SUARAYASMINA.COM – Dalam historiografi ulama Nusantara, KH. Muntaha Al-Hafiz—atau yang lebih dikenal dengan sapaan takzim Mbah Mun—hadir sebagai salah satu pilar intelektual dan spiritual yang menjembatani dua kutub peradaban. Dikenal sebagai “Maestro Al-Qur’an”, dedikasi beliau tidak terbatas pada retorika keagamaan. Beliau juga merupakan arsitek sosial yang berhasil memadukan keteguhan tradisi pesantren klasik dengan tuntutan pendidikan tinggi modern.

Signifikansi strategis Mbah Mun tercermin dalam kemampuannya menerjemahkan nilai-nilai Al-Qur’an ke dalam sistem pendidikan yang nyata. Beliau tidak membiarkan kalam Ilahi berhenti pada tradisi nderes atau hafalan semata, tetapi mengembangkannya sebagai landasan keilmuan melalui pendirian Universitas Sains Al-Qur’an (UNSIQ). Kedudukannya sebagai ulama khash yang dihormati oleh berbagai kalangan sosial dan politik menjadikan beliau sebagai salah satu penyangga stabilitas umat. Landasan perjuangannya tumbuh dari perpaduan antara pemahaman terhadap teks suci, realitas kebangsaan, dan nilai-nilai perjuangan yang diwariskan oleh para leluhurnya.

Genealogi dan Latar Belakang Keluarga

Ketokohan Mbah Mun atau KH. Muntaha Al-Hafiz merupakan manifestasi dari transmisi nilai-nilai kejuangan (struggle values) yang mengakar kuat dalam silsilahnya. Beliau lahir dari pasangan KH. Asy’ari—generasi kedua pengasuh Pesantren Al-Asy’ariyah—dan Hj. Syafinah. Karakter keulamaan dan jiwa kepemimpinan beliau dibentuk oleh tradisi keilmuan serta spiritualitas keluarga yang diwariskan secara turun-temurun.

Akar sejarah keluarga Mbah Mun juga menunjukkan keterlibatan langsung dalam perlawanan menentang kolonialisme. Ayah beliau, KH. Asy’ari, merupakan putra dari Kiai Abdurrahim, pendiri padepokan awal Al-Asy’ariyah yang juga dikenal sebagai kolega perjuangan Pangeran Diponegoro dalam Perang Jawa. Garis keturunan ini kemudian bersambung ke atas melalui Kiai Muntaha hingga bermuara pada Kiai Nida Muhammad, mengukuhkan mata rantai sejarah perjuangan dan keilmuan yang kokoh.

Terkait tahun kelahiran beliau, terdapat dua versi yang mewarnai catatan biografi. Versi pertama menyebutkan tahun 1908, sementara versi kedua yang merujuk pada bukti administratif autentik seperti KTP, Paspor, dan dokumen resmi lainnya mencatat beliau lahir pada 9 Juli 1912.

Dalam kehidupan domestik, Mbah Mun tercatat memiliki lima istri: Ny. Hj. Saudah, Ny. Hj. Maryam (yang namanya diabadikan pada unit pendidikan anak usia dini), Ny. Hj. Maijan Jariyah Tohari, Ny. Hj. Hinduniyah, dan Ny. Hj. Sahilah. Silsilah pejuang dan disiplin keluarga dalam menjaga Al-Qur’an inilah yang kemudian mendorong beliau menempuh jalan sunyi pencarian ilmu.

Advertisement

Rihlah Ilmiah dan Paradigma Pendidikan

Perjalanan intelektual Mbah Mun merupakan sebuah manifestasi riyadhah (olah spiritual) yang ekstrem dan autentik. Beliau menempuh pendidikan di berbagai episentrum keilmuan Jawa, seringkali dengan berjalan kaki antarprovinsi untuk menegaskan keikhlasan dan keteguhan tekad dalam menjemput keberkahan ilmu.

Rangkaian rihlah ilmiah Mbah Mun diawali di Pondok Pesantren Darul Ma’arif, Banjarnegara, di bawah asuhan Syekh Muhammad Fadhlullah as-Suhaimi. Perjalanan keilmuan beliau kemudian berlanjut ke PP Kauman Kaliwungu, Kendal, di mana beliau berhasil menyelesaikan hafalan Al-Qur’an di bawah bimbingan KH. Usman pada usia yang sangat muda, yakni 16 tahun.

