SUARAYASMINA.COM – Di tengah hiruk-pikuk era digital yang menjadikan popularitas, pengakuan, dan sorotan publik sebagai ukuran keberhasilan, hadir sebuah anomali yang menggugah kesadaran kita. Seorang ulama muda justru memilih jalan khumul—menepi dari gemerlap ketenaran dan menyembunyikan dirinya dari perhatian manusia demi menjaga kejernihan niat di hadapan Allah.
Sosok itu adalah Ibnu Harjo Al-Jawi, yang lebih dikenal di jagat maya sebagai Mbah Riyan. Kehadirannya menjadi antitesis bagi tatanan sosial modern yang kerap menilai kemuliaan seseorang berdasarkan gelar akademik, jumlah pengikut, maupun seberapa ramai namanya diperbincangkan di media sosial. Di saat banyak orang berlomba-lomba tampil dan dikenal, Mbah Riyan justru menunjukkan bahwa kedalaman ilmu tidak selalu membutuhkan panggung, dan kemuliaan sejati tidak bergantung pada tepuk tangan manusia.
Latar Pendidikan dan Pembentukan Karakter
Kemampuan Ibnu Harjo dalam membedah manuskrip-manuskrip rumit bukanlah sesuatu yang lahir secara tiba-tiba. Kapasitas itu tumbuh dari ketekunan yang dalam ungkapan Jawa disebut mempeng dan tenanan, serta tidak mudah menyerah. Fondasi keilmuannya dibangun melalui disiplin belajar yang ketat, sekaligus ditempa oleh perjalanan hidup yang penuh perjuangan, getir, tetapi tetap dijalani dengan bermartabat.
Lahir dengan nama Supriyanto di Desa Wates, Kecamatan Undaan, Kudus, langkahnya menuju dunia literasi Islam dimulai dari jalan yang tidak ringan. Pada 2005, ia menempuh pendidikan di Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA) Jakarta, sebuah institusi pendidikan Islam dan bahasa Arab yang berada di bawah naungan Universitas Imam Muhammad bin Saud, Riyadh. Selama kurang lebih delapan tahun, ia mendalami berbagai disiplin ilmu syariat dengan perhatian khusus pada bidang Ushul Fikih.
Kehidupan sebagai mahasiswa di Jakarta menuntutnya untuk tidak hanya tekun belajar, tetapi juga tangguh menghadapi keterbatasan ekonomi. Demi menopang kebutuhan hidup selama kuliah, Supriyanto muda berjualan kebab di pinggir Masjid Al-Ikhlas, Pasar Minggu. Namun, kesibukan mencari nafkah tidak membuatnya meninggalkan kewajiban intelektual dan spiritual.
Di sela-sela aktivitas berjualan, ia tetap istiqamah melakukan murajaah atau mengulang hafalan Al-Qur’an. Perjumpaan antara kerja keras, kesederhanaan hidup, dan ketekunan belajar inilah yang kemudian membentuk karakter keilmuannya.

Dalam proses akademiknya, ia menaruh perhatian pada tema-tema keislaman yang cukup kompleks, seperti Ahkam Sujud Sahwi, At-Tarku ‘inda al-Ushuliyyin, dan Al-Istihsan. Kajian-kajian tersebut digelutinya di bawah bimbingan para dosen yang memiliki kepakaran dalam bidang Fikih dan Ushul Fikih, termasuk sejumlah pengajar berlatar pendidikan Universitas Al-Azhar, Kairo. Ketajaman analisisnya pun terus berkembang seiring dengan kebiasaannya membaca, menelaah, dan membandingkan berbagai pendapat ulama.
Kesungguhan itu membuahkan sejumlah pencapaian penting. Pada 2012, ia memperoleh hadiah ibadah haji setelah berhasil menjuarai lomba hafalan Kitab Al-Arba’in An-Nawawiyah. Setahun kemudian, perjalanan akademiknya di LIPIA ditutup dengan prestasi sebagai salah satu lulusan terbaik di angkatannya. Pencapaian tersebut bukan hanya menjadi pengakuan atas kecerdasannya, tetapi juga bukti dari proses panjang yang dibangun melalui disiplin dan pengorbanan.
