SUARAYASMINA.COM – Dalam cakrawala spiritualitas Islam Nusantara, sosok KH. Muhammad Salman Dahlawi—atau yang masyhur dikenal sebagai Mbah Salman—hadir bagai mercusuar yang memadukan kedalaman esoteris dengan pragmatisme kehidupan agraris. Beliau bukan sekadar tokoh lokal dari dusun Popongan; beliau adalah pemegang otoritas spiritual tertinggi dalam Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah yang pengaruhnya merentang dari Jawa hingga Sumatera dan Kalimantan. Keberadaan beliau menjadi bukti hidup atas ketahanan tradisi pesantren yang mampu bersikap adaptif tanpa kehilangan substansi manhaj salafnya.

Signifikansi Mbah Salman terletak pada kemampuannya menjaga kemurnian sanad di tengah arus modernisasi. Sebagai “Kiai Petani”, beliau meruntuhkan sekat antara kesucian bilik zikir dengan debu di sawah, membuktikan bahwa tasawuf bukan sekadar pelarian dari dunia, melainkan fondasi untuk membangun peradaban yang humanis.

KH. Muhammad Salman Dahlawi lahir di Popongan, Klaten, pada Ahad Kliwon, 1 Maret 1936. Sepanjang masa khidmahnya hingga wafat pada usia 78 tahun (2013), beliau mengemban peran penting sebagai Pengasuh Pondok Pesantren Al-Manshur Popongan sekaligus Mursyid Utama Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah Mujaddadiyah. Ketokohan beliau yang begitu besar merupakan kristalisasi dari persiapan spiritual yang panjang serta berakar kuat pada genealogi agung Bani Manshur.

Nasab dan Latar Belakang Keluarga Bani Manshur

Mbah Salman lahir ke dunia sebagai pewaris “Sanad Emas” spiritualitas Nusantara. Beliau adalah putra tertua dari pasangan KH. Muhammad Muqri bin KH. Kafrawi dan Hj. Masfuah binti KH. Muhammad Manshur. Ayahnya, Mbah Muqri, dikenal sebagai ulama yang sangat alim dan produktif menulis serta menyalin kitab-kitab klasik, termasuk karya Kiai Muhammad Dimyathi At-Tarmasi.

Secara genealogis, silsilah beliau berhulu pada kakeknya, KH. Muhammad Manshur (Mbah Manshur), pendiri Pesantren Popongan yang termasyhur sebagai seorang waliyullah. Mbah Manshur sendiri merupakan putra dari Syekh Muhammad Hadi Girikusumo, ulama besar yang membawa cahaya Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah dari Makkah setelah menerima ijazah langsung dari Syekh Sulaiman Zuhdi di Jabal Abi Qubais. Sejak kecil, Mbah Salman telah “dipilih” oleh sang kakek untuk memikul beban kepemimpinan spiritual di masa depan.

Sebagai orang yang paling akrab dengan Salman kecil, Mbah Manshur memberikan perhatian yang melampaui kasih sayang kepada putra-putrinya sendiri. Beliau berpesan secara khusus kepada para abdi dalemnya, termasuk Kiai Muslimin, untuk jangan sekali-kali berpisah dengan cucu tertuanya tersebut. Mbah Manshur seolah tengah membentuk wadah batin yang kuat bagi sang penerus mata rantai cahaya.

Advertisement

Persiapan batiniah ini kemudian diperkuat melalui pengembaraan ilmiah di berbagai pusat keilmuan yang prestisius.

Transformasi Intelektual di Berbagai Kawah Candradimuka

Keluasan wawasan Mbah Salman merupakan buah dari rihlah ilmiah yang tekun, melintasi berbagai disiplin ilmu mulai dari fikih, ilmu alat, hingga tasawuf. Mewarisi kecintaan mendalam terhadap ilmu dari sang ayah, beliau menunjukkan dedikasi yang luar biasa dalam menuntut ilmu demi memastikan sanad keilmuannya tersambung secara muttashil.