Setelah menyelesaikan hafalan, beliau memperdalam disiplin ilmu Qiraat Sab’ah bersama mahaguru KH. Munawwir ar-Rasyad di PP Al-Munawwir Krapyak, Yogyakarta. Rangkaian penimbaan ilmu tersebut lantas disempurnakan di PP Termas, Pacitan, di mana beliau mendalami cabang keilmuan hadis, fikih, dan tafsir di bawah asuhan KH. Dimyati.

Dedikasi beliau selama perjalanan mencari ilmu terekam dalam narasi lisan pesantren: “Dalam setiap perjalanannya menyusuri jalanan Jawa menuju pesantren-pesantren besar, Mbah Mun tidak pernah membiarkan waktu terbuang sia-sia. Setiap titik peristirahatan menjadi saksi bisu bagi khataman Al-Qur’an yang beliau lakukan berkali-kali, menjadikan langkah kaki beliau sebagai ritme zikir yang tak terputus.”

Sanad Tahfiz dan Otoritas Intelektual

Otoritas spiritual Mbah Mun bersandar pada mata rantai transmisi (sanad) yang presisi dan bersambung tanpa putus hingga Rasulullah Saw. Keabsahan sanad ini adalah jantung dari legitimasi intelektual beliau dalam tradisi penjagaan Al-Qur’an di Nusantara.

Secara berurutan, ilmu Al-Qur’an Mbah Mun berguru dan diterima dari KH. Usman Kaliwungu, KH. Munawwir Krapyak, serta KH. Muhammad Dimyati Termas. Rantai keilmuan ini bersambung ke atas melalui Abdul Karim bin Abdul Badri, Isma’il Basyatie, Ahmad ar-Rasyidi, Mustafa bin ‘Abdurrahman, Syekh Hijazi, hingga ‘Ali bin Sulaiman al-Mansuri. Transmisi dilanjutkan oleh Sultan al-Muzani, Saifuddin ‘Ata’illah al-Fudali, Syahadah al-Yamani, Nasruddin at-Tablawi, dan Imam Abi Yahya Zakariya al-Mansur.

Mata rantai ini kemudian terhubung dengan para ulama besar klasik, yaitu Imam Ahmad as-Suyuti, Abu al-Khair Muhammad bin Muhammad ad-Dimasyqi, Abu ‘Abdullah Muhammad bin ‘Abdul-Khaliq, Abu al-Hasan Ali bin Suja’, hingga penyusun matan qira’at termasyhur, Abu al-Qasim asy-Syatibi.

Sanad tersebut berlanjut melalui Abu Hasan ‘Ali bin Muhammad bin Huzail, Abu Dawud Sulaiman Ibnu Majah al-Andalusi, pakar qira’at Abu ‘Umar ‘Usman Sa’id ad-Dani, Abu Muhammad ‘Ubaid bin Asibah, hingga sang perawi utama, Abu ‘Umar Hafs bin Sulaiman al-Asadi al-Kufi.

Dari Imam Hafs, riwayat Al-Qur’an ini tersambung kepada gurunya, ‘Asim bin Abi Najud al-Kufi, yang berguru kepada Abu ‘Abdurrahman ‘Abdullah bin al-Habib. Beliau menimba ilmu langsung dari para Sahabat Nabi utama, yaitu ‘Usman bin ‘Affan, ‘Ali bin Abi Talib, Zaid bin Sabit, ‘Abdullah bin Mas’ud, Abu Bakar ash-Shiddiq, dan ‘Umar bin al-Khattab, hingga bermuara langsung kepada Rasulullah Saw yang menerimanya dari Allah Swt melalui perantara Malaikat Jibril As.

Dari Medan Perjuangan hingga Jihad Pendidikan

Mbah Mun merepresentasikan nasionalisme ulama yang diwujudkan melalui tindakan nyata. Beliau tidak hanya menjaga moralitas bangsa melalui mihrab dan pengajaran agama, tetapi juga terjun langsung ke medan perjuangan sebagai Komandan Barisan Muslim Temanggung (BMT). Kiprahnya dalam Palagan Ambarawa memperlihatkan bahwa kedalaman pemahaman Al-Qur’an dapat berjalan seiring dengan keberanian dalam mempertahankan kemerdekaan dan kedaulatan tanah air.

