SUARAYASMINA.com — Dulu, sebelum mengenal dunia kesehatan alami, setiap kali anak sakit, bawaannya selalu panik dan langsung buru-buru memberinya obat penurun panas. Tujuannya tentu agar demamnya segera reda.

Anak pertama saya—seorang anak laki-laki—pada usia sekitar delapan bulan sudah mengalami step (kejang demam) dan harus masuk rumah sakit. Setelah itu, ia divonis flek paru dan wajib minum obat rutin setiap hari selama berbulan-bulan. Sejak saat itu, anak sulung saya tersebut jadi sering keluar-masuk rumah sakit.

Pernah suatu ketika, setelah empat hari opname, baru dua hari di rumah kembali, ia harus masuk rumah sakit lagi dengan diagnosis yang berbeda. Kondisi itulah yang menjadi titik balik saya mengenal dunia kesehatan Islami, atau yang akrab disebut Thibbun Nabawi.

Saya mulai banyak mempelajari konsep sehat ala Nabi dan membaca buku-buku yang ditulis oleh para dokter “alternatif” yang pendekatannya tidak sepenuhnya konvensional. Salah satunya adalah buku berjudul Tubuh Anda adalah Dokter yang Terbaik (2008) karya Dr. Husen A. Bajrey, M.D., Ph.D. Buku ini benar-benar mencerahkan dan mengubah paradigma saya tentang kesehatan.

Sejak saat itu, anak pertama saya yang sebelumnya hampir setiap bulan harus ke dokter, alhamdulillah tidak pernah mengalaminya lagi. Termasuk saat anak demam, saya—dan juga istri—tidak perlu panik karena kami tahu apa yang harus dilakukan. Kami juga tidak perlu lagi bergegas membeli dan memberinya obat penurun panas.

Advertisement

Demam, begitu yang saya pelajari, tidak selalu menjadi indikasi penyakit, tetapi justru seringkali merupakan reaksi positif tubuh. Demam bisa menjadi indikator adanya infeksi, atau reaksi alami tubuh akibat penumpukan toksik (racun) di dalam sistem tubuh. Akibatnya, tubuh harus menaikkan suhu untuk membakar atau menetralisasi racun tersebut—sesuatu yang tidak bisa diproses pada suhu normal tubuh.

Karena itu, tugas kita adalah memberikan ekstra cairan agar keseimbangan tubuh tetap terjaga. Ketika suhu tubuh naik atau demam, tubuh melakukan pembakaran cairan lebih cepat dari biasanya. Obat penurun panas hanya boleh diberikan bila suhu tubuh tidak terkontrol meski telah diberi ekstra cairan (banyak minum) dan kompres lokal.

Dalam bahasa lain, demam adalah tanda bahwa sistem imun sedang bekerja keras melawan virus atau membuang racun. Ketika obat penurun panas langsung diberikan, sistem kekebalan tubuh justru lumpuh dan gagal bekerja dengan optimal. Ini tentu menjadi preseden buruk bagi ketahanan tubuh ke depannya.

Bagaimana dengan demam pada anak?

Prinsipnya tetap sama; demam tidak selalu menandakan penyakit, melainkan sinyal positif dari tubuh. Penanganan pertamanya adalah sebagai berikut:

  • Berikan cairan yang banyak agar keseimbangan tubuhnya terjaga. Berikan air madu hangat sesering mungkin. Jika ada, campuran air kelapa muda dan madu adalah formula yang sangat baik untuk membantu menurunkan demam.
  • Jangan paksa anak makan jika ia sedang tidak nafsu makan. Sebagai gantinya, berikan makanan ringan yang mudah dicerna, seperti aneka jus buah manis yang ditambah madu.
  • Perhatikan buang air besarnya (BAB). Jangan sampai anak mengalami susah BAB dan pastikan ia bisa BAB setiap hari. Banyak kasus demam justru diawali oleh BAB yang jarang atau keras. Jika anak susah BAB, berikan jus pepaya dicampur melon dan madu sebanyak tiga kali sehari.
  • Lakukan kompres. Jika demamnya cukup tinggi, kompres kening dan ketiaknya dengan air biasa (suhu ruangan). Jika demamnya sangat tinggi, kompres sekujur tubuhnya. Selama demam, badan anak sebaiknya tidak ditutup selimut tebal.
  • Berikan pijatan ringan di sekitar kelopak mata bawah dan alis. Hal ini dapat membantu menurunkan demam dan mengurangi rasa tidak nyaman di sekitar kepala.
  • Gunakan ramuan balur. Jika perlu, buat ramuan dari bawang merah yang dihaluskan lalu dicampur dengan minyak kelapa atau baby oil, kemudian oleskan ke sekujur tubuh anak. Saya biasa membalur tubuh anak saya saat demam dengan minyak herba sinergi atau minyak but but.

Obat penurun panas hanya boleh diberikan jika demam benar-benar tidak terkontrol dengan pemberian cairan ekstra dan kompres lokal. Itu pun harus tetap diimbangi dengan minum yang banyak.

Berdasarkan pengalaman saya, dengan cara-cara di atas, demam anak perlahan akan turun. Namun, jika demam berlangsung lebih dari tiga hari, segera bawa ke dokter untuk mendapatkan diagnosis lebih lanjut.

Penulis: Badiatul Muchlisin AstiEditor: Redaksi Suarayasmina.com

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.