suarayasmina.com – Keterbatasan tak menyurutkan sosok yang satu ini menuntut ilmu hingga bisa menjadi uswah bagi kaum tuna netra Muslim lainnya. H. Ahmad Basri Nur Sikumbang tercatat sebagai seorang tuna netra pertama di Indonesia yang berhasil merah gelar doktor.

Dia mampu melampaui kesulitan hidupnya karena yakin dengan kebesaran Allah. Di saat matanya tak bisa melihat, Allah mudahkan sisi yang lain hingga prestasi akademik itu mampu diraihnya.

Ayah enam orang anak ini tak pernah menyangka jika ujian kebutaan menimpa dirinya. Awalnya dia terlahir normal dan bisa melihat. Namun takdir Allah berkata lain. Saat terjadi Agresi Milter Belanda II, keluarga pria kelahiran Kabanjahe, Kabupaten Karo, Sumatra Utara, 6 April 1948 itu, terpaksa harus hijrah ke Padang Pariaman.

Ujian Hidup dan Motivasi Ayah

Saat di pengungsian, Ahmad Basri menderita penyakit cacar (campak). Penyakit yang dideritanya itu sembuh, tetapi matanya terpalut lemak, hingga tak bisa melihat secara permanen. Setelah itu kedua orangtuanya bercerai.

“Larut dalam kesedihan tak ada gunanya. Saya mesti bangkit, karena saya pikir kehidupan saya masih panjang,” terangnya mengenang masa lalunya.

Dia pun semakin bersemangat karena sang ayah selalu memberikan motivasi untuknya. Sang ayah berikhtiar melakukan pengobatan matanya di Rumah Sakit Mata Dr. YAP Yogyakarta, tetapi hasilnya nihil.

Sesuai janji, maka Ahmad Basri akan disekolahkan di sekolah khusus tuna netra di Kota Bandung. Keinginan itu terwujud pada sekitar tahun 1963. Ahmad Basri diterima di Rumah Buta, sekarang dikenal sebagai Sentra Wyata Guna, dan diberi pelatihan membuat kerajinan.

Sang ayah tak tega meninggalkannya, namun dia meminta ayahnya pergi agar dirinya bisa mandiri. Biarpun tuna netra, dia yakin bisa bertahan hidup dan berpendidikan tinggi.

“Allah berikan takdir tak bisa melihat, namun Allah tentu akan memberikan jalan hidup terbaik bagi hidup saya. Karena di balik kesulitan, tentu selalu ada kemudahan,” ujar pria yang pernah menjabat Ketua Ikatan Tuna Netra Muslim Indonesia (ITMI).

Menempuh Pendidikan

Ahmad Basri tak bisa langsung masuk SD. Dia diharuskan membuat keset setiap pagi. Pada sore hari, dia diikutsertakan pembinaan membaca dan menulis huruf braille dan malamnya ikut persamaan setara SD atau SR saat itu.

“Tiap pagi saya sering bolos, tidak mengikuti kegiatan pembuatan keset dan saya manfaatkan waktunya belajar membaca dan menulis huruf braille hingga bisa,” kisahnya.

Terlebih dia bertemu dengan Abdul Kadir dari Surabaya yang sama-sama tuna netra, hingga Ahmad Basri bisa mempelajari pelajaran SMP seperti Bahasa Inggris, Matematika, Ilmu Ukur, dan pelajaran lainnya. Tahun 1964, Ahmad Basri dinyatakan lulus pendidikan SD yang ditempuhnya hanya satu tahun—umumnya dijalankan selama tujuh tahun.

Tahun 1966, Ahmad Basri menamatkan pendidikan SMP dan melanjutkan pendidikannya di SMA PGII, Jalan Panatayuda, Kota Bandung, dengan mengambil jurusan sosial karena jurusan paspal (sekarang IPA) menyulitkannya. Dia tamat SMA tahun 1969.

Setamat SMA, dia bersama Kadir yang tamat SPG pada tahun yang sama melanjutkan ke IKIP (sekarang UPI), mengambil jurusan Bahasa dan Sastra Inggris.

Ibadah Haji dan Ayah Wafat

Tahun 1970, Ahmad Basri dan 11 orang tuna netra, termasuk Kadir, diundang Raja Faisal menunaikan ibadah haji. “Semua itu atas undangan Allah dan saya tak menyangka bisa mendapatkan semua itu saat masih muda,” ucapannya penuh rasa syukur.

Ahmad Basri lulus menjadi sarjana muda dan membuat ayahnya bangga, sementara Kadir, kawannya, tak mampu menamatkan kuliahnya karena persoalan low vision yang menimpa matanya. Namun, di tengah perjuangannya, ternyata sang ayah pergi untuk selama-lamanya.

Sebelum meninggal, sang ayah pernah berpesan agar dia bisa melanglang buana ke seluruh dunia dan untuk itu dia harus bisa menjadi sarjana penuh. Untuk memenuhi pesan ayahnya, Ahmad Basri menjadi guru sukarelawan di SLBN A dan melanjutkan kuliah sekira 1975-1976.

“Seperti kata pepatah Arab, man jadda wa jada. Barangsiapa yang bersungguh-sungguh, tentu akan bisa dan itu yang memotivasi saya terus melanjutkan pendidikan,” tegasnya.

Bertemu Jodoh

Tahun 1976, Allah mempertemukan Ahmad Basri dengan jodohnya, seorang muslimah bernama Iin Nuraini, yang dipersuntingnya tepat pada 18 Januari 1976. Setahun kemudian, tahun 1977, dia diangkat menjadi PNS.

