SUARAYASMINA.COM – Air adalah sumber kehidupan. Bagi tubuh fisik kita, seteguk air jernih di kala dahaga menyerang adalah nikmat yang tak ternilai harganya. Namun, di dalam sudut pandang Islam, air tidak sekadar berfungsi sebagai pelepas dahaga biologis. Ia adalah salah satu tanda kebesaran Allah Swt yang diturunkan ke bumi untuk menghidupkan segalanya.

Karena nilainya yang sangat berharga, Islam tidak membiarkan aktivitas minum berlalu begitu saja sebagai rutinitas refleks yang mekanis. Melalui keteladanan Rasulullah Saw, Islam menyusun sebuah panduan etika (adab) yang indah. Ketika adab-adab ini dipraktikkan, aktivitas minum yang hanya berlangsung beberapa detik berubah menjadi untaian zikir, menjaga kehormatan diri, bahkan mendatangkan manfaat kesehatan yang nyata bagi tubuh.

Berikut adalah ulasan mendalam mengenai etika minum menurut tuntunan Islam yang patut kita hidupkan kembali dalam keseharian.

1. Memulai dengan Kesadaran Spiritual: Halal dan Basmalah

Etika minum seorang Muslim selalu dimulai dari kejernihan niat serta kejelasan sumber air itu sendiri, salah satunya dengan memastikan kehalalan dan keaslian zatnya.

Langkah pertama yang harus dilakukan adalah memastikan bahwa apa yang kita konsumsi merupakan zat yang suci, baik, dan halal. Islam melarang keras segala bentuk minuman yang memabukkan (khamar) atau zat cair yang tercampur najis. Selain itu, aspek moralitas dalam memperolehnya juga sangat diperhatikan; minuman tersebut harus didapatkan dengan cara yang jujur, bukan dari hasil yang merugikan orang lain.

Setelah memastikan kehalalan sumbernya, prosesi minum dilanjutkan dengan mengikat berkah lewat untaian basmalah. Sebelum gelas menyentuh bibir, ucapkanlah “Bismillah” (Dengan menyebut nama Allah) sebagai bentuk pengingat logis bahwa air di tangan kita adalah rezeki pemberian-Nya. Kalimat sederhana ini tidak hanya menjadi wujud rasa syukur, tetapi juga mengandung doa dan harapan agar air yang kita minum dapat menjadi penolak penyakit serta membawa kebaikan bagi tubuh.

2. Gestur dan Tata Cara: Mengutamakan Duduk dan Tangan Kanan

Islam sangat memperhatikan estetika gerakan dan kesopanan seorang hamba saat mengonsumsi rezeki, salah satunya melalui keharusan menggunakan tangan kanan saat memegang gelas atau botol minum. Rasulullah Saw memberikan pengingat yang tegas mengenai hal ini untuk membedakan identitas seorang Muslim dengan tabiat setan.

Nabi Saw bersabda, “Jika salah seorang di antara kalian makan, makanlah dengan tangan kanannya. Dan jika ia minum, minumlah dengan tangan kanannya. Karena setan makan dengan tangan kirinya dan minum dengan tangan kirinya.” (HR. Muslim).

Selain penggunaan tangan kanan, Islam juga sangat menganjurkan umatnya untuk duduk sejenak saat minum. Di tengah mobilitas dunia modern yang serbacepat, minum sambil berdiri atau bahkan berjalan kerap menjadi pemandangan biasa, padahal Rasulullah Saw telah mengingatkan, “Janganlah salah seorang di antara kalian minum sambil berdiri.” (HR. Muslim).

Anjuran ini terbukti selaras dengan kesehatan; secara medis, posisi duduk membuat katup sfingter pada saluran pencernaan bekerja lebih relaks, sehingga air dapat mengalir dengan tenang menuju lambung tanpa mengejutkan organ tubuh lainnya.

3. Ritme dalam Meneguk: Seni Menikmati Air

Salah satu adab yang paling khas dalam Islam adalah cara mengalirkan air ke dalam tenggorokan dengan tidak tergesa-gesa. Rasulullah Saw melarang kita meneguk segelas air sekaligus dalam satu tarikan napas panjang. Sunnah yang diajarkan adalah meminumnya secara bertahap yang dijeda menjadi dua atau tiga kali tegukan, di mana pada setiap jedanya kita menjauhkan gelas dan mengambil napas di luar wadah.

Metode bertahap ini tidak hanya mengikuti teladan syariat, tetapi secara medis juga jauh lebih aman bagi kesehatan jantung serta efektif mencegah risiko tersedak.

Selain meminumnya secara bertahap, Islam juga melarang keras tindakan meniup makanan atau minuman yang masih panas, begitu pula mengembuskan napas langsung ke dalam gelas saat minum. Larangan ini sangat berkaitan erat dengan aspek higienitas dan kesehatan tubuh. Dari sudut pandang medis, tiupan mulut berpotensi memindahkan bakteri, partikel kotoran, atau gas karbon dioksida dari sistem pernapasan kembali ke dalam air yang justru akan kita konsumsi.

4. Menjaga Kesederhanaan dan Kebersihan Bersama

Islam juga mengatur bagaimana kita berinteraksi dengan wadah air demi menjaga kenyamanan di lingkungan sosial. Salah satu adab yang ditekankan adalah larangan minum langsung dari mulut wadah besar yang digunakan bersama, seperti teko, ceret, atau botol galon.

Adab yang benar adalah dengan menuangkan air tersebut ke dalam gelas masing-masing terlebih dahulu. Meneguk langsung dari wadah bersama dianggap kurang sopan, egois, serta rawan mengotori sisa air dengan air liur yang dapat mengganggu kenyamanan hingga kesehatan orang lain.

Selain menjaga etika sosial, Islam juga mengatur material wadah yang kita gunakan dengan melarang umatnya menggunakan peralatan minum yang terbuat dari emas dan perak murni. Larangan ini bertujuan untuk menjaga hati dari sifat sombong, pamer, dan bermegah-megahan yang berlebihan. Melalui aturan ini, Islam ingin mendidik umatnya untuk lebih mencintai kesederhanaan dan menjaga kesetaraan sosial di tengah masyarakat.

5. Menutup dengan Gerbang Syukur: Hamdalah

Setelah dahaga terpuaskan dan kesegaran menjalar ke seluruh tubuh, akhirilah aktivitas tersebut dengan mengucapkan “Alhamdulillah” (Segala puji bagi Allah). Mengucapkan hamdalah adalah pengakuan tulus bahwa kita baru saja menerima nikmat gratis yang luar biasa dari Sang Pencipta—nikmat yang mungkin saat ini sedang sulit didapatkan oleh orang lain di belahan bumi yang kekeringan.

Etika minum dalam Islam mengajarkan kepada kita sebuah seni kehidupan yang mendalam bahwa hal-hal kecil yang kita lakukan berulang kali setiap hari, jika disentuh dengan kesadaran iman, akan berubah menjadi untaian ibadah yang indah.

Mulai hari ini, mari kita ubah cara kita minum. Bukan lagi sekadar meneguk air karena haus, melainkan meminumnya dengan penuh penghayatan, ketenangan, dan rasa syukur yang tulus kepada Sang Pemilik Kehidupan. Dengan demikian, setiap tetes air yang masuk ke dalam tubuh kita tidak hanya menyegarkan jasmani, tetapi juga mengalirkan berkah yang menenangkan rohani.

Facebook Comments Box

Penulis: Badiatul Muchlisin AstiEditor: Redaksi Suarayasmina.com

Advertisement

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.