SUARAYASMINA.COM – KH. Dahlan Salim Zarkasyi merupakan figur sentral yang memicu revolusi pedagogis dalam sejarah pendidikan Islam di Nusantara. Kehadirannya menandai berakhirnya dominasi absolut metode mengeja tradisional (Baghdadiyah) yang cenderung lambat, menuju paradigma praktis-tartil yang lebih akseleratif. Transisi ini bukan sekadar perubahan teknis instruksional, melainkan sebuah titik balik strategis dalam manajemen Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) yang menjamin literasi Al-Qur’an anak-anak Indonesia mencapai standar mutu mujawwad murattal.

Signifikansi historis beliau sering dikaitkan dengan narasi spiritual yang kuat. Terdapat sebuah sinyalemen (dawuh) mutawatir dari ulama besar Semarang, KH. Sholeh Darat, yang menyatakan bahwa kelak akan muncul sosok dari Semarang yang bukan merupakan ahli Al-Qur’an formal, namun akan menjadi penyelamat pendidikan Al-Qur’an. Narasi ini secara konsisten disampaikan hingga ke cicit keturunan kelima Mbah Sholeh Darat, yakni Mbah Abdurrohman, yang memperkuat legitimasi spiritual KH. Dahlan sebagai jawaban atas kegelisahan literasi umat.

KH. Dahlan Salim Zarkasyi, yang lahir di Semarang pada 28 Agustus 1928, merupakan sosok ulama yang lahir dari kesahajaan pasangan Salim Zarkasyi, seorang tukang cukur, dan Siti Rehana, seorang penyedia jasa cuci pakaian. Meski tumbuh dalam jerat kemiskinan struktural, kondisi tersebut tidak mematahkan semangatnya, melainkan justru membentuk “pedagogi populis” yang kuat dalam dirinya.

Karakter ulet, sabar, dan gigih yang telah terasah sejak masa mudanya sebagai pengasong dan penggembala kambing menjadi modalitas utama bagi beliau dalam merumuskan metodologi dakwah serta pendidikan yang inklusif dan menyentuh masyarakat akar rumput.

Fondasi karakter inilah yang kemudian menopang pencarian intelektualnya yang intensif dan riset metodologisnya yang memakan waktu bertahun-tahun.

Akar Intelektual dan Autentisitas Sanad Keilmuan

Dalam tradisi intelektual Islam, konsep “Sanad” merupakan instrumen kritisisme historis yang menjamin otoritas dan autentisitas transmisi keilmuan. KH. Dahlan, meski menempuh jalur pendidikan formal yang terbatas (Sekolah Rakyat dan pesantren singkat), memiliki jejaring sanad yang sangat prestisius, menghubungkannya langsung pada otoritas tertinggi Al-Qur’an.

Beliau mengawali perjalanan intelektualnya di Sekolah Rakyat (SR) Suryodinatan, Yogyakarta, sebelum akhirnya mendalami kitab-kitab otoritatif seperti Tafsir Jalalain dan Fathul Mu’in di Pesantren Kauman. Kapasitas keilmuan KH. Dahlan Salim Zarkasyi ditempa langsung oleh guru-guru kaliber besar, di antaranya adalah KH. Asrar bin KH. Ridwan dari Kaliwungu yang melalui KH. Ahmad Badawi menyambungkan sanad beliau ke KH. Muhammad Munawwir Krapyak.

Selain itu, beliau juga berguru kepada KH. Abdullah Umar, Imam Besar Masjid Kauman Semarang sekaligus penulis kitab Mustholahut Tajwid, yang merupakan murid utama dari ulama kharismatik KH. Arwani Amin Kudus.

Struktur sanad keilmuan Al-Qur’an KH. Dahlan Salim Zarkasyi memiliki otoritas yang sangat kuat dan terjaga, di mana kredibilitas beliau tersambung secara vertikal hingga Rasulullah Saw melalui 31 mata rantai keilmuan. Silsilah emas ini bermula dari KH. Dahlan Salim Zarkasyi yang menerima ilmu dari KH. Abdullah Umar Semarang, yang kemudian bersambung kepada KH. Arwani Amin Kudus.

