SUARAYASMINA.COM – Dalam bentang sejarah pergerakan nasional, seringkali perhatian kita terpaku pada figur-figur besar di panggung nasional. Namun, harus diakui bahwa fondasi kemerdekaan Indonesia sesungguhnya ditopang oleh jejaring ulama kharismatik di daerah yang mampu mengintegrasikan spiritualitas pesantren dengan aksi heroisme fisik. KH. Hasan Anwar adalah representasi paripurna dari prototipe ulama-pejuang tersebut. Beliau bukan sekadar tokoh regional; beliau adalah elemen krusial yang menjembatani pusat komando ulama di Jombang dengan basis massa di Jawa Tengah.

Kedekatan emosional dan intelektual beliau dengan Hadratussyeikh KH. Hasyim Asy’ari memberikan pengaruh strategis yang besar bagi konsolidasi Nahdlatul Ulama (NU). KH. Hasan Anwar berperan sebagai jembatan komunikasi dan penggerak jaringan santri di wilayah Grobogan dan sekitarnya, memastikan bahwa instruksi perjuangan dari Tebuireng terserap sempurna hingga ke akar rumput. Mendokumentasikan manaqib (biografi) beliau bukan sekadar upaya nostalgia, melainkan restorasi sejarah terhadap peran penting kaum sarungan dalam menjaga kedaulatan bangsa melalui jam’iyyah NU.

Mempelajari jejak hidup beliau membawa kita kembali pada akar sosiologis seorang anak desa di Demak, di mana ketajaman intelektual dan keberanian fisik mulai ditempa.

Transformasi Sosok Sarman dari Dukuh Luwuk

Dilahirkan dalam rahim sosiologis masyarakat agraris Demak yang bersahaja pada tahun 1878, sosok yang kelak dikenal sebagai KH. Hasan Anwar lahir dengan nama kecil Sarman. Beliau merupakan putra kedua dari pasangan Syarif dan Salimah, keluarga petani kecil di Luwuk, Kecamatan Dempet, Kabupaten Demak. Kehidupan di akhir abad ke-19 yang sarat dengan tekanan hegemoni kolonial membentuk Sarman menjadi pribadi yang tangguh.

Dalam struktur keluarga, Sarman tumbuh bersama saudara-saudaranya, yakni: Sukir, Mataham, Sagirah, dan Sijah. Sebagai anak kedua, Sarman mewarisi ketangguhan mental kaum tani—sebuah “earthy tenacity” yang kelak bertransformasi menjadi resiliensi luar biasa dalam perang gerilya.

Ketekunan mengolah tanah dan keberanian menghadapi tantangan alam menjadi bekal spiritual awal sebelum beliau melangkah menuju fase “santri kelana”. Masa kecil yang dihabiskan di surau Desa Ngluwuk menjadi pintu gerbang bagi pengembaraan intelektualnya yang melintasi batas-batas geografis.

Keharuman nama KH. Hasan Anwar tetap terjaga melalui Yayasan Islam Hasan Anwar (YASIHA) Gubug yang mengelola masjid, pondok pesantren, dan lembaga pendidikan formal. (Suarayasmina.com/Badiatul Muchlisin Asti)

Menelusuri Sanad Keilmuan dari Nusantara hingga Makkah

Genealogi intelektual KH. Hasan Anwar merupakan rajutan sanad dari pusat-pusat transmisi keilmuan Islam paling otoritatif. Beliau menjalani tradisi “santri kelana” dengan dedikasi tinggi, menyerap ilmu dari para mafakhir (kebanggaan) ulama Nusantara hingga ke jantung kota suci Makkah.

Perjalanan intelektual beliau dimulai dengan peletakan dasar agama di Kudus dan Langitan, Tuban, di mana kapasitasnya mulai diakui hingga dipercaya membantu mengajar. Otoritas keagamaannya semakin kokoh saat menjadi santri generasi pertama sekaligus mitra kepercayaan KH. Hasyim Asy’ari di Tebuireng, yang kemudian dilanjutkan dengan pendalaman disiplin ilmu tingkat lanjut di bawah asuhan KH. Manshur di Pesantren Jesromo dan Cempaka.

Puncak pematangan spiritual dan keilmuannya terjadi selama delapan tahun masa khidmah kepada Syaikhona Kholil Bangkalan di Pesantren Kademangan. Melengkapi pengembaraan santrinya, beliau bertolak ke Tanah Suci untuk menimba ilmu selama tiga tahun di Masjidil Haram di bawah bimbingan ulama-ulama besar seperti Syekh Abdullah Sunkara, Syekh Ibrahim al-Huzaimi, dan Syekh Manshur. Kombinasi pendidikan pesantren Nusantara dan tradisi keilmuan Makkah ini menegaskan kedalaman otoritas keagamaan yang beliau miliki.

