Suarayasmina.com – Kudus dikenal memiliki khazanah budaya yang sangat kaya. Selain dikenal sebagai Kota Kretek, Kudus juga terkenal dengan jenang sebagai oleh-oleh khasnya.

Selain itu, Kudus juga layak menyandang predikat sebagai Kota Wali karena di Kudus terdapat makam dan masjid peninggalan dua anggota Korps Dakwah Walisongo. Keduanya adalah Sunan Kudus dan Sunan Muria.

Salah satu strategi dakwah Sunan Kudus bahkan memengaruhi budaya kuliner Kudus hingga saat ini. Di awal mengembangkan syiar Islam, Sunan Kudus melarang umat Islam menyembelih sapi.

Hal ini bertujuan agar tidak melukai hati umat Hindu yang menjadi penduduk mayoritas ketika itu, yang meyakini sapi sebagai satwa sakral.

Strategi dakwah kultural itu menjadikan sejumlah kuliner Kudus jamak menggunakan daging kerbau dan bukan daging sapi, yang masih lazim dijumpai hingga saat ini. Di antaranya nasi pindang, soto, dan sate.

Kearifan lokal itu menjadikan kekhasan tersendiri bagi kuliner asli Kudus. Bila berkunjung ke kota ini, ada banyak kuliner khasnya yang musti dicoba. Di samping spesial, juga cita rasanya yang enak dan lezat.

Berikut ini 10 kuliner khas Kudus yang bisa dicicipi dan dieksplorasi saat berada di kota ini:

1. Lentog Tanjung

Lentog tanjung merupakan menu sarapan khas Kudus. Jadi, jangan heran bila kuliner ini hanya bisa dijumpai di pagi hari. Lentog atau lenthog berarti lontong, hanya ukurannya dibuat besar; dan tanjung merujuk pada tempat asal kuliner ini, yaitu Desa Tanjungkarang, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus.

Lentog tanjung bercita rasa gurih. Dalam seporsi lentog, lontong dipotong kecil-kecil, disajikan dengan sayur gori (nangka muda), lodeh tahu, dan sambal merah khas lentog tanjung, serta diberi taburan bawang goreng.

Bagi penyuka pedas, lembutnya potongan lentog yang dipadu dengan gurihnya sayur gori dan lodeh tahu, semakin nikmat bila disantap sembari menceplus cabai rawit rebus guna mendapatkan cita rasa pedas ekstra.

Pelengkap (lauk) menyantap lentog tanjung berupa aneka gorengan seperti bakwan, mendoan, kerupuk, dan juga aneka sate seperti sate usus dan sate telur puyuh.

Di Kudus, lentog tanjung dapat dijumpai setiap pagi mulai pukul 06.00 di warung-warung pinggir jalan di seantero Kudus. Bila ingin menjelajah rasa, bisa langsung njujug (menuju) ke Pusat Lentog Tanjung yang berada di Desa Tanjungkarang.

2. Opor Sunggingan

Menu khas Kudus yang disebut-sebut sebagai hidangan warisan Sunan Kudus ini termasuk kuliner yang cukup menggoda. Opor sunggingan berbeda dengan opor pada umumnya.

Dalam proses pembuatannya, ayam utuh dalam opor sunggingan dipisahkan dari kuahnya lalu dibakar atau dipanggang, kemudian disuguhkan dengan terlebih dahulu disuwir-suwir dengan cara digunting-gunting menggunakan gunting khusus, kemudian disiram dengan kuah opornya.

Seporsi opor sunggingan berisi nasi yang ditaruh dalam piring yang dilapisi daun pisang, diberi suwiran ayam panggang, ditambah sambal tahu goreng yang bercita rasa manis dan pedas, baru kemudian diguyur kuah opor dan satu lagi, dibubuhi kuah areh yang membuat cita rasa gurihnya makin kuat.

Makannya tidak pakai sendok logam, melainkan dengan suru alias sendok dari daun pisang. Bagi penyuka pedas level tinggi, disediakan cabai utuh rebus dalam wadah tersendiri sebagai ceplusan, sebagaimana yang disediakan para penjual lentog tanjung.

3. Soto Kudus

Di belantika persotoan Indonesia, soto khas Kudus ini cukup terkenal. Di Kudus banyak ditemui soto-soto Kudus yang legendaris seperti soto Pak Denuh, Pak Ramidjan, Bu Jatmi, Karso Karsi, H. Sulichan, dan lainnya.

Meski di berbagai kota seperti Jakarta, Jogjakarta, Semarang, Surabaya, dan kota-kota lainnya, juga banyak dijumpai soto kudus, tapi menikmati soto kudus langsung di kota asalnya tentu mencuatkan sensasi rasa tersendiri.

Soto kudus umumnya disajikan dalam sebuah mangkuk kecil, sudah tercampur dengan nasi, dengan isian meliputi potongan kecil daging kerbau atau suwiran daging ayam, taoge yang sudah direbus, dan daun bawang.

