Oleh Badiatul Muchlisin Asti
Ketua Yayasan Mutiara Ilma Nafia (Yasmina) Grobogan

Suarayasmina.com | Ketika menyebut Taif, yang terbayang di benak saya adalah fragmen-fragmen memilukan yang saya baca di buku-buku Sirah dan Tarikh Nabi, yang bila membacanya pasti membuat mata saya sebak.

Fragmen saat Kanjeng Nabi Muhammad Saw datang ke Kota Taif bersama Zaid bin Haritsah untuk meminta perlindungan dan menyeru mereka kepada Islam, namun mereka justru menghinakan Kanjeng Nabi dengan pengusiran dan lemparan batu.

Kisah Tragis Pengusiran Rasulullah

Dikisahkan, mereka orang-orang Taif mengusir Nabi dengan berkumpul dan berbaris di sekeliling jalan yang dilalui Nabi. Dengan berteriak-teriak mereka mencaci maki, mencerca, menghina, mendustakan, dan mengancam sambil melempar batu, kerikil, dan pasir kepada Nabi Saw.

Lemparan batu diarahkan ke kaki Nabi. Menyebabkan kedua kaki beliau luka dan mengeluarkan darah. Terompah beliau pun basah oleh leleran darah. Meskipun Nabi Saw dalam keadaan terluka, mereka tetap melakukan perbuatan yang kejam terhadap Nabi Saw, hingga beliau terpaksa berjalan dengan merangkak karena menahan sakit.

Melihat beliau berjalan dengan terseok-seok dan merangkak, bukannya mereka menghentikan perlakuan kejinya kepada Nabi, mereka terus saja mengejek, menertawakan, dan mencaci maki dengan perkataan-perkataan yang kasar dan keji.

Adapun Zaid bin Haritsah, dia mengalami luka parah dan mengucurkan darah dari kepalanya karena bertubi-tubi terkena lemparan batu. Ketika itu, Zaid memang berusaha melindungi Rasulullah dengan membentengi beliau, hingga entah berapa banyak luka di kepalanya.

Mereka terus berbuat seperti itu hingga Nabi dan Zaid tiba di kebun milik Utbah dan Syaibah, anak-anak Rabi’ah, yang berjarak tiga mil dari Taif. Setelah itu, mereka kembali ke Taif.

Tawaran Malaikat Penjaga Gunung

Rasulullah terseok-seok menuju Mekah dengan hati diliputi kesedihan. Setelah berjalan dan tiba di Qarnul Manazil, Allah mengutus malaikat Jibril disertai seorang malaikat penjaga gunung, yang meminta pendapatnya untuk menimpakan Akhsyabaini ke penduduk Taif—sebagai balasan atas perlakuan mereka kepada Nabi.

Akhsyabaini adalah gunung Qubais dan gunung Qa’aiqa’an, keduanya berhadapan dan terletak di antara Kota Mekah dan Taif. Namun jawaban Nabi Saw,

لا, بل أرجوأن يخرج الله من أصلا بهم من يعبد الله ولايسرك به شيئا

“Tidak! Bahkan aku berharap semoga Allah memberikan kepada mereka keturunan yang menyembah kepada Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.”

Lalu Nabi Saw berdoa,

اللّهم اهد قومى فإ نّهم لايعلمون

“Ya Allah, Engkau tunjukkan (jalan yang lurus) kepada kaumku karena sesungguhnya mereka tidak mengerti.”

Betapa mulianya hatimu, wahai Rasulullah. Betapa pemaafnya engkau. Malaikat Jibril pun berkata, “Telah benarlah Tuhan yang telah menamakan dirimu: rauf ar-rahiim (pengasih dan penyayang).”

Sensasi Naik Kereta Gantung

Bertahun kemudian, doa Nabi dikabulkan. Penduduk Taif yang terdiri dari Bani Tsaqif memeluk agama Islam sesudah peristiwa Fathu Makkah. Tepatnya setelah berakhirnya perang Hunain pada tahun kedelapan Hijriah. Mereka menjadi kaum beriman dan melaksanakan ajaran Islam dengan sukarela.

Saat ini, Taif tumbuh menjadi kota tujuan wisata karena hawanya yang sejuk dan memiliki sejumlah tempat yang menawarkan panorama yang eksotis. Taif terkenal dengan perkebunan buah dan sayur dengan kualitas tinggi karena iklim yang mendukung dan tanahnya yang subur.

