suarayasmina.com – Pusat Dakwah Islam (PUSDAI) Jawa Barat menggelar tablig akbar dalam rangka memperingati miladnya yang ke-28, pada (2/12/2025). Tablig akbar yang digelar di Masjid PUSDAI Jawa Barat, Jalan Diponegoro 63, Kota Bandung itu, dihadiri ribuan kaum Muslimin yang datang dari berbagai penjuru Provinsi Jawa Barat.
Tablig akbar yang mengusung tema “Uswah dalam Dakwah, Menuju Jabar Istimewa” dihadiri beberapa pimpinan ormas Islam, Ketua MUI Kota Bandung, Ketua MUI Provinsi Jawa Barat, para mantan Ketua PUSDAI dan perwakilan dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Gubernur Jawa Barat, Dedy Mulyadi, berhalangan hadir.
Ketua Panitia Pelaksana Milad ke-28 PUSDAI, Tony Krisnadi, dalam laporannya menjelaskan, milad dimulai dengan acara tablig akbar dan ditutup dengan kegiatan khitanan massal yang diikuti 100 anak. “Hal ini dilaksanakan sebagai bentuk syiar dakwah PUSDAI untuk kaum Muslimin di Tatar Pasundan dan sebagai bentuk kehadiran PUSDAI yang merangkul seluruh umat Islam di seluruh Provinsi Jawa Barat,” tegasnya.
Dalam kesempatan itu, Tony mengatakan, PUSDAI Jabar berdiri pada 2 Desember 1997 menjelang bulan suci Ramadan. PUSDAI digagas para ulama dan umara untuk mengembangkan dakwah masa kini dan masa mendatang.
Menurut Toni, sejak pendiriannya, ada 7 ulama yang pernah menjabat sebagai Ketua PUSDAI Jabar, di antaranya KH. Miftah Faridl, Raden D. Ruhiyat, KH. Zaenal Abidin, Ir. Iding Bahrudin, Drs. Ahmad Juwaini, H. Adam Anhari, serta saat ini PUSDAI Jabar dipimpin KH. Jujun Junaedi.
Puncak acara tablig akbar diisi tausiah oleh KH. Jujun Junaedi selaku Ketua PUSDAI Jabar saat ini. Kiai asal Kabupaten Garut ini membuka ceramahnya dengan menjelaskan bahwa PUSDAI Jabar adalah tempat yang tidak mengkotak-kotakkan ormas Islam yang ada, tetapi justru menyatukan, sehingga mengokohkan ukhuwah Islamiyyah.
“Di sini, yang ada justru merangkul bukan memukul, dan yang ada bukan mengejek tetapi mengajak,” terangnya pada pembukaan tausiahnya.
5 Hal yang Harus Dihindari Kaum Muslimin
Sang Kiai kemudian menyampaikan 5 hal yang harus dihindari kaum Muslimin agar tidak mendapatkan hal-hal bisa merugikan.
Pertama; jika maksiat bertebaran, maka timbul penyakit aneh yang sebelumnya tidak ada dan terkadang tidak ada obatnya. Karenanya, ia mengingatkan kepada segenap kaum Muslimin untuk menghindari perbuatan zalim, kemungkaran, dan kemaksiatan.
Bukan saja tidak melakukan, namun perlu juga melakukan pencegahan, karena orang baik dan saleh sekalipun jika diam, maka bencana penyakit itu akan datang. Penyakit AIDS dengan virus HIV sampai saat ini tak ada obatnya. Semua itu terjadi karena banyaknya kemaksiatan semacam seks bebas dan seks sesama penyuka jenis.
Kedua; hindari mengurangi takaran dan timbangan karena hal tersebut menyebabkan kekurangan air, segala mahal, dan pemerintah yang zalim. Kedua perbuatan tersebut adalah perbuatan curang yang harus dihindari. Jika hal itu terus-menerus terjadi, tentunya yang rugi adalah kita semua. Sudah seharusnya menghentikan perbuatan seperti itu.
Ketiga; jika tidak mengeluarkan ZIS (zakat, infak, sedekah), maka Allah akan menahan hujan dari langit. Oleh sebab itu, maka perbanyaklah sedekah, karena perbuatan tersebut tidak akan mengurangi harta dan justru akan menambah harta.
“Hukum matematika manusia jika terjadi pengurangan, maka harta akan berkurang. Namun jika hukum matematika Allah, maka jika terjadi pengurangan untuk sedekah, maka hasilnya akan menjadi bertambah,” tuturnya.
Keempat; jika tidak menggunakan hukum Allah dan juga Rasul-Nya dalam kehidupan, maka akan dicabut kekuasaannya. Tak mengherankan jika saat ini, umat Islam selalu terkalahkan oleh pihak lain. Maka, tidak tertutup kemungkinan, jangan-jangan hal itu terjadi karena kita semua tidak menerapkan hukum Allah dan Rasul-Nya dalam berbagai sendi kehidupan.
Kelima; akan ada gonjang-ganjing atau keributan kalau tidak mengikuti aturan Islam. Tentu saja, setiap keluarga Muslim harus senantiasa menerapkan aturan ini, apalagi ibu adalah madrasah pertama dan utama bagi anak-anaknya.
Aturan Islam dihadirkan untuk keselamatan dan kebahagiaan bagi yang melaksanakannya, bukan justru mempersulitnya. Dengan melaksanakan aturan Islam secara baik dalam kehidupannya, maka akan mengantarkan keselamatan dunia dan akhiratnya.
Menutup ceramahnya yang dibawakan secara lugas dan penuh humor, KH. Jujun Junaedi mengingatkan agar segenap kaum Muslimin selalu berbuat kebaikan dan menghindari kebatilan, serta berusaha beribadah secara sungguh-sungguh kepada Allah, agar mendapatkan perlindungan dan keridaan dari-Nya.
Kegiatan tablig akbar ditutup dengan pembacaan doa, yang di dalamnya memohon kepada Allah Swt agar selalu memberikan rahmat dan kasih sayang-Nya kepada umat Islam di Jawa Barat ini. Serta menciptakan Tanah Pasundan yang baldatun thayyibattun wa Rabbun Ghafur.











