suarayasmina.com – Jumat sore, saat hujan mengguyur Kota Bandung, tak menyurutkan niat menikmati sajian rasa di kedai “Mari Ngopi”. Kedai ini tak sekadar menawarkan nikmatnya menyeruput kopi, namun juga menyediakan makanan, baik cemilan maupun makanan berat.

Saat itu, terlihat keakraban seorang ibu dengan anaknya yang sedang bercengkerama sembari menikmati menu yang sudah dipesannya. Kesan kedai yang ingin memberi manfaat bagi pengunjung sekaligus karyawannya, suasana terasa adem tanpa kebisingan.

Kedai Mari Ngopi dirintis tahun 2020 dan resmi berdiri tahun 2022. Pada awalnya, kedai hanya menyediakan kopi dan ramen. Namun seiring perkembangan, kedai menawarkan pelbagai menu baru. Salah satunya yang kini menjadi menu andalan adalah nasi kebuli.

“Ceritanya, ada rekan yang menyarankan menu nasi kebuli. Setelah dipikir ada benarnya juga. Lalu sempat berkonsultasi dengan karyawan, hingga tersedialah menu itu. Ternyata, menu tersebut banyak disukai pengunjung,” tutur Didi Kurniadi Halim, owner kedai Mari Ngopi kepada Suarayasmina.com.

Kedai Bebas Asap Rokok

Sejarah kehadiran kedai ini berawal dari kajian Ustaz Abu Haidar As-Sundawy, dai yang cukup populer di Bandung. Seorang jemaah di kajian itu berharap ada kedai, kafe, atau restoran yang ramah anak, tidak bising, dan juga bebas asap rokok.

Dari situlah, Didi bersama sang istri, Teti Melawati Hasanah, berinisiatif mewujudkan harapan itu. Didi berharap kedai yang didirikannya memberikan manfaat. Lambat laun, kedai yang dirintisnya banyak dikunjungi rombongan keluarga, pertemuan rekanan, dan juga mahasiswa yang datang menikmati sajian sembari mengerjakan tugas.

Menu yang tersedia di kedai ini cukup beragam. Selain cemilan seperti bala-bala, mendoan, rujak cireng, french fries, sosis, roti bakar, green salad, dan spaghetti, kedai juga menyediakan makanan berat seperti nasi kebuli dan nasi goreng. Sementara untuk minuman, selain kopi, juga menyediakan jus dan aneka minuman lainnya.

Nasi kebuli dan kopi, menu andalan di kedai Mari Ngopi Bandung.

Kedai Mari Ngopi memiliki 9 karyawan, meliputi 2 akhwat dan 7 ikhwan. “(Di kedai ini) Kami menciptakan suasana kekeluargaan, sehingga saat bekerja, semua mampu menciptakan keakraban,” ujar Didi yang juga bekerja sebagai konsultan bersama para dosen ITB.

Dalam menjalankan usahanya, Didi menekankan pula kepada karyawan pria, agar setiap azan berkumandang, semuanya harus menjalankan salat berjemaah di masjid. Sementara pelayanan ke pengunjung dihandel karyawati, meski pesanan tetap akan dipenuhi setelah usai pelaksanaan salat berjemaah.

Juga, sepekan sekali, setiap Jumat diadakan kajian Islam membahas tema aqidah, fiqh, dan tahsin talaqqi. “Pada hari Jumat, kedai buka mulai pukul 13.00, karena paginya ada kajian (Islam). Juga, para karyawan dilatih bisa membaca al-Qur’an secara baik dengan mendatangkan ustaz khusus ke kedai,” ujar Didi yang alumnus Universitas Parahyangan dan ITB.

Area Memanah dan Buku

Selain kondisi tenang tanpa kebisingan serta bebas asap rokok, kedai ini juga menawarkan fasilitas menarik lainnya berupa area memanah yang bisa digunakan oleh pengunjung. Aspek safety atau keselamatan tetap diperhatikan. Bila ada anak yang ingin memanfaatkan area memanah, harus didampingi pembimbing yang profesional.

Kedai juga bisa disewa sebagai tempat kegiatan masyarakat. Namun hanya kegiatan positif saja yang bisa diakomodasi. Pihak kedai tidak menerima sewa tempat untuk kegiatan yang negatif seperti joget-joget.

“Kegiatan yang bisa dilaksanakan di kedai ini ya semacam kajian agama, seminar edukasi, atau kegiatan yang bermanfaat bagi umat,” tegasnya.

Semakin menarik, di kedai Mari Ngopi juga disediakan buku-buku bertemakan keislaman yang sengaja disediakan untuk pengunjung. Menurut Didi, ternyata pengunjung banyak yang tertarik membaca buku-buku yang disediakan.

 

Didi Kurniadi Halim, owner kedai Mari Ngopi, Bandung.

Selain itu, pihak kedai juga memutar video melalui kanal YouTube yang menampilkan ceramah-ceramah keagamaan yang ringan dan mudah dimengerti. Ada sekitar 100 tema ceramah, antara lain bertema Bahaya Khalwat dan Fadhilah Sedekah. Pemutaran video dimulai sejak kedai buka sampai tutup.

Pengunjung Nonmuslim

Kendati kedai kental nuansa Islaminya, namun ada juga pengunjung dari kalangan nonmuslim. Mereka tidak merasa terganggu dengan adanya sajian ceramah agama Islam dari layar monitor.

Sejak awal, Didi berkomitmen menghadirkan kedai yang bermanfaat bagi siapapun. Ia beserta karyawannya, selalu berusaha menjaga penyajian menu secara baik sekaligus memberikan pelayanan terbaik.

“Selama ini, kami selalu berusaha tak merugikan pengunjung dan ingin mereka merasa puas serta bersyukur dengan makanan dan minuman yang mereka nikmati di kedai ini,” tegas Didi.

Dari keuntungan yang didapat, menurut Didi, tak lupa disisihkan sebagai donasi yang ditujukan ke yayasan Islam yang dinilainya kredibel agar donasi tepat sasaran. Di luar itu, lanjut Didi, meski sifatnya masih insidental, ada dana yang dialokasikan untuk pembangunan masjid dan kegiatan sosial keislaman.

“Hal itu kami lakukan agar usaha yang  kami jalankan selalu mendapatkan berkah dari Allah Swt,” ungkap ayah dua anak ini.

Tahun 2026 mendatang, Didi yang kini berusia 43 tahun berencana membuka 2 cabang lagi kedai Mari Ngopi di Kota Bandung, agar menjangkau pengunjung yang lebih luas, termasuk pengunjung dari luar kota.

“Doakan hal itu dapat terwujud dan (kami) berpesan kepada pengusaha kuliner untuk meyakini jika rezeki tak akan tertukar. Maka, lakukanlah usaha secara baik dan bermanfaat,” pungkasnya.

Kedai Mari Ngopi
Jalan Sidomukti 95, Sukaluyu, Kecamatan Cibeunying Kaler, Cikutra, Kota Bandung
No Kontak: 085273336700
Jam buka:  08.00-21.00 WIB
Harga menu mulai Rp 25.000, – Rp 50.000,-

Facebook Comments Box

Penulis: Deffy RuspiyandyEditor: Badiatul Muchlisin Asti

Advertisement

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.