Selepas menyelesaikan pendidikan, Ibnu Harjo mengabdikan diri di sebuah pesantren di Sukabumi pada 2013 hingga 2018. Masa pengabdian ini menjadi semacam kawah candradimuka bagi perkembangan intelektual dan produktivitasnya. Ia dipercaya mengelola perpustakaan yang menyimpan sekitar 18.000 jilid kitab, sebuah lingkungan yang memberinya akses luas terhadap khazanah keilmuan Islam.
Bagi Ibnu Harjo, perpustakaan tersebut bukan sekadar tempat menyimpan buku, melainkan ruang perjumpaan intelektual dengan para ulama lintas zaman. Malam-malamnya banyak dihabiskan untuk membaca, menelaah, menerjemahkan, dan menyusun karya. Dalam kurun waktu lima tahun, ia berhasil merampungkan 67 kitab. Capaian itu menunjukkan bukan hanya keluasan bacaannya, tetapi juga daya tahan intelektual yang luar biasa—sebuah produktivitas yang bahkan sulit dicapai oleh banyak akademisi dalam rentang waktu serupa.
Menghidupkan Naskah Klasik untuk Dunia
Bagi publik non-spesialis, tahqiq mungkin terdengar sebagai kerja teknis penyuntingan. Namun, bagi Mbah Riyan, ini adalah “Fardu Kifayah”. Jika naskah-naskah klasik Nusantara ini tidak “dihidupkan” melalui verifikasi manuskrip yang ketat, maka warisan intelektual leluhur terancam musnah ditelan zaman. Karya cetak pertamanya yang disebarluaskan secara fisik adalah Al-Aqwal al-Mulhaqat Syarh Mukhtashar al-Waraqat (2016), sebuah naskah ushul fiqih karya cucu Syaikh Nawawi Banten.

Produktivitas Ibnu Harjo tidak hanya terlihat dari banyaknya karya yang berhasil ia selesaikan, tetapi juga dari kedalaman metode dan nilai strategis setiap kitab yang ditanganinya. Ia tidak sekadar menyalin atau menerbitkan kembali teks-teks klasik, melainkan melakukan penelitian filologis, membandingkan berbagai versi naskah, memperbaiki struktur penulisan, serta menghadirkan kembali khazanah keislaman agar lebih mudah dipahami oleh pembaca masa kini.
Salah satu karya penting yang ditanganinya adalah Fathul Mu’in. Dalam proses penyusunannya, Ibnu Harjo membandingkan tujuh versi naskah cetak dengan satu manuskrip asli. Ketelitian tersebut membuat teks yang selama ini dianggap rumit dan “angker” menjadi lebih sistematis, tertata, dan mudah ditelaah. Ia menerapkan kaidah penulisan modern tanpa menghilangkan karakter serta substansi keilmuan yang terkandung dalam kitab tersebut.
Menurut Gus Abdul Wahab Ahmad, kitab Fathul Mu’in sering dianggap “angker” karena urutannya yang rimbun dan kurang sistematis. Mbah Riyan hadir sebagai “dekoder”. Ia tidak sekadar menyalin, melainkan membedah struktur teks, memberikan tanda baca modern, serta menyusun footnote yang menjelaskan biografi tokoh dan istilah sulit. Metodologinya yang membandingkan hingga tujuh versi cetak memastikan bahwa apa yang dibaca santri hari ini adalah teks yang paling autentik.
Karya tahqiq monumental Ibnu Harjo lainnya adalah Kitab Tahrir karangan Syekhul Islam Zakariya Al-Anshari. Keistimewaan karya ini semakin kuat ketika hasil tahqiq-nya dipaparkan secara langsung di hadapan salah satu otoritas keilmuan Al-Azhar, Syekh Abdul Aziz As-Syahawi. Peristiwa tersebut menjadi bentuk pengakuan terhadap kapasitas intelektual Ibnu Harjo dalam menelaah dan menghidupkan kembali karya-karya ulama klasik.
