SUARAYASMINA.COM – Dalam diskursus sejarah intelektual Islam Nusantara, nasab bukan sekadar manifestasi silsilah biologis, melainkan arsitektur otoritas spiritual yang melegitimasi posisi seorang ulama sebagai pewaris para nabi. Bagi KH. Muslih Abdurrahman, genealogi beliau merupakan perpaduan langka antara aura ningrat yang heroik dan kedalaman tradisi santri yang asketik.
Beliau hadir sebagai sosok yang mampu mendamaikan dialektika antara dimensi sufisme yang transenden dengan aktivisme sosial-politik yang emansipatoris, menjadikan beliau kompas moral bagi umat di tengah badai perubahan abad ke-20.
Arsitektur Nasab dan Fajar Kehidupan di Mranggen
Lahir di Desa Suburan, Mranggen, Demak, Jawa Tengah, pada tahun 1908 (meski terdapat diskusi sejarah yang menyebutkan tahun 1914), Muslih kecil tumbuh dalam ekosistem spiritual yang sangat kental. Mranggen saat itu bukan sekadar wilayah pedesaan, melainkan satelit strategis dari pengaruh ruhani Kesultanan Demak. Sebagai putra KH. Abdurrahman—pendiri Pesantren Suburan yang didirikan pada 1901— Muslih mewarisi beban sejarah yang luhur.
Analisis sosiokultural terhadap silsilah beliau menunjukkan perpaduan otoritas yang luar biasa. Dari garis ayah, beliau bersambung kepada Sunan Kalijaga, yang puncaknya merujuk pada Ronggolawe (Adipati Tuban I) atau Syeikh Al-Jali, keturunan Sayyidina Abbas (paman Rasulullah SAW) dari Baghdad.
Sementara dari garis ibu, Hj. Shofiyyah, beliau mewarisi darah Sunan Ampel melalui Ratu Kalinyamat, srikandi tangguh dari Kesultanan Demak. Karakterisasi darah ningrat-santri ini membentuk identitas awal beliau sebagai calon pemimpin yang memiliki wibawa aristokratis sekaligus kerendahan hati seorang zahid.
Perpaduan darah ini tidak hanya memberi legitimasi sosial, tetapi juga menjadi fondasi psikologis bagi beliau untuk memulai rihlah ilmiah yang panjang guna menyempurnakan amanah nasabnya.
Transformasi Intelektual di Pusat-Pusat Keunggulan
KH. Muslih Abdurrahman adalah pengejawantahan dari tradisi “santri kelana”, sebuah mobilitas geografis yang berbanding lurus dengan penguasaan literatur klasik (kitab kuning). Perjalanan intelektualnya dimulai di bawah asuhan ayahandanya sendiri, kemudian berlanjut ke Kiai Ibrahim Yahya di Brumbung, hingga pengembaraan ke Mangkang Kulon, Sarang (berguru pada KH. Zubair Dahlan), dan Lasem (KH. Ma’shum).
Fase penting yang mengukuhkan otoritas keilmuannya terjadi di Pesantren Tremas, Pacitan, di bawah bimbingan KH. Dimyati. Di sinilah terjadi fenomena ‘karamah ilmiah’: KH. Muslih diminta oleh KH. Ali Maksum Krapyak—yang saat itu menjabat kepala madrasah dan merupakan kiai sebayanya—untuk mengajarkan Alfiyyah Ibnu Malik.
Muslih muda hanya membutuhkan waktu tujuh hari untuk melakukan telaah mendalam hingga mampu menguasai kitab tersebut secara sempurna sebelum mulai mengajar. Pengakuan dari kiai sekaliber KH. Ali Maksum menunjukkan bahwa kedalaman ilmu Muslih telah diakui oleh lingkaran elit ulama saat itu.
Transformasi ini disempurnakan melalui fase internasional di Haramain. Berguru pada Syekh Yasin al-Fadani dan Sayyid Abbas al-Alawi, beliau menyerap spektrum keilmuan yang luas, mulai dari fikih, ilmu alat, hingga tasawuf. Pengaruh sistem klasikal Tremas yang sangat rapi kelak menjadi visi utama beliau dalam mengarsiteki sistem pendidikan di tanah air, menyatukan kedalaman tradisional dengan ketertiban institusional.
Kiprah dalam Revolusi Fisik dan Ketahanan Nasional
Dalam sejarah perjuangan bangsa, KH. Muslih merekonstruksi konsep “Jihad fi Sabilillah” melampaui batas-batas mimbar. Beliau adalah komandan yang menyatukan peran pemimpin ruhani dengan strategi militer. Sebagai bagian dari Laskar Hizbullah, beliau menjalani pelatihan fisik di Cibarusa bersama tokoh besar seperti KH. Abdullah Abbas. Di medan pertempuran Semarang Tenggara, beliau memimpin pasukan Sabilillah dengan keberanian yang sering disandingkan oleh para sezamannya dengan heroisme Sentot Ali Basya.
Kiprah beliau tidak berhenti pada kekuatan fisik, melainkan menyentuh dimensi metafisik sebagai “bekal spiritual” pejuang. Saat peristiwa G30S/PKI tahun 1965, ketenangan batin santri dijaga melalui ijazah amalan khusus. Beliau menginstruksikan para santri untuk menuliskan lafaz “Allah” di telapak tangan sambil terus digenggam, serta membaca Maliki Yaumiddin tiga kali tanpa bernapas seraya menghentakkan kaki ke tanah untuk menggetarkan musuh.