Pondasi pendidikan beliau dimulai dari Sekolah Rakyat (SR) Tegalgondo, sebelum akhirnya menempuh pendidikan agama di Pondok Pesantren Al-Muayyad Solo di bawah bimbingan KH. Ahmad Umar Abdul Manan (Mbah Umar). Dahaga keilmuannya kemudian membawa beliau memperdalam disiplin ilmu agama tradisional di Madrasah Mamba’ul Ulum serta Sunniyah Keprabon, Surakarta.

Perjalanan nyantri beliau berlanjut ke Jawa Timur, tepatnya di Pondok Pesantren Bendo, Pare, Kediri di bawah asuhan KH. Khozin selama empat tahun (1956–1960). Tak hanya itu, Mbah Salman juga secara rutin mengaji pasan di bulan Ramadan kepada KH. Ahmad Dalhar di Pondok Pesantren Watucongol, Magelang.

Puncak dari rihlah intelektual dan spiritual beliau ditandai saat menimba ilmu di tanah suci Makkah al-Mukarramah. Di sana, beliau berguru langsung kepada salah satu ulama internasional paling terkemuka pada zamannya, Sayyid Muhammad Al-Maliki Al-Hasani.

Karakteristik yang paling menonjol dari masa santri beliau adalah ketawadhuan yang melampaui batas ego. Meski telah dikukuhkan sebagai Mursyid di usia muda, beliau tetap bersedia antre mengaji dan duduk bersimpuh bersama santri biasa lainnya. Integritas inilah yang kemudian beliau bawa saat kembali untuk mengembangkan Pesantren Popongan.

Kepemimpinan dan Modernisasi Pesantren Al-Manshur Popongan

Pasca wafatnya Mbah Manshur pada 1957, Mbah Salman mengambil alih tampuk kepemimpinan. Di bawah arahannya, Pesantren Popongan (yang sejak 21 Juni 1980 berganti nama menjadi Al-Manshur) mengalami modernisasi institusional tanpa mencabut akar salafiyahnya. Beliau menerapkan manajemen kolektif keluarga besar Bani Manshur, membagi peran secara strategis untuk mengelola pertumbuhan santri yang meningkat hingga 30% dalam tahun-tahun terakhir kepemimpinannya.

Pengembangan pendidikan di lingkungan Pondok Pesantren Al-Manshur bergerak secara bertahap sejak awal dekade 1960-an. Penguatan pendidikan formal dan keagamaan dimulai dengan berdirinya Madrasah Tsanawiyah pada tahun 1963, yang disusul oleh pendirian Madrasah Diniyah pada tahun 1964 untuk memperdalam literatur klasik. Dua tahun berselang, tepatnya pada tahun 1966, didirikan pula Madrasah Aliyah untuk melengkapi jenjang pendidikan menengah tingkat atas. Ketiga lembaga keagamaan dan formal ini dikelola di bawah pimpinan KH. Nasrun Minallah.

Seiring berjalannya waktu, jangkauan pengabdian pesantren terus meluas ke tingkatan pendidikan dasar dan pengasuhan santri secara spesifik. Pada tahun 1980, Taman Kanak-Kanak Al-Manshur resmi didirikan sebagai wadah pendidikan usia dini yang berbasis karakter. Sementara itu, untuk pembinaan santri secara khusus, Pesantren Putri dan program Tahfidz dikelola oleh KH. Ahmad Jablawi, sedangkan unit Pesantren Putra serta pengasuhan santri Sepuh berada di bawah pengasuhan utama KH. Salman Dahlawi.

Kepemimpinan Mbah Salman yang visioner tidak hanya berfokus pada ranah akademis dan spiritual, tetapi juga menyentuh aspek sosial-kemasyarakatan. Beliau melahirkan berbagai program kemanusiaan, seperti beasiswa bagi anak yatim dan layanan kesehatan gratis untuk warga sekitar. Langkah ini semakin mempertegas fungsi utama pesantren sebagai pusat pengabdian dan kemaslahatan bagi masyarakat luas.

Kiprah Mursyid: Episentrum Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah

Mbah Salman dikukuhkan menjadi Mursyid pada tahun 1953 dalam usia 19 tahun oleh kakeknya. Beliau merupakan magnet spiritual bagi ratusan ribu jamaah. Kedudukan beliau diakui secara luas melalui perannya sebagai anggota Majelis Ifta’ (Majelis Fatwa) Jam’iyyah Ahlit Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyah (JATMAN).

