SUARAYASMINA.COM – Dalam bentang sejarah peradaban Islam di Nusantara abad ke-20, KH. Bisri Mustofa (1915–1977) muncul sebagai representasi sempurna dari apa yang sering disebut sebagai “Kiai Komplet”. Beliau bukan sekadar ulama tradisional yang terkurung dalam tembok pesantren, melainkan seorang arsitek intelektual yang mampu mensintesiskan kedalaman literasi klasik dengan dinamika kebangsaan yang transformatif.
Kecerdasannya yang multi-dimensi—sebagai kiai, mubalig, politisi, dan sastrawan—menjadikannya aset strategis bagi Nahdlatul Ulama (NU) dalam menavigasi transisi krusial dari era kolonial menuju Indonesia berdaulat.
Signifikansi KH. Bisri Mustofa terletak pada keberhasilannya melakukan pribumisasi Islam (indigenization of Islam) melalui jalur literasi dan orasi. Julukan Faridu Ashrihi (sosok luar biasa pada zamannya) yang disematkan oleh KH. Sahal Mahfudh mencerminkan bagaimana beliau mampu berdiri di atas semua golongan: menjadi rujukan spiritual para santri, sekaligus menjadi kawan bicara yang disegani oleh para tokoh negara.
KH. Bisri Mustofa adalah jembatan yang menghubungkan tradisi pesantren yang cenderung rigid dengan modernitas politik yang cair, sebuah warisan yang tetap menjadi kompas bagi moderasi beragama di Indonesia hingga saat ini. Akar dari kejeniusan ini bermula dari tanah Rembang, di mana identitas dirinya ditempa melalui tantangan keluarga yang mendalam.
Akar dan Masa Kecil: Dari Masyhadi menjadi Bisri
KH. Bisri Mustofa lahir pada tahun 1915 di Desa Sawahan, Gang Palen, Rembang, Jawa Tengah. Terlahir dengan nama Masyhadi, beliau merupakan putra pertama dari pasangan Haji Zainal Mustofa dan Hj. Khatijah. Sang ayah, yang juga dikenal dengan nama Djaja Ratiban atau Djojo Mustopo, adalah seorang pedagang kaya dan hartawan yang dermawan. Meski bukan kiai formal, H. Zainal memiliki kecintaan luar biasa terhadap ulama dan pendidikan agama, sebuah nilai yang diwariskan kuat kepada Masyhadi.
Titik balik sosiologis kehidupan keluarga ini terjadi pada tahun 1923. Saat sedang menunaikan ibadah haji, H. Zainal Mustofa wafat di Jeddah pada usia 63 tahun. Peristiwa ini bukan hanya pukulan ekonomi bagi keluarga, tetapi juga memutus hubungan fisik langsung dengan “sumber” spiritual di tanah suci bagi Masyhadi yang saat itu masih belia.
Pasca wafatnya sang ayah dan kepulangan dari haji, Masyhadi berganti nama menjadi Bisri Mustofa. Pergantian nama ini bukan sekadar tradisi, melainkan sebuah ritual “maturasi” atau pendewasaan spiritual, menandai transformasi identitas dari seorang anak pedagang menjadi calon penjaga tradisi keulamaan.
Silsilah Keluarga KH. Bisri Mustofa
| Nama | Status | Keterangan |
| H. Zainal Mustofa (Djaja Ratiban) | Ayah | Pedagang kaya, dermawan, keturunan Mbah Sura (Sarang). |
| Hj. Khatijah | Ibu | Putri E. Zajjadi, keturunan Makassar. |
| H. Zuhdi | Kakak Tiri (Seayah) | Putra H. Zainal & Dakilah; Wali pendidikan Bisri. |
| Hj. Maskanah | Kakak Tiri (Seayah) | Putri H. Zainal & Dakilah; Istri Mukhtar. |
| Salamah (Aminah) | Adik Kandung | Anak kedua pasangan Zainal-Khatijah. |
| Misbach | Adik Kandung | Anak ketiga pasangan Zainal-Khatijah. |
| Ma’shum | Adik Kandung | Anak keempat pasangan Zainal-Khatijah. |
| Achmad | Saudara Tiri (Seibu) | Anak Hj. Khatijah dari pernikahan dengan Dalimin. |
| Tasmin | Saudara Tiri (Seibu) | Anak Hj. Khatijah dari pernikahan dengan Dalimin. |
Tantangan masa kecil di bawah bimbingan ketat kakak tirinya, Haji Zuhdi, membentuk karakter Bisri yang tangguh, mempersiapkannya untuk perjalanan panjang sebagai “Santri Kelana”.
Sintesis Pendidikan Formal dan Pesantren
Perjalanan intelektual KH. Bisri Mustofa mencerminkan ketegangan kultural sekaligus adaptasi cerdas antara sistem pendidikan Belanda dan disiplin pesantren. KH. Bisri Mustofa menyelesaikan pendidikan di sekolah dasar Jawa “Angka Loro” selama empat tahun. Beliau sempat mencicipi pendidikan di HIS (Hollandsch-Inlandsch School), namun atas instruksi Kiai Cholil Kasingan, pendaftaran tersebut dibatalkan.
