“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka.” (QS. Ar-Ra’d: 11).

Suarayasmina.com – Salah satu pesan penting yang bisa dipetik dari ayat di atas adalah bahwa perubahan apapun perlu diusahakan, diupayakan, dan diperjuangkan. Perubahan bukan sesuatu yang bersifat taken for granted atau tiba-tiba turun dari langit. Ia musti diikhtiarkan dan diperjuangkan, meski hasil akhir tetap hak prerogatif Allah.

Hal itulah yang diyakini Suyoto. Meski lahir dari keluarga petani miskin dan hidup serba penuh kebatasan, tapi ia tak pernah menyerah untuk mengubah nasibnya. Dari pekerjaan satu ke pekerjaan lain, ia lakoni. Suka dan duka menjalani usaha, ia alami. Tapi ia tak pernah menyerah.

Hingga Allah bukakan jalan. Setelah menjalani suka dan duka merintis bisnis travel umrah dari nol, bahkan istri sempat memintanya undur diri dari bisnis itu karena sepi jemaah, tapi ia tetap teguh di atas jalan yang ditempuhnya. Akhirnya, kesuksesan kini Allah titipkan kepadanya.

Kini, ia tidak hanya dipercaya menjadi kepala cabang travel umrah di Kota Semarang, tapi juga bisa berangkat umrah berkali-kali, umrah bareng ayah dan keluarganya, dan bahkan memberangkatkan umrah guru ngaji anaknya.

Jadi Buruh Pabrik dan Tukang Ojek

Suyoto atau akrab disapa Ioto (Kang Ioto) lahir di Sragen, 18 April 1978. Ia anak dari seorang petani miskin di Dusun Gagan, Desa Sunggingan, Kecamatan Miri, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah. Kendala ekonomi menjadikan Ioto hanya bersekolah sampai tamat STM.

Ayahnya yang hanya seorang petani miskin, tak kuat membiayai Ioto kuliah. Karena itu, setamat STM, Ioto memilih merantau ke Semarang. Ia diterima kerja sebagai buruh pabrik di Pelabuhan Tanjung Mas.

Setahun bekerja, Ioto menemukan jodohnya dan menikah pada usia 20 tahun. Ioto menikahi Endang Sri Mulyani, perempuan Sukoharjo, pada Senin, 6 April 1998. Setahun menikah, lahir anak pertamanya, berjenis kelamin laki-laki, yang ia beri nama Bima Handaru Baskoro.

Hadirnya anak, menjadikan kebutuhan rumah tangganya semakin membengkak. Gajinya sebagai buruh pabrik pun tak mencukupi. Ioto berusaha mencari penghasilan tambahan dengan menjadi tukang ojek.

Ioto menjalani kedua profesinya dengan sepenuh hati. Ioto dikenal sebagai tukang ojek yang sabar dan ramah. Begitu pun di pabrik tempatnya bekerja, Ioto dikenal sebagai karyawan terbaik.

Impian ke Tanah Suci

Ioto menjalani profesinya dengan baik dan sepenuh hati, karena di dasar hatinya, ada satu impian yang selalu dirawat dan dipupuknya, yaitu keinginan kuat untuk bisa berangkat ke Tanah Suci, beserta orangtua dan keluarganya, beribadah di sana.

Tapi, sementara Ioto musti bersabar dan menahan diri. Penghasilannya sebagai buruh pabrik dan tukang ojek tak cukup membiayai impiannya. Kendati demikian, doa-doa khusyuk selalu ia langitkan agar suatu saat nanti Allah mengijabahi keinginannya.

Tahun 2013, Ioto membuat keputusan besar. Ia resign dari pekerjaan yang selama ini menjadi sumber penghasilannya. Tapi Ioto merasa, ia harus mengambil keputusan itu. Bagi Ioto, mempertahankan pekerjaan sebagai buruh pabrik dan tukang ojek, akan membuatnya kesulitan mewujudkan impiannya ke Tanah Suci.

Ioto meyakini satu hal: 10 pintu rezeki, 9 di antaranya adalah lewat berdagang atau bisnis. Maka, Ioto memutuskan akan memulai sebuah bisnis. Celakanya, Ioto tak tahu akan menjalankan bisnis apa. Ia belum punya pengalaman berbisnis. Tapi Ioto yakin, bila dirinya yakin, pasti akan ada jalan.

Bisnis Digital Marketing

Akhirnya, setelah resmi resign dari pabrik pada Jumat, 13 september 2013, Ioto memulai mengatur langkah untuk memulai bisnis. Pilihannya jatuh pada bisnis digital marketing. Ioto membeli laptop seken dan berangkat ke Bogor untuk belajar internet.

Di sana, Ioto belajar internet marketing selama 2 hari. Setelah itu, ia bisa membuat toko online www.anekamesinsemarang.com yang menjual pelbagai mesin teknologi tepat guna untuk kebutuhan UMKM.  Mesin-mesin itu produksi temannya yang tinggal di Tegal.

