ibnu Mubarak tersenyum lalu berkata, “Pergilah, cari tempat di mana orang-orang kesulitan mendapatkan air, lalu galilah sumur di sana. Aku berharap, munculnya mata air itu akan menghentikan darah di lukamu.”

Pria itu menuruti saran tersebut dengan tulus—dan ajaib, ia pun sembuh. Subhanallah. Bukankah Rasulullah saw pernah bersabda; “Obatilah orang-orang sakit di antara kalian dengan sedekah.” (HR. Baihaqi).

Janji Nyata Sang Pemberi Rezeki

Sedekah memang sebuah amal yang menakjubkan. Sekecil apa pun nilainya, ia memiliki bobot yang besar di sisi-Nya asalkan dilandasi keikhlasan. Allah Swt bahkan memberikan jaminan pasti bagi siapa saja yang gemar berbagi:

“Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya. Dan Dialah Pemberi rezeki yang sebaik-baiknya.” (QS. Saba’: 39).

Dan Nabi saw juga mengingatkan kita melalui sabda beliau; “Wahai anak cucu Adam, berinfaklah, niscaya Aku akan memberi rezeki kepada kalian.” (HR. Muslim).

Janji ini bukan sekadar teori di atas kertas. Mari kita tengok sebuah kisah nyata (true story) yang menggetarkan hati dan membuktikan bagaimana janji Allah bekerja di panggung kehidupan.

Secangkir Susu yang Mengubah Takdir

Alkisah, hiduplah seorang anak lelaki miskin yang harus membanting tulang dengan menjual barang asongan dari pintu ke pintu demi bertahan hidup. Hari itu, perutnya terasa sangat lapar, sementara di kantongnya hanya tersisa beberapa sen uang logam.

Ia memutuskan untuk mengetuk pintu rumah berikutnya guna meminta secuil makanan. Namun, saat pintu terbuka dan menampakkan seorang wanita muda yang ramah, nyalinya mendadak ciut. Rasa malu mengalahkan rasa laparnya. Alih-alih meminta makanan, ia hanya memberanikan diri meminta segelas air putih.

Wanita muda itu menatap sang anak. Dengan kepekaan seorang kakak, ia tahu bocah itu sedang kelaparan. Alih-alih sekadar air putih, ia membawakan segelas besar susu segar.

Anak lelaki itu meminumnya perlahan, meresapi setiap tegukan yang menyelamatkan energinya. Dengan penuh rasa haru, ia bertanya, “Berapa saya harus membayar untuk segelas besar susu ini?”

Wanita itu tersenyum hangat dan menggeleng, “Kamu tidak perlu membayar apa pun.” Ia lalu menambahkan sebuah kalimat penyejuk, “Ibu kami mengajarkan kami untuk tidak pernah menerima bayaran atas sebuah kebaikan.”

Anak itu menunduk, menghabiskan susunya, lalu berkata dengan suara bergetar, “Dari lubuk hatiku yang paling dalam, aku berterima kasih kepadamu.”

Ketika Kebaikan Pulang ke Rumahnya

Waktu terus bergulir. Tahun demi tahun berlalu. Wanita muda penolong itu kini telah tumbuh dewasa, hingga suatu hari ia diuji dengan sakit yang sangat kritis. Dokter di kota kecilnya angkat tangan dan merujuknya ke sebuah rumah sakit besar di kota besar demi mendapatkan penanganan dari dokter spesialis ternama.

Dokter Howard Kelly adalah dokter ahli yang ditunjuk untuk memeriksa kasus langka tersebut. Begitu mendengar nama kota asal pasiennya, seberkas cahaya aneh terpancar di mata sang dokter. Ia segera bangkit, melangkah cepat menyusuri koridor rumah sakit, menuju kamar sang pasien.

Mengenakan jubah dokternya, Dr. Kelly mendekati wanita itu. Hanya dalam sekali pandang, seketika ia mengenali wanita yang pernah berbuat baik kepadanya puluhan tahun silam.

Kembali ke ruang kerjanya, tekad Dr. Kelly bulat; ia akan mengerahkan seluruh kemampuan terbaiknya untuk menyelamatkan nyawa wanita itu. Hari-hari berikutnya, ia memberikan perhatian khusus dan pengawalan medis yang luar biasa.

Perjuangan panjang itu membuahkan hasil. Wanita itu sembuh total.

Namun, di balik kebahagiaannya, terselip rasa cemas yang mendalam. Ia tahu biaya pengobatan di rumah sakit besar pasti sangat mahal. Ketika bagian keuangan menyerahkan amplop tagihan kepadanya, ia bahkan tidak berani membukanya. Ia yakin, seumur hidupnya pun ia takkan sanggup melunasinya.

Dengan tangan bergetar, ia akhirnya memberanikan diri membuka lembaran kertas tersebut. Matanya langsung tertuju pada sebuah catatan kecil yang ditulis tangan oleh Dr. Kelly di sudut atas kertas tagihan.

Ia membaca kalimat itu dengan air mata yang mulai tumpah: “Tagihan ini sudah dibayar bertahun-tahun yang lalu dengan segelas susu. — dr. Howard Kelly.”

Tangis kebahagiaan pecah membasahi wajahnya. Ia bersyukur kepada Tuhan atas keajaiban ini, dan berterima kasih kepada sang dokter yang membalas ketulusan masa lalu dengan cara yang begitu indah. Hatinya diliputi rasa haru yang mendalam, seraya berbisik dalam doa; “Ya Allah, terima kasih… cinta-Mu telah memenuhi bumi melalui hati dan tangan manusia.”

Sahabat sekalian, inilah salah satu kejaiban sedekah. Ia tidak pernah merugikan, tidak pernah membuat miskin, dan selalu menemukan jalannya sendiri untuk kembali kepada kita dalam bentuk yang paling tak terduga.

Maka, jangan pernah meremehkan sedekah sekecil apa pun. Selama ia berpijak di atas tanah keikhlasan, sekecil debu kebaikan itu akan bernilai luar biasa di sisi-Nya.

Penulis: Badiatul Muchlisin AstiEditor: Redaksi Suarayasmina.com

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.