Keterhubungan beliau dengan dua poros utama spiritualitas Nusantara, yakni Mbah Kholil Bangkalan dan Mbah Hasyim Asy’ari, memberikan legitimasi moral yang tak tergoyahkan. Sanad yang tersambung langsung ke Makkah semakin memperkuat posisi beliau sebagai rujukan hukum Islam di wilayah Grobogan. Namun, di antara semua riwayat tersebut, perjumpaan beliau dengan Hadratussyeikh di Tebuireng-lah yang melahirkan peristiwa paling dramatis dalam catatan sejarah hidupnya.

Peristiwa Tebuireng dan Filosofi Nama “Hasan Anwar”

Pada masa awal rintisan Pesantren Tebuireng, gangguan dari kelompok perusuh dan preman lokal merupakan tantangan fisik yang nyata. KH. Hasyim Asy’ari seringkali menjadi sasaran hinaan, mulai dari pelemparan kotoran hingga penebaran duri di jalur menuju masjid. Sarman, yang memiliki keberanian alamiah, merasa marwah gurunya sedang diinjak-injak. Meski sempat dilarang oleh gurunya untuk membalas, takdir mempertemukannya dengan para perusuh pada suatu malam saat ia sedang membersihkan jalan yang akan dilalui Mbah Hasyim.

Dihadapi oleh 12 orang preman bersenjata, Sarman tak gentar. Memegang teguh prinsip perjuangan “Lawan jangan dicari, namun bila ketemu musuh jangan lari, beliau terlibat dalam perkelahian sengit yang bersimbah darah. Luar biasanya, meskipun dikepung oleh belasan musuh yang tewas di tangannya, Sarman sama sekali tidak terluka; darah yang membasahi tubuhnya hanyalah darah dari para musuhnya.

Insiden ini membuktikan bahwa Sarman bukan sekadar santri biasa, melainkan pelindung spiritual dan fisik bagi marwah pesantren. KH. Hasyim Asy’ari kemudian menganugerahi nama baru: Hasan Anwar, yang berarti “Lelaki baik yang bercahaya (dalam kegelapan)”. Sejak saat itu, beliau diangkat menjadi badal (pengganti) pengajar dan tangan kanan kepercayaan Hadratussyeikh, posisi strategis yang kemudian membawanya ke dalam pusaran sejarah pendirian organisasi Islam terbesar di dunia.

Kiprah Strategis dalam Jam’iyyah Nahdlatul Ulama

Peran KH. Hasan Anwar dalam kelahiran Nahdlatul Ulama pada 31 Januari 1926 sangat fundamental. Sebagai orang kepercayaan di Tebuireng, beliau terlibat aktif dalam konsolidasi para ulama sebelum deklarasi resmi dilakukan di Jombang. Beliau bukan sekadar saksi mata, melainkan aktor lapangan yang membantu KH. Hasyim Asy’ari merajut jaringan komunikasi antar-pesantren.

Pasca-berdirinya NU, beliau membawa amanah besar ke wilayah Jawa Tengah. KH. Hasan Anwar tercatat sebagai Muassis (pendiri) dan pelopor NU di Kabupaten Grobogan. Melalui wibawa pribadinya dan jaringan santri yang luas, beliau berhasil mengekspansi basis massa NU, menjadikan organisasi ini sebagai perisai ideologi Ahlussunnah wal Jama’ah di Grobogan. Kepemimpinan organisasional ini kelak menjadi embrio bagi kepemimpinan militer yang beliau emban saat fajar kemerdekaan menyingsing.

Setelah masa pengabdian di Jombang, KH. Hasan Anwar menetap di Gubug, Grobogan, mengikuti ibunya yang tinggal di sana. Di wilayah ini, beliau melanjutkan khidmahnya dengan membantu Kiai Jalil mengajar di mushala timur pasar. Ketekunan dan keluhuran budinya membuat Kiai Jalil mengambil beliau sebagai menantu. KH. Hasan Anwar tercatat memiliki tiga istri: Kalimah binti Kiai Marwi, Maemunah binti Kiai Samsuri, dan Muntamah binti Kiai Abdul Jalil.

Dari pernikahan ini, lahir sebelas putra-putri, termasuk Ahmad Syahid, yang di kemudian hari melanjutkan estafet perjuangan dakwah beliau. Di Gubug, model dakwah beliau mencerminkan prinsip Ukhuwwah Watoniyah (persaudaraan sebangsa).

Salah satu jasa besar beliau yang dikenang adalah perlindungannya terhadap komunitas Tionghoa di Gubug dari teror kawanan perampok. Tindakan ini membuktikan bahwa keberanian beliau adalah instrumen untuk menciptakan harmoni sosial dan rasa aman bagi semua warga tanpa memandang etnis. Namun, ketenangan dakwah tersebut terancam saat nafsu kolonial Belanda kembali membara pasca-proklamasi.

Menjadi Panglima Laskar Hizbullah dan Sabilillah

Eskalasi ketegangan pasca-1945 mengubah sosok ulama pendidik ini menjadi panglima perang yang disegani. KH. Hasan Anwar memimpin Laskar Hizbullah Kompi Zainuddin dan Laskar Sabilillah dengan komitmen total terhadap kedaulatan RI. Pilihan beliau untuk menempuh konfrontasi fisik—alih-alih diplomasi—berakar pada fiqh pertahanan negara (Darul Islam) yang memandang penindasan kolonial sebagai kemungkaran yang harus dilawan dengan tangan.