Aktivitas tarekat di Popongan berlandaskan pada tiga pilar utama yang memperkokoh pembinaan spiritual para jemaahnya. Pilar pertama adalah suluk, yaitu laku spiritual secara intensif yang dilaksanakan pada bulan-bulan khusus seperti Muharram, Rajab, dan Ramadan. Selanjutnya, terdapat tawajuhan umum yang digelar secara rutin setiap hari Selasa sebelum salat Dzuhur serta sesudah salat Jumat. Pilar ini kemudian disempurnakan dengan bai’at, yakni proses inisiasi spiritual yang diselenggarakan secara inklusif bagi siapa saja yang ingin meniti jalan tarekat.

Otoritas beliau bersandar pada sanad tarekat yang sempurna dan tak terputus. Matarantai spiritual ini bermula dari Nabi Muhammad SAW, dilanjutkan oleh sahabat Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Sayyid Salman al-Farisi, lalu diteruskan berturut-turut oleh Syaikh Qasim Muhammad, Syaikh Ja’far Shadiq, Syaikh Abu Yazid Thaifur Al-Busthami, Syaikh Abu Hasan Al-Kharaqani, Syaikh Abi Ali Fadhal, Syaikh Yusuf Al-Hamadani, hingga Syaikh Abdul Khaliq al-Ghujdawani.

Keilmuan ini kemudian diwariskan melalui Syaikh Arif Riwagari, Syaikh Mahmud Al-Injiri Faqhnawi, Syaikh Ali Ar-Rumaitini, Syaikh Muhammad Baba As-Samasi, Syaikh Amir Kulal, dan tokoh sentral Syaikh Muhammad Bahauddin An-Naqshabandi. Estafet sanad ini berlanjut kepada Syaikh Muhammad bin Alauddin Al-Attar, Syaikh Ya’qub Al-Jarkhi, Syaikh Muhammad Az-Zuhdi, Syaikh Darwis Muhammad, Syaikh Muhammad Al-Khawajaki, Syaikh Ahmad Al-Baqi Billah, Syaikh Ahmad Al-Faruqi, Syaikh Muhammad Ma’sum, Syaikh Saifuddin, Syaikh Nur Muhammad Al-Badwani, Syaikh Habibullah, Syaikh Ad-Dahlawi, Syaikh Sulaiman Al-Quraini, Syaikh Ismail Al-Barusi, serta Syaikh Sulaiman Zuhdi dari Makkah.

Sanad mulia ini kemudian masuk dan menyebar di Nusantara melalui Syaikh Muhammad Hadi Girikusumo, dilanjutkan oleh KH. Muhammad Manshur Popongan, hingga akhirnya bersambung kepada KH. Muhammad Salman Dahlawi.

Kontribusi Sosial, Dakwah Humanis, dan Keterlibatan Organisasi

Manifestasi tasawuf Mbah Salman tercermin secara anggun dalam filosofi hidupnya sebagai seorang “Kiai Petani”. Beliau tak hanya berdakwah lewat kata, tetapi juga merawat tanah Dusun Popongan bersama para petani lokal. Bagi warga Popongan, Mbah Salman adalah sosok kiai petani yang ulet, tekun, bersahaja, dan penuh pengabdian.

Beliau merupakan praktisi sejati dari prinsip Khalwat dar Anjuman—sebuah seni kedekatan spiritual tempat hati senantiasa tertaut kepada Allah, bahkan saat berada di tengah keramaian ataupun ketika beliau mengayunkan cangkul di tengah sawah. Bagi Mbah Salman, aktivitas bertani bukan sekadar pengisi waktu senggang, melainkan sebuah ikhtiar menjaga kemandirian ekonomi sekaligus sarana untuk menyatu dengan urat nadi kehidupan rakyat kecil.

Kedalaman spiritualitas tersebut berjalan beriringan dengan tanggung jawab keumatan yang luas. Dalam struktur keorganisasian Islam, kepemimpinan dan keilmuan Mbah Salman diakui di berbagai tingkatan. Kiprah strategis beliau tercatat sebagai jajaran Majelis Ifta’ JATMAN (Jam’iyyah Ahlith Thoriqoh al-Mu’tabaroh an-Nahdliyyah) Pusat. Di samping itu, beliau juga mendedikasikan pengabdiannya sebagai Rais Syuriyah dan Mustasyar PCNU Kabupaten Klaten, serta mengampu amanah sebagai Mustasyar PKB Jawa Tengah.

