SUARAYASMINA.COM – Dalam bentang sejarah intelektual Islam di Nusantara, sosok KH. Ahmad Muthohhar—atau yang karib disapa “Yai Mad”—bukanlah sekadar figur otoritas keagamaan lokal. Beliau adalah mata rantai emas (the golden link) yang mengikat kuat tradisi luhur era Hadratusussyaikh Hasyim Asy’ari dengan sistem madrasah modern.
Sebagai pilar utama Pondok Pesantren Futuhiyyah, Mranggen, Yai Mad tampil sebagai ulama multifaset: seorang pejuang kemerdekaan yang enggan pamer jasa, penulis produktif yang kitabnya melintasi batas negara, serta Mursyid Thariqah yang mencapai derajat spiritualitas tinggi tanpa menanggalkan sisi humanisnya.
Peran beliau sangat strategis dalam menjaga marwah literatur “kitab kuning” dan tradisi thariqah di Indonesia. Kemampuannya menjembatani kedalaman ajaran salaf dengan kebutuhan pedagogis zaman modern menjadikan beliau mercusuar ilmu bagi kaum Nahdliyyin. Akar keteguhan ini tidak muncul secara instan, melainkan tertanam jauh di dalam silsilah keluarga yang menyatukan darah ulama dan bangsawan religius.
Nasab dan Akar Tradisi
Dalam diskursus pesantren, nasab bukan sekadar daftar nama, melainkan fondasi keberkahan ilmu yang mengalir melalui garis keturunan. Yai Mad lahir pada tahun 1926 dari pasangan KH. Abdurrahman (sang pendiri Futuhiyyah) dan Hj. Shofiyyah binti KH. Abu Mi’raj (ulama Penggaron). Di balik sosoknya yang bersahaja, mengalir darah pujangga alim dari Keraton Mataram yang bersambung hingga ke Walisongo.
Garis keturunan beliau melalui sang ayah, KH. Abdurrahman, merujuk pada silsilah mulia yang bersambung langsung hingga ke Sunan Kalijaga. Silsilahnya, KH. Ahmad Muthohhar bin KH. Abdurrahman, seorang ulama yang merupakan murid sekaligus menantu dari KH. Abu Mi’raj. Nasab ini berlanjut kepada KH. Qoshidil Haq bin Raden Oyong bin Raden Dipo Kusumo, hingga sampai pada sosok Adipati Wiryo Kusumo yang menjabat sebagai Bupati Demak pada periode 1734-1757.
Beliau merupakan putra dari Panembahan Wijil II (dikenal juga sebagai Pangeran Sujatmo atau Susuhunan Kadilangu IX), seorang pujangga alim Keraton Mataram yang hafal Al-Qur’an dan dimakamkan di Astono Gendok, Kadilangu. Jalur keturunan yang luhur ini kemudian terus bersambung ke atas hingga mencapai sang waliyullah, Sunan Kalijaga.
Posisi Yai Mad dalam struktur keluarga Futuhiyyah sangat unik; beliau adalah putra kedelapan secara urutan lahir, namun merupakan putra kelima yang hidup setelah kakak-kakaknya wafat di usia kecil. Latar belakang trah Kadilangu ini memberikan dimensi “kealiman yang keningratan”—sebuah perpaduan antara wibawa spiritual dan tanggung jawab intelektual untuk menjaga tradisi kakek moyangnya, Sunan Kalijaga.
Menenun Sanad dari Termas hingga Makkah
Rihlah Ilmiah bagi Yai Mad adalah proses penempaan karakter di mana setiap butir ilmu harus divalidasi oleh rantai transmisi (sanad) yang tak terputus. Perjalanan intelektual beliau bukan sekadar berpindah tempat, melainkan pencarian terhadap Sanad ‘Ali (rantai transmisi tertinggi) yang kemudian mengangkat derajat Mranggen dalam peta keilmuan Islam global.
Perjalanan intelektual beliau ditempuh melalui jaringan pesantren dan guru-guru terkemuka di dalam maupun luar negeri. Beliau mengawali riwayat studinya di Pesantren Termas, Pacitan, dengan berguru kepada Kiai Dimyati Termas. Selama lima tahun menetap di sana, beliau dititipkan secara khusus kepada Lurah Pondok Termas, Imam Mas Ruhan, untuk mendalami ilmu Nahwu, Shorof, dan Tarikh.
