Data Buku Informasi Detail
Judul Ensiklopedia Karya Ulama Nusantara
Tim Penulis A. Said Hasan Basri, Moh. Khoerul Anwar, Aris Risdiana, Munif Solihan, Arin Mamlakah Kalamika
Editor Ruly Ningsih
Penerbit Mata Kata Inspirasi (Bantul, Yogyakarta)
Cetakan / Tahun Terbit Cetakan Pertama, November 2021
Tebal Halaman xvi + 522 halaman
Ukuran 17,5 x 25,0 cm
ISBN 978-623-5607-09-2

 

SUARAYASMINA.COM – Dalam kerja apresiasi literasi, pencatatan metadata buku bukan sekadar rutinitas administratif, melainkan sebuah ikhtiar mengabadikan genealogi pemikiran. Dokumentasi ini menjadi jangkar yang mengikat otoritas karya pada konteks ruang dan waktunya.

Kehadiran buku ini memanggul bobot validitas institusional yang signifikan melalui dukungan Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren, Direktorat Jenderal Pendidikan Islam, Kementerian Agama RI. Dengan iringan kata pengantar dari Dirjen Pendis, Prof. Dr. M. Ali Ramdhani, serta Waryono Abdul Ghafur, karya ini bertransformasi dari sekadar publikasi privat menjadi sebuah “rekaman memori” yang diakui negara. Di tengah arus modernitas yang acapkali tercerabut dari akar, spesifikasi fisik yang masif ini menjadi penanda awal bagi sebuah proyek intelektual yang berambisi merajut kembali identitas bangsa.

Membangun Jembatan Lintas Generasi

Karya ini muncul bak oase intelektual di tengah dahaga generasi milenial dan Gen Z akan jati diri bangsa. Terbit bertepatan dengan momentum refleksi 76 tahun kemerdekaan Indonesia pada tahun 2021, ensiklopedia ini hadir untuk menjawab kegelisahan akan besarnya jurang pengetahuan antara anak muda zaman sekarang dengan warisan pemikiran para pendahulunya. Saat diskursus keagamaan di kanal digital seringkali didominasi oleh pengaruh luar, buku ini mengingatkan bahwa Nusantara memiliki akar intelektual yang sangat kuat dan mandiri.

Pemilihan profil 76 tokoh dalam buku ini bukanlah kebetulan numerik semata, melainkan sebuah simbolisme profetik yang memadukan semangat nasionalisme dengan religiositas. Angka ini secara puitis merujuk pada usia Republik, menegaskan argumen sejarah bahwa kemandirian bangsa ini mustahil terwujud tanpa kontribusi intelektual dan perjuangan fisik para ulamanya.

Buku ini berfungsi sebagai penjembatan lintas generasi, sebuah instrumen penting untuk memperkenalkan kembali wajah Islam yang moderat, inklusif, dan berpijak pada tradisi sendiri kepada para calon pemimpin masa depan.

Mozaik Pemikiran dari Aceh hingga Sulawesi

Ambisi ensiklopedia ini terpancar dari cakupan geografisnya yang luas, sebuah upaya untuk menyajikan mozaik keindonesiaan secara utuh. Penulis secara sadar menghindari sentralisme Jawa, dengan menyisir jejak pemikiran dari Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, NTB, Kalimantan Selatan, hingga Sulawesi Selatan. Keberagaman wilayah ini bukan sekadar statistik, melainkan bukti otentik tentang bagaimana Islam menyebar ke seluruh pelosok negeri dengan wajah yang berbeda-beda namun dalam esensi yang satu.

Strategi “pribumisasi” yang diulas dalam buku ini menunjukkan kedalaman metodologi dakwah para ulama terdahulu. Penggunaan bahasa lokal—mulai dari Sunda, Jawa, Melayu, hingga Bugis—bukanlah sekadar alat bantu komunikasi, melainkan sebuah strategi teologis-linguistik yang canggih.

Dengan mengadaptasi literatur dari bahasa Arab murni ke dalam dialek daerah (seperti penggunaan aksara Pegon), para ulama memastikan Islam mampu mendiami psikis lokal tanpa menghancurkan struktur budaya aslinya. Inilah esensi Islam rahmatan lil alamin yang menyebar secara halus, menyatu dalam napas keseharian masyarakat Nusantara.

Diversitas Peran dan Kontribusi Ulama

Buku ini melampaui pakem biografi konvensional dengan menggali “kebermaknaan” di balik setiap lembar karya yang ditinggalkan. Dari 76 nama yang tercatat, terdapat profil-profil yang secara mikro menggambarkan kedalaman kontribusi ulama bagi ketahanan sosial dan intelektual. Salah satunya adalah KH. Abdul Halim Leuwimunding dari Majalengka, seorang arsitek pergerakan ekonomi yang unik.

