Part #4: Semburat Cinta di Hati Khadijah
Syahdan, masa perniagaan selesai sudah. Muhammad dan Maisarah pulang kembali ke Mekah bersama kafilah niaga lainnya, setelah sebelumnya membelikan barang-barang yang dipesan oleh Khadijah.
Semburat bahagia tak bisa disembunyikan dari rona wajah Muhammad. Barang perniagaan yang ia bawa dari Mekah telah ludes terjual. Muhammad telah sukses mendulang pundi-pundi keuntungan besar. Berlipat-lipat ganda. Keuntungan yang jauh melampaui keuntungan dari para kafilah pada umumnya.
Maisarah pun tak luput dari kegembiraan itu. Hatinya disaput kekaguman atas kepiawaian lelaki muda bernama Muhammad itu dalam bertransaksi.
Saking gembiranya, saat kafilah sampai di dekat Kota Madinah, Maisarah membisikkan sesuatu kepada Muhammad, “Wahai Muhammad, alangkah baiknya bila sesampainya kita di Mekah, engkau jangan pulang ke rumahmu dulu. Segeralah temui Khadijah lebih dulu dan laporkan keuntungan besar yang telah engkau raih. Biar ia tahu hasil usahamu. Ia pasti akan bergembira karenanya”
Muhammad tersenyum dan mengangguk tanda menyetujui.
Sesampai di Mekah, Muhammad segera menuju ke rumah Khadijah. Oleh Maisarah, Muhammad diantarkan kepada pelayan Khadijah yang lain. Lalu diantarlah Muhammad oleh pelayan itu menuju ke ruangan rumah bagian atas, tempat Khadijah berada.
Kedatangan Muhammad disambut dengan hormat dan gembira oleh Khadijah. Muhammad pun dengan penuh rona gembira dan pijar semangat yang berapi melaporkan perjalanannya yang penuh berkah dan hasil perniagaannya yang meraup keuntungan berlipat-lipat.
Khadijah sungguh gembira mendengarnya. Keuntungan yang diperoleh Muhammad sungguh di luar perhitungannya. Sangat menakjubkan.
Khadijah merasa sangat surprise dengan hasil perniagaan yang diperoleh Muhammad. Khadijah dibuat berdecak kagum karenanya. Betapa lelaki muda ini baru pertama kalinya melakukan perjalanan niaga ke negeri Syam, namun pulang dengan membawa keuntungan yang menakjubkan.
Memang, Muhammad pernah melakukan perjalanan niaga ke negeri Syam, namun ketika itu ia hanya ikut pamannya, Abu Thalib. Jadi tidak sendiri. Sedang apa yang dihasilkan dari perniagaannya kali ini, menampakkan seolah ia adalah seorang pedagang yang sudah piawai melakukan transaksi niaga.
Semburat kekaguman itu hanya dipendamnya saja dalam hati.
Setelah dirasa cukup, Muhammad pamit pulang kepada Khadijah. Muhammad melangkah gembira menuju rumah pamannya, rumah yang selama ini menjadi tempatnya berteduh dari sengatan panas matahari dan dinginnya hujan. Rumah di mana ia mendapatkan asuhan dan curahan kasih sayang yang tulus dari pamannya, sepeninggal kakeknya, Abdul Muthalib.
Khadijah memandangi Muhammad yang meninggalkan rumahnya sampai hilang dari pandangannya. Khadijah sangat terkesan dengan lelaki muda itu. Seberkas senyum menyungging indah di bibirnya. Khadijah masuk ke dalam rumah.
***
Esok harinya, hati Khadijah dibuat lebih berdecak kagum lagi oleh cerita Maisarah. Maisarah melaporkan seluruh hasil pengawasannya atas seluruh gerak-gerik Muhammad selama perjalanan pulang pergi dari Mekah ke Syam, dan dari Syam kembali ke Mekah.
Takluput Maisarah menceritakan kejadian aneh yang dialami Muhammad saat berhenti beristirahat di sebuah pohon besar dekat Pasar Bushra dalam perjalanannya ke negeri Syam.
Semua cerita Maisarah itu menambah kesan dan ketakjuban Khadijah atas keindahan pribadi lelaki muda itu. Diam-diam, menyelinap semburat rasa cinta di hati Khadijah.
Rasa cinta itu, seiring waktu kian terpupuk dan bersemi. Menyemai kegelisahan di hati Khadijah.
Duhai, kiranya apakah Muhammad itulah yang akan menjadi suamiku
Kiranya Muhammadlah sosok yang telah lama kuidam-idamkan
Di manakah aku mendapati lelaki berpribadi indah seindah pribadi Muhammad?
Tak ada…tak ‘kan ada
Bisikan itu makin lama makin kuat. Membuat Khadijah gelisah. Membuat Khadijah hanyut dan tak kuasa mencegah masuk dalam pusarannya.
Semburat cinta benar-benar bertahta di hati Khadijah untuk lelaki muda bernama Muhammad.
Kala itu usia Khadijah sudah menapak 40 tahun, sedang Muhammad baru menapak usia 25 tahun. Mengingat itu, hati Khadijah diliputi mendung kegundahan.
Apakah lelaki muda itu akan menerima cintanya? Apakah lelaki muda itu akan mau menyuntingnya untuk dijadikan istrinya?
Pertanyaan-pertanyaan itu sungguh menggundahkan jiwa Khadijah.
“Bukankah aku lebih pantas jadi bibi atau bahkan ibunya?” gumam hati Khadijah.
Semburat kegundahan itu coba ia tepis. Tapi Khadijah tak bisa. Khadijah tak berdaya melawannya. Hingga datanglah Nafisah binti Muniyah, sahabatnya.
Sekali pandang, Nafisah bisa menebak apa yang terjadi pada diri sahabatnya itu. Ada mendung kegundahan menggelayut di langit jiwa sahabatnya.
Kepada sahabatnya, Khadijah meluahkan segala kegundahan hatinya terkait perasaannya kepada lelaki muda bernama Muhammad.
Nafisah pun tahu apa yang harus dilakukan untuk membangkitkan semangat dan harapan sahabatnya itu.
“Apa yang harus engkau gundahkan, wahai sahabatku! Engkau wanita mulia, tidak ada yang bisa melebihi kemuliaanmu dalam hal keturunan dan kebangsawanan. Engkau cantik. Engkau kaya. Apalagi? Kalau engkau mau, banyak lelaki terpandang yang akan menyuntingmu, sekiranya engkau mau,” kata Nafisah membangkitkan semangat Khadijah.
Nafisah lalu meninggalkan rumah Khadijah. Dengan bergegas, ia berangkat menuju rumah Muhammad. Tak lama kemudian, Nafisah telah berada di hadapan lelaki muda yang telah menggetarkan hati sahabatnya itu.
“Wahai Muhammad, katakan kepadaku, apa yang menghalangimu menikah?” tanya Nafisah.
Pertanyaan tiba-tiba itu sungguh telah menggetarkan dinding hati Muhammad. Terasalah di perasaannya yang lembut, wanita di hadapannya ini sedang menawarkan seorang calon istri untuknya.
“Aku tidak punya sesuatu apa pun untuk menikah,” jawab Muhammad.
Nafisah tersenyum mendengar jawaban itu. “Kalau begitu, maukah engkau dipenuhi harta, kecantikan, kemuliaan, dan kekufuan?” tanya Nafisah.
“Siapa gerangan orangnya?” tanya Muhammad penasaran.
“Khadijah binti Khuwailid,” jawab Nafisah mantap.
“Jika ia yang diajukan, aku menerimanya,” jawab Muhammad.
“Tapi, bagaimana itu terjadi,” tanya Muhammad kemudian.
“Percayakanlah hal itu kepadaku,” kata Nafisah dengan senyum tersungging di bibirnya.
Nafisah bergegas kembali dengan langkah cepat menuju rumah Khadijah dan menyampaikan kabar gembira itu. Khadijah bergetar mendengarnya. Air mata menggenang di sudut matanya.
Air mata kebahagiaan menyemburat dari hati sanubarinya yang paling dalam. Hati Khadijah berseri-seri. Namun juga berdebar-debar.
Bahagia tak terperi menjalar lembut ke seluruh nadi Khadijah. (Bersambung)













