Part #1: Kakbah Diterjang Bah

Lima tahun sebelum kenabian….

Sebuah kapal terombang-ambing di perairan Laut Merah. Badai mengamuk hebat. Menghantam kapal yang tengah berlayar itu. Gelombang ombak naik turun silih berganti menggoyang kapal.

Setelah sempat terombang-ambing dalam terpaan badai, kapal itu terdampar di pantai Jazirah Arab, Jeddah. Sebagian tubuh kapal rusak, bahkan pecah porak poranda akibat kuatnya hantaman badai.

Kapal yang datang dari Mesir itu milik Baqum, seorang saudagar besar dari Bangsa Romawi. Kapal yang hendak berlayar menuju Habsyi itu memuat berbagai macam bahan bangunan, seperti kayu, batu, kapur, dan semen.

Selain seorang saudagar, Baqum dikenal memiliki keahlian di bidang arsitektur bangunan dan pertukangan.

***

Sementara Kota Mekah saat itu tengah dilanda banjir bandang. Hujan deras yang melanda kota Mekah, mendatangkan bah. Bah menerjang hebat kota suci itu.

Gelombang air seperti berlari maraton menggelontor menyaput apa saja yang ada di depannya. Kakbah yang sudah lebih dari 200 tahun tidak pernah mengalami kerusakan yang berarti, kini tenggelam dan roboh akibat terjangan bah yang dahsyat.

Sebenarnya, sudah sejak lama, kaum Quraisy hendak memperbaiki Kakbah. Bukan, bukan karena bangunan itu telah rusak, tapi lebih karena bangunan suci itu sudah mulai rapuh. Kondisi dindingnya di sana sini sudah melapuk dimakan usia.

Bangunan itu juga tidak ada atapnya. Sedang di dalam bangunan itu tersimpan banyak barang berharga milik para bangsawan Quraisy.

Bagi mereka, Kakbah memang tempat penyimpanan paling aman. Keagungan Kakbah menjadikan mereka menganggapnya seperti itu. Barang-barang berharga yang disimpan di Kakbah akan aman, tak akan hilang atau diambil orang.

Tapi, memperbaiki Kakbah adalah hal menakutkan bagi mereka. Bukan karena mereka tak mampu atau tak mau. Mereka justru menginginkannya. Mereka ingin sekali memperbaiki Kakbah yang dinding-dindingnya sudah melapuk.

Apalagi selama ini mereka begitu menghormati Kakbah sebagai bangunan yang suci. Sudah sejak beratus tahun lampau, Kakbah senantiasa dihormati dan disucikan oleh bangsa Arab.

Seluruh penduduk di segenap penjuru Jazirah Arab sangat mengormati dan menyucikan bangunan berbentuk kubus itu. Mereka bahu-membahu melakukan pemeliharaan dan penjagaan terhadap Kakbah.

Kondisi dinding-dinding Kakbah yang melapuk begitu mengkhawatirkan mereka. Sudah sejak lama mereka merencanakan memperbaikinya. Tapi, setiap hendak merealisasikan rencana itu, mereka selalu dicekam ketakutan yang hebat.

Di benak pemikiran mereka, Kakbah yang suci menyimpan keajaiban Tuhan. Mereka takut akan mendapat kemurkaan dan kutukan dari Tuhan bila melakukan pembongkaran Kakbah, meski tujuannya memperbaiki.

Pada akhirnya, kondisi Kakbah yang porak poranda akibat terjangan bah, menjadikan mereka berpikir dan sepakat; sudah saatnya Kakbah diperbaiki.

 

Part #2: Sebuah Mimpi Indah

Cantik, terpandang, dari kalangan bangsawan, bernasab mulia, bersih jiwanya, mengagumkan akhlaknya, cerdas, teguh hati, halus perasaannya, dan…kaya harta.

Sederet keistimewaan itu, menjadikan janda Khadijah sungguh amat kaya pesona. Sekian banyak lelaki terpandang dari kalangan pemuka Quraisy pun silih berganti meminangnya. Tapi, semua ditolaknya. Khadijah memilih tetap hidup menjanda.

Sebelumnya, Khadijah pernah menikah dengan Abu Halah bin Zurarah At-Tamimi. Dari suaminya ini, Khadijah melahirkan dua orang anak: Halah dan Hanad, sehingga ia mendapat julukan Ummu Hanad.

Dengan harta yang dimilikinya, Khadijah berusaha sekuat tenaga mengantarkan suaminya menjadi pemimpin kaumnya. Sayang, kematian suaminya memupuskan harapan Khadijah.

Beberapa waktu kemudian, seorang lelaki dari kalangan pemuka Quraisy bernama Atiq bin Aidz bin Abdullah Al-Makhzumi datang meminangnya. Khadijah menerima pinangan itu. Menikahlah Khadijah dengannya.

Tapi, garis takdir memisahkan keduanya. Pernikahan kedua Khadijah tak berlangsung lama. Keduanya bercerai. Khadijah kembali hidup menjanda.

Janda Khadijah yang penuh bertabur pesona itu mengundang sejumlah lelaki terpandang dari kalangan pemuka Quraisy untuk datang meminangnya. Tapi tak satu pun pinangan itu yang diterima.