Setelah itu, beliau melanjutkan riwayat pendidikannya ke Pesantren Tebuireng, Jombang, di bawah asuhan langsung KH. Hasyim Asy’ari. Di sinilah beliau mendalami fondasi dasar fikrah Nahdlatul Ulama, sekaligus menjadi salah satu santri yang berkesempatan menangi atau menyaksikan langsung era terakhir kehidupan Hadratussyaikh hingga wafat pada tahun 1947.
Selesai menimba ilmu di tanah air, beliau bertolak ke Haramain, Makkah, untuk berguru kepada ulama legendaris Syekh Yasin Al-Fadani. Di bawah bimbingan sang guru, beliau mendalami Ilmu Hadits dan berhasil mendapatkan ijazah periwayatan, yang sekaligus membuatnya mewarisi otoritas keilmuan langsung dari sosok yang dijuluki “Al-Musnid Dunya” (Ulama Ahli Sanad Dunia) tersebut.
Hubungan beliau dengan Syekh Yasin Al-Fadani memberikan legitimasi yang sangat kuat dalam tradisi literasi pesantren. Keahlian Syekh Yasin dalam ilmu periwayatan menjadikan Yai Mad sebagai pemegang kunci sanad yang disegani, memperkuat otoritas keilmuan Futuhiyyah sebagai pusat studi yang memiliki koneksi langsung dengan sumber-sumber utama di Makkah.
Komandan Hizbullah dan Maestro Literatur Pesantren
Nasionalisme Yai Mad adalah nasionalisme yang dibasuh oleh air wudhu. Beliau meyakini bahwa membela tanah air adalah bagian dari implementasi iman. Pada masa revolusi, beliau memegang komando sebagai Komandan Laskar Hizbullah dalam Front Pertahanan Medan Tenggara (Mranggen), yang saat itu menjadi markas penting pertahanan rakyat.
Namun, kejernihan hati beliau melampaui segala atribut duniawi. Setelah kemerdekaan diraih, beliau dengan sadar menolak segala bentuk gelar veteran atau tanda jasa. Ketika diajak untuk mengurus administrasi penghargaan negara, beliau menolak dengan kalimat yang melegenda di kalangan santri: “Aku berjuang lillahi ta’ala ora ngarep opo-opo.” (Aku berjuang demi Allah Ta’ala, tidak mengharap apa-apa).
Keteguhan untuk tetap khumul (tidak menonjolkan diri) ini menunjukkan bahwa jihad beliau murni untuk kedaulatan umat, bukan untuk pensiun atau kehormatan birokratis.
Selebihnya, Yai Mad adalah seorang penulis yang piawai menangkap kebutuhan zaman. Lebih dari 30 kitab beliau tulis dengan jangkauan disiplin ilmu yang luas, menjadikannya rujukan utama bagi santri di seluruh penjuru Jawa hingga Malaysia.
Katalog karya utama beliau mencakup berbagai disiplin ilmu agama, yang diawali dengan kontribusi besar di bidang Nahwu dan Shorof melalui Kitab Imrithi (terjemahan Pegon standar), Al-Wafiyyah fi Al-Fiyyah, serta Al-Maufud. Di bidang Akhlak dan Tafsir, beliau menorehkan warisan penting lewat kitab Akhlaqul Mardliyyah dan Tafsir Faidurrahman sebanyak 30 Juz, sebuah karya yang ditulis sebagai bentuk tafaulan kepada ulama besar Mbah Saleh Darat.
Selain itu, khazanah keilmuan beliau juga dilengkapi dengan karya-karya penting di bidang Tajwid dan Mawaris, seperti kitab Tuhfatul Athfal, Syifā’ul Jinān, serta Kitab Rahabiyyah.
Yai Mad bukan sekadar penulis kaidah, melainkan seorang pedagog yang jenius. Dalam Syifā’ul Jinān, beliau menyertakan kolom “Perhatian” di bawah garis tertentu—sebuah fitur langka yang secara proaktif memperingatkan guru tentang kesalahan-kesalahan umum yang sering dilakukan murid saat membaca Al-Qur’an.
Penggunaan nadzom (puisi) dan aksara Arab Pegon dalam bahasa Jawa menjadikan kitab ini “gerbang awal” yang tak tergantikan bagi tingkat Ibtidaiyyah. Sementara itu, terjemahan Imrithi karyanya telah menjadi standar de facto di pesantren-pesantren, memudahkan santri pemula menyelami kerumitan gramatika Arab dengan pendekatan yang komunikatif.
