Suarayasmina.com | Anak merupakan ‘investasi’ orangtua, di dunia maupun di akhirat. Betapa senangnya orangtua bila anak-anaknya tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter, berakhlak mulia, sehingga menyejukkan hati kedua orangtuanya.
Sebaliknya, betapa sedih orangtua bila anak-anaknya tumbuh menjadi pribadi yang jauh dari akhlak mulia, jauh dari nilai-nilai agama. Perilakunya menyesakkan dada kedua orangtuanya.
Orang Jawa bilang, anak polah bapa kepradah. Anak berbuat tindak tidak terpuji, orangtua terkena efeknya. Banyak contoh nyata yang bisa kita baca dan lihat dalam kehidupan.
Karenanya, orangtua perlu berikhtiar mendidik anak-anaknya dengan baik, agar bisa tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter, beriman teguh, dan memiliki akhlak yang terpuji.
Dalam sebuah hadis, Rasulullah Saw bersabda,
ما نحل والد ولده أفضل من أدب حسن
“Tidak ada hadiah yang lebih utama dari orangtua kepada anaknya selain pendidikan (adab) yang baik.” (HR. Al-Hakim)
Lalu bagaimana ikhtiar kita mendidik anak-anak yang berkarakter? Setidaknya ada empat pilar penting yang perlu kita perhatikan.
Pertama; pentingnya mengintegrasikan nilai-nilai Islam ke dalam seluruh aspek kehidupan. Di rumah, nilai-nilai Islam harus termanifestasi dalam perilaku kehidupan sehari-hari. Anak harus merasakan itu sebagai pengalaman batin yang akan membentuk karakter dirinya.
Suasana rumah menjadi pondamen penting bagi pembentukan karakter anak. Selanjutnya di sekolah maupun di pergaulan, anak juga musti merasakan suasana serupa. Karena itu, memilih sekolah dengan iklim lingkungan yang baik dan Islami menjadi sangat penting dan urgen.
Jangan sembarang memilih sekolah. Pastikan memilih sekolah yang mempunyai komitmen dan konsep mendidik anak-anak dengan dasar-dasar nilai agama yang kuat secara sistematis.
Kedua; perlunya mengembangan multi-kecerdasan anak. Adalah salah kaprah membatasi kecerdasan anak hanya pada ranah kognitif saja. Sehingga anak yang tidak mendapatkan prestasi akademik yang baik, dianggap sebagai anak yang bodoh dan tidak bermasa depan.
Orangtua perlu menyadari ini, sehingga tidak melulu menuntut anak mengejar prestasi akademik tinggi, sehingga justru melupakan “kecerdasan” anak yang sesungguhnya. Kecerdasan seseorang dapat dilihat dari banyak dimensi, karena kecerdasan memiliki makna yang luas.
Pakar multiple intellegence Howard Garner menyebutkan delapan bentuk kecerdasan, yakni: kecerdasan linguistik, matematis-logis, visual-spasial, musikal, kinestetik, interpersonal, intrapersonal, dan naturalis.
Setiap anak pasti memiliki kecenderungan jenis kecerdasan tertentu. Kecenderungan tersebut harus ditemukan melalui pencarian kecerdasan (discovering ability). Para orangtua atau guru bisa berperan dalam proses pencarian kecerdasan ini, sehingga potensi dan bakat anak dapat segera ditemukan dan dikembangkan secara optimal.
Pada ranah ini, orangtua dan juga sekolah, harus menyadari dan memahami bahwa setiap anak itu unik. Prestasi anak tidak boleh dibatasi pada bidang akademik atau ranah kognitif saja, tapi juga pada bidang-bidang lainnya, bahkan pada bidang yang sejauh ini tidak dianggap sebagai prestasi.
Ketiga; pembentukan kebiasaan (habit forming). Dalam upaya membentuk anak yang berkarakter, habit menjadi salah satu pilar penting yang tidak boleh diabaikan. Meski harus dimulai dari kesadaran hati, namun untuk menjadi sebuah karakter kepribadian, diperlukan proses pembiasaan dalam jangka panjang, kontinu, dan berkelanjutan.
Pengabaian terhadap habit forming akan berpotensi memunculkan kepribadian yang pecah (split personality), di mana seseorang menyadari dan meyakini kebenaran atau kemuliaan suatu ajaran, namun tidak mampu mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari, karena tidak terbiasa dan terlatih.
Dalam hal ini, anak tidak hanya dididik untuk tahu (kognitif), mampu (bisa/keterampilan), dan mau (kesadaran), namun juga terbentuk (terinternalisasi menjadi bagian dari kepribadian).
Sebagai contoh, salat tidak hanya diajarkan dari sudut kaifiyat (tata pelaksanaannya)-nya saja, namun harus melalui penyadaran, belajar langsung dari praktik keseharian, pembiasaan, dan keteladanan. Demikian juga pada aspek-aspek yang lain.
Keempat; keteladanan (uswatun hasanah). Keteladanan menjadi faktor superpenting dalam membentuk pribadi anak yang berkualitas dan berkarakter. Orantua harus menjadi contoh nyata (role model) bagi anak-anaknya.
Hal ini terjadi karena secara naluriah dalam diri anak ada potensi meniru hal-hal yang ada di sekitarnya. Pada usia dini, keteladanan orangtua sangat berpengaruh terhadap kepribadian anak. Segala yang dilakukan oleh orangtua dianggapnya selalu benar dan paling baik. Maka, secara otomatis anak akan mudah menirunya.
Semoga bermanfaat.














