suarayasmina.com – Meski memiliki kehidupan yang sederhana dan nyaris berada dalam keterbatasan ekonomi, namun tak menyurutkan aksinya berbagi dan peduli dengan anak-anak yang hidupnya kurang beruntung.

Imas Masitoh menjadi jawaban nyata bahwa berbuat baik tidak harus menunggu banyak harta. Dengan aksi nyata, akan datang pihak-pihak yang membantunya mewujudkan sebuah perjuangan mulia.

Banyak anak yatim piatu dan anak dhuafa yang terbantu olehnya. Tidak sedikit dari mereka dapat tumbuh dan berkembang secara baik berkat kepeduliannya. Tidak hanya mengawal pendidikannya, ia juga memperhatikan kesehatannya.

Imas, begitu ia disapa, tak peduli cemoohan banyak orang yang  menganggapnya sok pahlawan, karena keadaan ekonominya yang tak lebih harta dan saat itu hanya mengandalkan berdagang gorengan bersama suaminya.

“Saya selalu merasa kasihan jika melihat penderitaan orang lain, apalagi anak-anak, khususnya anak-anak yang ditinggalkan orangtuanya,” kata Imas membuka obrolan dengan Suarayasmina.com dalam sebuah kesempatan.

Imas tak sungkan meminta bantuan kepada siapa saja yang peduli kepada anak yatim piatu yang diasuhnya. Kini, telah berdiri Panti Yatim Piatu Roudotul Amanah yang berada di kawasan Gunung Leutik, Batujajar Timur, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat 40561.

“Saat ini, ibu sangat membutuhkan sekali karpet untuk di musala panti, agar anak-anak nyaman mengaji. Kasihan kalau tidak menggunakan karpet, mereka tentunya merasa kedinginan,” ungkapnya.

Ujian Hidup

Sebenarnya hidup Imas sendiri bukan tanpa ujian. Imas yang awalnya bekerja di pabrik, harus berhenti karena dijodohkan oleh orangtuanya dengan seorang pria. Demi membahagiakan orangtuanya, Imas menerima perjodohan itu.

Imas pun menikah dengan pria pilihan orangtuanya. Sang suami orang biasa, tetapi secara tulus Imas menerima kenyataan itu dan berusaha selalu taat kepadanya. Di dalam menjalankan biduk rumah tangga, ternyata cobaan hampir menghempas kehidupan pasangan suami isteri itu.

Anak pertama lahir, kemudian meninggal dunia. Sementara anak kedua lahir dalam keadaan lumpuh dan bisu, seminggu sekali harus berobat ke RSHS (RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung). Sedangkan anak ketiga dan keempat lahir secara normal dan sehat, sementara anak kelima lahir dengan cara caesar.

“Saat anak kelima inilah, dalam diri saya muncul keinginan untuk mengurus anak-anak yatim piatu dan juga anak dhuafa yang tidak beruntung,” terang wanita yang berasal dari Desa Cibungur ini.

Keinginan itu kelak terwujud dengan berdirinya Panti Asuhan Roudotul Amanah yang masih eksis hingga saat ini.

Imas sering merasa kasihan jika melihat anak yang ditinggalkan oleh ayahnya karena meninggal dunia, ditinggalkan karena menikah lagi, atau kabur karena tak bertanggung jawab, serta ditinggalkan karena tak sanggup membiayainya.

Melihat anak-anak seperti itu, hati Imas tergerak sehingga mengayunkan kepedulian kepada mereka. Bagi Imas, Allah adalah segalanya. Allah pasti tahu perbuatan baik hamba-Nya, hingga Imas tak merasa khawatir menghidupi mereka, karena mereka telah dijamin rezekinya  oleh Allah.

“Banyak hal tak terduga menyertai kehidupan saya, di mana ada saja jalan keluar yang didapatkannya saat mengurus anak-anak itu. Allah selalu mengabulkan doa-doa yang saya panjatkan di setiap kesempatan,” ujarnya.

Jalan Rezeki

Imas merasakan, Allah seprti selalu memberikan jawaban atas doa-doanya. Berawal dari membentuk grup anak-anak yang melantunkan lagu-lagu Islami. Qadarullah, grup itu diberi kesempatan tampil dalam sebuah acara di sebuah hotel di kawasan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, atas prakarsa seorang relawan bernama Wildan Awaludin.

Imas Masitoh saat tampil di acara “Hitam Putih” Trans7 yang dipandu Deddy Corbuzier.

Saat itu, Imas juga diberikan kesempatan menceritakan pengalamannya mengasuh anak yatim piatu dan anak duafa. Berkat ceritanya, banyak yang tersentuh dan kemudian secara spontan memberikan bantuan kepadanya, termasuk pihak hotel. Belasan wartawan yang hadir pada acara itu juga tertarik meliput aktivitas Imas.

Setelah kejadian itu, jalan rezeki semakin terbuka, hingga Imas berkesempatan diundang mengisi acara “Inspirasi  Jalanan” di TV One.  Kemudian, Imas juga tampil di TVRI, menjadikan kisah perjuangan Imas mengasuh anak-anak yatim piatu dan duafa semakin dikenal publik.

Selanjutnya Imas juga diundang di televisi lainnya, seperti CNN, Daai TV, Ini Talk Show NET TV, Kompas TV, Metro TV, dan puncaknya Imas bersama anak asuhnya tampil di acara “Hitam Putih” Trans7 yang dipandu host terkenal Deddy Corbuzier.