Kuahnya bercita rasa gurih dan berbumbu. Taburan irisan bawang putih yang digoreng garing menjadi ciri khas sekaligus memperkaya cita rasa dan aroma kuahnya.

Selain gurih, kuahnya juga bercita rasa segar. Warnanya sedikit lebih gelap atau kecoklatan berkat tambahan kecap yang sekaligus menyumbang cita rasa gurih manis.

Bila sedang berada di Kudus bisa menjelajah soto-soto legendaris yang telah disebut, cukup berbekal google maps.

4. Sate Kerbau

Sate kerbau khas Kudus tidak bisa dilepaskan dari strategi dakwah kultural yang dimainkan oleh Sunan Kudus yang melarang umat Islam menyembelih sapi sebagai satwa sakral umat Hindu agar tidak melukai hati mereka.

Tradisi tidak menyembelih sapi itu terpelihara hingga kini. Selain dalam bentuk soto kerbau (yang juga ada pilihan soto ayam), sate kerbau adalah kuliner khas Kudus yang paling banyak diburu karena cita rasa kelezatannya.

Jangan membayangkan potongan daging kerbau yang alot, karena sate kerbau khas Kudus tampil dalam tekstur daging yang lembut.

Dalam sate kerbau khas Kudus, daging kerbau disajikan dengan cara dicincang atau digiling halus terlebih dahulu dan dilekatkan pada sujen (tusuk sate) dengan bumbu kecap, srundeng, dan kacang.

Banyak penjual sate legendaris di Kudus, salah satunya Warung Sate Kerbau Min Jastro yang berada di Pertokoan Agus Salim Blok C, Jalan Agus Salim, Getas Pejaten, Jati, Kudus.

5. Garang Asem

Mungkin garang asem tidak spesifik kuliner khas Kudus, tapi di Kudus banyak dijumpai kuliner ini. Garang asem adalah sajian ayam kukus di dalam bungkus daun pisang dengan rasa asam, gurih, dan pedas.

Jadi nomenklatur garang asem merujuk pada proses pembuatan dan cita rasanya. Proses pembuatan garang asem adalah dikukus atau digarang dalam bungkus daun pisang, sedang cita rasanya adalah asem atau asam.

Bumbu utama dalam garang asem adalah cabai rawit, tomat hijau, dan belimbing wuluh. Meski berbumbu minimalis, namun garang asem terkenal kelezatannya.

Kuah kaldunya bercita rasa segar dan dominan asam dan pedas. Ayam yang dipakai biasanya ayam kampung sehingga menghasilkan kaldu yang lebih harum.

Dagingnya juga empuk karena proses pengukusan yang lama. Daun pisang yang dipakai membungkus garang asem menyumbangkan aroma khas yang otentik dan menambah cita rasa sedep.

Salah satu rumah makan di Kudus yang spesial menyediakan garang asem adalah RM. Gasasa (Garang Asem Sari Rasa) di Jalan AKBP Agil Kusumadya 20, Kudus.

6. Nasi Pecel Pakis

Kuliner nasi pecel boleh jadi ada di mana-mana, tapi Kudus punya nasi pecel khas tersendiri, yaitu nasi pecel pakis.

Nasi pecel pakis sebenarnya tak jauh berbeda dengan menu nasi pecel pada umumnya, hanya ada kondimen sayur pakis di dalamnya.

Daun pakis berasal dari tanaman paku yang biasa dikonsumsi sebagai sayuran. Tanaman ini banyak ditemukan di wilayah pegunungan, termasuk di pegunungan Muria.

Salah satu destinasi nasi pecel pakis yang populer di Kudus adalah “Warung Pecel Pakis dan Ayam Bakar Mbok Yanah” yang beralamat di Jalan Pesanggrahan 193, Colo, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus.

Warung Mbaok Yanah ini paling populer dan legendaris dan disebut-sebut sebagai pelopor kuliner pacel pakis yang menjadi ikon kuliner Desa Colo, sebuah desa yang terletak di lereng Muria dan secara administratif masuk wilayah Kecamatan Dawe,  Kabupaten Kudus.

7. Nasi Pindang

Nasi pindang ini salah satu kuliner ikonis Kudus selain soto dan sate. Jangan membayangkan nasi pindang itu sajian nasi dengan lauk ikan pindang.

Pindang di dalam nasi pindang merujuk pada kata dalam bahasa Jawa Kuno yang berarti “sup berempah”.

Di Kudus, nasi pindang adalah sajian berupa nasi dan daging kerbau yang disajikan dengan kuah pindang dan beberapa lembar daun melinjo atau daun so.

Sekilas nasi pindang mirip rawon khas Jawa Timur. Karena keduanya terdapat keluak, sehingga kuahnya menjadi berwarna gelap.

