SUARAYASMINA.com — Pemanis buatan dan alternatif pengganti gula kini semakin diminati, terutama bagi mereka yang ingin menjaga kadar gula darah tetap stabil, menjalani diet rendah kalori, atau mengelola diabetes. Di antara berbagai pilihan yang tersedia, stevia menjadi salah satu bahan alami yang paling populer dan banyak direkomendasikan oleh para ahli kesehatan.

Lantas, seberapa aman stevia bagi kadar gula darah kita? Apa kata riset ilmiah terkini? Serta, bagaimana cara memilih produk stevia di pasaran agar tidak salah pilih? Simak ulasan lengkapnya berikut ini.

Seberapa Aman Stevia untuk Gula Darah?

Stevia adalah pemanis alami yang diekstrak dari daun tanaman Stevia rebaudiana, yang berasal dari wilayah Amerika Selatan. Komponen aktif utama di dalam stevia dikenal sebagai glikosida steviol, seperti Rebaudioside A dan Stevioside.

Stevia dinilai sangat aman bagi kadar gula darah karena memiliki indeks glikemik 0 (nol). Glikosida steviol tidak dicerna atau dipecah oleh tubuh menjadi glukosa seperti gula pasir atau karbohidrat pada umumnya. Zat ini melewati sistem pencernaan tanpa memicu lonjakan glukosa darah maupun respons sekresi insulin, sehingga sangat aman bagi penderita diabetes tipe 1, tipe 2, maupun individu yang menjalani diet keto atau rendah karbohidrat.

Selain itu, keamanan stevia telah diakui secara internasional dan nasional. Ekstrak stevia murni telah melalui berbagai uji toksikologi dan dinyatakan aman (GRAS / Generally Recognized as Safe) oleh berbagai lembaga kesehatan dunia, seperti FDA (Amerika Serikat), EFSA (Eropa), FAO/WHO, serta Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM RI).

Advertisement

Meskipun sangat manis, konsumsi stevia tetap memiliki batas yang jelas. Batas Asupan Harian yang Diterima (Acceptable Daily Intake / ADI) untuk stevia ditetapkan sebesar 4 mg per kg berat badan per hari berdasarkan ekstrak glikosida steviol murni. Karena tingkat kemanisan stevia mencapai 200 hingga 300 kali lipat lebih manis dibanding gula pasir, penggunaan dalam jumlah yang sangat sedikit saja sudah cukup untuk memberikan rasa manis yang diinginkan.

Tinjauan Ilmiah dan Hasil Riset Klinis

Berbagai literatur medis dan uji klinis telah banyak mengkaji dampak konsumsi stevia terhadap profil metabolik manusia. Salah satunya adalah menjaga stabilitas glukosa jangka panjang; sebuah uji klinis acak (randomized controlled trial) yang mengamati konsumsi harian stevia pada orang dewasa sehat maupun penyintas gangguan metabolisme menunjukkan bahwa stevia tidak mengganggu homeostasis glukosa ataupun profil insulin jangka panjang.

Selain itu, stevia juga memiliki potensi dalam mendukung sensitivitas insulin. Sejumlah riset farmakologi molekuler menyoroti bahwa senyawa stevioside memiliki mekanisme biologis yang menarik, di mana beberapa studi praklinis mencatat potensinya dalam membantu memperbaiki sensitivitas insulin dan mendukung fungsi sel beta pankreas dalam menjaga keseimbangan glukosa. Meskipun demikian, riset lanjutan pada skala manusia yang lebih luas terus berjalan untuk memastikan efektivitas klinis sekundernya ini.

Keunggulan lain dari pemanis ini adalah sifatnya yang bebas fruktosa dan kalori. Berbeda dengan sirup agave atau pemanis fruktosa lainnya yang kerap dianggap alami namun tetap dapat membebani metabolisme hati jika dikonsumsi berlebih, stevia murni sama sekali tidak mengandung kalori maupun fruktosa.

Tips Memilih Produk Stevia yang Aman dan Berkualitas

Meski stevia murni sangat aman, produk komersial yang dijual di pasaran seringkali memiliki formulasi campuran yang berbeda-beda. Agar manfaat kesehatannya optimal, langkah pertama yang perlu diperhatikan saat membeli adalah memeriksa daftar komposisi (ingredients) dengan teliti.

Waspadai campuran maltodekstrin atau dekstrosa, karena banyak produk stevia bubuk atau saset yang dicampur dengan bahan pengisi (bulking agent) ini agar volumenya menyerupai gula pasir. Perlu dicatat bahwa maltodekstrin memiliki indeks glikemik yang tinggi dan dapat menaikkan gula darah, sehingga produk dengan campuran ini harus dihindari atau dibatasi oleh penderita diabetes.

Sebagai gantinya, cari varian Rebaudioside A (Reb A) dan utamakan produk yang menggunakan ekstrak Steviol Glycosides atau Reb A karena dikenal memiliki rasa manis paling bersih dengan sisa rasa pahit (aftertaste) yang paling minimal. Anda juga dapat memilih kombinasi yang aman, seperti produk saset yang dipadukan dengan bahan alternatif berindeks glikemik nol seperti eritritol, atau memilih stevia cair murni yang umumnya hanya berisi ekstrak daun stevia dan air atau gliserol nabati.

Selain komposisi, sesuaikan pula pilihan produk dengan bentuk yang paling nyaman untuk Anda. Stevia cair (drops) umumnya merupakan bentuk yang paling murni tanpa tambahan bahan pengisi karbohidrat dan sangat praktis diteteskan ke dalam kopi, teh, atau masakan sehari-hari. Sementara itu, stevia bubuk atau saset lebih praktis untuk dibawa bepergian atau digunakan dalam pembuatan kue, asalkan Anda memastikan bahwa bahan campurannya aman bagi gula darah.

Terakhir, pastikan legalitas BPOM dan sertifikasi halal dengan selalu membeli produk yang mencantumkan nomor izin edar BPOM RI pada kemasannya. Hal ini penting untuk memastikan bahwa produk telah melalui uji keamanan laboratorium, bebas dari kontaminan berbahaya, dan takaran komposisinya sesuai dengan standar kesehatan yang berlaku.

Secara keseluruhan, stevia adalah salah satu alternatif pengganti gula terbaik yang aman bagi kadar gula darah karena tidak mengandung kalori dan memiliki indeks glikemik nol. Namun, kunci utamanya terletak pada kejelian membaca label kemasan. Pilihlah ekstrak stevia murni atau produk yang dikombinasikan dengan bahan yang ramah gula darah (seperti eritritol), serta hindari produk yang diam-diam dicampur dengan maltodekstrin berindeks glikemik tinggi. (Diolah dari berbagai sumber)

Penulis: Badiatul Muchlisin AstiEditor: Redaksi Suarayasmina.com

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.