Suarayasmina.com | Shalat merupakan amal ibadah yang sangat istimewa dalam syariat Islam. Keistimewaan itu di antaranya termanifestasi dalam sejarah diturunkannya perintah shalat.
Sejarah Syariat Shalat
Jauh sebelum perintah shalat lima waktu diturunkan kepada Nabi Muhammad, shalat sebenarnya sudah disyariatkan kepada nabi-nabi sebelum Nabi Muhammad Saw.
Ibadah shalat ketika itu dilaksanakan sejumlah dua rekaat setiap pagi dan sore hari. Sebelum perintah shalat lima waktu, Nabi Muhammad juga sudah rutin melakukan shalat di pagi dan sore hari itu. Sebagaimana disebutkan dalam Surat Ghafir ayat 55:
وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ بِالْعَشِيِّ وَالْاِبْكَارِ
“Dan bertasbihlah (shalatlah) seraya memuji Tuhanmu pada waktu petang dan pagi.”
Perintah Shalat Lima Waktu
Sedangkan shalat lima waktu yang kita kenal hingga sekarang diwajibkan melalui peristiwa Israk dan Mikraj yang terjadi sekitar 18 bulan sebelum Nabi Muhammad Saw hijrah ke Madinah.
Dalam buku-buku Sirah Nabawiyah dikisahkan, Nabi Muhammad diisrakkan dengan jasadnya, dari Masjidil Haram ke Baitul Maqdis, dengan menaiki Buraq bersama dengan malaikat Jibril.
Pada malam itu pula, dari Baitul Maqdis beliau naik ke langit dunia disertai Jibril. Lalu naik ke langit kedua, ketiga, keempat, kelima, keenam, hingga ketujuh. Di setiap langit, bertemu para nabi dan rasul sebelumnya.
Kemudian beliau naik ke Sidratul Muntaha dan dibawa naik lagi ke Al-Baitul Ma’mur. Kemudian dibawa lagi menghadap Allah Swt dan mendekat kepada-Nya, hingga jaraknya tinggal sepanjang dua ujung busur atau lebih dekat lagi. Lalu Allah mewahyukan kepada beliau perintah shalat lima puluh kali.
Dari Lima Puluh Menjadi Lima Waktu
Setelah mendapat wahyu, beliau turun dan bertemu dengan Nabi Musa As. “Apa yang diperintahkan kepadamu?” tanya Nabi Musa.
“Shalat lima puluh kali,” jawab beliau.
“Sesungguhnya umatmu tidak akan sanggup melaksakannya. Kembalilah menemui Rabb-mu dan mintalah keringanan kepada-Nya untuk umatmu,” kata Nabi Musa.
Bersama Jibril, beliau naik lagi menghadap Allah Swt. Jumlah shalat itu dikurangi sepuluh. Kemudian beliau turun dan kembali bertemu dengan Nabi Musa dan menyampaikan kabar kepadanya. “Kembalilah lagi menemui Rabb-mu dan mintalah keringanan kepada-Nya,” kata Nabi Musa.
Begitulah, akhirnya beliau mondar-mandir menemui Nabi Musa dan Allah Swt, hingga sahalat itu ditetapkan lima kali.
Sebenarnya Nabi Musa menyuruh beliau kembali menemui Allah untuk meminta keringanan lagi. Namun, beliau menolak dengan mengatakan, “Aku sudah malu kepada Rabb-ku. Aku sudah ridha dan bisa menerimanya.”
Sejak itulah, perintah shalat lima waktu diberlakukan untuk dilaksanakan sebagai kewajiban ibadah bagi umat Islam. Namun, meski lima kali, ganjarannya tetap sebanyak lima puluh kali. Sebagaimana dalam sebuah riwayat, Anas R.a berkata, “Shalat diwajibkan kapada Nabi Saw pada malam Israk Mikraj sebanyak lima puluh kali, kemudian dikurangi hingga menjadi lima kali.”
Lalu Allah memanggil Nabi Muhammad, “Hai Muhammad, ketentuan ini sudah tidak dapat diubah lagi. Dengan shalat lima waktu ini, engkau tetap mendapat ganjaran sebanyak lima puluh kali.” (HR. Ahmad, Nasa’i, dan Tirmidzi).
Ditulis oleh Badiatul Muchlisin Asti
Ketua Yayasan Mutiara Ilma Nafia (Yasmina) Grobogan