Khadijah telah berketetapan hati menolak dengan halus pinangan-pinangan itu.

Jauh di relung hatinya, ia merasakan ada ketetapan takdir yang tersimpan untuknya. Sesuatu yang lebih agung dari semua itu. Sesuatu yang akan menjadikannya melupakan semua kepedihan masa lalu dan akan menghadirkan semerbak wangi kebahagiaan dan keceriaan dalam hidupnya.

Hingga suatu malam, saat gelap pekat menyaput seluruh alam, sedang bintang gemintang seolah enggan berpijar, Khadijah tampak sedang duduk di rumahnya seusai melakukan tawaf berkali-kali di Kakbah.

Sejurus kemudian, ia bergegas menuju kamarnya. Khadijah merebahkan dirinya di ranjang untuk beristirahat.

Senyuman manis dan keceriaan menyemburat di wajahnya yang cantik. Tak ada sedikit pun bias kecemasan atau riak kesedihan menggelayut di hatinya.

Beberapa saat kemudian, Khadijah telah tenggelam dalam tidur yang pulas. Damailah ia dalam lelap tidurnya.

Kemudian, sekonyong dalam tidurnya, Khadijah bermimpi. Ia bermimpi melihat matahari yang sangat besar jatuh dari langit Mekah. Matahari itu bertahta di rumahnya.

Sinar matahari itu menyemburat menyinari seluruh penjuru rumah dengan benderang cahaya yang sangat terang dan indah.

Tak hanya rumahnya, cahaya matahari itu juga menyinari wilayah sekitar rumahnya, dan keindahannya menakjubkan setiap orang yang memandangnya.

Khadijah tersentak takjub melihat peristiwa dalam mimpinya itu. Ia terbangun dari tidurnya. Dikucek-kucek matanya. Lalu menyaput pandangannya ke seluruh ruangan kamar.

Ternyata, hari masih berselimut gelap pekat, yang berarti saat itu hari masih malam. Tapi, matahari besar yang bersinar terang dalam mimpinya itu, mengusik hatinya. Mengusik perasaannya.

Apa gerangan arti mimpinya itu? Sebongkah tanya mendesir-desir hebat di hati Khadijah.

Paginya, saat matahari sudah terbit dan bertahta gagah di ufuk timur, Khadijah bergegas pergi menuju rumah saudara sepupunya, Waraqah bin Naufal. Khadijah ingin mendapatkan penjelasan dari saudara sepupunya itu berkaitan dengan mimpi indahnya semalam.

Sesampai di rumah Waraqah, Khadijah mendapati Waraqah sedang serius membaca salah satu lembaran kitab samawi.

Begitulah Waraqah sehari-hari. Ia banyak menghabiskan waktunya membaca lembaran demi lembaran kitab suci itu. Sehingga seringkali ia lupa terhadap yang lain.

Khadijah berkali-kali memanggil Waraqah, namun keseriusannyanya membaca kitab suci itu, menjadikannya nyaris tak mendengar suara panggilan Khadijah.

Khadijah lalu mendekati saudara sepupunya itu. Saat melihat Khadijah di dekatnya, Waraqah terkejut dan secara spontan menyebut nama Khadijah dengan diliputi rasa heran. “Engkau Khadijah? Ath-Thahirah?

“Ya, aku Khadijah,” jawab Khadijah.

“Apa yang menyebabkan engkau datang menemuiku sepagi ini?” tanya Waraqah dengan masih diliputi rasa heran.

Khadijah duduk. Mengatur nafas. Lalu menceritakan secara urut dan runtut, adegan demi adegan, sebagaimana peristiwa yang dilihat secara jelas dalam mimpinya.

Waraqah mendengarkan cerita Khadijah dengan seksama. Kitab yang ada dipegangnya sudah tak lagi menarik hatinya. Waraqah lebih tertarik dengan cerita Khadijah. Seolah ada magnet yang membangkitkan jiwanya. Membangkitkan perasaannya.

Waraqah mengikuti cerita mimpi itu dari awal hingga akhir. Tak ada satu kata pun yang keluar dari bibir mulia Khadijah yang dilewatkannya.

Ketika Khadijah selesai menuturkan mimpinya, semburat bahagia tampak menyelimuti rona wajah Waraqah. Seberkas senyum bersinar berkilat-kilat dari wajahnya. Kemudian ia bertutur dengan tenang kepada Khadijah.

“Wahai putri pamanku, andaikata Allah membenarkan mimpimu, niscaya Dia akan memasukkan cahaya nubuwwah ke dalam rumahmu. Rumahmu akan dipenuhi oleh cahaya sang penutup para Nabi,” terang Waraqah.

Mendengar penjelasan Waraqah itu, hati Khadijah diselimuti bahagia. Sangat bahagia. Seberkas senyum diam-diam tersungging di bibirnya, menjalarkan pijar-pijar harapan baru tentang hidupnya.

Rasa bahagia mengalir lembut hingga relung hatinya. (bersambung)

Facebook Comments Box

Advertisement

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.