Jalur ini berlanjut kepada KH. Muhammad Munawwir Krapyak—sosok yang juga mengasuh KH. Dimyathi bin Syekh Mahfudz At-Turmusy—lalu ke KH. Abdul Karim bin Umar Al-Badri, hingga akhirnya bermuara pada Rasulullah Saw yang menerima wahyu langsung dari Malaikat Jibril As.

Analisis sosiologis menunjukkan bahwa pengakuan (tashih) dari KH. Arwani Al-Hafidz merupakan “stempel emas” bagi metode Qiroati. Validasi dari seorang Hafidz sekaliber KH. Arwani memungkinkan seorang KH. Dahlan—yang secara formal lebih dikenal sebagai pedagang—untuk memimpin revolusi metodologi di hadapan para ulama Al-Qur’an Nusantara.

Transformasi dari Kegelisahan Menjadi Inovasi

Pada era 1960-an, metode Baghdadiyah mendominasi pengajaran Al-Qur’an dengan sistem ejaannya yang kaku. KH. Dahlan melakukan dekonstruksi terhadap sistem ini setelah mengobservasi kegagalan pedagogis di mana santri hafal abjad namun gagap membaca kata. Beliau menemukan fenomena “salah kaprah” yang masif, seperti penggunaan huruf Arab untuk mengeja kata Indonesia (contoh: بِ سْ كُ دُ سْ untuk membaca “bis kudus”), yang menurutnya mengaburkan esensi tartil.

Genesis Qiroati lahir dari proses riset “Simpan-Sobek” (1963-1968). Uniknya, metodologi ini adalah hasil “riset pasar” yang autentik. Sebagai pedagang pernak-pernik keliling di Pasar Johar, KH. Dahlan memanfaatkan mobilitas profesionalnya untuk mengobservasi ratusan musala dan pesantren di berbagai kota. Jika sebuah susunan materi sulit diterima santri di lapangan, beliau langsung menyobeknya; jika efektif, beliau menyimpannya.

Beliau menegaskan adanya dimensi transendental dalam penyusunan jilid 4, 5, dan 6, yang diyakini sebagai Ilham (hidayah langsung), bukan sekadar olah nalar manusia. Hal inilah yang membuat Qiroati memiliki struktur yang dianggap “tidak lazim” namun sangat efektif secara psikologi belajar anak.

Perbandingan Paradigma Pedagogis

Aspek Perbandingan Metode Tradisional (Eja/Baghdadiyah) Metode Qiroati (Langsung Tartil)
Teknik Instruksional Mengeja (Alif fathah A, Ba fathah Ba) Membaca langsung sesuai bunyi (A, Ba)
Fokus Belajar Hafalan urutan abjad secara linier Penguasaan bunyi huruf ber-harokat secara acak
Implementasi Tajwid Diberikan secara teoritis di akhir Diterapkan secara praktis (Tartil) sejak awal
Efektivitas Rentan “salah kaprah” dan lambat Cepat, tepat, dan sesuai standar tajwid

 

Kodifikasi dan Manajemen Kualitas Pendidikan Al-Qur’an

KH. Dahlan memahami bahwa metode yang hebat akan hancur tanpa manajemen yang ketat. Oleh karena itu, Qiroati bukan sekadar buku, melainkan sistem penjaminan mutu (Quality Assurance). Beliau secara konsisten melakukan evolusi materi: dimulai dari 10 jilid pada 1963, direvisi menjadi 8 jilid pada 1985, hingga akhirnya disederhanakan menjadi 6 jilid yang digunakan hingga kini.