Sisi humanis dan ketajaman visi dakwah Mbah Salman yang paling mengesankan terpancar dari peristiwa bersejarah di Mutihan, Laweyan. Kala itu, Mbah Salman secara khusus membelikan sebidang tanah untuk santrinya, Kiai Muhammad Rosyid Ridwan. Langkah ini bukan sekadar hadiah finansial, melainkan sebuah misi sosial-keagamaan yang sangat transformatif: merangkul dan meretas kawasan yang dulunya sarat dengan praktik maksiat—seperti perjudian dan minuman keras—menjadi pusat syiar Islam yang bercahaya. Melalui tindakan nyata ini, Mbah Salman membuktikan bahwa seorang guru sejati tidak hanya membekali santrinya dengan teori ilmu, tetapi juga menyediakan instrumen dakwah konkret demi kemaslahatan dan perbaikan masyarakat.

Metafora Kesahajaan: Keteladanan dan Wasiat Kehidupan

Mbah Salman adalah personifikasi dari tawadhu’. Meski ratusan ribu jamaah mencium tangannya, beliau tak segan membawa sendiri baki berisi air minum untuk tamu-tamunya—sebuah pemandangan yang sering membuat pejabat tinggi sekalipun merasa sungkan. Beliau meninggalkan 11 butir pitutur yang sarat akan makna filosofis dan spiritual:

  1. Padha manuta ing pitutur: Patuhlah sepenuhnya pada petunjuk kebijakan dan kebenaran.
  2. Iman, taqwa lan syukur marang Allah Swt: Teguhkan iman, jaga takwa, dan senantiasa bersyukur.
  3. Ngemen-ngemenke ngluru ilmu nafi’: Bersungguh-sungguhlah dalam mengejar ilmu yang membawa manfaat dunia dan akhirat.
  4. Sregep jamaah: Disiplin dalam mendirikan shalat secara berjamaah.
  5. Entheng ngamal ibadah: Miliki kemauan yang ringan dan tulus dalam menjalankan amal ibadah.
  6. Nrima ing peparinge kang kuasa: Ikhlas dan rida menerima segala ketetapan Sang Pencipta.
  7. Aja ngentengake utang: Jangan pernah meremehkan perkara hutang piutang.
  8. Ngalah ing bab dunya: Bersikaplah mengalah dalam perkara duniawi demi kedamaian batin.
  9. Sabar, usaha, pasrah, tawakal marang Allah Swt: Perpaduan antara ketabahan, ikhtiar maksimal, dan kepasrahan total.
  10. Birrul walidain lan njaga rukune paseduluran: Berbakti kepada orang tua dan menjaga harmoni persaudaraan.
  11. Kabeh perkara tumuju marang ridhane Allah Swt: Jadikan rida Allah sebagai tujuan akhir dari segala urusan.

Wafatnya Sang Murabbi dan Estafet Kepemimpinan

Mata rantai cahaya itu kembali ke haribaan-Nya pada Selasa, 27 Agustus 2013, pukul 17.45 WIB di RSI Yarsis Surakarta. Beliau wafat pada usia 78 tahun akibat gangguan pencernaan. Kepergiannya memicu duka nasional; ribuan pelayat dari berbagai penjuru Nusantara memadati jalur Solo-Yogyakarta hingga menimbulkan kemacetan yang luar biasa—sebuah penghormatan terakhir bagi sang Mursyid yang bersahaja.

Kini, estafet kepemimpinan diteruskan oleh putra ketujuh beliau, KH. Multazam Al-Makki (Gus Multazam), yang telah dipersiapkan sebagai badal sejak masa hidup ayahnya. Meski raga telah tiada, warisan batiniah Mbah Salman tetap hidup, menjaga Popongan sebagai episentrum spiritualitas yang meneduhkan di jantung Jawa Tengah.

Facebook Comments Box

Penulis: Badiatul Muchlisin AstiEditor: Redaksi Suarayasmina.com

Advertisement

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *