SUARAYASMINA.COM — Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) kembali mempercayakan tampuk kepemimpinan tertinggi Syuriyah kepada ulama kharismatik asal Jawa Timur, KH. Miftachul Akhyar. Berdasarkan hasil musyawarah Ahlul Halli Wal Aqdi (AHWA) pada Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama tahun 2026, beliau secara khidmat ditetapkan sebagai Rais Aam PBNU masa khidmat 2026–2031.

Kiai Miftah—sapaan akrabnya—bukanlah sosok baru di jajaran kepemimpinan jam’iyah Nahdlatul Ulama. Pengabdian panjang yang dirintisnya dari tingkat cabang, wilayah, hingga puncak pimpinan tertinggi PBNU mempertegas figur beliau sebagai benteng keilmuan dan teladan akhlak bagi warga Nahdliyin.

Biografi, Silsilah Keluarga, dan Rihlah Ilmiah Pesantren

KH. Miftachul Akhyar lahir di Surabaya, Jawa Timur, pada 30 Juni 1953. Beliau merupakan anak kesembilan dari 13 bersaudara yang lahir dari pasangan ulama terpandang, KH. Abdul Ghoni, Pengasuh Pesantren Tahsinul Akhlaq Rangkah. Dalam kehidupan pribadinya, beliau menikah dengan Nyai Chakimah dan dikaruniai 5 orang anak, serta saat ini aktif mengasuh Pondok Pesantren Miftachus Sunnah Surabaya sembari mengemban amanah sebagai Rais Aam PBNU.

Darah ulama dan tradisi keilmuan mengalir kuat dalam diri Kiai Miftah. Ayahnya, KH. Abdul Ghoni, merupakan sahabat karib dari KH. M. Usman al-Ishaqi Sawahpulo saat bersama-sama nyantri kepada Kiai Romli di Rejoso, Jombang. KH. Abdul Ghoni juga berguru langsung kepada Kiai Dahlan Ahyad Kebondalem, tokoh ulama besar pendiri Majelis Islam a’la Indonesia (MIAI) dan Taswirul Afkar, yang karakter serta kedalaman spiritualnya sukses membentuk fondasi keislaman Kiai Miftah sejak dini.

Tradisi nyantri dan mengaji tersebut telah ditekuni Kiai Miftah sejak usia dini, yang kemudian membawanya melakukan pengembaraan spiritual dan keilmuan melintasi berbagai pesantren ternama di Jawa Timur hingga Jawa Tengah. Perjalanan pendidikannya dimulai saat beliau memasuki usia 8 tahun di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, yang kemudian dilanjutkan untuk memperdalam fondasi ilmu keagamaan di Pondok Pesantren Darul ‘Ulum Rejoso, Jombang, serta mengasah pemahaman kitab-kitab turats di Pondok Pesantren Sidogiri, Pasuruan.

Advertisement

Tidak berhenti di situ, beliau juga menimba ilmu kepada Syekh Masduki Lasem di Pondok Pesantren Al-Islah Soditan, Lasem, Jawa Tengah—seorang ulama terkemuka mutakharrijin istimewa dari Pondok Pesantren Tremas yang begitu kagum pada kedalaman ilmu Kiai Miftah hingga akhirnya mengambil beliau sebagai menantu.

Di samping itu, Kiai Miftah turut memperkaya wawasan keagamaannya dengan mengikuti majelis keilmuan ulama besar Makkah, Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Makki Al-Maliki, sewaktu beliau masih aktif mengajar di Malang.

Perjuangan Dakwah dan Pesantren Miftachus Sunnah

Setelah menyelesaikan pengembaraan ilmunya, Kiai Miftah mendirikan Pondok Pesantren Miftachus Sunnah di kawasan Kedung Tarukan, Surabaya. Langkah ini diawali dari niat sederhana untuk mendiami rumah sang kakek.