Kiai Cholil memiliki kekhawatiran mendalam terhadap “watak penjajah” yang mungkin meresap melalui pendidikan kolonial. Ketakutan ini merupakan bentuk resistensi kebudayaan yang umum di kalangan ulama saat itu—sebuah upaya untuk menjaga kemandirian berpikir dari hegemoni mental pegawai pemerintah Hindia Belanda.
Bisri muda akhirnya kembali ke “Angka Loro” hingga tamat, sebelum akhirnya terjun sepenuhnya ke dunia pesantren. Beliau berkelana ke berbagai pusat keilmuan: Kasingan (Rembang), Kajen (Pati), Tebuireng (Jombang), Sarang, Kedunglo (Kediri), hingga Tremas (Pacitan).
Setelah menikah pada 1935, Bisri melanjutkan rihlah ilmiahnya ke Makkah (Haramain). Di sana, ia masuk ke dalam jaringan ulama Nusantara-Haramain yang prestisius:
- Tafsir dan Ushul Fiqh: Berguru kepada Syeikh Baqir al-Jukjawi (belajar kitab Lubbu al-Ushul dan Tafsir al-Kasysyaf) serta Sayid Alwi al-Maliki (Tafsir al-Jalalain).
- Hadis: Memperdalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim di bawah bimbingan Syeikh Umar Hamdan al-Maghribi, sang Muhadditsu al-Haramain.
- Gramatika dan Kaidah Fiqh: Belajar kepada Sayid Amin (Ibnu ‘Aqil), Syeikh Ali al-Maliki (Al-Asybah wa al-Nadha’ir), dan KH Abdullah Muhaimin al-Lasemi (Jam’u al-Jawami’). KH Abdullah Muhaimin adalah tokoh kunci yang mempererat sanad beliau dengan jaringan ulama Nusantara di Makkah.
- Musthalah Hadis: Belajar kitab Minhaj Dzawin Nadhar kepada Syeikh Hasan al-Masysyath.
Sintesis antara disiplin pesantren yang ketat dan pemahaman terhadap struktur modernitas membentuk pola pikir Bisri yang moderat namun berprinsip, sebuah modal utama dalam perjuangan nasionalisme.
Kiprah Perjuangan: Nasionalisme, Politik, dan “Singa Podium”
KH. Bisri Mustofa adalah prototipe kiai pejuang yang memandang kemerdekaan sebagai kewajiban religius. Keterlibatan fisiknya dalam Pertempuran 10 November 1945 di Surabaya tercatat sebagai momen heroik. Sebuah detail sejarah yang mengonfirmasi status elitnya di kalangan ulama adalah ketika Kiai Abbas Buntet, ulama kharismatik asal Cirebon, secara khusus singgah di Rembang untuk menjemput KH. Bisri Mustofa sebelum bersama-sama menuju medan laga di Surabaya.
Di panggung politik, beliau merupakan sosok diplomat ulung yang mampu bertransformasi melintasi tiga zaman. Kiprahnya dimulai pada masa Hindia Belanda dan pendudukan Jepang dengan memimpin NU Cabang Rembang serta aktif di Masyumi. Memasuki era Orde Lama, beliau terpilih menjadi anggota Konstituante hasil Pemilu 1955 dari Partai NU sekaligus menjabat sebagai anggota MPRS. Perjuangan politiknya terus berlanjut hingga masa Orde Baru melalui Partai Persatuan Pembangunan (PPP) yang mengantarkannya menjadi anggota DPR/MPR RI.
Julukan “Singa Podium” melekat karena orasinya yang mampu membius ribuan massa. Strategi komunikasinya unik: beliau menggunakan “gojlokan” (guyonan satire/teasing) untuk menyederhanakan isu-isu politik dan fikih yang berat bagi rakyat jelata. Melalui lelucon, beliau mampu menyampaikan kritik tajam kepada penguasa tanpa menimbulkan fitnah atau perpecahan sosial.
Diplomasi beliau berpijak pada etika fikih; beliau bisa beradu argumen dengan keras di parlemen, namun tetap menjaga silaturahmi personal yang hangat dengan lawan politiknya. Kemampuan verbal ini adalah hulu dari produktivitas literasinya yang luar biasa.
Tradisi Literasi: Produktivitas Tanpa Batas
Dalam sejarah literasi Islam Nusantara, KH. Bisri Mustofa berdiri tegak sebagai penulis yang sangat produktif. Jika catatan umum menyebutkan angka 54 judul, survei akademik terbaru (seperti dari UIN Walisongo) mencatat bahwa beliau menghasilkan hingga 176 judul, termasuk risalah-risalah kecil dan pamflet dakwah. Ambisi utamanya adalah mempermudah akses masyarakat awam terhadap sumber agama melalui bahasa Jawa Pegon.
