SUARAYASMINA.COM – Kehadiran buah hati dalam sebuah pernikahan adalah impian yang didambakan setiap pasangan. Namun, ketika waktu berlalu dan anak yang dinanti tak kunjung tiba, rasa sedih, cemas, hingga lelah secara emosional adalah hal yang sangat manusiawi. Dalam pandangan Islam, keturunan merupakan hak prerogatif Allah Swt., sementara manusia diwajibkan untuk memaksimalkan ikhtiar.

Artikel ini berupaya merangkum panduan utuh berbasis syariat, medis, dan psikologi untuk membantu pasangan Muslim menjalani masa penantian dengan bijak, tenang, dan penuh keberkahan.

Hakikat Tauhid: Memahami Konsep Rezeki Keturunan

Langkah awal bagi pasangan Muslim dalam menghadapi ujian ini adalah menata kelapangan hati. Allah Swt. berfirman dalam Surah Asy-Syura ayat 49–50:

“Milik Allah-lah kerajaan langit dan bumi; Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki, memberikan anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki, dan memberikan anak laki-laki kepada siapa yang Dia kehendaki, atau Dia menganugerahkan kedua jenis laki-laki dan perempuan, dan menjadikan mandul siapa yang Dia kehendaki. Sungguh, Dia Maha Mengetahui, Mahakuasa.”

Melalui ayat ini, para ulama menjelaskan bahwa Allah membagi kondisi manusia dalam hal keturunan menjadi empat golongan. Ada kalanya seseorang dikaruniai anak perempuan saja, dikaruniai anak laki-laki saja, atau diberi kombinasi keduanya—yakni anak laki-laki dan perempuan. Selain itu, ada pula yang ditakdirkan belum atau tidak memiliki anak sama sekali.

Advertisement

Keempat takdir tersebut merupakan wujud keadilan dan kehendak Allah Swt., bukan indikator murka atau kebencian-Nya. Memahami hakikat ini membantu pasangan terhindar dari rasa putus asa (ya’s) dan terus memelihara sangka baik (husnuzhan) kepada Sang Pencipta.

Ikhtiar Medis dan Hukum Fikih Program Hamil

Dalam ajaran Islam, setiap umat diperintahkan untuk berobat dan berikhtiar saat menghadapi kendala medis. Usaha dalam merencanakan kehamilan dan mencari momongan tergolong sebagai bagian dari menjaga keturunan (hifzh an-nasl), yang merupakan salah satu tujuan utama dari ditegakkannya syariat Islam (maqashid asy-syari’ah).

Langkah awal yang sangat disarankan dalam ikhtiar ini adalah melakukan pemeriksaan kesuburan (fertility check-up) secara menyeluruh untuk kedua belah pihak, baik suami maupun istri. Hal ini penting dilakukan mengingat masalah kesuburan bisa saja dialami oleh salah satu pihak maupun keduanya secara bersamaan.

Seiring berjalannya waktu dan pesatnya perkembangan teknologi medis, Majelis Ulama Indonesia (MUI) bersama lembaga fatwa fikih internasional telah menetapkan batasan hukum mengenai pelbagai metode program kehamilan (promil).

Ikhtiar medis seperti perbaikan pola hidup, konsumsi suplemen, dan pengobatan medis berhukum sunah atau mubah, selama terbebas dari zat-zat haram. Begitu pula dengan metode inseminasi buatan maupun bayi tabung (IVF) yang dinyatakan mubah (boleh), dengan syarat mutlak bahwa sel telur dan sperma berasal dari pasangan suami-istri yang sah serta ditanamkan di rahim istri sendiri.

Sebaliknya, syariat melarang keras penggunaan donor sperma atau sel telur karena berhukum haram, di mana tindak tersebut disamakan kedudukannya dengan zina dan dapat merusak kejelasan nasab. Demikian halnya dengan praktik sewa rahim (surrogacy) yang juga dihukumi haram, sebab berpotensi memicu perdebatan rumit terkait penentuan status ibu kandung, nasab, hingga hak waris anak di kemudian hari.

Ikhtiar Spiritual (Batiniah): Merawat Doa dan Amalan

Dalam Al-Qur’an, ujian menanti keturunan juga dialami oleh para nabi. Allah mengabadikan doa-doa mereka sebagai petunjuk bagi umat sesudahnya.

Doa-Doa Pilihan dari Al-Qur’an

  • Doa Nabi Zakaria AS (QS. Ali ‘Imran: 38):

رَبِّ هَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً ۖ إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاءِ

“Ya Tuhanku, berilah aku keturunan yang baik dari sisi-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar doa.”

  • Doa Nabi Zakaria AS (QS. Al-Anbiya: 89):

رَبِّ لَا تَذَرْنِي فَرْدًا وَأَنْتَ خَيْرُ الْوَارِثِينَ

“Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan aku hidup seorang diri dan Engkaulah Waris yang paling baik.”

  • Doa Nabi Ibrahim AS (QS. As-Saffat: 100):

رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ

“Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh.”

Ada berbagai amalan yang dapat menjadi sarana pembuka pintu rezeki, salah satunya adalah memperbanyak istighfar. Sebagaimana tercantum dalam Surah Nuh ayat 10–12, istighfar yang dilakukan secara istikamah dapat menjadi jalan keluar dari kesempitan sekaligus sebab Allah melapangkan harta dan keturunan. Selain itu, merutinkan sedekah subuh yang diniatkan untuk mendekatkan diri kepada Allah dan memohon kelancaran hajat juga menjadi ikhtiar spiritual yang sangat dianjurkan.

Membangun Ketahanan Emosional Pasangan

Selain aspek fisik dan spiritual, menjaga kesehatan mental serta keharmonisan hubungan pasangan sangat menentukan kualitas perjalanan ikhtiar ini. Langkah pertama yang perlu dilakukan adalah menghentikan budaya saling menyalahkan. Ketidaksuburan harus dipahami sebagai sebuah masalah medis, bukan bentuk kegagalan pribadi salah satu pihak, sehingga suami dan istri perlu berdiri di sisi yang sama sebagai tim yang solid.

Di sisi lain, pasangan juga perlu bijak dalam memilah dan menyikapi pertanyaan dari lingkungan sekitar. Pertanyaan tentang momongan dari kerabat seringkali muncul tanpa niat buruk, meskipun tak jarang tetap terasa menyakitkan. Untuk menghadapinya, cobalah menyepakati jawaban yang lugas namun tetap santun, seperti “Mohon doanya ya, kami sedang berikhtiar melalui proses yang terbaik.”

Tak kalah penting, pasangan perlu menemukan kembali tujuan utama dari pernikahan itu sendiri. Kehadiran anak memang menjadi salah satu ikhtiar dalam rumah tangga, tetapi bukanlah satu-satunya sumber kebahagiaan. Pernikahan itu sendiri pada hakikatnya dibangun di atas landasan sakinah (ketenangan), mawaddah (cinta), dan rahmah (kasih sayang) yang harus terus dijaga.

Pada akhirnya, penantian buah hati adalah perjalanan panjang yang menguji kedalaman iman dan keteguhan cinta antara suami dan istri. Selama ikhtiar medis dilakukan secara syar’i dan doa terus dilantunkan tanpa henti, yakinlah bahwa setiap langkah, biaya, hingga air mata yang tertumpah dalam proses ini tidak akan pernah sia-sia di mata Allah Swt.

Penulis: Badiatul Muchlisin AstiEditor: Redaksi Suarayasmina.com

Advertisement

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.