Dia ditunjuk menjadi Ketua Usaha Kesejahteraan Keluarga (UKK) dan atas ketekunannya, dia mendapatkan hadiah sebuah mobil Datsun Sena tahun 1981. Sekitar tahun 1998, dia yang aktif di organisasi Ikatan Tuna Netra Indonesia (IKATINDO) mengikuti kegiatan International Federation of the Blind (IFB) Asia Pasific Regional Convention. Setelahnya, dia sempat singgah di Bangkok, Thailand.

Tahun 1986, Ahmad Basri diutus kepala sekolah menghadiri Seminar dan Lokakarya Low Vision yang diselenggarakan Dewan Nasional Indonesia untuk Kesejahteraan Sosial bekerja sama dengan Cumberland of Health Science, Sydney, Australia.

Selama tiga bulan dia mengikuti pendidikan di tempat ini dan kemudian berkunjung ke Malaysia untuk menjadi pembicara di sebuah seminar tuna netra dengan menyampaikan makalah yang berjudul “Sport and Recreation For Blind in Indonesia.”

Doktor Pertama Kaum Tuna Netra

Dari situ, Ahmad Basri termotivasi melanjutkan pendidikan S2-nya. Dia diterima di Program Pengajaran Bahasa Fakultas Pasca Sarjana IKIP Bandung tahun 1988 dan diselesaikan pada tahun1992 serta berhak menyandang gelar M.Pd.

Kemudian tahun 1993, dia mengikuti program pendidikan S3 di tempat yang sama dan menamatkan program itu pada 3 Oktober 2001. Ketika itu, koran Kompas menobatkan Ahmad Basri sebagai Doktor Pertama di Indonesia dari kaum tuna netra.

“Tanggal 3 Oktober 2001 saya nyatakan sebagai kemerdekaan bagi kaum tuna netra untuk bisa mendapatkan pendidikan setinggi-tingginya di seluruh Indonesia,” tegasnya.

Dia sempat pula berkunjung ke Cina sebagai pembicara tuna netra dan bisa merasakan langsung Massage Hospital yang begitu menghargai kaum tuna netra karena mempekerjakan 27 dokter tuna netra. Begitu pula saat dia berkunjung ke Jepang dan bertemu Profesor Masage.

Dari sana Ahmad Basri dapat menyimpulkan bahwa profesi pijat-memijat bukan profesi rendahan, melainkan profesi yang patut dibanggakan. Dia pun sempat mengunjungi Groningen Belanda bersama sang isteri menghadiri Konferensi Low Vision Sedunia, serta beberapa waktu kemudian ia juga berkunjung ke Colombo, Srilanka, dan Kathmandu, Nepal, untuk mengikuti acara terkait persoalan tuna netra dunia.

Memperjuangkan Hak Tuna Netra

Sepanjang hidupnya, Ahmad Basri selalu berusaha memperjuangkan hak kaum tuna netra secara umum dan tuna netra Muslim agar bisa bekerja dan mendapatkan pendidikan yang tinggi. Bahkan dia sempat menjadi Kepala SLBN A Kota Cimahi (2001) yang dijalaninya sebagai bentuk kepeduliannya terhadap kaum yang tak bisa melihat.

Bahkan Ahmad Basri pernah dinobatkan sebagai kepala sekolah tuna netra pertama. “Saya ingin kaum tuna netra tidak berkecil hati, agar terus mewujudkan cita-citanya. Saya berkewajiban menyampaikan aspirasi kaum tuna netra kepada pemerintah agar diberikan hak yang sama,” tuturnya.

Perjuangan untuk mendapatkan kursi kepala sekolah bukan hal gampang dan itu dia tempuh dengan perjuangan keras, kesabaran, dan pantang menyerah.

Tahun 2009, pria yang terbilang kritis ini pernah mencalonkan diri untuk menjadi anggota DPRD Jawa Barat dari Partai Amanat Nasional (PAN). Namun, keberuntungan belum berpihak kepadanya. Meski demikian, dia tak berhenti berjuang guna membela kepentingan kaum tuna netra.

Saat itu, dirinya hanya mampu mengumpulkan 1.682 suara dari 75.000 suara yang dibutuhkan. Biar begitu, pada 2005 dan 2009, dia sempat didapuksebagai pembaca doa pada peringatan Hari Penyandang Cacat Nasional di depan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Saat itu sang presiden merestui dirinya menjadi motivator untuk kaum tuna netra dan cacat lainnya agar bisa hidup layak di negeri ini.

“Saya sangat bersyukur karena saya mendengar jika saat ini ada sekitar 10 – 20 doktor di belakang saya dan ini ditempuh dengan waktu yang tidak terlalu lama. Artinya, sudah banyak kaum tuna netra yang melek pendidikan dan saya merasa bahagia karena banyak yang bisa mengikuti jejak saya dalam dunia pendidikan,” pungkasnya.

Tentu, perjalanan hidup Dr. Ahmad Basri Nur Sikumbang, M.Pd. ini bisa menjadi ibrah dan inspirasi bagi kita semua selaku Muslim. Keterbatasan seharusnya dan sudah semestinya tidak menghalangi seorang Muslim menggapai sukses dan kebermanfaatan seluas-lusanya bagi orang lain.

Facebook Comments Box

Penulis: Deffy RuspiyandyEditor: Badiatul Muchlisin Asti

Advertisement

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.