SUARAYASMINA.COM — Musholla Thoriqul Ikhlas, Desa Bugel, Kecamatan Godong, Kabupaten Grobogan, kembali menyelenggarakan Pengajian Rutin Selapanan Sabtu Kliwon pada Sabtu (1/8/2026). Dihadiri oleh jemaah ibu-ibu, pengajian kali ini secara khusus mengupas makna dan hakikat silaturahmi berdasarkan kumpulan hadits dari kitab Bulughul Maram karya Imam Ibnu Hajar al-Asqalani.
Ketua DKM Thoriqul Ikhlas sekaligus pengasuh pengajian, Badiatul Muchlisin Asti, menyampaikan bahwa Islam menempatkan silaturahmi sebagai pilar utama dalam mewujudkan kehidupan masyarakat yang harmonis. Mengutip sebuah hadis, ia menegaskan bahwa menyambung tali silaturahmi merupakan kunci untuk melapangkan rezeki dan memperpanjang usia.
“Dengan silaturahmi, rezeki kita akan dilapangkan dan usia kita dipanjangkan. Usia yang panjang ini tidak selalu dalam wujud matematis, melainkan keberkahan umur karena dimudahkan dalam menjalankan amal saleh dan ibadah melalui taufiq atau pertolongan-Nya,” jelasnya.
Selain itu, menyambung silaturahmi secara alami akan menumbuhkan kasih sayang yang makin erat antaranggota keluarga sebagaimana disebutkan dalam riwayat At-Tirmidzi. Tidak berhenti di lingkup rumah, hangatnya silaturahmi juga membawa dampak positif bagi lingkungan sekitar.
“Hadis riwayat Ahmad menjelaskan bahwa silaturahmi dan hubungan baik dengan tetangga mampu memakmurkan tempat tinggal kita. Rukunnya warga akan melahirkan lingkungan yang aman, stabil secara ekonomi, dan menjadi fondasi kuat bagi kemajuan bersama,” tandasnya.
Sebaliknya, Islam memberikan ancaman keras dan serius bagi para pemutus silaturahmi. Mereka dikabarkan laa yadkhulul jannah alias tidak akan masuk surga.

Hanya saja, menurut Badiatul Muchlisin Asti, makna silaturahmi seringkali disalahpahami dan diperluas menjadi hubungan secara umum kepada sesama Muslim. Padahal, makna silaturahmi yang disertai keutamaan atau fadhilah serta ancaman tidak masuk surga tersebut berada dalam lingkup kekerabatan (hubungan rahim).
“Para ulama berselisih pendapat dalam menentukan batasan kerabat yang wajib disambung hubungannya; sebagian membatasi pada kerabat mahram atau yang haram dinikahi, sebagian pada ahli waris, dan sebagian lagi mencakup seluruh hubungan darah secara umum,” jelas Badiatul Muchlisin Asti.
Lebih lanjut, ia mengungkapkan bahwa putusnya silaturahmi tidak hanya berdampak buruk pada lingkup keluarga, tetapi juga berdampak buruk secara komunal. Hal ini dapat berujung pada tidak turunnya rahmat Allah kepada suatu kaum.
Hal tersebut dikuatkan oleh hadis dalam kitab Adabul Mufrad karya Imam Bukhari, “Sesungguhnya rahmat Allah tidak akan turun pada suatu kaum yang di dalamnya ada seseorang yang memutuskan tali silaturahmi.”
“Begitu pentingnya menjaga hubungan silaturahmi ini,” tegas Badiatul Muchlisin Asti.
Pengajian tersebut turut dihadiri oleh pendiri Jumat Bersedekah (JB) Indonesia, Iptu Supardi, S.H., yang akrab disapa Ndan JB. Perwira polisi yang terkenal nyah nyoh alias dermawan ini memberikan motivasi kepada para jemaah untuk selalu menjaga kerukunan, bersemangat memakmurkan mushala, dan rajin menuntut ilmu.
Tak sekadar hadir, Ndan JB juga berbagi kebahagiaan dengan membagikan uang tunai kepada jemaah anak-anak dan lansia. Kebahagiaan jemaah makin lengkap setelah tiga orang yang beruntung berhasil membawa pulang doorprize spesial dari Jumat Bersedekah Indonesia.













