SUARAYASMINA.COM – Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) tengah gencar mendorong pendaftaran naskah kuno asal Jawa Tengah ke dalam program Ingatan Kolektif Nasional (IKON). Langkah ini berjalan beriringan dengan motivasi bagi Dinas Kearsipan dan Perpustakaan se-Jawa Tengah untuk turut mendaftarkan aset sejarah mereka ke Memori Kolektif Bangsa (MKB). Sebagai informasi, IKON berfokus pada pelestarian naskah kuno bernilai peradaban tinggi, sedangkan MKB ditujukan untuk arsip sejarah yang menjadi identitas bangsa.
Beberapa koleksi yang diprioritaskan masuk IKON meliputi kitab-kitab karya KH. Sholeh Darat, karya KH. Ahmad Rifa’i Kalisalak, naskah kuno Keraton Surakarta, serta dokumen lawas dari kawasan Merapi-Merbabu. Upaya ini dibahas dalam kegiatan “Penggalian Potensi Naskah Kuno Nusantara sebagai Ingatan Kolektif Nasional” yang digelar Perpusnas di Grand Candi Hotel Semarang, Kamis–Jumat (21–22/5/2026), sebagai implementasi Peraturan Perpusnas RI No. 2 Tahun 2023.
Dalam forum yang dipandu Pustakawan Dinas Arpus Jateng, Ahmad Budi Wahyono, perwakilan komunitas dan dinas kearsipan diajak mengidentifikasi naskah sesuai standar sebelum didaftarkan. “Mari kita gerak cepat (gaspoll) mengumpulkan naskah kuno di Jateng, dimulai dari karya KH. Sholeh Darat, KH. Ahmad Rifa’i, koleksi Keraton Surakarta, lalu kawasan Merapi-Merbabu,” ujar Budi.
Sementara itu, Sekretaris Dewan Pakar IKON, Sri Sumekar, menjelaskan bahwa program ini bertujuan melestarikan, melindungi, dan membuka akses pengetahuan bagi masyarakat. Melalui tautan s.id/JuknisIKON2025 dan s.id/FormIKON2026, peserta dapat mengakses petunjuk teknis pendaftaran. Acara ini juga menghadirkan pakar lain seperti Ketua Dewan Pakar IKON sekaligus mantan Kepala Arsip Nasional Republik Indonesia, Prof. Dr. Mukhlis Paeni; Pendiri Turast Ulama Nusantara, Nanal Ainal Fauz; dan Pemimpin Sraddha Institut Surakarta, Rendra Agusta.
Suasana forum terasa hidup saat para narasumber membaca langsung naskah asli dalam aksara Jawa, Arab Pegon, dan Bugis. Riuh tepuk tangan peserta menggema ketika Prof. Mukhlis Paeni—satu-satunya yang menguasai aksara Bugis di forum tersebut—membacakan dan mengartikan sebuah syair tentang pentingnya menuntut ilmu, beramal untuk akhirat, serta menjauhi sifat serakah terhadap harta dunia.











