SUARAYASMINA.COM – Di tengah khazanah pemikiran Islam Nusantara masa kini, KH. Abdul Qoyyum Mansur—atau yang akrab disapa Gus Qoyyum—hadir sebagai sosok yang begitu menyejukkan. Dari Lasem, kota tua di Rembang yang menjadi salah satu pusat spiritualitas jalur Pantura, beliau berdiri bukan sekadar sebagai pengasuh pesantren tradisional. Beliau adalah jembatan yang menghubungkan kedalaman tradisi santri dengan wawasan akademis modern. Kedalaman ilmunya menembus berbagai kalangan, membuat beliau dicintai dan dijadikan rujukan oleh banyak orang—mulai dari akademisi, pejabat, hingga masyarakat luas.

Sejak meneruskan kepemimpinan Pondok Pesantren An-Nur Lasem usai wafatnya sang ayah, KH. Mansur Kholil, pada tahun 2002, Gus Qoyyum terus membawa wajah baru dalam dakwah. Beliau mampu menyampaikan pesan-pesan keagamaan dan ilmu pengetahuan dengan sangat luwes. Dakwahnya tak hanya menggema di serambi masjid, tetapi juga di aula instansi pemerintahan hingga panggung-panggung kampus besar. Kehadiran beliau membuktikan bahwa tradisi pesantren bisa berjalan seiring dengan zaman tanpa kehilangan kedalaman spiritualnya.

Keluasan ilmu dan pesona intelektual Gus Qoyyum ini tentu tidak lahir begitu saja. Semua itu merupakan buah manis dari perpaduan garis keturunan yang mulia dan kedisiplinan belajar yang sangat tinggi.

Warisan Nasab: Modal Spiritual dan Keilmuan Gus Qoyyum

Otoritas spiritual dan keilmuan Gus Qoyyum bukanlah sebuah kebetulan, melainkan buah dari silsilah mulia yang mempertemukan trah pendiri Nahdlatul Ulama dengan ulama-ulama sufi legendaris. Nasab ini menjadi modal spiritual yang sangat kuat dalam membentuk integritas beliau.

Dari garis ayah, beliau adalah cucu dari KH. Kholil (Masyhuri), salah satu tokoh kunci pendirian NU tahun 1926 dan sahabat karib KH. Hasyim Asy’ari sewaktu menimba ilmu di Makkah. Beliau juga merupakan putra dari KH. Mansur Kholil, pengasuh Pondok Pesantren An-Nur Lasem yang mendidik Gus Qoyyum secara langsung lewat metode sorogan. Ikatan historis ini pulalah yang membuat KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) kerap bersilaturahmi ke kediaman Lasem semasa hidupnya.

Advertisement

Sementara dari jalur ibu, gen intelektual beliau tersambung hingga ke Mbah Mutamakkin Kajen—ulama sufi dan pejuang antikolonial yang menjadi fondasi ketasawufan di Jawa. Garis ini juga menghubungkan beliau dengan kakeknya, KH. Mahfudz (ulama terkemuka di Pati), serta pamannya, KH. Sahal Mahfudz, mantan Rais Aam PBNU dan Ketua MUI yang dikenal sebagai pakar fikih sosial.

Namun, silsilah yang luar biasa ini sama sekali tak membuat Gus Qoyyum jumawa. Deretan nama besar dalam nasabnya justru menjadi crucible—tungku penempa yang membakar semangatnya untuk menempuh jalan pendidikan yang sangat khas dan tidak konvensional.

Disrupsi Pendidikan dan Ketekunan Pengembaraan Kitab

Perjalanan intelektual Gus Qoyyum adalah bukti nyata bahwa kedalaman ilmu jauh lebih utama daripada formalitas gelar. Siapa sangka, beliau ternyata tidak menamatkan pendidikan dasar di Madrasah Ibtidaiyah akibat “kenakalan” masa kecilnya. Namun, alih-alih menjadi hambatan, dinamika masa kecil ini justru menjadi titik balik yang membebaskan beliau dari batas-batas pendidikan formal, membukakan jalan menuju penempaan keilmuan tradisional berintensitas tinggi.

Uniknya lagi, Gus Qoyyum tidak pernah berkelana dari satu pesantren ke pesantren lain. Rencana beliau untuk mondok di Kajen bahkan batal di menit-menit terakhir, padahal segala bekal sudah siap. Pengembaraan intelektualnya tidak diukur dari jarak fisik, melainkan dari ribuan lembar kitab yang beliau kaji lewat metode sorogan di bawah bimbingan langsung sang ayah. Ketekunan akademisnya luar biasa; beliau bahkan menghabiskan waktu tiga hingga empat tahun secara khusus hanya untuk mendalami ilmu Fawashil—ilmu yang mengkaji akhiran ayat-ayat Al-Qur’an.

Kemampuan beliau menghafal Al-Qur’an dalam waktu singkat saat masih belia sering membuat masyarakat mengaitkannya dengan ilmu Laduni—anugerah pengetahuan instan dari Tuhan. Namun, dengan penuh ketawaduan, Gus Qoyyum secara tegas menepis anggapan tersebut. Beliau selalu menekankan bahwa penguasaannya atas kitab-kitab induk tingkat tinggi, seperti Tafsir Mafatihul Ghaib, adalah murni buah dari kerja keras, kedisiplinan tinggi, dan proses belajar yang intensif selama bertahun-tahun. Dari jalan belajar yang tekun inilah lahir fondasi keilmuan yang kokoh—sebuah perpaduan harmonis antara kedalaman wahyu dan kejelian nalar empiris.