Setelah Indonesia merdeka, perjuangan Mbah Mun berlanjut melalui jalur politik. Beliau dipercaya menjadi anggota Majelis Konstituante dari Fraksi Nahdlatul Ulama. Keterlibatannya dalam politik bukan didorong oleh ambisi kekuasaan, melainkan oleh keinginan memperjuangkan kemaslahatan umat serta memastikan nilai-nilai keislaman dan kebangsaan turut mewarnai konstitusi negara yang baru berdiri.

Semangat perjuangan tersebut kemudian berkembang ke bidang pendidikan. Sejak 1950, Mbah Mun memulai ikhtiar besar yang dikenal sebagai “Jihad Ilmiah”. Beliau secara bertahap mengembangkan Pondok Pesantren Al-Asy’ariyah dari lembaga pendidikan tradisional menjadi pusat pendidikan modern yang menyeluruh, tanpa menghilangkan kekhasan dan ruh takhassus Al-Qur’an.

Pengembangan itu mencakup berbagai jenjang pendidikan. Pada tingkat dasar, beliau mendirikan Taman Kanak-kanak (TK) Hj. Maryam. Pada jenjang menengah, didirikan Madrasah Diniyah Wustho dan ‘Ulya, Madrasah Salafiyah Al-Asy’ariyyah, SMP Takhassus Al-Qur’an, SMA Takhassus Al-Qur’an, serta SMK Takhassus Al-Qur’an. Perhatian beliau terhadap pendidikan kemudian berlanjut hingga perguruan tinggi melalui pengembangan Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ), yang selanjutnya bertransformasi menjadi Universitas Sains Al-Qur’an (UNSIQ).

Rangkaian perjuangan tersebut memperlihatkan luasnya pengabdian Mbah Mun. Bagi beliau, membela bangsa tidak hanya dilakukan dengan mengangkat senjata atau terlibat dalam penyusunan arah negara, tetapi juga melalui pendidikan yang mempersiapkan generasi masa depan. Al-Qur’an tidak cukup hanya dihafalkan dan dipahami sebagai sumber ajaran keagamaan, tetapi juga perlu dijadikan landasan dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Melalui perpaduan tersebut, umat Islam diharapkan mampu menghadapi perubahan zaman dengan wawasan yang luas, keyakinan yang kokoh, dan martabat yang tetap terjaga.

Warisan Al-Qur’an, Keteladanan, dan Keberkahan Mbah Mun

Karya-karya monumental Mbah Mun menjadi wujud nyata kecintaannya terhadap Al-Qur’an, sekaligus bagian dari ikhtiar menunaikan amanat sejarah keluarga. Salah satu karya yang paling dikenal adalah Mushaf Akbar Wonosobo atau Mushaf Raksasa. Pembuatan mushaf ini berawal dari keinginan sang kakek, yang naskah Al-Qur’annya pernah dihancurkan oleh penjajah pada masa revolusi.

Mushaf Akbar Wonosobo berukuran sekitar 2 × 3 meter dengan berat lebih dari satu kuintal. Proses penulisannya berlangsung pada 1991–1994 dengan melibatkan Tim Sembilan. H. Hayatuddin dipercaya sebagai penulis utama, sedangkan pengerjaan ornamennya dilakukan oleh H. Abdul Malik. Kini, mushaf tersebut menjadi bagian dari koleksi negara yang tersimpan di Bayt Al-Qur’an dan Museum Istiqlal, Taman Mini Indonesia Indah (TMII).

Selain menghasilkan karya dalam bentuk mushaf, Mbah Mun juga menyusun Tafsir Al-Muntaha. Tafsir ini menggunakan metode maudhu’i atau pendekatan tematik untuk menjelaskan kandungan Al-Qur’an berdasarkan tema-tema tertentu. Penyusunannya bertujuan membumikan nilai-nilai Al-Qur’an agar lebih kontekstual, dekat dengan kehidupan sehari-hari, dan mudah dipahami oleh masyarakat luas.

