SUARAYASMINA.COM — Matahari sedang terik-teriknya ketika sepeda motor yang kami kendarai melaju menyusuri jalan raya Godong–Purwodadi. Sesampainya di Masjid Baitul Ghofur, Desa Klampok, kami berbelok ke kanan memasuki gang desa.

Hari itu, tujuan kami adalah Dusun Kepoh, tempat tinggal Ahmad Basyir—seorang anak muda yang memilih jalan hidup sebagai praktisi pengobatan berbasis thibbun Nabawi. Hanya butuh waktu sekitar tiga hingga lima menit, kami tiba di sebuah rumah dengan banner yang menempel di dinding depan rumah bertuliskan “Rumah Bekam Al-Ashfa”.

Mas Basyir, begitu ia akrab disapa, menyambut kami dengan hangat dan sunggingan senyum khasnya. Kami dipersilakan duduk lesehan, dan tak butuh waktu lama, obrolan akrab pun langsung mengalir.

Pria bernama lengkap Ahmad Basyir Al-Amir ini baru saja genap berusia 40 tahun pada Juni lalu. Ditemani kopi hangat tanpa gula yang disuguhkan sang istri, Mas Basyir menceritakan awal mulanya menekuni dunia pengobatan Islami.

Dari Pesan Kiai hingga Jatuh Bangun Kehidupan

Semua bermula pada tahun 2004, saat ia menjadi santri di Pondok Pesantren Manba’ul Hikmah, Desa Mororejo, Kaliwungu, Kendal. Pengasuh pesantren tersebut, Dr. KH. Suyuthi Murtadhlo—yang akrab disapanya Abah, selalu menanamkan pesan mendalam kepada para santri; kelak ketika terjun ke masyarakat, seorang santri harus menguasai ilmu pengobatan agar bisa memberi manfaat nyata.

Advertisement

Pesan itu tertanam kuat di benak Ahmad Basyir. Namun, selepas lulus dari pesantren, ia harus berhadapan dengan kenyataan pahit. Karena belum menguasai skill pengobatan, ia belum bisa menjalankan dhawuh gurunya dan justru harus berjuang keras menata perekonomian terlebih dahulu.

Selepas menyelesaikan pendidikannya di pondok pesantren pada tahun 2011, Ahmad Basyir memutuskan untuk langsung menikah. Ia menyunting santriwati pujaan hatinya, Solikhah, yang berasal dari Randudongkal, Pemalang. Masa-masa awal pernikahan menjadi fase perjuangan baginya untuk menata perekonomian keluarga dengan bergonta-ganti pekerjaan—mulai dari berjualan buah-buahan di Pasar Godong hingga menjadi sales keripik pisang.

Di tengah perjuangan hidup tersebut, salah seorang ustaz dari pesantrennya menelepon dan menyarankannya untuk mengikuti pelatihan pengobatan Thibbun Nabawi. Ia pun menyambut ajakan tersebut dengan penuh antusias. Dari pelatihan itulah ia memperoleh bekal materi yang sangat berharga, seperti metode diagnosis penyakit melalui telapak tangan hingga analisis iris mata atau iridologi.

Tidak berhenti di situ, Ahmad Basyir terus memperdalam kemampuannya dengan mengikuti berbagai pelatihan lain, termasuk terapi bekam. “Sejak saat itulah saya mulai kemaki—alias makin percaya diri untuk terjun langsung sebagai seorang terapis,” kenangnya.

Ahmad Basyir memberikan pelayanan bekam kepada seorang pengunjung di Rumah Bekam Al-Ashfa. (Suarayasmina.com/Badiatul Muchlisin Asti)

Kesempatan untuk mempraktikkan ilmunya datang ketika seorang tetangganya jatuh sakit dalam waktu yang cukup lama. Meski telah berobat ke berbagai tempat, kondisi tetangganya tak kunjung membaik. Berbekal ilmu yang baru saja ia timba, Ahmad Basyir memberanikan diri menawarkan bantuan untuk berikhtiar mengobati.

“Alhamdulillah, setelah rutin diterapi dengan bekam, herbal, dan metode lainnya selama kurang lebih satu tahun, kondisi tetangga saya itu membaik secara bertahap,” ungkapnya.

Keberhasilan tersebut menjadi titik balik yang makin memantapkan langkah Ahmad Basyir untuk menekuni dunia pengobatan thibbun Nabawi.

Lahirnya Rumah Bekam Al-Ashfa

Sebagai wujud komitmennya, Ahmad Basyir mendirikan Rumah Bekam Al-Ashfa di kediamannya. Nama “Al-Ashfa” diambil dari nama anak pertamanya, yang terinspirasi dari lafaz yang termaktub dalam kitab Dalailul Khairat. Sebagai pengamal kitab tersebut, ia terkesan dengan kata Al-Ashfa yang berarti bersih, suci, dan bening.

Melalui nama yang sarat makna itu, Ahmad Basyir berharap Rumah Bekam Al-Ashfa dapat membawa manfaat nyata, khususnya dalam menyucikan jasmani dan ruhani masyarakat. “Tujuan saya menamai rumah bekam ini Al-Ashfa adalah dengan harapan dapat memberi manfaat nyata dalam membersihkan jasmani dan ruhani masyarakat: Bersih Jasadnya, Bening Hatinya, Suci Jiwanya,” jelasnya.

Guna menjaga pelayanan yang profesional dan sepenuh hati, Ahmad Basyir bergabung dengan Perkumpulan Bekam Indonesia (PBI)—yang saat itu dipimpin oleh dr. Zaidul Akbar, seorang pendakwah kesehatan sekaligus influencer Muslim yang sangat populer. Dari wadah tersebut, Ahmad Basyir juga telah mengantongi sertifikasi resmi sebagai praktisi bekam.

Meski bernama rumah bekam, layanan yang ditawarkan tidak terbatas pada terapi bekam saja. Ahmad Basyir mensinergikannya dengan metode lain seperti totok, gurah, serta peresepan herbal dan madu.

Baginya, pengobatan berbasis Thibbun Nabawi atau metode pengobatan warisan Nabi, sangat selaras dengan fitrah manusia. “Metode Thibbun Nabawi bekerja dengan cara mengembalikan fungsi dan kinerja alami tubuh,” ungkapnya.

Oleh karena itu, pengobatan ala Nabi ini sangat layak dijadikan pilihan, baik untuk tindakan pencegahan maupun terapi penyembuhan berbagai penyakit. “Bahkan, berbagai sunnah harian seperti adab buang air dengan berjongkok, tidur miring ke kanan, serta makan dan minum sambil duduk, dan lain-lain, semuanya terbukti selaras dengan prinsip kesehatan modern,” tandasnya.

Selain aktif di PBI, Ahmad Basyir juga tercatat sebagai pengurus wilayah Jam’iyyah Ruqyah Aswaja (JRA) Jawa Tengah pada Divisi Dana dan Usaha, yang membina serta mengurusi kebutuhan para praktisi bekam dan ruqyah se-Jawa Tengah.

Masyarakat yang membutuhkan layanan pengobatan berbasis Thibbun Nabawi dapat datang langsung ke Rumah Bekam Al-Ashfa di Dusun Kepoh, Desa Klampok, Kecamatan Godong, Kabupaten Grobogan. Layanan dibuka dengan reservasi terlebih dahulu via WhatsApp di nomor 0895-3610-98953, atau dapat juga memanfaatkan layanan kunjungan ke rumah (home care).

Penulis: Badiatul Muchlisin AstiEditor: Redaksi Suarayasmina.com

Advertisement

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.