Dalam aspek manajemen kualitas, KH. Dahlan Salim Zarkasyi menerapkan struktur yang sangat sistematis, dimulai dari segmentasi materi yang dikelompokkan secara spesifik berdasarkan jenjang usia, mulai dari Pra-TK (1 jilid), TKQ/TPQ (6 jilid plus Ghorib/Tajwid), SD (4 jilid), SMP/SMA (3 jilid), hingga tingkat mahasiswa (2 jilid). Untuk menjaga integritas metodologinya, beliau memberlakukan kebijakan strategis berupa larangan memperjualbelikan buku secara bebas; akses buku hanya melalui koordinator resmi guna memastikan bahwa materi tersebut diajarkan oleh guru yang benar-benar berkompeten.

Selain itu, standardisasi mutu pengajar dijaga ketat melalui sistem Tashih atau sertifikasi ketartilan, serta forum Majelis Mu’allimil Qur’an (MMQ) yang berfungsi sebagai wadah tadarus rutin dan pengawasan kualitas bacaan para guru secara berkelanjutan.

Terminologi sistemik dalam metode Qiroati mencakup beberapa instrumen penting, di antaranya adalah IMTAS (Imtihan Akhir Santri) yang berfungsi sebagai ujian terstandardisasi nasional untuk menjamin mutu dan kompetensi lulusan secara merata. Selain itu, kurikulum ini juga mengintegrasikan materi Ghorib untuk membekali santri dengan pemahaman mendalam mengenai bacaan-bacaan Al-Qur’an yang tidak lazim atau menyimpang dari kaidah umum, serta materi Musykilat yang secara khusus membedah ayat-ayat dengan tingkat kesulitan tinggi yang memerlukan perhatian dan ketelitian khusus dalam pelafalannya.

Sumbangsih Strategis dan Warisan Abadi bagi Nusantara

KH. Dahlan Salim Zarkasyi, yang dijuluki sebagai “Bapak TK Al-Qur’an Indonesia”, telah meninggalkan warisan yang melampaui batas geografis Pulau Jawa. Melalui Pendidikan Guru Pengajar Al-Qur’an (PQPQ) Raudlatul Mujawwidin yang dirintis tahun 1986, beliau memicu pertumbuhan lembaga pendidikan Al-Qur’an non-formal secara eksponensial di seluruh Indonesia, bahkan memengaruhi pengembangan metode-metode setelahnya, termasuk metode Iqra’ oleh KH. As’ad Humam.

Sumbangsih intelektual beliau juga mencakup kontribusi signifikan dalam bidang pendidikan khusus, di antaranya melalui koreksi Al-Qur’an Braille di SLB berkat ketajaman ilmunya yang mampu mendeteksi kesalahan penulisan bagi tunanetra. Selain itu, beliau berhasil merintis metode pedagogi khusus bagi anak tunarungu melalui pengajaran privat yang memungkinkan mereka menguasai pembacaan huruf Arab gandeng hingga mencapai tingkatan jilid ketiga.

Wasiat etis KH. Dahlan Salim Zarkasyi mencakup dua dimensi utama yang menjadi pedoman bagi para pengembang metode ini. Pertama: sebuah wasiat strategis yang beliau sampaikan saat di rumah sakit bahwa Qiroati tidak boleh “disodor-sodorkan” (dinyok-nyokke); biarlah kualitas yang membuktikan dirinya sendiri, sehingga metode ini hanya digunakan oleh mereka yang berkomitmen mengikuti aturan main yang berlaku. Kedua; beliau menetapkan tiga pilar etis bagi guru mengaji yang meliputi istikamah dalam melaksanakan salat Tahajud, senantiasa melakukan tadarus, serta mengajar dengan penuh keikhlasan.

KH. Dahlan wafat pada 20 Januari 2001 di Semarang. Namun, warisan intelektualnya terus hidup melalui puluhan ribu TPQ di Indonesia, Malaysia, hingga Singapura. Dedikasi seorang “pedagang Pasar Johar” ini telah secara permanen mengubah wajah pendidikan dasar Islam, memastikan bahwa setiap anak Muslim di Nusantara mampu membaca kalam Ilahi dengan tartil dan benar.

Facebook Comments Box

Penulis: Badiatul Muchlisin AstiEditor: Redaksi Suarayasmina.com

Advertisement

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.