Perbedaannya, rawon tidak bersantan, sedangkan pindang bersantan. Rawon ada taogenya, nasi pindang ada daun melinjo atau daun so-nya.

Dalam nasi pindang, cita rasa keluak dan kemiri diimbangi dengan ketumbar dan jintan, sehingga kuah bersantannya bercita rasa sangat gurih.

Di Kudus banyak dijumpai warung makan yang menyediakan nasi pindang, di antaranya Kedai Mbak Mar yang setiap hari bisa dijumpai di Taman Bojana yang terletak di sebelah timur laut Simpang Tujuh (alun-alun) Kudus.

8. Nasi Jangkrik

Nasi jangkrik belum terlalu populer sebagai kuliner khas Kudus. Namun bagi masyarakat Kudus, nasi jangkrik sudah tidak asing di telinga. Menu ini diyakini sebagai menu favorit Sunan Kudus, juga sajian kegemaran Kiai Telingsing.

Awalnya nasi jangkrik muncul setahun sekali sebagai hidangan yang dibagikan secara gratis kepada masyarakat saat puncak tradisi buka luwur makam Sunan Kudus yang diadakan setiap tanggal 10 Muharram (Asyura).

Dari menu tradisi yang hanya setahun sekali, nasi jangkrik bertransformasi menjadi menu konsumsi yang muncul di warung makan setiap hari.

Di antaranya bisa dijumpai di Pusat Kuliner Warkit Reborn, lokasinya di pojok perempatan Sucen atau kurang lebih 450 meter sebelah utara Masjid Menara Kudus.

Dalam seporsi nasi jangkrik terdiri dari nasi putih, olahan daging kerbau, tahu, ada juga ditambah krecek, dengan kuah bersantan nyemek, dengan cita rasa gurih.

Cita rasa pedasnya berasal dari sambal yang biasa dijadikan pelengkap dalam nasi jangkrik. Penyajian nasi jangkrik mempertahankan kearifan ekologis dengan menggunakan bungkus atau lemek daun jati.

Selain memiliki makna kesederhanaan, daun jati juga menambah khas aroma nasi hingga secara psikologis dapat mendongkrak nafsu makan.

9. Lontong Tahu

Lontong tahu adalah kuliner khas Kudus yang populer. Biasanya hadir sore hingga malam hari. Lontong tahu khas Kudus bisa dijumpai di seantero Kudus sebagai street food yang banyak diburu.

Lontong tahu ini mirip tahu gimbal khas Semarang. Bedanya, lontong tahu khas Kudus tampil dalam tiga varian, yakni lontong tahu, lontong tahu telur, dan lontong tahu telur gimbal.

Di lontong tahu, atau juga ada yang menyebutnya lontong oser, lontongnya hanya diberi potongan tahu goreng, lalu disiram dengan saus kacang. Sementara lontong tahu telur, lontongnya diberi tahu potong yang digoreng dengan telur, lalu diguyur saus kacang.

Adapun lontong tahu telur gimbal adalah paket komplet, berupa lontong tahu telur diberi tambahan gimbal udang.

Selain itu, pada masing-masing varian ada bubuhan taoge, potongan kubis, daun seledri, dan bawang goreng. Bila tidak suka lontong, bisa diganti nasi, sehingga di Kudus menu ini juga populer dengan sebutan nasi tahu atau nasi tahu telur.

10. Bakso Kerbau

Bakso kerbau boleh jadi tidak terlalu populer sebagai kuliner khas Kudus. Tapi di Kudus dijumpai kuliner bakso kerbau, yaitu di Kedai Mbak Mar kompleks Taman Bojana, Kudus.

Bakso kerbau Mbak Mar berbeda dengan cita rasa bakso pada umumnya. Kuahnya sangat gurih, lebih mirip kuah sup yang diperkaya bumbu. Pelengkapnya juga lebih kaya dari bakso pada umumnya.

Dalam seporsi bakso kerbau komplet, ada tambahan potongan tahu, potongan daging, telur rebus, kubis, bihun, irisan tomat, dan taburan irisan seledri serta bawang goreng.

Bola-bola bakso kerbaunya juga bercita rasa lezat karena gurih dagingnya sangat terasa. Bila sedang berada di Kudus, bakso kerbau ini layak untuk dicicipi.

* * *

Selain 10 kuliner di atas, tentu ada sejumlah kuliner khas Kudus lainnya bila ditelisik dan digali lebih dalam. Mungkin kuliner itu sudah hilang ditelan zaman, atau masih eksis tapi perlu dipopulerkan.

Namun, ke-10 kuliner khas di atas telah merepresentasikan khazanah kuliner khas Kudus yang lezat dan kaya makna, warisan leluhur Kudus yang bertagline “Kota Empat Negeri”.

Facebook Comments Box

Penulis: Badiatul Muchlisin AstiEditor: M. A. Fathan

Advertisement

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.