Keputusan beliau untuk kembali ke pesantren pasca-kemerdekaan daripada mengejar karier militer formal adalah sebuah pilihan filosofis; beliau menyadari bahwa kemerdekaan fisik hanyalah pintu masuk, sementara pembangunan sumber daya manusia dan ketahanan moral adalah perjuangan abadi yang tak boleh ditinggalkan.
Futuhiyyah dan Arsitektur Tarekat Nusantara
Pasca-kemerdekaan, KH. Muslih memimpin Pesantren Futuhiyyah dengan strategi yang revolusioner. Keputusan ini dipicu oleh pengalaman pahit peristiwa “Bedol Madrasah” pada 1927 dan 1929, di mana NU Cabang Mranggen mengambil alih pengelolaan madrasahnya. Hal ini mendorong beliau untuk membangun independensi melalui “Model Trisula”—penggabungan pendidikan formal (klasikal), tradisional (salaf), dan tarekat. Model ini diilhami oleh sistem Tremas yang progresif namun tetap berakar pada tradisi.
Di panggung organisasional, KH. Muslih merupakan arsitek utama gerakan sufi Nusantara. Beliau adalah pendiri dan Rais Aam pertama JATMAN (Jam’iyyah Ahlith Thariqah al-Mu’tabarah an-Nahdliyyah). Momen paling bersejarah terjadi pada Musyawarah Kubro 1973 di Futuhiyyah, yang menjadi titik balik bergabungnya organisasi tarekat di bawah naungan resmi Nahdlatul Ulama dengan penambahan nama “An-Nahdliyyah”.
Kepemimpinan beliau berhasil mengubah gerakan sufi yang sebelumnya bersifat individual dan tercerai-berai menjadi kekuatan sosial-politik yang terorganisir. Pengaruh beliau menjangkau tokoh-tokoh besar; Gus Dur dan KH. Miftahul Akhyar adalah di antara sekian banyak santri yang mengecap keberkahan didikan beliau.
Bedah Karya dan Metodologi Literasi
Sebagai seorang ulama produktif, KH. Muslih menjadikan pena sebagai ekstensi dakwahnya. Beliau menggunakan bahasa Jawa Pegon dalam banyak karyanya untuk mendemokratisasi pengetahuan agama agar dapat diakses oleh masyarakat awam (laypeople). Karya-karya utamanya menunjukkan ketelitian luar biasa dan rujukan pada data kredibel seperti Shahih Bukhari dan Tafsir Showi.
Di antara karyanya yang paling legendaris adalah An-Nur Al-Burhany, sebuah kitab manaqib Syekh Abdul Qadir al-Jailani yang menjadi standar literatur manaqib di Asia Tenggara. Namun, sejarah mencatat sebuah “tragedi intelektual” ketika naskah jilid ke-3 dan ke-4 dari kitab ini hilang diterjang banjir di percetakan Toha Putra, menyisakan kehilangan besar bagi khazanah literasi sufi.
Karya lain seperti Al-Futuhat Ar-Rabbaniyah menjadi kompas utama bagi pengikut Tarekat Qodiriyah wa Naqsyabandiyah (TQN), sementara Sullamush Shibyan (nahwu) dan Tsamrotul Qulub (doa/wirid) terus dibaca secara kolektif hingga hari ini. Beliau sering menggunakan gaya penulisan syair (nadhom) karena meyakini bahwa bahasa adalah “rumah keberadaan” yang mampu menggerakkan jiwa dan mengubah takdir kehidupan.
Akhir Hayat di Tanah Suci
Wafat di Haramain merupakan puncak penerimaan spiritual bagi seorang ulama. Menjelang akhir hayatnya, KH. Muslih menerima sebuah premonition atau kabar gembira yang beliau ceritakan sebagai pesan dari Malaikat Jibril bahwa usianya hanya tersisa satu tahun lagi. Waktu tersebut beliau gunakan secara sistematis untuk “pamit” dan memperkuat jaringan organisasi sufi.
Beliau wafat pada 10 Syawal 1401 H (1981 M) di Jeddah setelah menunaikan ibadah umrah. Keberangkatan beliau ke haribaan Sang Pencipta disimbolkan melalui senandung puitis “Mali Wala Ahmadu Allaha”, sebuah syair kerinduan yang mendalam. Beliau dimakamkan di Jannatul Ma’la, Makkah, bersandingan dengan Sayyidah Asma binti Abu Bakar dan sangat dekat dengan makam Sayyidah Khadijah al-Kubra.
Pemakaman di Ma’la bukan sekadar urusan lokasi geografis, melainkan simbol “Pelangi Spiritual” dan “Dermaga Harapan” bagi seorang hamba yang telah menuntaskan tugasnya di bumi. Wasiat terakhir beliau tentang pentingnya ketekunan muthala’ah (mempelajari kitab secara mendalam) agar pikiran cepat “ter-futuh” tetap menjadi resep suci bagi para santri.
KH. Muslih Abdurrahman bukan sekadar tokoh dalam buku sejarah; beliau adalah kompas spiritual dan intelektual yang warisannya tetap bercahaya, memastikan bahwa integritas santri dan kedaulatan bangsa akan selalu berjalan beriringan.