Kawasan Kedung Tarukan saat itu dikenal sebagai lingkungan yang kurang ramah terhadap dakwah para ulama. Namun, melihat kebutuhan mendesak akan hadirnya nilai-nilai religius, Kiai Miftah memberanikan diri membuka pengajian dari nol. Berkat keteladanan akhlak, pendekatan yang santun, serta kedalaman ilmunya, kesan negatif kampung tersebut berhasil diubah dalam waktu relatif singkat menjadi lingkungan yang sejuk, religius, dan penuh ketenteraman.

Salah satu ciri khas utama Kiai Miftah adalah penghormatan luar biasa terhadap tamu. Kesederhanaan beliau terekam dari kebiasaannya yang tidak segan-segan menuangkan minuman (wedang) dan menyajikan camilan sendiri kepada setiap tamu yang datang. Akhlak mulia (lelaku sae) ini diwarisi langsung dari sang ayah, KH. Abdul Ghoni, yang dikenal sebagai kiai berilmu tinggi namun selalu menutupi kehebatannya dengan keindahan tata krama.

Rekam Jejak Pengabdian Organisasi

Dedikasi KH. Miftachul Akhyar di struktur Nahdlatul Ulama dan lembaga keagamaan nasional terbangun secara bertahap dan konsisten. Perjalanan kepemimpinan beliau dimulai dari tingkat basis saat dipercaya mengemban amanah sebagai Rais Syuriyah PCNU Kota Surabaya pada periode 2000–2005.

Kiprahnya yang kuat di tingkat kota kemudian membawa beliau melangkah ke jenjang wilayah, di mana beliau dipercaya memimpin jajaran Syuriyah PWNU Jawa Timur selama dua periode berturut-turut dari tahun 2007 hingga 2018.

Karier kepemimpinan beliau di tingkat nasional semakin menguat ketika ditunjuk sebagai Wakil Rais Aam PBNU periode 2015–2020. Di tengah masa khidmat tersebut, tepatnya pada rentang 2018–2020, beliau didaulat menjadi Penjabat (Pj.) Rais Aam PBNU untuk menggantikan KH. Ma’ruf Amin.

Di luar struktur NU, kealiman dan ketokohannya membuat beliau terpilih sebagai Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) pada Munas MUI November 2020. Namun, demi memegang teguh komitmen dan berfokus penuh pada amanah utama di PBNU serta menghindari rangkap jabatan, beliau dengan ikhlas mengambil keputusan untuk mengundurkan diri dari jabatan Ketua Umum MUI pada 9 Maret 2022.

Puncak pengabdian beliau di jajaran tertinggi Nahdlatul Ulama kukuh bertahan dalam kurun waktu yang panjang. Beliau resmi ditetapkan sebagai Rais Aam PBNU masa khidmat 2021–2026 melalui keputusan Tim AHWA pada Muktamar NU ke-34 di Lampung. Kepercayaan para ulama dan warga nahdliyin terhadap kepemimpinannya kembali terbukti nyata ketika beliau kembali terpilih secara khidmat oleh AHWA pada Muktamar NU ke-35 tahun 2026 untuk melanjutkan amanah sebagai Rais Aam PBNU masa khidmat 2026–2031.

Tanda Kehormatan Negara

Atas jasa, pengabdian, serta kontribusinya yang besar bagi keharmonisan umat dan kemajuan bangsa Indonesia, KH. Miftachul Akhyar dianugerahi tanda kehormatan Bintang Mahaputera Utama oleh Pemerintah Republik Indonesia pada 25 Agustus 2025.

Kepemimpinan KH. Miftachul Akhyar untuk periode 2026–2031 diharapkan dapat terus membawa Nahdlatul Ulama menjadi pilar kebangsaan yang kokoh, mengayomi keutuhan umat, serta menyebarkan nilai-nilai Islam rahmatan lil ‘alamin secara konsisten di Indonesia dan dunia internasional.

Facebook Comments Box

Penulis: Badiatul Muchlisin AstiEditor: Redaksi Suarayasmina.com

Advertisement

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.