Usahanya lumayan berkembang dan membantu kehidupan Ioto. Meski penghasilannya masih tak cukup membiayai impiannya ke Tanah Suci. Tapi Ioto bersyukur, dari menjalankan toko online-nya, pada tahun 2014, ia bersama seorang temannya bernama Solikhin, bisa membuka usaha bengkel las di kampung Sawah Besar, Semarang, di daerah pinggir Sungai Banjir Kanal Timur.

Bakkan, berkat membuka bengkel las itu, Ioto bisa mendapatkan pekerjaan las di PT Pelabuhan Indonesia (Persero) di pelabuhan Tanjung Emas, Semarang. Namun, lagi-lagi, hasil yang diperoleh pun belum cukup untuk membiayai impiannya ke Tanah suci.

Gabung di Bisnis Travel Umrah

Akhir tahun 2015, Ioto mendapatkan undangan seminar bisnis umrah lewat BBM (BlackBerry Messenger) dari orang tidak dikenal. Ia memenuhi undangan itu dan ditawari bergabung bisnis umrah. Ioto ragu, ia takut kena penipuan, karena itu ia belum memutuskan bergabung.

Ioto hadir untuk kedua kalinya di seminar umrah itu dan akhirnya memutuskan bergabung dan memulai belajar bisnis umrah. Iota berharap, inilah jalan yang dibukakan Allah untuk mewujudkan impiannya.

Sebenarnya, keputusan menekuni bisnis umrah juga tergolong nekad, karena Ioto memulainya benar-benar dari nol. Nol pengalaman, nol ilmu marketing, dan nol komunitas. Modal finansial juga sangat terbatas, begitu pun modal ilmu agama.

Tapi justru itu yang membuat Ioto tertantang. Dengan modal sepeda motor yang dimilikinya, Ioto mulai  berkeliling Kota Semarang dan sekitarnya menawarkan umrah. Dari masjid le masjid, juga dari kampung  ke kampung.

Setiap usai salat di masjid, Ioto membagi brosur umrah kepada orang-orang yang ia temui. Bahkan, Ioto tak segan membagi  brosur di sejumlah lampu merah. Membagi brosur umrah di bus juga dilakoninya. Ioto benar-benar sepenuh hati menerjuni bisnis barunya demi bisa umrah dengan orangtua dan keluarganya.

Alhamdulillah, kerja mulai menampakkan hasil. Beberapa orang mulai mendaftar umrah. Atas izin Allah Swt, akhirnya Ioto bisa berangkat umrah pada bulan Juni 2016, bertepatan dengan bulan Ramadan. Namun, ia baru bisa berangkat sendiri.

Jalan Sukses Terbuka, Meski Terjal

Kesempatan bisa berangkat umrah dimanfaatkan betul oleh Ioto. Di Tanah Suci, ia memaksimalkan ibadah dan memperbanyak doa. Di antara doanya adalah dimudahkan bisa umrah berkali-kali beserta ayah dan keluarganya. Bisa berangkat haji, bisa sedekah umrah, bisa beli mobil, juga bisa  beli rumah.

Doa Ioto seperti dijawab kontan oleh Allah. Allah seperti membukakan jalan sukses untuknya, meski kemudian jalannya cukup terjal dan berliku.

Di Tanah Suci, Allah mempertemukan dengan seseorang bernama Ustaz Fauzi Wahyu Muntoro, tour leader yang membersamai umrahnya. Ioto sekamar dengannya selama umrah. Ustaz Fauzi bilang kepadanya, akan mendirikan perusahaan travel umrah dan mengajaknya membantu mengembangkannya di Kota Semarang.

Sepulang umrah, sekian bulan kemudian, Ioto mendapat telepon dari Ustaz Fauzi yang memintanya datang ke Solo. Ioto memenuhi permintaan itu. Setelah bertemu, Ioto mendapatkan penjelasan lengkap dan detail dari ustaz Fauzi tentang perusahaan travel umrah yang baru dilaunching di Jakarta. DGi Travel namanya.

Ioto langsung dipercaya Ustadz Fauzi mengembangkan DGi Travel di Kota Semarang dan sekitarnya. Awal tahun 2017, Ioto mulai memasarkan DGi Travel di Kota Semarang. Sebuah tantangan yang berat, mengingat DGi Travel belum pernah ada keberangkatan. Di sisi lain, pengalaman Ioto sendiri terkait marketing umrah masih sangat minim.

Jadilah sepanjang tahun 2017 adalah tahun terberat yang dialaminya. Sepanjang tahun itu, ia nyaris tidak berpenghasilan. Bisnis umrah DGi Travel belum membuahkan hasil. Namun, Ioto tetap bersemangat memasarkan DGi Travel. Ioto tetap menjalankan syiar Baitullah dari masjid ke masjid dan dari kampung ke kampung, dengan sepeda motornya.

Perjalanan yang tak mudah karena sepeda motornya sering tidak bersahabat. Pernah harus tambal ban sehari 2 kali.  Sepeda motor juga kadang mogok, terutama saat Semarang  dilanda banjir. Namun, semua itu dilakoni Ioto dengan sepenuh semangat.