Alih-alih hanya berfokus pada bangunan fisik pesantren, ia mendirikan PERTANU (Perkumpulan Petani NU) untuk memberdayakan ekonomi umat. Karyanya, Kitab Nadham Sejarah Perjuangan KH. Abdul Wahhab, merupakan sumber primer sejarah NU yang ditulis secara puitis dalam bentuk Arab-Melayu (Pegon), membuktikan kemahirannya yang luar biasa dalam memadukan sastra dan sejarah.

Selanjutnya, buku ini juga merekam jejak Syekh Abdul Hamid Khatib dari Minangkabau/Mekkah, yang menjadi representasi kuat dari wajah internasional ulama Nusantara. Sebagai putra dari Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi, ia berkiprah sebagai diplomat sekaligus pengajar di Masjidil Haram. Karya monumentalnya, Tafsir Al-Khatib Al-Makki, berdiri sejajar dengan karya-karya besar ulama Arab lainnya. Hal ini menjadi bukti sahih bahwa intelektualitas ulama Nusantara memiliki daya tawar dan pengakuan yang tinggi di level global.

Perjuangan di ranah lokal yang tidak kalah kultural juga ditunjukkan oleh Guru Mughni bin Sanusi dari Betawi. Sosok kharismatik ini melakukan indigenisasi (pribumisasi) hadis melalui kitab Taudih Al Dalail. Beliau menerjemahkan Syamail Al Muhammadiyah ke dalam dialek Betawi agar masyarakat setempat dapat memahami kepribadian Rasulullah Saw secara langsung. Melalui pendekatan bahasa ibu ini, ia berhasil mengubah ritual mistis di masyarakat menjadi perilaku islami yang jujur dan terbuka.

Kontribusi monumental yang serupa juga datang dari tanah Bugis melalui sosok A.G.H. Abdul Muin Yusuf di Sulawesi Selatan. Beliau merupakan tokoh sentral yang menyelesaikan hampir 80% penyusunan Tafsere Akorang Ma’basa Ogi. Kitab ini mencatatkan tonggak sejarah baru sebagai tafsir Al-Qur’an 30 juz pertama dalam bahasa Bugis. Kehadiran karya ini sangat krusial dalam memudahkan masyarakat lokal menyerap pesan-pesan suci al-Qur’an secara lebih intim melalui bahasa ibu mereka sendiri.

Merawat Taman Pengetahuan Islam Nusantara

Dari perspektif sejarah intelektual, penyematan judul “Ensiklopedia” pada buku ini memicu diskusi metodologis yang menarik. Sebagaimana dicatat oleh Prof. Dr. H. Machasin, M.A., secara teknis buku ini baru merekam 76 tokoh dari ribuan ulama yang ada, sehingga parameter “kelengkapan” sebuah ensiklopedia mungkin belum terpenuhi secara absolut. Namun, di sinilah letak keberanian intelektualnya. Menggunakan istilah retoris iṭlāq al-intihā’ wa iradat al-ibtidā’—menyebut hasil akhir padahal yang dimaksud adalah sebuah permulaan—Prof. Machasin menegaskan bahwa buku ini adalah langkah revolusioner.

Meskipun penulis mengakui adanya keterbatasan data akibat badai pandemi COVID-19, celah tersebut justru harus dibaca sebagai undangan terbuka bagi riset-riset lanjutan. Buku ini bukan titik henti, melainkan gerbang pembuka menuju pemetaan taman pengetahuan Islam Nusantara yang lebih luas, sekaligus menepis ideologi monokrom yang sering kali mencoba menyederhanakan wajah Islam di Indonesia.

Melalui lompatan gagasan tersebut, Ensiklopedia Karya Ulama Nusantara berdiri sebagai referensi strategis untuk memahami “banyak wajah Islam” di tanah air. Buku ini mengajak kita menyadari bahwa Islam di Indonesia bukanlah sebuah entitas tunggal yang kaku, melainkan sebuah taman pengetahuan tempat berbagai bunga pemikiran bermekaran dengan indahnya—beragam dalam ekspresi, namun satu dalam prinsip. Mengenal karya-karya ini menjadi kunci utama untuk merawat moderasi beragama dan inklusivitas.

Sebagaimana pepatah ulama klasik menyatakan bahwa seseorang tidak akan memahami agama dengan benar sampai ia melihat “banyak wajah” dari Al-Qur’an, maka seseorang tidak akan benar-benar mengenal Islam Indonesia sebelum ia menyentuh keberagaman ide dalam karya para ulamanya. Pada akhirnya, buku ini wajib dimiliki oleh akademisi, santri, dan masyarakat umum sebagai bekal untuk bangga atas identitas budaya sendiri.

Mari kita kembali menelusuri jejak para pendahulu, sebab hanya dengan mengenali akar yang dalam, pohon pengetahuan kita akan tetap tegak berdiri meski diterjang badai ideologi asing yang tidak selaras dengan karakter bangsa.

Facebook Comments Box

Penulis: Badiatul Muchlisin AstiEditor: Redaksi Suarayasmina.com

Advertisement

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.