SUARAYASMINA.COM – Di tengah pesatnya arus digitalisasi, dunia pendidikan dituntut untuk terus bergerak maju. Anak-anak yang saat ini belajar di Raudhatul Athfal (RA) merupakan bagian dari Generasi Alpha—generasi yang sejak lahir sudah bernapas dan tumbuh berdampingan dengan teknologi pintar. Menjawab tantangan zaman yang kian kompleks, lahirlah sebuah terobosan baru dalam pendidikan anak usia dini, yakni mengenalkan koding dan cara berpikir komputasional (computational thinking).
Namun, keraguan kerap muncul di tengah masyarakat: Apakah tepat mengenalkan koding untuk anak usia dini di RA? Bukankah itu malah bikin anak-anak makin ketagihan main HP?
Latar belakang itulah yang menginisiasi Pengurus Daerah Ikatan Guru Raudhatul Athfal (PD IGRA) Kabupaten Grobogan menggelar Workshop Pembelajaran Koding Raudhatul Athfal (RA). Kegiatan yang diikuti oleh 302 guru perwakilan RA/BA se-Kabupaten Grobogan ini berlangsung pada Rabu (23/9/2026) di Aula SMK Yasiha Gubug. Workshop menghadirkan Miftah Farid, kreator konten PAUD yang juga Juara 1 Tingkat Nasional Guru TK Transformatif 2025.
Dalam paparannya, narasumber yang akrab disapa Fafa atau Mas Fafa ini menegaskan bahwa kekhawatiran masyarakat itu wajar jika koding diartikan sebatas mengetik baris bahasa pemrograman kompleks atau menatap layar komputer (plugged coding). Padahal, integrasi koding pada jenjang anak usia dini lebih difokuskan pada taraf unplugged coding—yakni pembelajaran koding tanpa menggunakan perangkat elektronik berbasis komputer.
Bagi anak usia dini, koding sama sekali bukan tentang membuat aplikasi rumit, melainkan tentang melatih pola pikir. Pada dasarnya, kegiatan ini bertujuan menanamkan empat pilar pemikiran dasar secara alami. Pertama; anak dilatih melakukan dekomposisi dengan memecah masalah besar menjadi bagian-bagian kecil yang mudah dikerjakan, seperti saat membagi peran dalam permainan.

Kedua; anak diajak mengasah pengenalan pola melalui kesamaan bentuk, warna, atau urutan aktivitas harian—mulai dari menyusun manik-manik hingga mengingat langkah cuci tangan. Ketiga adalah abstraksi, yaitu melatih anak fokus pada inti informasi tanpa terdistraksi detail tak penting, seperti memahami arti warna rambu lalu lintas tanpa perlu memusingkan bentuk tiangnya.
“Akhirnya, semua ini bermuara pada algoritma, yakni kemampuan merancang langkah-langkah logis dan berurutan untuk mencapai sebuah tujuan, seperti mengikuti alur resep membuat jus atau menyelesaikan permainan labirin sederhana,” jelas Fafa.
Penerapan berpikir komputasional tersebut, menurut Fafa, tidak perlu membebankan kurikulum dengan membuat Tujuan Pembelajaran baru yang rumit. Pembelajaran koding justru diintegrasikan ke dalam kegiatan bermain kontekstual sehari-hari. Sebagai contoh, saat anak bermain menyusun balok, mengurutkan langkah-langkah berwudu, merancang alat rekayasa sederhana dari benda sekitar, atau menyelesaikan rintangan arah (panah kiri-kanan-maju).
Melalui pendekatan inquiry atau pembelajaran berbasis pertanyaan, guru hebat tidak sibuk menyuapi jawaban, melainkan memantik rasa ingin tahu anak lewat pertanyaan kritis: “Bagaimana caranya agar menara ini tidak mudah roboh?” atau “Langkah apa yang perlu kita ambil selanjutnya?”
Sinergi Catur Pendidikan
Sebelumnya Fafa menyampaikan bahwa keberhasilan menanamkan karakter dan logika berpikir pada anak usia dini sejatinya tidak bisa dibebankan kepada sekolah semata. Di sinilah pentingnya konsep Catur Pendidikan, yang menekankan sinergi harmonis antara empat lingkungan utama. Keluarga berperan sebagai fondasi utama dalam pembiasaan dan penanaman nilai kasih sayang, sementara sekolah (RA) hadir menyediakan wadah pembelajaran yang terstruktur dan terarah.
Di luar itu, masyarakat menjadi ruang interaksi sosial yang nyata, serta media dan teknologi berfungsi sebagai sarana literasi digital yang perlu dimanfaatkan secara bijak dan cerdas. Menurut Fafa, kelas yang hebat tidak pernah diukur dari seberapa mahal fasilitas yang dimiliki. Ruang belajar yang bermakna justru lahir dari keterbatasan yang diolah secara kreatif oleh guru yang adaptif serta penuh rasa ingin tahu.
Workshop yang berlangsung sehari tersebut turut dihadiri oleh Ketua PD IGRA Kabupaten Grobogan, Afandi, serta Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Grobogan, H. Fahrur Rozi, yang sekaligus menjadikan momen workshop ini sebagai ajang perpisahan karena telah purnatugas. Melalui kegiatan ini, Ketua Panitia Workshop, Muji Rahayu, berharap para guru RA di Kabupaten Grobogan mampu mengimplementasikan pembelajaran koding secara bijak, baik berbasis koding manual (unplugged) maupun digital di lembaga masing-masing.