Menunggu antrian di pintu masuk. (Badiatul Muchlisin Asti)

Alhamdulillah, karena pada akhirnya saya berkesempatan mengunjungi Taif saat menjalankan ibadah umrah bersama Habbasya Umrah dan Haji Purwodadi (PT Rihlah Assofa Amanah) awal bulan Oktober 2024 lalu. Meski dengan waktu yang terbatas, setidaknya saya telah menjejakkan kaki di bumi bersejarah itu.

Destinasi pertama yang kami tuju adalah Ramada Hotel di mana terdapat wisata kereta gantung, yang orang lokal menyebutnya telefric. Wisata ini memang tak boleh dilewatkan bila berkunjung ke Taif.

Saat bus yang membawa kami menuju Taif hendak sampai ke lokasi kereta gantung, Ust. Ali Rosidi—pembimbing kami—berkali-kali mengingatkan kami agar tak melewatkan objek wisata ini. Mumpung sedang di Taif, katanya. Apalagi tarif tiketnya relatif lebih murah bila berombongan. Per orang cukup merogoh kocek 70 riyal untuk bisa naik telefric, yang bila perorangan bisa harus merogoh kocek hingga 100 riyal.

Kami bertujuh bersiap masuk ke salah satu kereta gantung, bersiap memulai petualangan di ketinggian. (Badiatul Muchlisin Asti)

Saya termasuk yang antusias ikut mengisi list. Meski saya belum bisa membayangkan apa yang akan saya lihat nanti saat berada di kereta gantung. Ust. Ali hanya bilang, saat berada di atas kereta gantung—atau Ust. Ali menyebutnya gondola—kita akan bisa membayangkan medan berat dan terjal yang dulu dilalui Nabi saat perjalanan dakwah ke Taif.

Menikmati Eksotisme Al-Hada

Setiba di Ramada Hotel sebagai titik start kereta gantung karena lokasinya yang paling atas, kami segera memasuki pintu masuk dan antre menaiki kereta gantung. Satu kereta gantung bisa dinaiki enam hingga delapan orang.

Salah satu panorama dari dalam kereta gantung, sejauh mata memandang hanya pegunungan cadas. (Badiatul Muchlisin Asti)

Kami bertujuh, yang kebetulan satu hotel selama di Mekah: saya, Pak Nur dan istri, Pak Husen dan istri, Ibu Aslinar, dan Pak Widiharto, naik dalam satu kereta gantung. Setelah kereta ditutup, “petualangan” luar biasa pun dimulai.

Saya sempat mbediding ketika kereta gantung perlahan turun membelah pegunungan batu dan lembah. Saking tingginya, Bu Aslinar tampak takut dan memejamkan matanya. Istri Pak Nur berkali-kali mengucapkan istigfar.

Tak lama kami bisa menguasai diri. Saya pun cepat beradaptasi dengan keadaan. Rasa mbediding pun sirna. Berganti terus melihat-lihat ke bawah dan kanan-kiri, berusaha mencari spot eksotis untuk bisa saya abadikan dengan kamera LSR yang saya bawa dari rumah.

Panorama indah dari atas kereta gantung yang menunjukkan jalanan Al Hada yang eksotis. (Badiatul Muchlisin Asti)
Sisi lain eksotisme jalanan Al Hada yang saya jepret dari atas kereta gantung. (Badiatul Muchlisin Asti)
Jalanan Al Hada tidak hanya eksotis, tapi juga menakjubkan. (Badiatul Muchlisin Asti)

Masya Allah. Berkali-kali saya terpesona melihat eksotisme panorama di bawah. Selain hamparan pegunangan cadas, lembah, dan ngarai, kita juga dimanjakan dengan panorama eksotis jalanan Al Hada yang bergelombang, melingkar, meliuk, naik turun, yang dari ketinggian terlihat begitu indah.

Saya pun antusias menjepretnya, entah berapa kali jepretan. Gak kehitung. Banyak sekali.

Selain tertawan oleh eksotime Al Hada, saya juga banyak merenung, beginilah kiranya dulu medan dakwah yang pernah dilalui Nabi. Sangat terjal dan berliku. (bersambung)

Facebook Comments Box

Advertisement

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.