Kecintaan Mbah Mun terhadap Al-Qur’an tidak hanya tercermin dalam karya-karyanya, tetapi juga dalam sikap dan kepemimpinannya. Beliau dikenal memiliki karakter “berhati segara”, yakni kesabaran dan kearifan yang begitu luas sehingga mampu menampung berbagai persoalan umat. Cendekiawan Muslim, Dr. Taufik Abdullah, mengaitkan pola kepemimpinan semacam ini dengan “Tradisi Multi-Kratonik”, yaitu ketika pesantren berkembang sebagai pusat nilai yang mandiri di luar lingkaran kekuasaan, tetapi tetap menjalankan peran penting sebagai penjaga moral bangsa. Kedekatan Mbah Mun dengan KH. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur semakin menegaskan kedudukannya sebagai ulama khash yang teguh menjaga etika kekiaian.

Keteladanan tersebut juga hidup dalam berbagai kisah keberkahan yang berkembang di tengah masyarakat Kalibeber, Wonosobo. Dalam sejarah intelektual Islam, kisah-kisah karamah semacam ini dapat dipahami sebagai bagian dari fenomena Living Qur’an, yakni ketika nilai-nilai Al-Qur’an tidak hanya dibaca dan dipelajari, tetapi juga dirasakan pengaruhnya dalam kehidupan sosial.

Salah satu kisah yang paling dikenal adalah pemberian 10 kilogram beras dan 1 kilogram gula kepada Ustaz Fahmi, seorang dosen Al-Azhar Mesir di UNSIQ. Secara perhitungan, persediaan tersebut diperkirakan hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga beranggotakan lima orang selama beberapa hari. Namun, bahan pangan itu dikisahkan mampu bertahan hingga satu bulan penuh. Bagi masyarakat Kalibeber, peristiwa tersebut tidak sekadar dipandang sebagai keajaiban, tetapi juga sebagai gambaran barakatil Qur’an yang lahir dari ketulusan, pengabdian, dan kedekatan Mbah Mun dengan Al-Qur’an.

Pesan Kehidupan dan Warisan Abadi Sang Maestro Al-Qur’an

Pesan-pesan Mbah Mun menjadi pedoman spiritual bagi ribuan santrinya. Beliau senantiasa mengajarkan pentingnya menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman utama dalam mengambil keputusan hidup. Kedisiplinan dalam membaca dan mendaras Al-Qur’an juga menjadi perhatian besar, dengan anjuran untuk mengkhatamkannya sekurang-kurangnya sekali dalam satu minggu.

Bagi Mbah Mun, kedekatan dengan Al-Qur’an tidak cukup dijalani secara pribadi. Setiap santri memiliki tanggung jawab untuk memasyarakatkan nilai-nilainya agar umat Islam tidak semakin jauh dari kitab sucinya. Beliau juga menanamkan sikap terbuka terhadap kebaikan dari mana pun datangnya, disertai kesadaran bahwa setiap perubahan harus dimulai dari diri sendiri.

Mbah Mun wafat pada Rabu, 29 Desember 2004, di Rumah Sakit Umum Tlogorejo, Semarang, dalam usia sekitar 92–94 tahun. Beliau kemudian dimakamkan di Desa Deroduwur, Wonosobo. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam, tetapi nilai-nilai perjuangannya terus hidup melalui ribuan penghafal Al-Qur’an yang tersebar di berbagai wilayah Nusantara.

KH. Muntaha Al-Hafiz merupakan sosok yang memadukan kesalehan spiritual, keluasan intelektual, dan keteguhan nasionalisme. Perjalanan hidupnya membuktikan bahwa seorang penghafal Al-Qur’an dapat mengambil peran penting dalam berbagai bidang: menjadi komandan perjuangan, terlibat dalam politik dengan menjaga integritas, serta membangun lembaga pendidikan hingga tingkat universitas.

Kehidupan Mbah Mun menunjukkan bahwa Al-Qur’an, ketika dipahami dan diamalkan secara sungguh-sungguh, dapat menjadi sumber lahirnya peradaban yang maju dalam ilmu pengetahuan tanpa kehilangan akar tradisi. Warisan itulah yang membuat beliau senantiasa dikenang sebagai Sang Maestro Al-Qur’an—seorang ulama yang mengabdikan hidupnya bagi umat dengan pengetahuan yang luas, keteguhan perjuangan, dan hati seluas samudra.

Facebook Comments Box

Penulis: Badiatul Muchlisin AstiEditor: Redaksi Suarayasmina.com

Advertisement

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.