Melalui Is’af Al-Muthaali’, Ibnu Harjo turut menghidupkan kembali warisan intelektual Syekh Mahfudz At-Tarmasi, seorang ulama besar Nusantara yang memiliki pengaruh luas di dunia Islam. Kitab tersebut mencakup pembahasan dalam disiplin teologi dan tasawuf. Kehadirannya bukan hanya memperkenalkan kembali pemikiran ulama Nusantara, tetapi juga menegaskan besarnya kontribusi tradisi keilmuan Indonesia dalam jaringan intelektual Islam global.
Sementara itu, Al-Taufiq Al-Jaliy menjadi salah satu karya yang menandai keberhasilan Ibnu Harjo menembus panggung keilmuan internasional. Kitab ini diterbitkan oleh Maktabah Al-Azhariyyah di Mesir dan kemudian dikenal sebagai salah satu rujukan dalam bidang teologi Asy’ariyah. Penerimaan tersebut menunjukkan bahwa karya yang lahir dari ketekunan seorang intelektual asal Kudus mampu melampaui batas geografis dan memperoleh tempat di tengah tradisi keilmuan Islam dunia.
Antara Kuli Bangunan dan Ulama Mastur
Setelah kembali ke Desa Wates, Kecamatan Undaan, Kudus, pada 2018, Mbah Riyan menjalani corak kehidupan yang tidak biasa. Ia memadukan dua jalan yang sering dianggap bertolak belakang: tajrid, yakni pengabdian spiritual yang tulus, dan kasab, yaitu ikhtiar mencari nafkah melalui kerja nyata. Kehidupannya menunjukkan bahwa kedalaman spiritual tidak harus menjauhkan seseorang dari kerasnya kehidupan sehari-hari.
Di dunia keilmuan internasional, ia dikenal sebagai Ibnu Harjo Al-Jawi, seorang pakar turats yang tekun meneliti dan menghidupkan kembali khazanah Islam klasik. Namun, di lingkungan tempat tinggalnya, ia tetap dikenal sebagai Supriyanto, seorang ayah dari empat anak yang menjalani hidup dengan sederhana.
Ia tidak segan bekerja serabutan, mulai dari memanen padi hingga mengangkat semen sebagai kuli bangunan. Dua identitas itu berjalan berdampingan tanpa pertentangan: seorang intelektual yang dihormati di luar negeri, sekaligus warga desa yang bekerja dengan tangannya sendiri.
Pilihan hidup tersebut bukanlah akibat ketiadaan kesempatan. Ketika ditanya mengapa tidak memilih jalur yang lebih aman dengan mengajar di universitas, ia menegaskan bahwa menulis merupakan panggilan jiwanya. Baginya, menulis terasa seperti berdialog dengan para ulama terdahulu. Karena itulah, ia rela menjalani pekerjaan kasar untuk menopang kehidupan keluarga sekaligus membiayai misinya dalam menjaga, meneliti, dan menerbitkan naskah-naskah klasik.
Sikapnya juga mencerminkan karakter khumul, yaitu kesediaan untuk menjauh dari sorotan dan popularitas. Sejak 2018, ia memilih meninggalkan hiruk-pikuk media sosial. Di tengah kesibukannya menelaah kitab, kegemarannya justru sangat sederhana: memancing ikan di sungai. Ia tidak mengejar ketenaran, apalagi berharap menjadi viral. Baginya, cukuplah karya-karyanya dikenal dan memberi manfaat, sedangkan dirinya tetap berada di balik layar.
Kesederhanaan itu tergambar dari pengakuannya yang lugas, “Saya tidak mengharapkan viral. Yang penting karya-karya saya saja yang diketahui masyarakat, diri saya tidak perlu.” Bahkan, ketika diajak bepergian dan bertemu banyak orang, ia menjawab dengan jujur, “Pusing ketemu banyak orang.” Kalimat sederhana tersebut seolah merangkum jalan hidupnya: bekerja dalam sunyi, menjauh dari keramaian, dan membiarkan karya berbicara lebih lantang daripada sosok penciptanya.
Menolak Hadir di Perhelatan MUI Award 2026
Konsistensi Mbah Riyan dalam menempuh “jalan sunyi” kembali terlihat pada Juli 2026 lalu. Majelis Ulama Indonesia (MUI) menetapkannya sebagai penerima MUI Award untuk kategori Karya Tulis Islam. Penghargaan tersebut menjadi bentuk pengakuan nasional atas ketekunan dan kontribusinya dalam merawat serta menghidupkan kembali khazanah keilmuan Islam.