Pertempuran di Grobogan menyajikan kontras kekuatan militer yang sangat mencolok dan tidak seimbang. Di satu sisi, pasukan Belanda tampil dengan keunggulan teknologi perang modern yang mencakup unit infanteri mekanis, dukungan intelijen yang terorganisir rapi, serta persenjataan api yang mutakhir.

Sebaliknya, Laskar Santri menghadapi gempuran tersebut dengan keterbatasan logistik, hanya bersenjatakan bambu runcing dan senjata tajam. Namun, kekurangan material ini mereka kompensasi dengan keteguhan batin dan kekuatan spiritual melalui prosesi mujahadah yang menjadi fondasi perjuangan mereka.

Meski secara materiel tidak seimbang, KH. Hasan Anwar menerapkan perang asimetris yang efektif. Beliau mengatur siasat mundur ke wilayah Klambu untuk menghindari penangkapan Belanda yang sebelumnya mencoba membujuk beliau bekerja sama. Semangat jihad yang beliau kobarkan terbukti mampu melumpuhkan ratusan tentara Belanda dalam berbagai penyergapan gerilya, hingga tiba saatnya pertempuran yang menentukan di jantung kota Gubug.

Detik-Detik Syahadah di Pertempuran Pegadaian Gubug 

Puncak heroisme KH. Hasan Anwar terjadi pada Ahad Pon malam Senin Wage, tanggal 14 Dzulqo’dah 1365 H (bertepatan dengan 23-24 September 1947). Sebelum melancarkan serangan ke markas Belanda di Gedung Pegadaian Gubug, beliau memimpin pasukan melakukan spiritualitas perang berupa mujahadah dan salat Hajat di Desa Putat Nganten.

Serangan tersebut berlangsung sangat dahsyat. Meskipun laskar santri menghadapi hujan peluru dari senjata otomatis, keberanian yang dipimpin langsung oleh sang Kiai mengakibatkan kerugian besar di pihak musuh. Saksi sejarah, Modin Ghozali, mencatat bahwa jenazah tentara Belanda yang tewas harus diangkut menggunakan sekitar lima truk. Untuk menutupi rasa malu dan kerugian besar tersebut, Belanda menyamarkan truk-truk jenazah dengan tumpukan kursi dan meja, seolah-olah sedang mengangkut barang pindahan rumah tangga.

Dalam pertempuran yang tidak seimbang itu, KH. Hasan Anwar gugur sebagai Syuhada bersama 19 anggota laskarnya. Beliau wafat dengan menyunggingkan senyum di wajahnya—sebuah fenomena spiritual yang dalam budaya pesantren menjadi simbol kemenangan hakiki. Gugurnya sang Kiai tidak memadamkan api perlawanan, melainkan menjadi etos penggerak yang membakar semangat nasionalisme rakyat Grobogan untuk terus berjuang hingga Belanda benar-benar angkat kaki.

Warisan, Karomah, dan Relevansi Kontemporer

Hingga dekade ini, keharuman nama KH. Hasan Anwar tetap terjaga melalui Yayasan Islam Hasan Anwar (YASIHA) dan haul tahunan yang dihadiri ribuan jemaah. Di kalangan masyarakat Gubug, kewibawaan beliau juga diabadikan melalui cerita karomah, seperti legenda khodam harimau yang konon menyertai beliau saat menghadap gurunya, Syekh Ibrahim. Cerita ini, di luar aspek hagiografinya, merupakan bentuk penghormatan kolektif masyarakat terhadap integritas spiritual beliau yang melampaui manusia biasa.

Bagi generasi muda santri, sosok KH. Hasan Anwar mewariskan tiga nilai fundamental sebagai kompas kehidupan. Pertama adalah keikhlasan, yaitu ketulusan mutlak dalam mengabdi pada ilmu dan guru tanpa sedikit pun mengharap imbalan duniawi. Kedua, beliau menanamkan sifat berani yang merupakan keteguhan mental untuk membela kehormatan agama serta martabat bangsa dari segala bentuk penghinaan.

Terakhir, beliau mewariskan nilai cinta tanah air sebagai implementasi nyata dari prinsip Hubbul Wathan Minal Iman. Bagi beliau, mencintai dan membela tanah air bukan sekadar sikap nasionalisme, melainkan bagian integral dari perwujudan iman seorang santri. Ketiga nilai ini membentuk karakter pejuang yang kokoh secara spiritual namun tetap progresif dalam menjaga kedaulatan bangsa.

KH. Hasan Anwar adalah prototipe ideal ulama-pejuang yang berhasil menyatukan kesalehan individu dengan keberanian patriotik. Beliau membuktikan bahwa di bawah jubah keulamaan, tersimpan nyali seorang mujahid yang tak gentar menghadapi tirani demi tegaknya keadilan dan kedaulatan Indonesia.

Facebook Comments Box

Penulis: Badiatul Muchlisin AstiEditor: Redaksi Suarayasmina.com

Advertisement

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.