Sepanjang tahun  2017, praktis ia hanya mendapatkan jemaah umrah 2 orang. Tentunya, pendapatannya tak sebanding dengan ongkos marketing yang dikeluarkannya. Kondisi itu sempat membuat istrinya meminta Ioto berhenti saja menjalani bisnis umrah. Istrinya meminta Ioto mencari pekerjaan lain yang lebih jelas penghasilannya.

Namun, Ioto bergeming. Ioto memutuskan tetap terus menempuh syiar Baitullah. Ioto yakin, syiar Baitullah inilah jalan yang akan mengantarnya bisa bolak-balik ke Mekkah dan Madinah. Bisa mengumrahkan ayah dan keluarganya. Juga bisa sedekah umrah dan berhaji.

The Miracle of Tahajud

Seiring keputusannya di jalur syiar Baitullah, Ioto berupaya memperbaiki hubungannya dengan Sang Pencipta, Allah Swt. Di antaranya, Ioto berusaha tidak melewatkan sepertiga malamnya kecuali ia isi dengan kekhusukan tahajud, munajat, dan doa-doa khusyuk.

Kolase foto yang mengguratkan rangkaian kisah sukses Kang Ioto. Foto kiri, tempat dulu ia mangkal sebagai tukang ojek. Foto kanan atas, foto bersama ayahnya yang seorang petani desa, dan foto kanan bawah bersama ayahnya saat umrah.

Alhamdulillah, setelah 2 tahun menjalankan bisnis umrah DGi Travel, akhirnya pada Sabtu, 16 Februari 2019, Ioto diberi kesempatan oleh Allah Swt bisa membawa ayah dan istrinya berangkat umrah. Inilah momentum yang luar biasa yang membuncahkan kebahagiaan tak terperi di hati Ioto. Berikutnya, pada November 2019, Ioto bisa umrah lagi, bahkan plus Turki, kali ini mengajak anak perempuannya yang bernama Luthfun Nisa.

Tahun 2020, saat pandemi COVID-19 melanda dunia, saat bisnis banyak yang gulung tikar, saat banyak orang yang menjual mobil, Ioto justru dikaruniai rezeki yang tak disangka-sangka. Saat itu, Ioto bisa membeli mobil. Kebahagiaan luar biasa yang dirasakannya karena inilah kali pertama ia bisa membeli mobil. Tahun 2020 juga, DGi Travel bertransformasi menjadi Samira Travel dengan PPIU D/136 an. PT Samira Ali Wisata.

Jadi Kepala Cabang

Tahun 2022, virus Corona sudah melandai, umrah sudah dibuka kembali. Ioto lebih bersemangat dalam syiar Baitullah. Dengan program Samira Travel  5 free 1 dan 7 free 1, Ioto bisa umrah kembali pada bulan September 2022. Kali ini mengajak anak laki-lakinya yang bernama Bima Handaru Baskoro. Ioto juga bisa memberangkatkan umrah guru ngaji anaknya, Kiai Musyafak.

Kesuksesan itu, mengantarkan Ioto dipercaya menjadi Kepala Cabang (Kacab) Samira Travel Semarang dengan alamat kantor di Jalan Kauman, Bangunharjo 58 E, Kota Semarang. Lokasinya berada di belakang Masjid Agung Kauman.

Ioto tentu sangat senang dan bangga atas kepercayaan yang diberikan. Apalagi kantornya dekat dengan Masjid Agung Kauman, sebuah masjid bersejarah yang dibangun pada abad ke-18.

Alhamdulillah, Samira Travel Cabang Semarang pun berkembang pesat. Terbukti dipercaya Pemerintah  Kota Semarang dan memberangkatkan jemaah dari program Kota Semarang selama dua tahun berturut-turut. Juga Samira Travel Semarang  berhasil carter pesawat di saat Bandara Ahmad Yani, Semarang, dibuka penerbangan langsung ke Jeddah

Dengan motto “Mudah, Murah, dan Mantap” Samira Travel menjadi  kepercayaan masyarakat  dan mendapatkan rekor MURI sebagai travel umrah dengan jemaah umrah terbanyak.

Suyoto atau Ioto tak henti-hentinya bersyukur atas apa yang telah karuniakan Allah Swt kepadanya. Dari seorang tukang ojek pelabuhan, bisa umrah berkali-kali secara gratis. Secara berkelakar, Ioto mengaku, sekarang ia tetap menjadi tukang ojek. Bukan lagi tukang ojek pelabuhan, tapi tukang ojek yang mengantarkan jemaah dari Tanah Air ke Tanah suci.

Semoga kisah Kang Ioto bisa menjadi inspirasi bagi siapapun yang ingin menapaki tangga kesuksesan. Termasuk bagi mereka yang ingin sukses lewat jalur syiar Baitullah.

Facebook Comments Box

Penulis: Badiatul Muchlisin AstiEditor: M. A. Fathan

Advertisement

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.