suarayasmina.com – Dakwah adalah bagian terpenting dalam syiar Islam di atas dunia ini. Karenanya, dakwah akan sukses jika ditopang oleh dai yang benar-benar tulus menjalankan tugas dakwah secara konsisten dan berkomitmen, dalam kondisi apapun. Daud Gunawan adalah salah satu sosok dai yang begitu dekat dengan M. Natsir, salah satu tokoh pendiri Masyumi.

Perjuangan dakwahnya tak pernah surut, hingga tak mengherankan, di usia senja pun, ia masih tetap menjalankan tugas dakwahnya, kendati tidak seaktif dulu. Namun, ia tetap selalu memotivasi para kader dakwah usia muda untuk mampu berkontribusi di dunia dakwah.

Penulisan buku ini bertujuan memberi kontribusi kepada umat yang saat ini mulai kekurangan keteladanan figur dai yang low profile, namun gigih dalam berdakwah. Untuk memperkaya khazanah penulisannya, tim penulis musti menyambangi tiga daerah utama, yaitu Sumatera Selatan, DKI Jakarta, dan Jawa Barat, guna mewawancarai tokoh-tokoh penting yang menyertai tokoh pada buku biografi ini. Juga mencari literatur dan foto-foto jadul yang dibutuhkan untuk melengkapi isi buku ini.

Penulisan buku ini sendiri berjalan hampir dua tahun lamanya. Alasan penulisan buku ini adalah untuk memberikan pengetahuan dan wawasan bagi generasi muda Muslim agar bisa mengikuti jejak langkahnya, sehingga mampu menjalankan dakwah secara baik seperti tuntunan al-Qur’an dan dicontohkan oleh Rasulullah Saw.

“Saya kenal dekat dengan Ustad Daud Gunawan saat saya terlibat kegiatan dakwah di Masjid Istiqomah Kota Bandung. Ustad Daud Gunawan adalah sosok pribadi yang sangat komitmen dengan dunia dakwah,” kata Prof. Dr. KH Miftah Faridl, Ketua MUI Kota Bandung dan Ketua Pembina Yayasan Masjid Istiqomah Kota Bandung.

“Kang Daud dan saya bertemu dalam ide dan konsep, lalu dalam gerakan. Beberapa kesempatan saya bersamanya mengunjungi beberapa daerah untuk pencerahan dan kesadaran politik. Menurut saya, sebagai dai, Ustad Daud Gunawan itu termasuk mobile dan aktif membina umat, melawan kezaliman dalam amar makruf nahi mungkar, namun sosoknya supel, pandai bergaul dalam membangun bangsa serta ukhuwah sesama kaum Muslimin,” kata MS Ka’ban, Menteri Kehutanan 2004-2009.

Biografi dengan Gaya Sastrawi

Buku ini sendiri terbilang komplet karena memotret sosok sang dai dari berbagai aspek. Buku yang menggunakan gaya penulisan sastrawi berbentuk novel ini menyajikan perjalanan seorang manusia yang tadinya bukan siapa-siapa menjadi sosok yang dikenal publik.

Banyak orang yang mengenalnya sebagai dai sekaligus politisi Muslim. Namun, pada perjalanan dakwahnya, banyak kerikil tajam yang menyertainya. Pada zaman Orde Baru, Daud termasuk tokoh yang dibidik karena sikapnya yang kritis terhadap kebijakan pemerintah saat itu. Episode ini memberikan ruh tersendiri dalam perjalanan dakwahnya yang penting diketahui  generasi muda bahwa dakwah itu butuh persiapan mental yang kokoh. Karena dakwah tak semudah yang dipikirkan.

Sang ayah yang seorang tentara dan pengagum berat M Natsir, memberikan jalan tersendiri hingga Daud ditakdirkan bisa bertemu dengan tokoh pahlawan nasional yang penuh panutan itu. Di tanah kelahirannya, Daud hidup dalam keadaan sederhana dan lingkungan yang dianggap tidak bersahabat, karena terbilang daerah sangar, di mana kejahatan sering terjadi.

Daerah tersebut berada di Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan. Namun, dengan didikan agama yang baik dari kedua orangtuanya serta kakek buyutnya, menjadikan Daud tak terpengaruh dengan kondisi itu. Bahkan dengan modal itu, ia mampu belajar tentang Islam secara utuh dari orang yang memiliki ilmu dan pengetahuan Islam secara mendalam.

Bahkan karena diketahui daerah asalnya itu, untuk mendapatkan gadis pujaannya saja, suka tak suka dirinya dianggap orang yang tidak baik, hingga butuh perjuangan keras untuk bisa meluluhkan calon mertua saat itu.

Buku ini terdiri dari 5 bab. Bab pertama banyak memotret masa kecil Daud di Bumi Sriwijaya dan bercerita tentang bagaimana keluarga besarnya mampu mendidik dan menanamkan nilai-nilai Islam pada dirinya. Bab dua diulas tentang hijrah dirinya ke Jakarta dan akhirnya hijrah pula ke Bandung sampai bisa berkeluarga membentuk keluarga sakinah mawadah warahmah dengan kegiatan dakwah yang terus dilakukannya.

Bab tiga membahas kiprah Ustad Daud Gunawan menjalani kegiatan dakwahnya dengan segala romantika yang terjadi di dalamnya. Di sini tampak terlihat nyata sikap sebagai dai yang selalu memegang teguh kebenaran.

