Suarayasmina.com Berbagai sarana bisa digunakan untuk menyampaikan pesan-pesan dakwah, termasuk karya sastra. Para ulama terdahulu telah menunjukkan keteladanan yang baik dalam hal ini. Banyak ulama terdahulu yang menyisipkan pesan-pesan dakwahnya lewat karya sastra, baik dalam bentuk prosa maupun puisi.

Raja Ali Haji adalah contoh ulama sekaligus sastrawan yang tekun menggoreskan pesan-pesan dakwahnya lewat karya sastra. Gurindam Dua Belas adalah di antara karya besarnya yang paling monumental. Gurindam termasuk bentuk puisi lama yang banyak terdapat dalam masyarakat Melayu Indonesia. Gurindam terdiri dari sebuah kalimat majemuk, yang dibagi menjadi dua baris yang bersajak. Gurindam biasanya digunakan menyampaikan pesan kebenaran melalui pepatah atau peribahasa.

Gurindam Dua Belas karya Raja Ali Haji adalah gurindam yang paling terkenal dalam khazanah kesusastraan Melayu. Gurindam Dua Belas bukan berarti gurindam yang berjumlah dua belas buah, melainkan berisi dua belas pasal. Di dalamnya kental memuat pesan-pesan dakwah menyangkut persoalan ibadah, perseorangan, kewajiban raja, kewajiban anak terhadap orangtua, tugas orangtua terhadap anak, sifat-sifat bermasyarakat, dan sebagainya.

Petikan gurindamnya dapat disimak berikut ini:

Barang siapa mengenal Yang Tersebut, tahulah ia makna takut / Barang siapa meninggalkan sembahyang, seperti rumah tiada bertiang / Barang siapa meninggalkan puasa, tidaklah mendapat dua termasa / Barang siapa meninggalkan zakat, tiadalah hartanya beroleh berkat / Barang siapa meninggalkan haji, tiadalah ia menyempurnakan janji.

Petikan gurindam di atas dikutip dari pasal kedua. Masih ada sebelas pasal yang semuanya kental memuat pesan-pesan dakwah.

Bangsawan Bugis

Raja Ali Haji adalah keturunan bangsawan Bugis. Dia lahir sekitar tahun 1808 di Pulau Penyengat, tidak jauh dari Tanjung Pinang (Pulau Bintan). Pulau Penyengat sendiri adalah sebuah pusat keilmuan Melayu Islam yang penting di abad ke-19. Kakeknya bernama Raja Haji, seorang pahlawan Bugis yang tercatat pernah menjabat sebagai yamtuan muda (perdana menteri) ke-4 dalam Kesultanan Johor-Riau. Orang-orang Bugis tiba di kawasan tersebut sekitar abad ke-18.

Pada saat yang bersamaan, tengah terjadi perebutan kekuasaan antara para pewaris Kesultanan Johor setelah terbunuhnya Sultan Mahmud Syah II. Mereka bangga terhadap asal-usul, hubungan kekerabatan, dan tetap merasa sebagai bagian integral masyarakat Melayu-Bugis.

Raja Haji adalah yamtuan muda yang berhasil menjadikan Kesultanan Johor-Riau sebagai pusat dagang dan budaya paling penting di kawasan itu. Dia wafat ketika bertempur melawan Belanda tahun 1784. Raja Haji meninggalkan dua putra, yaitu Raja Ahmad, ayah Raja Ali Haji dan Raja Ja’far.

Raja Ahmad, ayah Raja Ali Haji, adalah pangeran pertama dari Riau yang menunaikan ibadah haji. Raja Ahmad sangat menyukai bidang sejarah. Salah satu karyanya berjudul Syair Perang Johor memuat keterangan tentang perang antara Kesultanan Johor dan Kesultanan Aceh pada abad ke-17.

Selain itu, Raja Ahmad juga dikenal sebagai orang pertama yang menyusun sebuah epos tentang sejarah orang Bugis di daerah Melayu dan hubungannya dengan raja-raja Melayu. Rupanya bakat menulis ayahnya itu menurun kepada Raja Ali Haji, sehingga kelak Raja Ali Haji dikenal sebagai seorang ulama sekaligus sastrawan terkemuka yang memiliki banyak karya menonjol.

Islam dan Melayu

Raja Ali Haji memiliki kontribusi, kiprah, dan sumbangsih yang cukup besar, terutama di bidang intelektual melalui sejumlah karya yang cukup menonjol. Tak aneh, karena sejak kecil, Raja Ali Haji sudah terbiasa bergumul dengan banyak sumber-sumber ilmu dan pengetahuan.