Menghubungkan Teks Suci dan Realitas Sains

Signifikansi Gus Qoyyum dalam dunia pemikiran Islam terletak pada keberaniannya meruntuhkan sekat antara teks suci dan realitas sains. Beliau gemar membedah karya-karya klasik tingkat tinggi, salah satunya Tafsir Mafatihul Ghaib karya Fakhruddin Ar-Razi—sebuah kitab ensiklopedis yang menjadi pijakannya dalam membaca fenomena alam melalui sudut pandang teologis.

Semangat riset yang tinggi ini tercermin jelas dari deretan karya tulisnya yang sangat produktif dan kaya disiplin ilmu.

Judul Kitab / Karya Fokus dan Topik Pembahasan
Al-Shalih wa al-Thalih Analisis komparatif tentang hakikat kematian antara manusia berakhlak mulia dan manusia yang buruk.
Al-‘Alim wa al-‘Alam Catatan peristiwa alam dan kisah-kisah unik yang sarat hikmah kehidupan.
Nur ‘ala Nur Himpunan hadis tematik yang menyelami kedalaman spiritual tasawuf.
Risalah al-Hindy Merangkum peristiwa-peristiwa penting di India sejak zaman Nabi Adam AS.
Risalah Arba’in Indunisia fi al-Hayawan Kumpulan 40 hadis yang membedah etika dan moralitas hubungan manusia dengan hewan.
Ayyuha al-Nas Kajian hadis yang menghubungkan perjalanan hidup manusia dengan fungsi organ tubuh.
Nasihatu al-Junud Karya bertema nasihat dan ketahanan spiritual.
‘Ajaib al-Tauhid Pembahasan keagungan serta keajaiban ketauhidan.
Al-Insaniyyah Kajian seputar nilai-nilai kemanusiaan dalam Islam.

Sumber: A. Said Hasan Basri, dkk dalam Ensiklopedia Karya Ulama Nusantara (Mata Kata Inspirasi, Yogyakarta, 2021)

Melalui karya-karyanya, Gus Qoyyum mengusung visi besar untuk mencetak “Kiai yang akademisi dan akademisi yang kiai”. Inovasi intelektual ini menegaskan bahwa ajaran Islam tidak terpisah dari sains, sebuah kontribusi spesifik bagi pengembangan nalar kritis di dunia pesantren. Kedalaman ilmu ini kemudian beliau transformasikan menjadi pesan-pesan dakwah yang memiliki daya getar karismatik.

Gus Qoyyum: Jembatan Tradisi Kitab dan Nalar Modern

Gus Qoyyum memiliki gaya retorika yang khas dan memikat. Beliau mampu menyederhanakan rumitnya kitab-kitab klasik menjadi pesan yang segar, berbobot, dan mudah dicerna. Salah satu contoh menarik adalah pendekatan simboliknya saat merangkum makna huruf ‘Ain (ع)—yang muncul sebanyak 9.405 kali dalam Al-Qur’an—ke dalam tiga pilar utama: Akal (rasionalitas), Ilmu (kedalaman), dan Amal (tindakan nyata).

Ketika membedah pilar Akal, beliau menghadirkan sintesis ilmu yang sangat menarik. Di tengah perdebatan klasik antara pemikiran Ar-Razi (yang menempatkan akal di hati) dan pandangan modernis (di otak), Gus Qoyyum mengutip penjelasan pakar bedah saraf Prof. Abdul Hafid Bajamal: akal berpusat di otak, tetapi sinyalnya menyatu dan meresap ke dalam hati. Pandangan saintifik ini beliau perkuat dengan Muqaddimah karya Ibnu Khaldun, yang menyebut bahwa ilmu mengalir dari otak ke hati selama tidak tersumbat oleh Hijab Ilmi—yakni hawa nafsu.

Kedalaman pemikiran beliau juga terlihat saat mengupas empat dimensi hakikat kematian. Pertama; kematian dalam kesehatan, yaitu harapan agar manusia wafat dalam kondisi sehat lahir-batin hingga ke alam kubur. Kedua; perspektif eksistensial, yang memperlihatkan kontras antara ketakutan ekstrem terhadap maut dengan kerinduan seorang mukmin untuk bertemu Sang Pencipta. Ketiga; kemanunggalan maut, penegasan bahwa kematian tak bisa dihindari walau bersembunyi di balik gedung pencakar langit. Keempat; fase involusi, yaitu siklus alami tubuh manusia yang kembali melemah dan menua.

Dalam meniti jalan menuju Tuhan, Gus Qoyyum menekankan pentingnya mujahadah atau perang melawan nafsu. Beliau sering menyelipkan kisah dramatis tentang murid Imam Malik yang berdoa agar Imam Syafi’i lekas wafat hanya karena iri atas popularitas sang imam muda. Anekdot ini menjadi peringatan menohok tentang bahaya “nafsu orang alim”. Bagi beliau, setiap lapisan masyarakat memiliki ujian nafsunya masing-masing—mulai dari ketamakan orang miskin hingga penyakit lisan orang bodoh—yang semuanya harus ditundukkan demi meraih keberkahan hidup.

Pada akhirnya, KH. Abdul Qoyyum Mansur adalah prototipe ulama masa depan yang mampu menjaga nyala api tradisi di tengah gempuran modernitas. Sosoknya menjadi bukti nyata bahwa ilmu sejati tidak dibatasi oleh dinding kelas formal, melainkan oleh luasnya cakrawala berpikir dan ketulusan niat. Beliau adalah representasi utuh dari julukan “Kiai yang akademisi, akademisi yang kiai”—seorang ulama yang memegang teguh ajaran Islam, tetapi tetap melek sains dan teknologi demi kemaslahatan umat.

Facebook Comments Box

Penulis: Badiatul Muchlisin AstiEditor: Redaksi Suarayasmina.com

Advertisement

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.