Istiqamah, Adab, dan Rahasia Spiritual
Prinsip hidup Yai Mad adalah “Al-Istiqomah khoirun min alfi karamah” (Istiqamah lebih baik daripada seribu karomah). Kekuatan utamanya terletak pada kedisiplinan yang tak tergoyahkan oleh situasi apa pun.
Pertama; Puncak Istiqomah. Suatu ketika, Yai Mad menerima kabar duka bahwa putrinya meninggal dunia akibat kecelakaan. Jenazahnya dibawa ke hadapan beliau saat beliau sedang mengampu pengajian. Dengan ketenangan yang luar biasa, beliau hanya berkata: “Inna lillahi… ya wes dokokno gon kono (ya sudah, letakkan di sana)”, lalu tetap meneruskan mengajar hingga sesi pengajian berakhir sebelum akhirnya menshalati sang putri.
Kedua; Adab dan Kedisiplinan. Suara beliau saat mengajar digambarkan seperti “tawon” (lebah)—berdengung konstan, ritmis, dan menyejukkan. Beliau sangat tertib menggunakan siwak, menjaga adab masuk-keluar masjid dengan kaki yang tepat, dan memiliki tawa yang sangat santun—hanya berupa getaran kecil di pundak tanpa suara terbahak-bahak. Bahkan saat sakit dan harus menggunakan kursi roda, beliau tetap didorong santri ke masjid demi menjaga shalat jamaah.
Ketiga; Dimensi Metafisik. Yai Mad diyakini memiliki hubungan spiritual dengan Nabi Khidir AS. Berdasarkan kesaksian pelayannya, Kiai Mas Ruhan, Yai Mad pernah didatangi Nabi Khidir sebanyak tujuh kali, dimulai sejak beliau berusia 48 tahun. Rahasia ini disimpan rapat oleh Mas Ruhan sesuai perintah Yai Mad, dan baru diungkapkan setelah wafatnya sang Mursyid.
Keempat; Fikih Ekologis. Kepedulian beliau melampaui batas kemanusiaan. Beliau pernah melarang santri menangkap burung yang dilepaskan, menekankan bahwa hewan memiliki hak untuk kawin dan reproduksi di alam bebas—sebuah pandangan progresif tentang kesejahteraan hewan (animal welfare) dalam kerangka Rahmatan lil Alamin.
Kepulangan Sang Mursyid
Kematian bagi Yai Mad adalah sebuah mukasyafah, sebuah penyingkapan batin yang menyejukkan. Pada malam menjelang kewafatannya, 22 Juni 2005 (15 Jumadil Ula 1426 H), saat melaksanakan shalat Isya berjamaah, beliau tampak tersenyum bahkan tertawa kecil pada rakaat ketiga dan keempat. Beliau kemudian bercerita melihat almarhum keponakannya, KH. Hakim Muslih (w. 2004), melambai-lambaikan tangan di sebuah padang hijau yang sangat indah.
Sekitar pukul 03.30 pagi, di usia 79 tahun, Yai Mad menghembuskan napas terakhir tepat saat posisi Takbiratul Ihram dalam shalat Tahajjud. Beliau wafat dalam keadaan menghadap Sang Khalik secara literal. Suasana duka menyelimuti Nusantara; ribuan pelayat dari Semarang, Purwodadi, hingga Cirebon memadati Mranggen. Keranda beliau dipikul bergantian oleh ribuan santri yang ingin meraup berkah terakhir dari sang Mursyid.
KH. Ahmad Muthohhar telah mewariskan lebih dari 30 judul kitab. Beliau meninggalkan standar moral tentang bagaimana menjadi seorang mukmin yang istiqamah, sederhana, namun memiliki dedikasi tanpa batas pada ilmu. Beliau membuktikan bahwa kealiman seorang ulama tidak diukur dari panggung pidato, melainkan dari kedisiplinannya mengajar, ketajaman penanya, dan keikhlasannya dalam berjuang lillahi ta’ala.
Warisan Yai Mad adalah pengingat bagi generasi masa kini bahwa ilmu dan spiritualitas harus berjalan seiring. Sosoknya yang bersahaja, suaranya yang seperti dengungan lebah di ruang pengajian, dan keteguhannya dalam beribadah meski dalam sakit, adalah teladan abadi. Mari kita meneladani sisi-sisi kehidupan beliau sebagai lentera dalam meniti jalan pengabdian kepada ilmu, umat, dan bangsa.