Sejak masih remaja, Raja Ali Haji sering mengikuti ayahnya melakukan lawatan ke berbagai wilayah, baik di dalam maupun ke luar negeri. Pengalaman bepergian ini secara langsung memperluas cakrawala pandang, pengetahuan, dan wawasannya.

Dalam usianya yang belum genap 20 tahun, Raja Ali Haji sudah dipercaya mengemban tugas-tugas kenegaraan yang tergolong penting. Hingga usia 32 tahun, dia bersama sepupunya, Raja Ali bin Raja Ja’far, dipercaya memerintah di daerah Lingga, mewakili Sultan Mahmud Muzaffar Syah yang masih berusia muda.

Sementara itu, pengetahuannya yang sangat luas di bidang syariat Islam, menjadikan Raja Ali Haji dikenal sebagai seorang ulama mumpuni yang sering dimintai fatwanya oleh kerabat kerajaan. Ketika Raja Ali bin Raja Ja’far diangkat menjadi yamtuan muda pada tahun 1845, Raja Ali Haji juga dikukuhkan sebagai penasehat keagamaan negara.

Sebagai sastrawan, Raja Ali Haji berhasil menelorkan banyak karya sastra. Sekian banyak hasil karya Raja Ali Haji tampak senantiasa menunjukkan ciri khas yang kuat yang mengakar pada tradisi kesusastraan Islam dan Melayu. Pesan-pesan dakwah senantiasa menjadi ruh dalam setiap karyanya. Dalam beberapa buah karyanya, Raja Ali Haji selalu mewanti-wanti bahwa satu-satunya jalan untuk mengatasi hawa nafsu dan mencegah terjadinya konflik adalah dengan taat kepada hukum Allah Swt yang telah digariskan dalam kitab suci Alquran.

Kepemimpinan dan Akhlak

Hidup di lingkaran kekuasaan, membuat Raja Ali Haji juga memiliki konsens yang tinggi pada akhlak kepemimpinan. Menurutnya, seorang raja yang melalaikan tugasnya dan mendurhakai Tuhan tidak dapat diterima sebagai penguasa lagi. Jabatannya itu harus diserahkan kepada orang lain yang lebih tepat.

Adapun pemimpin yang baik, menurut Raja Ali Haji, adalah yang pantang terhadap hal-hal keduniawian dan kemungkaran. Sebaliknya, raja yang buruk adalah yang punya sifat congkak, boros, dan tidak memperhatikan sarana pendidikan.

Pada setiap pesan etik yang disampaikan, Raja Ali Haji kerap menyisipkan lukisan peristiwa nyata yang terjadi di masanya. Inilah yang juga menjadi ciri khas karyanya. Dia sangat intens dalam mempresentasikan sejarah masa lalu yang disetting sesuai dengan tuntutan kondisi zaman.

Lewat karya-karyanya, Raja Ali Haji membuktikan bahwa dia bukan hanya sekedar seorang sastrawan dalam arti sempit. Akan tetapi sekaligus seorang ulama yang memiliki komitmen tinggi dalam memelihara nilai-nilai keislaman serta rasa tanggung jawab terhadap masyarakatnya.

Guna melestarikan karya-karyanya, pada awal tahun 1890, segenap sanak keluarganya mendirikan perkumpulan bernama Rusdyiah Club yang bergerak di bidang pembinaan umat serta penerbitan buku-buku Islami.

Dua karya sastra Raja Ali Haji yang paling menonjol berjudul Hikayat Abdul Muluk dan Gurindam Dua Belas. Hikayat Abdul Muluk adalah karya sastrawan Riau yang pertama kali diterbitkan (tahun 1848). Karya inilah yang menjadi cikal bakal terbitnya karya-karyanya yang lain. Sedangkan Gurindam Dua Belas adalah karya tak ternilai yang dianggap paling menonjol di antara karyanya yang lain.

Raja Ali Haji wafat pada tahun 1873 atau pada usia sekitar 65 tahun dan dimakamkan di Pulau Penyengat, tepatnya di kompleks makam Engku Putri Raja Hamida. Makam Raja Ali Haji terletak di luar bangunan utama makam. Karyanya Gurindam Dua Belas diabadikan di sepanjang dinding bangunan makam. Setiap pengunjung bisa membaca dan mencatat karya besarnya itu, yang tidak hanya bernilai sastra tinggi, tapi juga memuat pesan-pesan dakwah yang begitu kental.

Facebook Comments Box

Penulis: Badiatul Muchlisin AstiEditor: M. A. Fathan

Advertisement

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.