Berikut 15 karya utama yang mewakili luasnya spektrum keilmuan beliau:
- Tafsir Al-Ibriz: Magnum opus tafsir Al-Qur’an 30 juz.
- Ngudi Susilo: Syair moral dan adab anak-anak, menekankan birrul walidain.
- Tarikh al-Auliya’: Sejarah para wali dan penyebaran Islam di tanah Jawa.
- Terjemah Bulughul Maram: Penjelasan hadis-hadis hukum praktis.
- Al-Arba’in al-Nawawiyah: Terjemah dan syarah hadis Arba’in (al-Azwad al-Mushthafawiyah).
- Washaya al-Aba li al-Abna: Pesan etika ayah kepada anak.
- Al-Baiquniyah: Kajian mendalam mengenai ilmu musthalah hadis.
- Syarh al-Ajrumiyah: Penjelasan sistematis gramatika Arab (Nahwu).
- Qawaidul Fiqhiyah: Rumusan kaidah-kaidah dalam ilmu fikih.
- Ahlus Sunnah Wal Jamaah: Risalah teologis mengenai paham Aswaja ala NU.
- Syiir Tombo Ati: Gubahan syair hikmah yang kini populer di masyarakat luas.
- Islam dan Keluarga Berencana: Respons keagamaan terhadap isu kependudukan.
- Manasik Haji: Panduan praktis ibadah haji (Rafiq al-Hujjaj).
- Khotbah Jumat: Kumpulan naskah khotbah yang menjadi rujukan para khatib desa.
- Rawihah al-Aqlam: Penjelasan mendalam atas kitab Aqidah al-Awam.
Karya-karya ini bukan sekadar buku, melainkan instrumen “Pribumisasi Islam” yang menjaga kurikulum pesantren di Jawa tetap kokoh hingga hari ini.
Kitab Tafsir Al-Ibriz Li Ma’rifah Tafsir Al-Qur’an Al-Karim, yang disusun antara tahun 1954 hingga 1960, adalah monumen intelektual KH Bisri Mustofa. Saat mufasir lain seringkali terhenti di tengah jalan karena beratnya beban menerjemahkan 30 juz, KH. Bisri Mustofa berhasil menuntaskannya dengan metodologi yang revolusioner.
Pertama; Metodologi: Menggunakan sistem makna gandul (terjemahan per kata di bawah teks Arab) untuk ketepatan gramatikal, didampingi terjemah bebas di samping halaman untuk konteks yang lebih luas.
Kedua; Corak Penafsiran: Sintesis antara aspek qiraat, fikih, dan tasawuf yang bersifat literal-referensial (mengutip ulama otoritatif tanpa perbandingan yang membingungkan).
Ketiga; Langgam “Blakasutha”: Penggunaan bahasa Jawa gaya “Pantura” (pesisir utara) yang lugas, terus terang, dan egaliter.
Nilai strategis Al-Ibriz terletak pada kemampuannya meruntuhkan “monopoli” makna yang selama ini terkunci dalam bahasa Arab tinggi. Dengan gaya blakasutha yang sesuai dengan psikologi masyarakat pesisir, Al-Qur’an menjadi terasa dekat, nyata, dan aplikatif bagi petani maupun pedagang pasar, menjadikannya terobosan dakwah kultural paling berhasil di masanya.
Akhir Hayat dan Warisan Intelektual
KH. Bisri Mustofa wafat pada tanggal 16 Februari 1977 di Rumah Sakit dr. Kariadi, Semarang (meskipun beberapa catatan menyebutkan tanggal 17 atau 24 Februari). Beliau mengembuskan napas terakhir di tengah puncak perjuangan politik—tepat seminggu sebelum masa kampanye Pemilu 1977 untuk PPP dimulai. Wafat “di atas pelana” perjuangan ini meneguhkan posisinya sebagai singa podium yang tidak pernah berhenti mengabdi.
Jenazah beliau dipulangkan ke Rembang dengan iringan duka ribuan santri dan penghormatan dari pejabat negara. Kepemimpinan Pesantren Raudlatut Thalibin dilanjutkan oleh putra-putranya, terutama KH. Cholil Bisri dan KH. Mustofa Bisri (Gus Mus). Warisan terbesar beliau adalah sebuah model keberagaman yang sehat: bagaimana tetap teguh memegang tradisi pesantren yang ortodoks, sembari tetap adaptif dan kritis terhadap arus modernitas dan politik nasional.
Keistimewaan beliau abadi dalam kesaksian Kiai Tholhah Mansoer: “KH. Bisri Mustofa kalau berbicara jelas, tepat, dan mengena sasaran. Jarang sekali seorang ulama pandai berpidato dan menjadi penulis seperti beliau ini. Kitab tafsirnya ditulis dengan menggunakan Bahasa Jawa yang enak, cocok menurut selera orang Jawa Tengah, jelas dan mudah dipahami.”



