Suarayasmina.com | Memberi nama merupakan salah satu hak anak yang harus ditunaikan orangtua.

Dengan nama pemberian orangtuanya, seorang anak dipanggil sehari-hari dalam kehidupannya, yang dengan nama itu juga seorang anak akan mengindentifikasi dirinya.

Arti Sebuah Nama menurut Islam

Islam memberikan panduan yang jelas berkaitan dengan memberi nama anak. Agar nama itu kelak memberi pengaruh positif bagi eksistensi dan kepribadian anak.

Bila William Shakespeare mengatakan “What is in a name?”—apalah arti sebuah nama?, maka Islam melalui lisan mulia Rasul-Nya menegaskan banyak sekali hal penting dalam nama seseorang.

Nama yang baik, besar pengaruhnya bagi sang penyandang nama. Dalam Islam, memberikan nama yang baik merupakan hak anak yang harus dipenuhi orangtuanya.

Dalam sebuah riwayat disebutkan, “Seseorang datang kepada Nabi Saw dan bertanya, ‘Ya Rasulullah, apa hak anakku ini?’ Nabi Saw menjawab, ‘Memberikan nama yang baik dan memberikan kedudukan yang baik (dalam hatimu)’.” (HR. Aththusi).

Beri Nama yang Baik

Berdasarkan  hadis ini, Islam memerintahkan kepada orangtua agar memberi nama yang baik kepada anaknya. Apa makna dari nama yang baik itu?

Pertama; nama itu harus bagus, syukur menarik dan indah terdengar. Anak berhak diberi nama yang bagus karena seringkali nama yang diberikan orangtuanya menentukan kehormatannya.

Ahli hikmah berkata:

Jika kami belum melihat kalian, 
maka yang paling kami cintai adalah yang paling
bagus namanya
Jika kami sudah melihat kalian, 
maka yang paling bagus wajahnya
Jika kami sudah mendengar kalian, 
maka yang paling bagus pembicaraannya
Jika kami sudah memeriksa kalian, 
maka yang paling kami cintai adalah yang paling
bagus akhlaknya

Selain itu, nama yang bagus adalah langkah awal mengantarkan buah hati menjadi manusia yang baik; manusia yang mengerti apa yang harus dikerjakan dan ke mana harus melangkah.

Pengaruh Nama dan Kemampuan Sosialisasi Anak

Ibnu Qayyim Al-Jauziyah menegaskan, ada hubungan erat antara nama dengan yang dinamai. Nama memiliki pengaruh terhadap kedamaian anak. Penelitian modern menunjukkan, ada pengaruh antara nama dan kemampuan sosialisasi anak.

Stewart & Koch dalam Children Development Through Adolescence menyatakan, anak-anak yang memiliki nama yang tidak menarik menjadi kurang populer daripada anak yang memiliki nama yang menarik (the interesting names).

Anak yang memiliki nama yang tidak menarik merasa minder, tidak percaya diri dari pergaulan dengan teman sesamanya.

John Gottman & Jonni Gonso menunjukkan penelitiannya (1975) bahwa anak yang tidak populer tidak tahu bagaimana menjalin persahabatan dengan orang-orang yang baru dikenalnya. Anak yang tidak populer cenderung tidak mampu memanejemen konflik. Dia tidak bisa menghadapi berbagai masalah sosial dengan baik.

Karena itu, Islam mengajarkan kepada setiap orangtua agar memperbagus nama buah hatinya. Karena selain memiliki pengaruh terhadap perkembangan kepribadiannya, juga karena dengan nama itulah ia akan dipanggil kelak di hari kiamat.

Rasulullah Saw bersabda, “Kelak pada hari kiamat kalian akan dipanggil dengan nama-nama kalian dan nama bapak-bapak kalian. Oleh karena itu, perbaguslah nama-nama kalian”. (HR. Abu Dawud, Ahmad, dan lainnya).

Beri Nama yang Bermakna Mulia

Kedua; tak hanya bagus dan indah didengar, nama itu juga harus mengandung makna yang mulia, makna yang baik atau positif. Karena pada sebuah nama, terkandung doa dan harapan.

Ketika nama seseorang disebut, akan direkam otak dan masuk ke dalam memori. Jika panggilan positif senantiasa direkam otak, akan memudahkan bawah sadar memunculkannya menjadi perwatakan.

Sebaliknya, dengan panggilan negatif yang masuk ke dalam rekaman otak, akan membentuk pencitraan negatif pada harga diri anak.

Benarlah jika dalam Al-Qur’an, Allah Swt memperingatkan agar jangan memanggil nama dengan gelar-gelar buruk, dengan firman-Nya, “Janganlah kamu panggil-memanggil dengan gelar-gelar yang buruk”. (QS. Hujuraat: 11).

Kaitan Nama dan Kepribadian Anak

Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah juga menegaskan bahwa pemberian nama yang baik akan mendorong yang punya nama untuk berbuat sesuai dengan makna yang terdapat dalam namanya. Hal itu terjadi karena dia merasa malu terhadap nama yang disandangnya bila perbuatannya tidak sesuai dengan makna namanya.

Apa yang ditegaskan Ibnu Qayyim selaras dengan apa yang dinyatakan pelbagai penelitian modern. Para psikolog modern belakangan menyadari pentingnya nama dalam pembentukan konsep diri.

Secara tak sadar orang akan didorong untuk memenuhi citra (image, gambaran) yang terkandung dalam namanya.

Pakar psikologi komunikasi Jalaluddin Rakhmat dalam bukunya Islam Aktual (1999) menyatakan, teori labelling (penamaan) menjelaskan kemungkinan seorang menjadi jahat karena masyarakat menamainya sebagai penjahat.

Berilah gelar “jorok” kepada anak Anda, dan seumur hidup anak itu akan menjadi orang yang jorok. Gelarilah ia “si pemurah” dan ia besar kemungkinan akan berusaha selalu pemurah.

Memang, boleh jadi orang akan berperilaku yang bertentangan dengan namanya. Taufiq mungkin jadi penjahat, tetapi nama itu akan meresahkan batinnya. Ia boleh jadi mengubah namanya, atau mengubah perilakunya.

Ubahlah Nama yang Buruk

Karena itulah Islam begitu memperhatikan hal ikhwal pemberian nama anak, di mana nama anak tidak hanya harus bagus untuk didengar, tapi juga harus mengandung makna yang mulia.

Ketika seorang sahabat menyebutkan namanya “Hazn” (duka cita), Nabi kita yang mulia segera menggantinya dengan “Farh” (suka cita). “Al-Mudhtaji’” (yang terbaring) diganti oleh Nabi menjadi “Al-Munba’its” (yang bangkit). Orang yang namanya “Harb” (perang) diubah Nabi menjadi “Silm” (damai), dan banyak lagi yang lain. (Al-Targhib 3:7).

Terdapat dalam sebuah hadis, “Dari Aisyah RA, bahwa Nabi SAW biasa mengubah nama yang buruk”. (HR. Tirmidzi).

Begitulah Islam memberi panduann dalam memberikan nama pada buah hati kita. (bma)

 

Facebook Comments Box

Advertisement

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.