Namun, menurut sebuah sumber, undangan resmi untuk menghadiri acara tersebut baru diterimanya sehari sebelum pelaksanaan. Bagi sebagian orang, kesempatan untuk berdiri di panggung penghargaan nasional tentu menjadi momen yang sulit dilewatkan. Akan tetapi, bagi Mbah Riyan yang tidak menggantungkan nilai dirinya pada pengakuan publik, undangan itu disikapi dengan sederhana. Ia memilih tetap berada di rumah daripada harus datang ke Jakarta dan berdiri di bawah sorot lampu.
Keputusan tersebut tidak mengurangi penghormatan masyarakat terhadap dirinya. Sebaliknya, sikap itu semakin menegaskan konsistensinya dalam menjauh dari popularitas dan hubbus syuhrah, kecintaan untuk dikenal serta dipuji manusia. Ia seolah hendak menunjukkan bahwa penghargaan yang sesungguhnya tidak selalu terletak pada piala, panggung, atau tepuk tangan, melainkan pada manfaat yang terus mengalir dari karya-karya yang ditinggalkan.
Mukhlis Yusuf Arbi, sahabat dekatnya, hanya dapat tersenyum menyaksikan pilihan tersebut. Ia memahami bahwa sesuatu yang dipandang penting oleh masyarakat modern belum tentu memiliki nilai yang sama bagi Mbah Riyan. Baginya, karya boleh dikenal luas, tetapi sosok di baliknya tidak harus ikut menjadi pusat perhatian. Dalam diam, ia kembali membuktikan bahwa ketulusan tidak membutuhkan panggung untuk memperoleh makna.
Warisan Intelektual dan Teladan Kesahajaan
Sosok Mbah Riyan adalah pengingat bagi kita semua bahwa ilmu adalah cahaya yang tidak membutuhkan lampu sorot untuk bersinar. Dedikasinya dalam menjaga turats Nusantara adalah bentuk khidmah tertinggi bagi identitas bangsa dan keluhuran agama.
Ada tiga nilai utama yang dapat dipetik dari perjalanan hidup Ibnu Harjo Al-Jawi. Pertama; keikhlasan yang menempatkan manfaat karya di atas ketenaran pribadi. Baginya, nilai sebuah tulisan tidak ditentukan oleh seberapa terkenal nama penulisnya, melainkan oleh seberapa jauh karya tersebut mampu memberi manfaat dan terus hidup di tengah masyarakat. Nama seseorang mungkin perlahan dilupakan, tetapi ilmu yang diwariskan dapat melampaui batas waktu dan generasi.
Kedua; ketekunan yang dalam ungkapan Jawa disebut mempeng dan tenanan. Perjalanan hidupnya menunjukkan bahwa kedalaman ilmu tidak hanya dapat diraih oleh mereka yang hidup dalam kemudahan. Keterbatasan ekonomi, pekerjaan kasar, dan kehidupan yang sederhana bukanlah penghalang bagi seseorang untuk mencapai puncak intelektual, selama disertai kesungguhan, kedisiplinan, dan kemauan belajar yang tidak pernah padam.
Ketiga; integritas dalam menjaga pilihan hidup dan maqam spiritual. Ibnu Harjo memperlihatkan keberanian untuk tetap setia menempuh jalan sunyi, meskipun berbagai panggung penghargaan dan peluang popularitas terbuka di hadapannya. Ia memilih menjaga kejernihan batin daripada mengejar sorotan publik. Dari sikap tersebut, kita belajar bahwa integritas bukan sekadar mempertahankan prinsip ketika keadaan sulit, tetapi juga kemampuan menolak godaan ketika penghormatan dan ketenaran datang menghampiri.
Semoga Allah Swt senantiasa menjaga Mbah Riyan dalam kesehatan dan keberkahan, melindunginya dalam kesunyian yang produktif, serta menjadikan setiap butir keringat dan goresan penanya sebagai amal jariyah yang menerangi khazanah Islam Nusantara hingga akhir zaman. (Diolah dari berbagai sumber)