Dari tayangan ini, Imas semakin dikenal publik. Dukungan pun mengalir deras kepadanya. Bahkan penyanyi kenamaan Rossa pernah menggalang dana dan terkumpul hampir 50 juta yang langsung diserahkan ke Panti Asuhan Roudotul Amanah.

Awal Merintis

Sewaktu Imas memulai mengasuh anak-anak yatim piatu, keadaannya terbilang sangat sulit. Saat hidup baru merangkak dengan berjualan gorengan, tak diduga hadir anak yatim bernama Izal yang harus dibantunya.

Kemudian Imas dan suami dipertemukan dengan 7 anak yatim lagi, yang membuat Imas berjuang menyebar kencleng dan alhamdulillah ada rezeki yang bisa dibagi-bagi ke mereka. Tahun 2013, ayah Imas yang selama ini memorivasi dirinya meninggal dunia.

Imas tentu sangat sedih, tetapi Imas harus segera menghapus kesedihannya, karena setelah wafat ayahnya, ada 16 anak yatim piatu yang harus didiasuhnya.

“Saya yakin, semua itu adalah ketentuan Allah dan sudah pasti Allah pun tentu akan memberikan rezeki kepada mereka,” kenangnya tentang perjuangan yang dilakukannya saat itu.

Gedung Panti Asuhan Roudotul Amanah yang dikelola Imas Masitoh.

Nah, karena rumah sederhana yang ditempatinya sudah tak bisa menampung anak-anak yang semakin bertambah, Imas memutuskan ngontrak di rumah yang sederhana namun relatif lebih luas.

Imas sendiri yang mengasuh dan mendidik anak-anak itu sebaik mungkin seperti mengasuh dan mendidik anak kandungnya sendiri. Semua biaya diperoleh dari simpatisan dan donatur. Bahkan, untuk bisa memenuhi kebutuhan hidup, Imas beserta anak asuhnya yang sudah besar berkreasi membuat keset, lalu dipasarkan.

“Ya, selain untuk memenuhi kebutuhan panti, juga agar mereka bisa mandiri sebagai modal kehidupan mereka di kemudian hari,” ujar Imas.

Terserang Stroke

Di tengah semangat memperjuangkan kehidupan yang baik bagi anak-anak yatim piatu, sebuah ujian menerpa dirinya. Imas terserang stroke ringan dan sempat dirawat di rumah sakit. Melalui Wildan Awaludin dan juga Wardah, Imas dipertemukan dengan Rumah Amal Salman ITB yang membantu membiayai pengobatannya.

Meski dalam kondisi sakit, tak menyurutkannya berjuang mengurus anak asuhnya. Pada tahun 2016-2017, anak asuh yang harus diurus di asrama sejumlah 30 anak, sedang yang mesti disantuni tetapi tidak menetap di panti ada sekitar 100 anak.

“Mungkin saat itu saya terlalu banyak pikiran. Hikmahnya, Allah menyuruh saya beristirahat. Kendati demikian, rezeki untuk anak-anak yatim piatu dan anak dhuafa itu, terus mengalir deras. Alhamdulillah,” imbuhnya.

Kini, Imas Masitoh Resmiatin berobat rutin di RS Dustira Kota Cimahi. Imas tak mengeluhkan sakitnya di saat dirinya harus berjuang untuk anak-anak itu. Pengobatan dilakukan sejak tahun 2017 sampai sekarang.

Saat ini, di panti yang didirikannya, Imas mengurus anak asuh sejak yang paling kecil masih bayi, hingga yang paling besar sedang menempuh kuliah semester lima.

Tak terasa, kurang lebih 12 tahun Imas mengabdi di dunia pengasuhan anak yatim piatu dan anak duafa, sebuah dunia yang telah memberikan banyak hikmah yang begitu berarti bagi dirinya. “Kendati dalam perjalanannya banyak kendala yang harus saya hadapi, tetapi selalu Allah memudahkan urusannya,” cerita Imas.

Berangkat Umrah

Kini, dibantu relawan dan juga para donatur yang peduli, Imas tetap membagi cintanya. Berkat relawan pula, Imas Masitoh dan suaminya, Agus Suryana, berkesempatan menunaikan ibadah umrah sekira tahun 2018 yang diajukan melalui website pengumpul donasi.

Berkat perjuangan relawan pula, kini para anak yatim piatu dan anak duafa ini tinggal di gedung yang nyaman, yang pembangunannya menghabiskan dana sekitar 2 miliar, sumbangan dari para donatur yang peduli atas perjuangan Imas.

“Janji Allah tak pernah ingkar. Barangsiapa membela agama Allah, maka Allah akan mengokohkan kedudukannya,” pungkas wanita yang penuh kesederhanaan ini.

Imas Masitoh berkomitmen untuk terus berjuang mengumpulkan pundi-pundi pahala buat bekalnya kelak. Kendati masih banyak tugas yang diembannya, namun Imas tetap tersenyum manis, karena buah karyanya banyak memberi manfaat bagi orang lain, sebagaimana sebuah hadis “sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak memberi manfaat bagi orang lain”.

Pembaca yang berminat membantu dalam bentuk donasi ke Panti Asuhan Yatim Piatu Roudotul Amanah, bisa menghubungi nomor handphone 0878-2413-3921.

*Tulisan ini ditulis berdasarkan hasil wawancara dan sebagian diolah dari buku “Imas Masitoh, Sang Hati Emas Cibungur”, Eryandi Budiman, CV. Magma Insan Prima, Bandung, 2019.

Facebook Comments Box

Penulis: Deffy RuspiyandyEditor: Badiatul Muchlisin Asti

Advertisement

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.