Suarayasmina.com | Buya Hamka adalah salah seorang tokoh legendaris Indonesia. Namanya harum di panggung sejarah Nusantara. Dalam dirinya tercakup sosok ulama karismatik, pejuang kemerdekaan, dan sastrawan yang telah menorehkan sejumlah karya fenomenal.
Kisah dan Keteladanan Buya Hamka
Banyak inspirasi dan sinar keteladanan yang menyemburat dari pribadinya. Sebagian sudah banyak diketahui, namun sebagian lainnya masih banyak yang ‘tersembunyi’ alias belum banyak diketahui khalayak luas. Padahal sangat penting sebagai sumber motivasi dan inspirasi bagi masyarakat Indonesia.
Salah satu buku yang mengulas sosok Buya Hamka adalah buku berjudul Ayah…Kisah Buya Hamka yang ditulis oleh Irfan Hamka dan diterbitkan oleh Penerbit Republika. Buku ini bisa jadi jembatan yang akan menghubungkan pembaca mengenal lebih dekat sosok Buya Hamka.
Irfan Hamka sendiri adalah salah seorang anak kandung Buya Hamka. Sebagai anak, Irfan tentu sangat mengenal Buya Hamka. Setiap hari bertemu dan berinteraksi, tentu banyak kisah tentang Buya Hamka yang diketahui oleh Irfan, terutama kisah-kisah bersama Buya Hamka yang melibatkan dirinya.
Melalui buku ini, Irfan Hamka menuturkan dan menghimpun kisah-kisah tentang Buya Hamka dari sejak masa kecil, remaja, dewasa, berkeluarga, hingga meninggal dunia.
Baik Buya Hamka sebagai sosok ulama, pejuang, politisi, sastrawan, maupun sebagai ayah, suami, dan kepala rumah tangga. Irfan menuturkan semua kisah-kisah itu dengan bahasa yang ringan dan mengalir, sehingga mudah dicerna dan dipahami oleh pembaca dari latar belakang apapun.
Menyikapi Fitnah Saat Menjadi Ketua Umum MUI
Banyak inspirasi dan sisi-sisi keteladanan yang dapat dipetik dari sosok Buya Hamka. Di antaranya tentang sikap tegas, jiwa besar, dan pemaaf.
Sebagai contoh adalah saat Buya Hamka terpilih sebagai Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat yang pertama. Mengiringi keterpilihan Buya Hamka tersebut, berbagai fitnah terlontar yang ditujukan ke pribadi Buya Hamka. Bahkan di antara pemfitnah itu adalah seorang mubalig yang cukup dekat dengannya.
“Hamka bukan milik umat lagi. Dia telah menjual dirinya dengan uang satu miliar untuk dapat menduduki jabatan mulia itu. Dia telah menjadi orang istana.” Demikian salah satu bunyi fitnahan itu.
Saat MUI yang dipimpin oleh Buya Hamka mengeluarkan fatwa haramnya umat Islam mengikuti natal bersama, pemerintah keberatan dengan fatwa itu. Karena berseberangan dengan pemerintah, akhirnya Buya Hamka mengundurkan diri sebagai Ketua Umum MUI Pusat.
Sikap tegas Buya Hamka itu mendapat apresiasi dari banyak tokoh Islam. Mereka mengucapkan selamat, termasuk mubalig yang telah memfitnahnya. Mubalig itu meminta maaf kepada Buya Hamka atas sikapnya selama ini.
Apa tanggapan Buya Hamka? “Tidak ada masalah. Biasa, dalam perjuangan ini kita akan bertemu dengan hal-hal seperti itu. Hanya bagaimana kita menyikapinya”.
Menyikapi Tuduhan Plagiarisme
Contoh lainnya adalah saat Buya Hamka dituduh melakukan plagiarisme atas novel karyanya berjudul Tenggelamnya Kapal Van der Wijck. Tuduhan itu salah satunya dilansir oleh sebuah surat kabar harian ibu kota, Harian Bintang Timur.
Melalui lembaran Lentara yang diasuh oleh Pramoedya Ananta Toer, koran itu memuat dan mengulas tuduhan Buya Hamka mencuri karya seorang pujangga Prancis bernama Alvonso Care.
Berbulan-bulan tuduhan itu gencar diekspos, bahkan hingga menyerang pribadinya. Namun Buya Hamka menanggapi tuduhan itu dengan tenang. “Ayah sangat tenang sekali menyikapi semuanya,” tulis Irfan mengenai sikap ayahnya menghadapi tuduhan plagiarisme.
Sosok Pemaaf, Bukan Pendendam
Bertahun-tahun kemudian, suatu hari, Buya Hamka kedatangan sepasang tamu, seorang perempuan pribumi dan seorang laki-laki keturunan China. Rupanya perempuan itu adalah anak sulung Pramudya Ananta Toer bernama Astuti.
Astuti datang menemui Buya Hamka bersama calon suaminya bernama Daniel Setiawan, atas suruhan ayahnya, dengan maksud agar Buya Hamka berkenan menuntun Daniel masuk Islam sekaligus membimbingnya.
Tanpa keraguan, Buya Hamka langsung memenuhi permintaan itu tanpa menyinggung sama sekali bagaimana sikap Pramoedya Ananta Toer terhadapnya beberapa waktu lalu. Sebuah keanggunan sikap yang luar biasa hebat.
Menurut sastrawan Taufiq Ismail dalam kata pengantarnya di buku ini, peristiwa itu merupakan cara Pramoedya Ananta Toer meminta maaf kepada Buya Hamka atas sikapnya bertahun lalu.
“Walaupun Pram tidak eksplisit dalam hal ini meminta maaf kepada Buya Hamka terhadap apa yang telah dilakukannya bertahun-tahun dulu kepada beliau, tapi dengan kenyataan bahwa Pram menyuruh calon menantunya pergi belajar ke rumah Buya Hamka (bukan kepada ulama lain), saya membaca peristiwa ini sebagai ungkapan minta maaf dari Pram, secara tidak langsung, dengan gaya orang Jawa. Menurut saya ini indah sekali. Buya Hamka, sebagai seorang sufi, menangkap makna getaran ungkapan itu,” tulis Taufiq Ismail.
Masih ada banyak lagi kisah-kisah inspiratif penuh keteladanan yang bisa dibaca di buku karya Irfan Hamka. Buku karya Irfan Hamka ini penting dibaca tidak hanya sekedar agar bisa lebih dekat lagi mengenal sosok Buya Hamka, namun juga dalam rangka menyerap spirit keteladanan yang hebat dari ulama-sastrawan legendaris ini.












