SUARAYASMINA.COM – Pernikahan dalam Islam bukan sekadar ikatan hukum atau perayaan cinta semata, melainkan sebuah perjanjian agung (mitsaqan ghalizhan) yang membawa konsekuensi dunia dan akhirat. Di dalam ikatan ini, suami memegang peranan kunci sebagai pemimpin rumah tangga. Namun, kepemimpinan Islam bukanlah bentuk kekuasaan mutlak, melainkan sebuah amanah untuk mengayomi, melindungi, dan membawa keluarga menuju keridhaan Tuhan.

Menjadi suami yang saleh dan berkarakter surgawi berarti meneladani nilai-nilai kebaikan yang diajarkan oleh Rasulullah saw. dalam kehidupan sehari-hari. Lantas, seperti apa karakter utama yang harus melekat pada diri seorang suami saleh, dan bagaimana mewujudkannya?

1. Kepemimpinan yang Mengayomi (Qawwam)

Konsep kepemimpinan seorang suami (qawwam) seringkali disalahartikan sebagai bentuk superioritas. Padahal, qawwam sejatinya adalah pilar tanggung jawab, di mana seorang suami yang saleh memposisikan dirinya sebagai pelindung sekaligus penanggung jawab utama dalam keluarga.

Tanggung jawab tersebut mencakup dua dimensi utama, yaitu nafkah lahir dan batin. Nafkah lahir menuntut suami untuk memastikan kebutuhan dasar keluarga—seperti makanan, pakaian, tempat tinggal, dan kesehatan—terpenuhi dari sumber yang halal dan baik, disertai kebijaksanaan dalam mengelola keuangan. Sementara itu, nafkah batin diwujudkan dengan memberikan rasa aman, kehangatan emosional, keintiman yang penuh kasih sayang, serta perlindungan dari tekanan mental maupun bahaya fisik.

Dengan pemahaman ini, suami yang berkarakter tidak akan memposisikan diri sebagai “bos” yang hanya gemar memberi perintah. Sebaliknya, ia hadir sebagai garda terdepan yang selalu siap pasang badan dan melindungi keluarganya saat menghadapi berbagai kesulitan.

Advertisement

2. Menggauli Istri dengan Baik (Mu’asyarah bil Ma’ruf)

Membangun ikatan rumah tangga yang kokoh memerlukan cara berinteraksi yang penuh kesantunan (mu’asyarah bil ma’ruf). Dalam hal ini, Rasulullah saw. menegaskan bahwa laki-laki terbaik adalah mereka yang paling baik perlakuan dan sikapnya terhadap istrinya.

Sifat mulia tersebut dapat diwujudkan melalui beberapa langkah nyata dalam keseharian. Pertama; komunikasi yang empatik, seperti bertutur kata dengan lembut, mendengarkan pandangan istri tanpa memotong, serta menghindari bentakan dan celaan saat terjadi perbedaan pendapat. Kedua; keterlibatan domestik, yaitu tidak ragu untuk turun tangan membantu pekerjaan rumah tangga dan pengasuhan anak sebagai wujud empati untuk meredakan beban pasangan, bukan sebagai bentuk penurunan harga diri.

Ketiga; menghargai kehadiran istri dengan memberinya ruang untuk mengekspresikan perasaan, memberikan apresiasi atas segala usahanya, serta melibatkan dan tidak mengabaikan keberadaannya dalam pengambilan keputusan keluarga.

3. Menjaga Kesetiaan dan Kehormatan Keluarga

Kesetiaan merupakan fondasi utama dalam membangun rasa percaya (trust) di dalam pernikahan. Seorang suami yang saleh akan senantiasa membentengi diri dan keluarganya dari segala hal yang berpotensi merusak kehormatan ikatan suci tersebut.

Bentuk penjagaan kesetiaan ini tercermin dalam beberapa sikap nyata, salah satunya adalah menjaga pandangan (ghaddul bashar). Hal ini dilakukan dengan menahan diri dari memandang hal-hal yang tidak halal, baik di dunia nyata maupun di media digital, guna menjaga kebersihan hati agar kasih sayang dan fokus perhatiannya tetap utuh untuk sang istri.

Selain itu, penting pula untuk menerapkan batasan sosial yang sehat, yakni mampu menjaga batasan pertemanan dan profesionalisme dengan lawan jenis secara bijak demi menghormati perasaan pasangan. Tidak kalah penting, suami yang setia juga bertanggung jawab dalam menjaga aib rumah tangga. Ia mampu menyimpan kerahasiaan urusan domestik maupun kekurangan pasangan dengan baik, serta tidak pernah menjadikannya sebagai konsumsi publik atau bahan cerita kepada orang lain.

4. Kelapangan Hati: Sabar dan Penuh Pengampun

Tidak ada manusia yang sempurna, begitu pula dalam kehidupan berumah tangga. Dinamika perselisihan dan perbedaan karakter adalah hal yang tidak terhindarkan. Di sinilah letak pentingnya sifat sabar dan pemaaf.

Suami yang saleh berani menundukkan egonya. Ia tidak ragu meminta maaf jika melakukan kesalahan, dan dengan lapang dada memberikan maaf ketika istri melakukan kekhilafan. Saat menghadapi krisis atau luapan emosi, ia memilih untuk tetap tenang dan tidak terburu-buru mengambil keputusan drastis yang dapat merusak tatanan keluarga. Fokus utamanya adalah mencari solusi bersama, bukan memenangkan perdebatan.

5. Keteladanan dalam Ibadah dan Akhlak

Tujuan tertinggi dari sebuah keluarga berkarakter surgawi adalah dapat berkumpul kembali di akhirat kelak. Oleh karena itu, seorang suami memegang peranan penting untuk menjadi teladan spiritual (uswah hasanah) bagi istri dan anak-anaknya.

Keteladanan ini tentu tidak dibangun sekadar lewat doktrin lisan, melainkan dibuktikan melalui tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari. Langkah awalnya dimulai dari konsistensi diri dalam menjalankan ibadah wajib maupun sunnah secara istiqamah.

Selain itu, suami yang bertanggung jawab secara spiritual juga aktif mengajak keluarganya untuk bersama-sama belajar agama dan berbuat kebaikan. Tidak hanya di dalam rumah, ia turut menunjukkan akhlak terpuji seperti kejujuran, kedermawanan, dan kerendahan hati saat berinteraksi di tengah masyarakat sekitar.

Pada akhirnya, menjadi suami yang saleh dan berkarakter surgawi adalah sebuah proses pembelajaran seumur hidup. Peran ini tidak menuntut kesempurnaan tanpa cacat, melainkan kemauan untuk terus membenahi diri, bersabar, dan memberikan yang terbaik bagi keluarga. Ketika seorang suami memimpin dengan kasih sayang, keadilan, dan keteladanan yang tulus, rumah tangga tidak hanya menjadi tempat yang nyaman di dunia, tetapi juga menjelma sebagai jembatan yang menghantarkan menuju surga-Nya.

Penulis: Badiatul Muchlisin AstiEditor: Redaksi Suarayasmina.com

Advertisement

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.