Bab empat menyoroti kiprahnya sebagai politisi Muslim dari Partai Bulan Bintang di DPRD Provinsi Jawa Barat. Selain disegani, ternyata Daud adalah sosok yang bersahabat dan penuh toleransi. Sedangkan bab lima berisi testimoni yang datang dari sahabat dan juga murid. Sementara bab enam, testimoni keluarga, dan pada akhir buku terdapat foto-foto aktivitasnya serta lampiran-lampiran yang mendukung kegiatan dakwahnya.

Dai Teladan

Menariknya, buku ini menghadirkan berbagai hikmah yang sangat berarti bagi pembaca. Sosok pembelajar yang ada pada dirinya merupakan suri teladan bagi generasi muda Muslim yang akan terjun pada dunia dakwah. Hidupnya tanpa neko-neko karena meyakini jika dakwah adalah titah Allah, maka ia menjalaninya penuh keyakinan hingga Allah tunjukkan jalan terbaik bagi hidupnya. Bukan saja berdakwah di wilayah perkotaan, namun ia lakukan pula ke pelosok-pelosok desa.

Perjalanan dakwahnya tanpa keluhan, hingga buahnya dapat dirasakan di kemudian hari. Bahkan sebagai dai kritis, ia pun merasakan pula bagaimana dirinya harus dikurung dalam penjara, namun hal tersebut tak menyurutkannya untuk berada di jalur dakwah yang telah menjadi pilihan hidupnya.

Bukan saja dikenal sebagai dai yang tangguh dalam segala medan, namun ustad yang satu ini adalah sosok orangtua yang penuh cinta untuk anak-anaknya. Bukan semata untuk anak biologis saja, namun hadir pula untuk anak-anak yang memilih di jalur dakwah. Pesan moral yang disampaikannya sangat jelas dan terarah. Sehingga tidak mengherankan jika putera-puterinya sendiri mengakui jika didikannya membekas di hati.

Sosoknya tegas dalam kebenaran, tetapi sikapnya yang mengedepankan akhlakul karimah ternyata merupakan sisi lain yang tak bisa dilepaskan dari dirinya. Tak mengherankan jika dikatakan, sosoknya merupakan orangtua yang sukses saat mendidik anak-anaknya, serta menjadi sosok yang disukai oleh siapapun.

Sisi Humanistik

Sisi humanistik Daud tak lupa dituliskan dalam buku ini. Banyak hal yang cukup menarik yang bisa menjadi ibrah bagi pembaca. Salah satu kisah yang paling menarik adalah bagaimana Ustad Daud Gunawan mesti berhadapan dengan calon menantu yang berbeda keyakinan. Dengan gaya dakwahnya yang khas dan penuh toleransi, akhirnya justru calon menantu—dengan pengetahuan dan pengalamannya, akhirnya memilih Islam sebagai agamanya.

Bukan itu saja, saat ia duduk di legislatif, di saat sidang seringkali berseberangan dan berani berbeda pandangan politiknya, namun di luar hal itu, Ustad Daud Gunawan dikenal santun dan bersahabat, sehingga siapa pun yang pernah berseberangan dengan dirinya tentu akan mengakui hal itu.

“Tahun 2004 saya dan Pak Daud Gunawan tergabung dalam Komisi A DPRD Provinsi Jawa Barat. Kendati dia seorang politisi, tetapi beliau adalah sosok yang religius, memegang prinsip, ramah, bersahaja, selalu menebar senyum dan memegang teguh persahabatan. Dia dikenal sebagai Muslim sejati tetapi pandai bergaul dalam membangun bangsa serta ukhuwah sesama kaum Muslimin,” ungkap Ayi Vivanda, anggota DPRD Provinsi Jawa Barat/Wakil Walikota Bandung 2008-2013.

Tentu saja, dalam penulisan buku ini tetap menyisakan ruang ketidaksempurnaaan. Hal itu terjadi karena tidak bisa memotret seluruh perjalanan hidupnya. Namun, tentunya, ikhtiar yang telah dilakukan tim penulis untuk menghadirkan buku yang bermanfaat bagi umat rasanya patut mendapatkan acungan jempol.

Menariknya, kendati buku ini tebal, namun pembaca takkan jenuh saat membacanya karena uraian dan sistem penulisannya tak menjenuhkan dan gaya bahasanya pun terbilang menyenangkan. Buku ini patut dimiliki, bukan saja untuk mereka yang akan terjun pada dunia dakwah, melainkan masyarakat umum pun bisa memilikinya karena banyak pelajaran hidup yang terkandung dalam buku ini.

Setidaknya, kehadiran buku ini bisa menjadi literatur bacaan bagi siapa pun yang suka dengan kisah-kisah publik figur atau juga bisa menjadi koleksi buku biografi. Tentu saja, apapun bentuknya, kehadiran sebuah buku tetaplah bermanfaat. Karena terlepas dari kekurangan yang ada, takkan mengurangi nilai yang ada dalam buku ini. Semoga menjadi pencerahan dan bermanfaat bagi pembaca di seluruh pelosok negeri ini.

Data buku:
Judul Buku : Biografi Muhammad Daud Gunawan, Dari Bumi Sriwijaya Kembangkan Dakwah di Tatar Sunda
Penulis : Rizki Lesus dan kawan-kawan
Penerbit : Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia
Cetakan I, Syawal 1446 H/April 2025
Tebal : 403 halaman
Ukuran : 15 X 24 cm

Facebook Comments Box

Penulis: Deffy RuspiyandyEditor: Badiatul Muchlisin Asti

Advertisement

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.